{"id":1177,"date":"2024-07-14T09:08:13","date_gmt":"2024-07-14T09:08:13","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1177"},"modified":"2024-07-14T09:10:58","modified_gmt":"2024-07-14T09:10:58","slug":"patung-penari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/","title":{"rendered":"PATUNG PENARI"},"content":{"rendered":"<p>14 Juli 2024<\/p>\n<h1><strong>PATUNG PENARI<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Satria Al-Fauzi Ramadhan*<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1179\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/ilustrasi-cerpen-patung-penari-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/ilustrasi-cerpen-patung-penari-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/ilustrasi-cerpen-patung-penari-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/ilustrasi-cerpen-patung-penari-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/ilustrasi-cerpen-patung-penari-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/ilustrasi-cerpen-patung-penari.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lelaki tua itu berdiri di depan patung penari. Patung cantik yang sengaja dibuat oleh warga dusun untuk menghormati Samiah. Maka patung itu sengaja dibangun di depan gapura dusun.<\/p>\n<p>Matahari begitu membara hingga aroma tanah sedikit seperti aroma kacang goreng. Lelaki itu datang setiap hari hanya untuk mendoakan patung. Sesekali tangannya meraba wajah patung yang tingginya semampai itu.<\/p>\n<p>Warga dusun menganggap ia orang gila. Orang gila yang berasal dari Jatilangkung. Barangkali karena pakaian si lelaki tua yang compang-camping. Namun ia selalu tidak terima jika dilabeli sebagai orang gila. Ia orang waras, orang waras yang juga pernah jatuh cinta!<\/p>\n<p>Samiah adalah penari yang pernah hidup di dusun ini. Ia penari tercantik jika dibandingkan dengan penari-penari sebelumnya. Dan lebih dari itu, selain cantik, berkat kehadirannya dusun ini bangkit dari tidur panjang.<\/p>\n<p>Para priayi dari kecamatan jadi sering datang ke dusun ini hanya untuk bertemu Samiah. Tak mudah untuk merenggut hatinya. Pernah suatu kali seorang priayi datang dan menawarkan separuh hartanya kepada Samiah jika ia bersedia menikah. Samiah menolak begitu saja tanpa pikir panjang. Ia hanya memberi seluruh jiwa raganya pada seorang pemuda yang juga berasal dari dusun ini. Ia sama sekali tidak tergiur dengan harta tetek bengek.<\/p>\n<p>Suatu hari Samiah sedang duduk bersama pemuda itu di pendopo di dekat balai desa. Suara angin semilir yang menghantam rimbun dedaunan terdengar begitu gemeresik.<\/p>\n<p>Samiah menatap alis tebal dan bibir mungil pemuda itu. Barangkali ia sudah setengah mati ingin mencium pipinya. Namun, pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan pergerakan.<\/p>\n<p>Pemuda itu sesungguhnya sejak lama berperang dengan isi kepalanya. Ia berpaling dari tatapan perempuan itu, membuatnya seperti orang kikuk. Matanya berkedip dengan cepat. Detak jantungnya seirama dengan ritme suara <em>engkes <\/em>di pohon sengon.<\/p>\n<p>Bagaimana pun, ia mengakui bahwa perempuan itu memang sangat cantik. Bahkan ia pernah berpikir bahwa sebenarnya Samiah bukan seorang manusia, melainkan jelmaan Dewi Sendang. Dan ia tahu, perempuan itu jatuh cinta padanya. Dan ia juga tahu, dirinya hanya anak dari seorang petani, sedangkan yang berbondong-bondong melamar perempuan itu adalah para priayi.<\/p>\n<p>\u201cKau terlihat tampan hari ini,\u201d ucap Samiah. Pupil matanya bersinar.<\/p>\n<p>Pemuda itu semakin kikuk. Jari-jarinya mengetuk-ketuk pilar pendopo. Ia menatap Samiah. Sekali lagi ia mengakui wajah Samiah yang teramat mulus. Dan rambutnya yang bersulur panjang, mengundang siapa saja untuk mengelusnya barang sebentar.<\/p>\n<p>\u201cAku mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu,\u201d lanjut Samiah. Kini suaranya sedikit lebih parau.<\/p>\n<p>\u201cAku tidak bisa, Miah. Sungguh.