{"id":1080,"date":"2024-05-26T12:37:20","date_gmt":"2024-05-26T12:37:20","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1080"},"modified":"2024-05-26T12:37:20","modified_gmt":"2024-05-26T12:37:20","slug":"paduan-suara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/","title":{"rendered":"PADUAN SUARA"},"content":{"rendered":"<p>26 mei 2024<\/p>\n<h1><strong>PADUAN SUARA<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Andi Wirambara*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1082\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/ilustrasi-cerpen-paduan-suara-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/ilustrasi-cerpen-paduan-suara-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/ilustrasi-cerpen-paduan-suara-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/ilustrasi-cerpen-paduan-suara-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/ilustrasi-cerpen-paduan-suara-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/ilustrasi-cerpen-paduan-suara.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cTersenyumlah,\u201d<\/p>\n<p>Usai mengucapkannya, lelaki itu justru menyekap suaraku dengan bibirnya. Hanya dengus kecil yang mampu aku keluarkan dengan gerakan lembut menyambut sentuhan-sentuhannya yang entah di mana ia beri. Tak kupikirkan, sebab, sentuhan itu sudah menjalar. Rebah lenganku di dadanya adalah penanda, sesaat lagi ia akan meraih kemejanya dan memberikanku setumpuk uang. Dan aku kembali mengenakan gaunku. Kembali bernyanyi.<\/p>\n<p>Rahasia umum saja, di kapal pesiar yang megah ini terdapat sekelompok wanita paduan suara yang biasa tampil bersama pemusik lainnya di restoran. Di antaranya adalah aku, yang tak hanya mampu bernyanyi, namun juga mengundang lirikan liar lelaki yang terpikat parasku. Tentunya, tubuhku. Kami memiliki jadwal bernyanyi setidaknya dua kali dalam sehari. Pada saat makan siang di restoran, dan saat malam hari di panggung teater. Selepas pertunjukan, beberapa pria berpakaian mewah dan mentereng masuk ke ruang ganti kami, berbisik-bisik antara mereka sendiri kemudian menunjuk-nunjuk kami seperti seperti orang yang memilih buah-buahan di pasar.<\/p>\n<p>Aku selalu menjadi primadona, jemari mereka kerap berebutan menunjukku. Biasanya aku hanya tersenyum saja dan lebih menikmati saat-saat untuk berdandan, menaikkan kecantikanku yang dasarnya memang sudah cantik.<\/p>\n<p>Kali ini aku masih melakukan kebiasaanku itu, duduk di depan cermin dan bersolek lama.<\/p>\n<p>\u201cBuat apa kau bercermin lagi? Kau bukan dirimu yang dulu, begitupun kami!\u201d<\/p>\n<p>Salah satu teman menyindirku, satu dari beberapa teman paduan suaraku yang seringkali diajak masuk ke kamar penumpang kaya. Terkadang, nahkoda kapal yang merasa memegang seluruh nyawa para penumpang, dan kami yang bekerja di kapal ini tak jarang mencumbui seorang dari kami di ruang kendalinya, membiarkan kapal terombang-ambing sementara ia mengombang-ambingkan seorang yang molek tubuhnya. Bertanya padaku? Ya, diriku pun pernah dilumatnya.<\/p>\n<p>Temanku yang bicara padaku ini dulunya penyanyi di pub, setiap malam tampil dengan glamornya. Semua busananya ia buat semirip mungkin dengan Marilyn Monroe, wanita idaman pria di seluruh dunia saat itu. Meski wajahnya tak secantik artis itu. Maaf saja, aku harus balik menyindirnya balik karena dia begitu iri padaku yang sangat justru menjadi bintang di antara kelompok paduan suara ini.<\/p>\n<p>\u201cDulu, kau memang gadis yang bisa membuat liur lelaki mengucur. Tapi, lihatlah kini, Nona! Hahaha!\u201d<\/p>\n<p>Ucapannya makin lama makin menjengkelkan. Tapi aku tak peduli ejekan temanku yang satu ini. Toh, sejak dulu kami memang tidak akur, ia iri pada diriku. Ia sempat menyukai seorang penumpang yang tampan. Ia pun mencoba memikatnya dengan banyak cara, termasuk menatapnya nakal seraya menjilat kecil bibirnya sendiri. Namun apa yang terjadi? Di sebuah malam, tiba-tiba pria itu menyekapku di kamarnya! Ia menikmati tiap lekukku, dan kau tahu yang selanjutnya terjadi? Ya, aku membunuh dan membuang mayatnya ke laut. Tak ada yang tahu, pun kau harus menerima untuk tak bisa lagi\u2014bahkan untuk bermimpi bersama lelaki itu. Hahaha!<\/p>\n<p>Aku tetap sibuk memilah-milah gaun, mengepas-ngepaskannya di tubuhku. Hari ini harusnya istimewa, sebuah peringatan 50 tahun yang akan selalu diingat oleh kami semua. Hal itu sedikit mengetuk memoriku. Sayangnya, bukan memori yang indah.<\/p>\n<p>\u201cSudahlah, Nona, lupakan masa lalu. Lebih baik kita terus bernyanyi saja. Sekarang, kau bahkan tak punya buah dada, bukan?\u201d<\/p>\n<p>Aku terhenyak, menangis dan airmataku hanyut. Memori di kepalaku seketika menyembur menyeruak ingatanku. Tepat 50 tahun lalu di malam seperti sekarang ini. Sebuah pesta dansa dengan gemerlap lampu-lampu menghiasi restoran. Hampir seluruh penumpang pesiar ini menikmatinya. Botol-botol wine berjejer di meja para penumpang penting atau paling kaya. Mereka bertepuk tangan, tertawa-tawa, menikmati perjalanan yang sudah ditempuh satu hari dari estimasi tiba di negara tujuan dalam empat hari. Pesta yang kemudian selalu diselingi dengan penampilan kami para paduan suara. Kami bernyanyi dengan kompak dan harmonis, sambil mata tertuju pada lirik-lirik lagu pada buku di tangan dan mulutku yang mengeluarkan suara dengan vibran yang syahdu, sesekali mataku melirik pada wajah-wajah di bangku penonton yang tak kusangka akan menjadi penonton kami seterusnya.