{"id":1302,"date":"2024-09-15T10:01:58","date_gmt":"2024-09-15T10:01:58","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1302"},"modified":"2024-09-15T10:01:58","modified_gmt":"2024-09-15T10:01:58","slug":"kisah-pembuat-naskah-pidato","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/","title":{"rendered":"Kisah Pembuat Naskah Pidato"},"content":{"rendered":"<p>15 September 2024<\/p>\n<h1><strong>Kisah Pembuat Naskah Pidato <\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Ilham Wahyudi*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1304\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/ilustrasi-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/ilustrasi-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/ilustrasi-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/ilustrasi-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/ilustrasi-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/ilustrasi-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sesaat setelah kembali pulang ke tanah air yang aku cintai, aku mendengarkan sebuah pidato politik di televisi, di rumah keponakanku yang pagi-pagi tadi menjemputku ke bandara. Pidato itu berbunyi: \u201dJika aku jadi dilantik, aku akan menjadi pemimpin yang akan membuka keran pintu kritik selebar-lebarnya lebar. Aku juga berjanji hanya akan memilih pembantu-pembantu dalam kabinetku berdasarkan keahlian dan kemampuan mereka masing-masing. Tak ada satupun partai politik yang boleh menekan, apalagi memaksakan kehendaknya kepadaku.\u201d\u00a0Ya Tuhan, batinku. Isi dalam perutku mendadak berputar dan aku sangat ingin muntah mendengarnya. Sudah sering dulu aku mendengar pidato politik serupa itu. Bahkan aku juga pernah bekerja sebagai orang yang menyusun naskah pidato yang nada-nadanya macam begitu.<\/p>\n<p>\u201dApakah naskah ini bagus menurut, Bapak? Jika masih kurang menggigit, saya mampu membuatnya lebih bergigi lagi,\u201d kataku kala itu.<\/p>\n<p>\u201dO, tidak, Mahli! Sepertinya ini sudah cukup untuk membuat mereka semua memilih saya kembali. Yang terpenting pastikan saja untuk kata-kata yang berbahasa asing, tolong dituliskan dengan bahasa yang mudah saya pahami dan mudah pula saya ucapkan,\u201d balasnya sambil tersenyum.<\/p>\n<p>Di kesempatan lain, aku juga pernah membuatkan sebuah naskah pidato yang berisi dengan kata-kata bernada patriotik tatkala negeri kami sedang dilanda krisis ekonomi yang cukup parah. Tokoh politik yang baru dilantik untuk periode yang kedua itu senyata mampu membakar jiwa nasionalisme rakyat. Sehingga ketika dia membuat peraturan yang mengurangi subsidi dan menaikkan pajak, tak satu pun rakyat yang protes bersuara. Kampus-kampus juga sepi dan partai-partai oposisi tak satupun yang berani bersuara. Hal tersebut mungkin karena rakyat merasa mesti harus berani berkorban demi bangsa dan negara yang sedang membutuhkan sokongan dana menghadapi krisis ekonomi. Rakyat juga merasa pemerintah harus lah terus didukung, bukan sebaliknya dihadiahkan demo dan protes-protes.<\/p>\n<p>Tetapi itu dulu. Dahulu sekali ketika aku masih berusia 30 tahunan. Sedangkan sekarang aku sudah 60 tahunan, lebih tepatnya 64 tahun. Pemimpin yang aku maksud juga sudah wafat. Dan dia wafat akibat sebuah gelombang protes yang akhirnya meletus juga beberapa bulan sebelum masa kepemimpinan periode keduanya berakhir.<\/p>\n<p>Kala itu pemicunya adalah pengangkatan adik kandungnya menjadi wakil presiden sesaat setelah wakil presiden pasangannya dalam pemilu pemilihan presiden meninggal dunia. Menurut penyelidikan yang beredar, kuat dugaan kalau kematian tersebut didalangi sebuah kelompok teroris yang ingin memisahkan diri dari negeri kesatuan. Dengan kemarahan yang tak bisa diterjemahkan lagi, rakyat dan mahasiswa menyerbu istana negeri, lalu menarik paksa pemimpin negeri kami ke sebuah lapangan yang selalu menjadi tempat baginya menyampaikan pidato-pidato politik.<\/p>\n<p>Di lapangan itu, pemimpin negeri kami diikat di bawah tiang bendera dan kemudian dilempari dengan apa saja. Tak sampai 30 menit, dia kembali ke pangkuan Tuhan. Rakyat bersorak-sorai gembira. Dan sejak saat itu negeri kami mengalami reformasi yang luar biasa fundamental. Semua antek-antek mantan pemimpin negeri disikat tanpa sempat melakukan pembelaan diri. Aku yang sejak awal berada di sekitar kekuasaan terpaksa angkat kaki segera.<\/p>\n<p>Kini setelah 30 tahun reformasi, aku kembali ke tanah air yang telah memberikan segalanya bagiku. Dan betapa terkejutnya aku sesaat setelah sampai di rumah keponakanku, aku malah mendengar kembali pidato yang begitu mirip dengan pidato yang dulu sering aku buatkan naskahnya untuk penguasa negeri ini. Penasaran aku bergumam sekenanya ketika pidato politik tersebut sudah tak terdengar lagi, \u201dSiapa pula yang menulis naskah pidato itu? Mengapa isinya begitu mirip dengan naskah yang pernah aku buat dulu?