\u201d<\/p>\n<p>Pemuda itu kembali berpaling dari tatapan perempuan itu. Ia menatap daun yang berjatuhan. Dan suara <em>engkes <\/em>menghiasi detak jantungnya yang berpacu. Samiah terdiam. Muncul kristal-kristal di kelopak matanya yang sedikit lagi jatuh.<\/p>\n<p>\u201cMaafkan aku, Miah.\u201d<\/p>\n<p>Samiah tidak sanggup menahan tangisnya. Ia berlari ke arah bukit. Air matanya berjatuhan di sepanjang jalan setapak. Sampai di atas bukit, ia duduk bersandar di balik batu besar. Lantas ia menangis sejadi-jadinya. Pemuda itu diam-diam mengintip dari pepohonan. Muncul rasa iba, rasa iba yang memaksa memeras air matanya.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Para warga dusun berbondong-bondong datang ke rumah Samiah. Langit begitu pekat. Tak ada yang lebih berisik selain suara jangkrik. Orang tua Samiah membukakan pintu.<\/p>\n<p>\u201cMana Samiah?\u201d ucap kepala dusun. Nadanya terdengar sedikit lantang. Seperti ada sesuatu yang begitu penting.<\/p>\n<p>Samiah keluar dari kamarnya. Para warga memandangi perempuan berusia sembilan belas tahun itu.<\/p>\n<p>\u201cKau harus bersedia menerima tawaran Pak Kasim. Ini demi keselamatan dusun kita,\u201d kepala dusun kembali memulai perangainya.<\/p>\n<p>Kemarin Pak Kasim datang menemui kepala dusun. Ia datang menawarkan segudang bibit padi untuk dusun ini. Priayi dari kecamatan itu menawarkan bibit padi dengan cuma-cuma. Hanya saja, ada satu syarat. Ya, hanya satu. Menikah dengan penari tercantik dari dusun ini.<\/p>\n<p>Kepala dusun segera woro-woro pada semua warga dusun. Mereka kegirangan. Sudah lebih dari tiga bulan dusun ini kekurangan bibit padi. Pemerintah mengimbau mereka agar makan daging tikus. Tentu saja mereka keberatan. Namun, ada satu dua orang yang benar-benar melakukannya.<\/p>\n<p>Samiah terdiam. Bahunya sedikit turun. Ia tak pernah bersedia menikah dengan siapa pun yang bukan kehendaknya. Namun, sekarang adalah suatu hal yang berbeda. Ia menyayangi dusun ini sebagaimana badai mencintai hujan, hujan mencintai tanah, tanah mencintai rumput, dan seterusnya.<\/p>\n<p>Para warga menunggu jawabannya. Samiah memandangi mereka satu-persatu. Ia berkata bahwa ia bersedia menikah dengan Pak Kasim.<\/p>\n<p>Pemuda itu berada di tengah-tengah para warga. Hatinya tertusuk ribuan tombak setelah mendengar jawaban Samiah. Ia pergi meninggalkan kerumunan. Pergi ke pendopo dekat balai desa. Ia menangis sejadi-jadinya.<\/p>\n<p>Tiga minggu setelah pernikahan Samiah dengan Pak Kasim, ia ditemukan tidak bernyawa di kamarnya. Di samping jasadnya terdapat botol racun ikan.<\/p>\n<p>Kabar kematiannya tersebar begitu cepat.<\/p>\n<p>Para warga dusun merasa sangat terpukul. Mereka telah membunuh seorang penari tercantik. Membunuh dengan cara lain. Kepala dusun paling merasa bersalah saat itu. Ia segera mengumpulkan para warga desa untuk mengenang jasa Samiah. Maka dibangunlah sebuah patung cantik di depan gapura dusun. Patung itu tinggi semampai. Bentuknya persis seperti seorang perempuan yang sedang menari.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Lelaki tua itu memang pernah jatuh cinta. Para warga menganggapnya gila. Barangkali karena pakaiannya yang compang-camping. Ia selalu tidak terima jika diberi label sebagai orang gila. Sebab memang begitulah adanya. Ia bukan orang gila. Ia hanya lelaki tua yang pernah jatuh cinta! Setiap hari ia datang ke depan gapura dusun. Patung itu dipandanginya dengan khidmat. Ia berdoa. Ya, ia selalu mendoakan patung itu.<\/p>\n<p>Seseorang datang ke arahnya. Seseorang yang sejak lama penasaran apa yang dilakukan oleh lelaki tua itu. Ia merupakan penjaga warung kopi di seberang gapura dusun. Ia bisa melihat dari warungnya setiap lelaki tua itu datang ke depan gapura.<\/p>\n<p>\u201cApa yang kau lakukan dengan patung itu?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku mendoakannya.