{"id":1235,"date":"2024-08-11T21:19:04","date_gmt":"2024-08-11T21:19:04","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1235"},"modified":"2024-08-11T21:19:04","modified_gmt":"2024-08-11T21:19:04","slug":"uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/","title":{"rendered":"UANG"},"content":{"rendered":"<p>11 Agustus 2024<\/p>\n<h1><strong>UANG<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Herumawan P A*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1237\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/ilustrasi-cerpen-uang-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/ilustrasi-cerpen-uang-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/ilustrasi-cerpen-uang-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/ilustrasi-cerpen-uang-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/ilustrasi-cerpen-uang-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/ilustrasi-cerpen-uang.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketika aku kecil, Simbah Putri<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\"><sup>[1]<\/sup><\/a> sering bercerita tentang Qarun<a href=\"#_ftn2\" name=\"_ftnref2\"><sup>[2]<\/sup><\/a> dan Tsa&#8217;labah<a href=\"#_ftn3\" name=\"_ftnref3\"><sup>[3]<\/sup><\/a> sebagai dongeng penghantar tidur. Ia betul-betul menghayati perannya sebagai pencerita. Gaya berceritanya sungguh membuatku enggan tidur. Entah sudah berapa ratus kali dua cerita itu diceritakannya kepadaku, silih berganti.<\/p>\n<p>&#8220;Sekali kamu anggap uang di atas semesta, ia tidak akan melepaskanmu. Kekuatan mengerikannya akan terus menderamu hingga kamu lupa diri.&#8221; Begitu selalu perkataan Simbah Putri setiap kali mengakhiri ceritanya. Tapi aku yang saat itu masih kecil tidak percaya bukan pada dua cerita yang sering diceritakan Simbah Putri melainkan perkataannya tentang uang yang mempunyai kekuatan mengerikan. Menurut nalar kritis didikan Ayahku seorang professor di New York yang meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang setahun sebelumnya, uang tidak dapat dipersalahkan karena ia hanya benda mati. Orang-orang yang memegang uanglah yang salah memahami tujuan untuk apa uang yang mereka punyai.<\/p>\n<p>Makanya saat dewasa, aku mencoba memahami mengapa Tuhan memberiku banyak uang, agar aku bisa menggunakannya untuk kepentingan masyarakat luas. Karena itu aku mempertaruhkan semua uang yang kumiliki untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Tapi aku gagal. Uangku hampir habis. Aku jadi stres. Menyalahkan Tuhan atas kegagalanku ini.<\/p>\n<p>Belum sempat aku menenangkan batin dan pikiran, hidupku kembali diguncang kesedihan. Simbah Putri yang selalu bercerita semasa aku kecil berpulang meninggalkanku dalam kepungan warisan uang banyak. Tapi itu tidak banyak berarti bagiku. Rasa penyesalan gagal jadi anggota legislatif daerah masih saja terus menghantuiku.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Kubuka perlahan kembali ingatan masa kecil yang sudah tidak begitu jelas, penuh goresan luka dan nestapa hidup. Aku berusaha keras menepiskan penyesalanku yang mencapai tingkat akut. Kemudian coba mengingat perkataan simbah tentang kekuatan mengerikan uang yang pertama.<\/p>\n<p>&#8220;Mungkin ini yang dulu dibilang Simbah Putri, bikin pusing salah satu kekuatan mengerikan uang.&#8221; Aku memandangi uang banyak di atas meja. Ini baru sebagian kecil saja, yang lebih banyak ada di rekeningku. Tidak tahu harus kuapakan uangku? Aku coba mencari obat pusing ke luar rumah. Di tengah jalan, rasa pusingku yang kian menguat. Aku tidak sengaja bertemu teman semasa sekolah dulu. Kuceritakan rasa pusing di kepala. Ia tersenyum.<\/p>\n<p>&#8220;Sini, aku obati.&#8221; Awalnya aku tidak percaya tapi karena ia pintar membujuk, aku tidak ada alasan selain menurutinya. Ia langsung memegang kepalaku. Lalu menggerakan jari-jarinya secara teratur, sesekali menekan kulit kepalaku.<\/p>\n<p>&#8220;Bagaimana rasanya?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Enak, sudah tidak pusing lagi. Sentuhanmu seperti orang sakti saja.