<\/p>\n<p>Sebab, tak lama, sebuah goncangan keras terasa di dalam kapal. Ombak besar sepertinya menampar kapal kami. Nyanyian kami terpotong, sebab tubuh kami limbung dan beberapa langsung terjatuh. Pemain-pemain musik tertimpa alat-alat mereka. Aku sendiri jatuh dan sempat terguling karena lantai kapal yang terasa sangat miring.<\/p>\n<p>Hantaman itu terus berlanjut dan membuat keadaan semakin buruk. Teriakan di mana-mana. Aku tertindih-tindih orang lain dan semakin lama mataku lamur. Kapal ini semakin lama seperti berputar dan terbalik. Seakan-akan lantai akan menjadi atap dan sebaliknya. Hingga pada titik aku tak sadar dan tak ingat apapun lagi setelah itu.<\/p>\n<p>\u201cHei! Jangan melamun! Ayo, sebentar lagi kita ke panggung.\u201d Suara teman mendongkolanku membuyar ingatanku barusan. Aku pun bergegas menentukan gaunku dan mengenakannya. Kemudian mencari sepatu dan lebih bergegas untuk bersiap-siap ke panggung untuk kembali bernyanyi sebagaimana biasanya. Teman-temanku yang lain juga melakukan hal serupa.<\/p>\n<p>Ya, sekarang aku hanya bisa bernyanyi bersama mereka. Suara-suara kami yang menggelembung tak sampai ke permukaan, bergetar di antara karang dan penumpang-penumpang yang tak lagi berparas. Tak ada yang peduli pada kami.<\/p>\n<p>Kami terus bernyanyi saja. Di kapal yang sudah lima puluh tahun tak lagi mengapung ini. Kami tetap bernyanyi, meski kapal ini telah lama karam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(***)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>*Andi Wirambara<\/strong>, lahir 24 September di Ambon. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014). Berdomisili di Malang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>26 mei 2024 PADUAN SUARA Oleh Andi Wirambara* &nbsp; &nbsp; \u201cTersenyumlah,\u201d Usai mengucapkannya, lelaki itu justru menyekap suaraku dengan bibirnya. Hanya dengus kecil yang mampu aku keluarkan dengan gerakan lembut menyambut sentuhan-sentuhannya yang entah di mana ia beri. Tak kupikirkan, sebab, sentuhan itu sudah menjalar. Rebah lenganku di dadanya adalah penanda, sesaat lagi ia akan &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">PADUAN SUARA<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1081,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1080","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>PADUAN SUARA - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"PADUAN SUARA - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"26 mei 2024 PADUAN SUARA Oleh Andi Wirambara* &nbsp; &nbsp; \u201cTersenyumlah,\u201d Usai mengucapkannya, lelaki itu justru menyekap suaraku dengan bibirnya. Hanya dengus kecil yang mampu aku keluarkan dengan gerakan lembut menyambut sentuhan-sentuhannya yang entah di mana ia beri. Tak kupikirkan, sebab, sentuhan itu sudah menjalar. Rebah lenganku di dadanya adalah penanda, sesaat lagi ia akan &hellip; PADUAN SUARA Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-05-26T12:37:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/thumbnail-cerpen-paduan-suara.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/\",\"name\":\"PADUAN SUARA - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-05-26T12:37:20+00:00\",\"dateModified\":\"2024-05-26T12:37:20+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"PADUAN SUARA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"PADUAN SUARA - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"PADUAN SUARA - LiteraSIP","og_description":"26 mei 2024 PADUAN SUARA Oleh Andi Wirambara* &nbsp; &nbsp; \u201cTersenyumlah,\u201d Usai mengucapkannya, lelaki itu justru menyekap suaraku dengan bibirnya. Hanya dengus kecil yang mampu aku keluarkan dengan gerakan lembut menyambut sentuhan-sentuhannya yang entah di mana ia beri. Tak kupikirkan, sebab, sentuhan itu sudah menjalar. Rebah lenganku di dadanya adalah penanda, sesaat lagi ia akan &hellip; PADUAN SUARA Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2024-05-26T12:37:20+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/thumbnail-cerpen-paduan-suara.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/","name":"PADUAN SUARA - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2024-05-26T12:37:20+00:00","dateModified":"2024-05-26T12:37:20+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/paduan-suara\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"PADUAN SUARA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1080","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1080"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1080\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1085,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1080\/revisions\/1085"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1081"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1080"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1080"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1080"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}