{"id":1137,"date":"2024-06-23T04:31:58","date_gmt":"2024-06-23T04:31:58","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1137"},"modified":"2024-06-23T04:32:10","modified_gmt":"2024-06-23T04:32:10","slug":"lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/","title":{"rendered":"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh"},"content":{"rendered":"<p>23 Juni 2024<\/p>\n<h1><strong>Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Ken Hanggara*<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1141\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/ilustrasi-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/ilustrasi-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/ilustrasi-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/ilustrasi-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/ilustrasi-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/ilustrasi-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mariana menyatu pada pasir basah di malam yang berangin. Kapal-kapal angkat sauh sejak tadi. Kini yang tersisa di pantai itu hanyalah dia, butir-butir pasir, dan lelaki paruh baya yang mendambanya sejak lama.<\/p>\n<p>Lelaki itu berdiri di bawah naungan terpal, tempat para penjual kerang dan ikan berjibaku dengan waktu dan pesaing dari pagi hingga senja. Pada titik itu, setiap sudut pantai serasa membeku dalam benak Mariana. Pantai dan segala sesuatu padanya adalah lukisan kelabu yang begitu jauh dari jangkauan.<\/p>\n<p>Mariana kerap meninggalkan raganya dan terbang dari satu pikiran menuju pikiran lain, setelah suaminya terbunuh bajak laut bertahun-tahun silam. Semenjak itu tidak ada yang peduli padanya. Toh dia tetap bisa hidup dari harta peninggalan suaminya.<\/p>\n<p>Mariana tak pernah mengganggu siapa pun. Hikayat yang serupa namun tak sama pernah menimpa dukun pijat dari desa sebelah yang terpaksa dipasung karena beberapa kali membobol rumah warga dan menerobos masuk kamar para pria yang telah beristri. Mariana tak berbuat hal-hal yang merusak tatanan macam itu. Jadi, bagi siapa pun, tak ada yang berubah, kecuali fakta bahwa Mariana tidak lagi waras.<\/p>\n<p>Tidak ada warga desa yang tidak tahu perihal warisan Mariana yang bernilai sangat fantastis bagi ukuran orang-orang pedalaman. Hanya saja, mereka tak pernah sekali pun berniat mencurinya. Bagi mereka, uang sebanyak itu utopia. Dan bagi Mariana sendiri, harta yang jadi haknya itu justru distopia; suatu dunia ganjil yang gelap dan mengerikan. Itu karena dia mendadak hidup sendiri padahal suaminya berjanji membawa mereka pindah ke kota setelah melaut untuk terakhir kalinya. Begitu suaminya tak kembali dan pulang dalam wujud tanpa nyawa sebulan kemudian, jiwa Mariana terguncang.<\/p>\n<p>Fisik Mariana kian waktu kian melemah. Jika lupa diri, dia tak makan hingga berhari-hari. Ada saatnya seperti sadar pada diri dan eksistensinya, sehingga Mariana bisa pergi ke pasar seorang diri untuk membeli sayur mayur. Kadang, seorang kerabat yang tinggal di seberang rumah datang memeriksa makanan apa saja yang ia miliki dan memastikan apakah wanita itu benar-benar makan atau tidak. Sebagaimana warga lain di desa ini, kerabat itu sama sekali tidak tergoda melirik tumpukan harta warisan berupa uang dan emas-emasan di lemari Mariana.<\/p>\n<p>Itu berlangsung hingga dua tahun sampai seorang lelaki paruh baya yang begitu berbeda dari kebanyakan orang datang ke desa. Suatu kali orang-orang berkerumun di pantai. Samuni, nelayan tua yang diyakini hidup di desa ini jauh sebelum orang-orang lain dilahirkan, mengaku menemukan tubuh seorang pria yang terapung di tengah laut bersama batang kayu. Pria itu berkulit bersih dan putih, dan janggut beserta rambutnya kuning keemasan. Seorang manusia yang tampak ajaib, karena di desa ini bahkan belum ada TV.<\/p>\n<p>Orang-orang takjub dan beberapa beranggapan si pria yang terdampar itu malaikat yang kelak membantu mereka melepaskan diri dari penyakit &#8220;kota&#8221; dan kejahatan bajak laut.<\/p>\n<p>Memang sejak dulu kematian oleh penyakit-penyakit &#8220;kota&#8221; yang tak ada obatnya, serta kekejian bajak laut di luar sana, tak lepas dari kehidupan para nelayan di desa ini. Lelaki yang kemudian dikenal bernama Kombarov itu disukai warga usai menunjukkan (secara tak sengaja) bahwa dia mengerti banyak hal ketimbang siapa pun yang terpandai di desa ini.<\/p>\n<p>Sayangnya, perasaan itu cepat berlalu karena rasa cinta Kombarov kepada Mariana. Dia tidak peduli meski mendengar hikayatnya, dan menantang siapa pun yang berani menghalangi upayanya. Tentu akhirnya cinta itu tak berbalas. Mariana tak pernah peduli dan Kombarov pantang menyerah.<\/p>\n<p>Sering mereka tampak berdua saja, dalam jarak yang cukup aman bagi siapa pun yang mengira bahwa lelaki itu bisa saja berbuat tak pantas pada wanita sinting yang tak bisa membentengi diri. Keduanya bagai siluet dalam kanvas berlatar cahaya sore hari. Orang lama-lama membiarkan lelaki asing itu membuntuti Mariana dan mengajaknya bicara entah tentang apa saja.