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Aku bukan orang sakti, aku ini pemijat.&#8221; Aku tersenyum mendengarnya. Lalu berterima kasih. Sayangnya sebelum aku meminta saran obat mengatasi rasa pusingku, ia sudah terlanjur pergi.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Aku mencoba mengalihkan pusingku dengan menghitung selembar demi selembar uang di atas meja. Uang. Semua butuh uang. Aku sesekali berteriak lalu tertawa sendiri di sela aktivitasku menghitung uang. Tidak peduli orang lewat, tetangga kanan kiri menganggapku stres. Yang penting, aku sekarang punya banyak uang.<\/p>\n<p>Kemudian kekuatan mengerikan uang yang lain bergantian datang menyelimutiku itu bikin bingung. Aku lantas duduk bersila. Kuatur nafas pelan-pelan. Menarik dan membuang nafas tidak buru-buru. Perlahan nan pasti, rasa bingung sudah bisa aku kendalikan. Tapi begitu melihat uang banyak yang kupunya, rasa bingung kembali menyergap.<\/p>\n<p>Kuceritakan rasa bingung ini kepada seorang teman dekat yang santai hidupnya. Ia\u00a0 memberiku ide untuk memamerkan semua uangku di media sosial. Ah, sungguh teman yang baik. Teman seperti ini harus dijaga dan dirawat baik-baik.<\/p>\n<p>Kekuatan mengerikan uang yang lain di kepala menutupi rasa bingungku itu bikin sombong.<\/p>\n<p>&#8220;Pamer uang? Aku akan tampak kaya, kaya sekali.&#8221; Aku tertawa terbahak-bahak. Aku pun mencobanya. Belum ada satu jam, unggahan pamer uang di akun media sosialku dibanjiri komentar. Mulai dari mengemis-mengemis agar diberi uangnya dengan beragam alasan yang entah benar atau dibuat-buat.<\/p>\n<p>Ada juga dinas pajak menyapaku, &#8220;Jangan lupa bayar pajak, Mas. Karena orang bijak taat pajak.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu datang sebuah komentar yang tidak kuharapkan, &#8220;Jangan sombong, Mas. Uangmu masih kalah banyak dibandingkan milik Qarun di mana peti-peti besar uang beserta kunci-kuncinya harus dipikul banyak penjaga.&#8221;<\/p>\n<p>Kata Qarun mengingatkanku pada cerita Simbah Putri saat aku kecil. Dan tanpa pikir panjang langsung kuhapus unggahanku.<\/p>\n<p>Aku pun menyadari uangku juga bisa berkurang bahkan hilang saat tahu uang teman-temanku habis termasuk teman yang menyaranku pamer uang di media sosial. Tapi mereka malah bersuka cita \u201cmerayakan tidak punya uang\u201d di sebuah kafe. Dan aku yang selalu diminta membayari mereka. Kalau tidak mau, aku dibilang pelit dan tidak setia kawan. Terkadang disertai ancaman kekerasan dengan alasan sudah berteman lama. Aku merasa mereka memanfaatkanku, hanya ingin uangku saja.<\/p>\n<p>Kekuatan mengerikan uang yang lain membisikku, &#8220;Jangan-jangan masih ada banyak orang yang ingin memperalatmu, membodohimu, memerasmu secara halus lalu perlahan mencuri sedikit demi sedikit uangmu seperti keluargamu, kerabatmu dan teman-temanmu&#8221; Membuatku terbayang kembali kelakuan mereka yang sering meminta uang kepadaku untuk keperluan ini itu. Aku jadi takut dan paranoid.<\/p>\n<p>Aku tidak mau terjadi lagi. Aku harus menjauhi mereka yang bernama manusia. Aku putuskan kontak dengan semua temanku. Kukuras isi tabunganku di bank lewat.ATM hingga limit saldo terkecil. Lalu menyamar sebagai petugas <em>forklift<a href=\"#_ftn4\" name=\"_ftnref4\"><sup><strong>[4]<\/strong><\/sup><\/a> <\/em>kontainer di pelabuhan. Kuambil satu peti kemas kosong di sana. Mengisinya dengan banyak uangku. Kemudian menghanyutkannya ke lautan lepas bersama diriku di dalamnya. Terapung-apung hingga samudera luas.<\/p>\n<p>Uang, kamu membuatku merasakan perasaan cinta mati yang begitu dalam di hati. Menganggap semua hal tidaklah penting dilakukan kecuali mendekap, menciumi, mencumbui uangku. Hin\u0123ga tidak mau kehilangannya walau hanya selembar.<\/p>\n<p>Aku pun mantap memulai sebuah perjalanan hidup baru, bersama uangku yang banyak di dalam peti kemas, yang kusebut rumah paling aman. Terapung-apung di samudera luas. Tidak peduli lapar haus. Akan kuhabiskan sisa hidup dengan uangku yang banyak. Ya, hanya berdua saja. (*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>*) Yogyakarta, 13 Juni 2024<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\"><sup>[1]<\/sup><\/a> Simbah Putri (Bahasa Jawa): Nenek.