\u201d<\/p>\n<p>Keponakanku yang sedang membuatkan teh menjawab gumamku seraya berjalan menuju tempatku duduk, \u201dAku lah yang membuat pidato itu, Paman. Aku banyak belajar dari Paman. Bagiku Paman menginspirasi dan menggugah jiwa mudaku yang merindukan kejayaan bangsa dan negara ini,\u201d kata keponakanku sambil meletakkan teh di meja yang tepat di hadapanku.<\/p>\n<p>Aku terpana mendengar pernyataannya. Aku menjadi teringat pula peristiwa sekitar 30 tahun yang lalu; peristiwa yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik. Tapi kental berhubungan dengan hidupku. Apa benar dia anakku? Oh, Jamila, seriuskah perkataan kau saat itu? Mengapa aku mudah saja menganggap itu sebagai guyon belaka.<\/p>\n<p>\u201dDi manakah ibumu, Jamal?\u201d tanyaku kepada keponakanku.<\/p>\n<p>\u201dIbu sudah meninggal, Paman. Persis setahun lalu saat aku mulai dipercaya sebagai penasihat calon presiden terpilih saat ini, Paman,\u201d jawabnya dengan senyum semringah.<\/p>\n<p>Aku mendadak seperti terlempar ke masa lampau. Masa di mana aku begitu bangga karena diminta menjadi penasehat presiden kala itu. Dan Jamila, ya Jamila, dengan menangis tersedu-sedu di bawah kakiku memohon untuk kunikahi. Namun aku tak peduli dan menolaknya. Akhirnya, adik kembarku lah yang menikahi Jamila.<\/p>\n<p><em>Oh, Tuhan, benarkah Jamal anakku?Tepatkah aku kembali ke tanah air?<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Akhir Zaman<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>ILHAM WAHYUDI*<\/strong>. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU Timur dan seorang penggemar berat Juventus Football Club. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada yang ditolak. Buku kumpulan cerpennya \u201cKe Mana Bus Itu Membawa Kami?\u201d tidak lama lagi akan segera terbit.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>15 September 2024 Kisah Pembuat Naskah Pidato Oleh Ilham Wahyudi* &nbsp; &nbsp; Sesaat setelah kembali pulang ke tanah air yang aku cintai, aku mendengarkan sebuah pidato politik di televisi, di rumah keponakanku yang pagi-pagi tadi menjemputku ke bandara. Pidato itu berbunyi: \u201dJika aku jadi dilantik, aku akan menjadi pemimpin yang akan membuka keran pintu kritik &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Kisah Pembuat Naskah Pidato<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1306,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kisah Pembuat Naskah Pidato - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kisah Pembuat Naskah Pidato - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"15 September 2024 Kisah Pembuat Naskah Pidato Oleh Ilham Wahyudi* &nbsp; &nbsp; Sesaat setelah kembali pulang ke tanah air yang aku cintai, aku mendengarkan sebuah pidato politik di televisi, di rumah keponakanku yang pagi-pagi tadi menjemputku ke bandara. Pidato itu berbunyi: \u201dJika aku jadi dilantik, aku akan menjadi pemimpin yang akan membuka keran pintu kritik &hellip; Kisah Pembuat Naskah Pidato Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-15T10:01:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/thumbnail-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/\",\"name\":\"Kisah Pembuat Naskah Pidato - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-09-15T10:01:58+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-15T10:01:58+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kisah Pembuat Naskah Pidato\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kisah Pembuat Naskah Pidato - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kisah Pembuat Naskah Pidato - LiteraSIP","og_description":"15 September 2024 Kisah Pembuat Naskah Pidato Oleh Ilham Wahyudi* &nbsp; &nbsp; Sesaat setelah kembali pulang ke tanah air yang aku cintai, aku mendengarkan sebuah pidato politik di televisi, di rumah keponakanku yang pagi-pagi tadi menjemputku ke bandara. Pidato itu berbunyi: \u201dJika aku jadi dilantik, aku akan menjadi pemimpin yang akan membuka keran pintu kritik &hellip; Kisah Pembuat Naskah Pidato Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2024-09-15T10:01:58+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/thumbnail-cerpen-kisah-pembuat-naskah-pidato.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/","name":"Kisah Pembuat Naskah Pidato - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2024-09-15T10:01:58+00:00","dateModified":"2024-09-15T10:01:58+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/kisah-pembuat-naskah-pidato\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kisah Pembuat Naskah Pidato"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1302"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1302\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1307,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1302\/revisions\/1307"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1306"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}