<\/p>\n<p>Saban sore hingga malam, Mariana kerap duduk di pantai, atau kadang berbaring saja, dengan baju tidurnya, demi menunggu sang suami datang. Jika ada yang bilang dia sudah mati, wanita itu hanya akan menyahut, &#8220;Mayat itu bukan suamiku. Dia masih ada di tengah laut, mencari ikan-ikan terakhirnya sebelum membawaku ke kota, ke tempat yang jauh lebih baik.&#8221;<\/p>\n<p>Suatu kali, Kombarov mendengar itu dan mendapat semacam inspirasi untuk dapat meraih perhatian Mariana.<\/p>\n<p>Lelaki asing itu berkata, &#8220;Akulah reinkarnasi suamimu.&#8221;<\/p>\n<p>Mariana sempat percaya. Suatu malam mereka berjalan dalam jarak yang tak biasa. Keduanya pergi ke ruang gelap, kamar Mariana yang bertahun-tahun terasa dingin. Tapi, malam itu juga wanita itu sadar lelaki tersebut pembohong. Dia berteriak tak keruan dan mengundang amarah warga. Kombarov tak menyerah. Sejak itu, sering dia diam-diam ke rumah Mariana. Dengan kecerdasannya yang mengalahi setiap orang di desa ini, tak ada yang menyadari kebiasaan baru lelaki paruh baya tersebut.<\/p>\n<p>Orang hanya tahu si lelaki asing tinggal di bilik Samuni dan membantu nelayan tua itu bekerja sampai dia benar-benar ingat bagaimana caranya pulang ke negerinya. Tiada yang tahu berapa lama kebiasaan baru Kombarov masuk ke rumah Mariana berlangsung, sampai suatu kali kerabat wanita itu memergokinya membuka lemari tersebut.<\/p>\n<p>Si kerabat yakin, Kombarov tak benar-benar pergi ke kamar wanita itu untuk tubuh Mariana, tetapi untuk harta di lemarinya. Mereka berdebat hingga warga terpancing dan kali ini mereka sepakat mengusirnya. Lelaki asing itu mendapat tinjuan dan tendangan berkali-kali hingga membuatnya babak belur. Seharian itu Mariana tampak berbeda. Tak ada yang tahu isi pikiran wanita itu, sejak dulu, bahkan hingga hari ini.<\/p>\n<p>Ketika orang-orang yang menunggu kapal barang (untuk membawa si lelaki asing) pulang karena hari telah gelap, Mariana berbaring di pasir basah, menyatu padanya, dan membiarkan angin malam membuat tubuhnya berasa beku.<\/p>\n<p>Lelaki itu hanya berdiri, tak berkata apa-apa. Tak ada pesan terakhir sebagaimana ketika dulu suaminya pergi ke laut untuk terakhir kali. Tak ada apa-apa. Kombarov dan kapal barang itu menjauh, dan menjauh, tanpa orang-orang sadari betapa kepergiannya kali ini membangun kisah baru di kepala Mariana. Sebuah kisah yang barangkali suatu hari nanti benar-benar mampu mengubah jalan hidupnya. []<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Gempol, 2015-202<\/strong><strong>4<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*KEN HANGGARA<\/strong> lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>23 Juni 2024 Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh Oleh Ken Hanggara* \u00a0 &nbsp; Mariana menyatu pada pasir basah di malam yang berangin. Kapal-kapal angkat sauh sejak tadi. Kini yang tersisa di pantai itu hanyalah dia, butir-butir pasir, dan lelaki paruh baya yang mendambanya sejak lama. Lelaki itu berdiri di bawah naungan terpal, tempat &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1139,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"23 Juni 2024 Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh Oleh Ken Hanggara* \u00a0 &nbsp; Mariana menyatu pada pasir basah di malam yang berangin. Kapal-kapal angkat sauh sejak tadi. Kini yang tersisa di pantai itu hanyalah dia, butir-butir pasir, dan lelaki paruh baya yang mendambanya sejak lama. Lelaki itu berdiri di bawah naungan terpal, tempat &hellip; Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-06-23T04:31:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-06-23T04:32:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/thumbnail-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/\",\"name\":\"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-06-23T04:31:58+00:00\",\"dateModified\":\"2024-06-23T04:32:10+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh - LiteraSIP","og_description":"23 Juni 2024 Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh Oleh Ken Hanggara* \u00a0 &nbsp; Mariana menyatu pada pasir basah di malam yang berangin. Kapal-kapal angkat sauh sejak tadi. Kini yang tersisa di pantai itu hanyalah dia, butir-butir pasir, dan lelaki paruh baya yang mendambanya sejak lama. Lelaki itu berdiri di bawah naungan terpal, tempat &hellip; Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2024-06-23T04:31:58+00:00","article_modified_time":"2024-06-23T04:32:10+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/thumbnail-cerpen-lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/","name":"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2024-06-23T04:31:58+00:00","dateModified":"2024-06-23T04:32:10+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/lelaki-asing-dan-kapal-yang-membawanya-jauh\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Lelaki Asing dan Kapal yang Membawanya Jauh"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1137"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1137\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1142,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1137\/revisions\/1142"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}