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref2\" name=\"_ftn2\"><sup>[2]<\/sup><\/a> Qarun: Orang terkaya tapi kikir di zaman Nabi Musa AS.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref3\" name=\"_ftn3\"><sup>[3]<\/sup><\/a> Tsa&#8217;labah: Salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang ketika diberi harta banyak oleh Allah SWT, Ia tidak mau berzakat.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref4\" name=\"_ftn4\"><sup>[4]<\/sup><\/a> Forklift: Sejenis alat angkut berupa truk garpu yang dioperasikan untuk mengangkat benda-benda berat dari satu tempat ke tempat lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Herumawan Prasetyo Adhie (Herumawan P A)<\/strong>. Karya cerpen saya pernah dimuat di Kompas.id, Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Harian Rakyat Sultra, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya Republika, Serambi Ummah, Solopos, Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia). Buku Kumpulan Cerpen berjudul \u201cPulsa Nyawa\u201d karya saya, terbit bulan Agustus 2019 oleh AT Press Lombok.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>11 Agustus 2024 UANG Oleh Herumawan P A* &nbsp; &nbsp; Ketika aku kecil, Simbah Putri[1] sering bercerita tentang Qarun[2] dan Tsa&#8217;labah[3] sebagai dongeng penghantar tidur. Ia betul-betul menghayati perannya sebagai pencerita. Gaya berceritanya sungguh membuatku enggan tidur. Entah sudah berapa ratus kali dua cerita itu diceritakannya kepadaku, silih berganti. &#8220;Sekali kamu anggap uang di atas &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">UANG<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1236,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1235","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>UANG - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"UANG - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"11 Agustus 2024 UANG Oleh Herumawan P A* &nbsp; &nbsp; Ketika aku kecil, Simbah Putri[1] sering bercerita tentang Qarun[2] dan Tsa&#8217;labah[3] sebagai dongeng penghantar tidur. Ia betul-betul menghayati perannya sebagai pencerita. Gaya berceritanya sungguh membuatku enggan tidur. Entah sudah berapa ratus kali dua cerita itu diceritakannya kepadaku, silih berganti. &#8220;Sekali kamu anggap uang di atas &hellip; UANG Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-08-11T21:19:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/thumbnail-cerpen-uang.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/\",\"name\":\"UANG - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-08-11T21:19:04+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-11T21:19:04+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"UANG\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"UANG - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"UANG - LiteraSIP","og_description":"11 Agustus 2024 UANG Oleh Herumawan P A* &nbsp; &nbsp; Ketika aku kecil, Simbah Putri[1] sering bercerita tentang Qarun[2] dan Tsa&#8217;labah[3] sebagai dongeng penghantar tidur. Ia betul-betul menghayati perannya sebagai pencerita. Gaya berceritanya sungguh membuatku enggan tidur. Entah sudah berapa ratus kali dua cerita itu diceritakannya kepadaku, silih berganti. &#8220;Sekali kamu anggap uang di atas &hellip; UANG Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2024-08-11T21:19:04+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/thumbnail-cerpen-uang.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/","name":"UANG - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2024-08-11T21:19:04+00:00","dateModified":"2024-08-11T21:19:04+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/uang\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"UANG"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1235"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1235\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1240,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1235\/revisions\/1240"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}