\u201d<\/p>\n<p>Kini penjaga warung kopi itu percaya pada salah satu pelanggannya yang mengatakan bahwa lelaki tua itu memang gila.<\/p>\n<p>\u201cItu hanya sebuah patung,\u201d ucap si penjaga warung kopi. Ia masih sedikit penasaran.<\/p>\n<p>\u201cYa, tapi dia hidup. Lihatlah, ia sedang tersenyum.\u201d<\/p>\n<p>Si penjual kopi menatap patung itu. Dan benar, patung itu memang sedang tersenyum dan sesekali matanya berkedip.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Mojokerto, 2024<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Satria Al-Fauzi Ramadhan<\/strong> lahir di Jakarta, 2005. Menetap di Mojokerto. Lulusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Tulisan-tulisannya, baik fiksi maupun non-fiksi, telah tersebar di berbagai media. Ia bergiat di Komunitas Rabo Sore dan sedang merancang manuskrip kumpulan puisi pertamanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>14 Juli 2024 PATUNG PENARI Oleh Satria Al-Fauzi Ramadhan* \u00a0 &nbsp; Lelaki tua itu berdiri di depan patung penari. Patung cantik yang sengaja dibuat oleh warga dusun untuk menghormati Samiah. Maka patung itu sengaja dibangun di depan gapura dusun. Matahari begitu membara hingga aroma tanah sedikit seperti aroma kacang goreng. Lelaki itu datang setiap hari &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">PATUNG PENARI<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1178,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1177","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>PATUNG PENARI - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"PATUNG PENARI - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"14 Juli 2024 PATUNG PENARI Oleh Satria Al-Fauzi Ramadhan* \u00a0 &nbsp; Lelaki tua itu berdiri di depan patung penari. Patung cantik yang sengaja dibuat oleh warga dusun untuk menghormati Samiah. Maka patung itu sengaja dibangun di depan gapura dusun. Matahari begitu membara hingga aroma tanah sedikit seperti aroma kacang goreng. Lelaki itu datang setiap hari &hellip; PATUNG PENARI Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-07-14T09:08:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-07-14T09:10:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/thumbnail-cerpen-patung-penari.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/\",\"name\":\"PATUNG PENARI - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-07-14T09:08:13+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-14T09:10:58+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"PATUNG PENARI\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"PATUNG PENARI - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"PATUNG PENARI - LiteraSIP","og_description":"14 Juli 2024 PATUNG PENARI Oleh Satria Al-Fauzi Ramadhan* \u00a0 &nbsp; Lelaki tua itu berdiri di depan patung penari. Patung cantik yang sengaja dibuat oleh warga dusun untuk menghormati Samiah. Maka patung itu sengaja dibangun di depan gapura dusun. Matahari begitu membara hingga aroma tanah sedikit seperti aroma kacang goreng. Lelaki itu datang setiap hari &hellip; PATUNG PENARI Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2024-07-14T09:08:13+00:00","article_modified_time":"2024-07-14T09:10:58+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/thumbnail-cerpen-patung-penari.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/","name":"PATUNG PENARI - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2024-07-14T09:08:13+00:00","dateModified":"2024-07-14T09:10:58+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/patung-penari\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"PATUNG PENARI"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1177"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1177\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1184,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1177\/revisions\/1184"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}