{"id":1361,"date":"2024-10-13T09:20:18","date_gmt":"2024-10-13T09:20:18","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1361"},"modified":"2024-10-13T09:20:18","modified_gmt":"2024-10-13T09:20:18","slug":"puisi-puisi-andi-wirambara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/","title":{"rendered":"Puisi-Puisi Andi Wirambara"},"content":{"rendered":"<p>13 Oktober 2024<\/p>\n<h1><strong>Puisi-Puisi Andi Wirambara<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Andi Wirambara*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1356\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/ilustrasi-puisi-andi-wirambara-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/ilustrasi-puisi-andi-wirambara-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/ilustrasi-puisi-andi-wirambara-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/ilustrasi-puisi-andi-wirambara-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/ilustrasi-puisi-andi-wirambara-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/ilustrasi-puisi-andi-wirambara.jpg 1440w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Petak Umpet yang Panjang<\/strong><\/p>\n<p>setelah hitungan kesepuluh, aku berbalik<br \/>\ndan membuka mata yang sedari tadi tertutup<\/p>\n<p>lalu menyesali, mengapa kita harus<br \/>\nmemulai permainan ini?<\/p>\n<p>1.<br \/>\ndi taman ini, kuperiksa setiap kaleng-kaleng minuman<br \/>\nyang berserakan, yang telah kosong seperti tatapan<br \/>\nseorang tanpa rangkulan harapan-harapan di pundak<\/p>\n<p>hingga datang angin paling hening,<br \/>\naku hanya menemukan hangat dengus napasmu<br \/>\nyang telah dipecah-pecah oleh bunyi serangga<\/p>\n<p>2.<br \/>\naku keluar dari taman, dan memeriksa<br \/>\nsetiap persimpangan jalan<br \/>\nmengetuk-ngetuk tiang listrik<br \/>\nmemeriksa selebaran di tembok jalan<\/p>\n<p>melempari anjing dengan batu<br \/>\nmenggoyang-goyangkan pohon<br \/>\nmenengok saku baju yang berisi<br \/>\nkeping-keping sidik jarimu<\/p>\n<p>3.<br \/>\ndi danau, seorang pendayung perahu<br \/>\nmelukis jala di telapak tangannya<br \/>\n&#8220;musim-musim begini, kebahagiaan<br \/>\nsering terlihat berenang di danau ini.&#8221;<\/p>\n<p>aku duduk di pinggirnya, termenung<br \/>\nberbulan-bulan. barangkali kau akan<br \/>\nmenyembul berkecipak dari dasar<\/p>\n<p>4.<br \/>\ntibalah aku di sebuah pekuburan dengan kamboja<br \/>\ntumbuh di sudut-sudut pekarangannya<br \/>\nwanita bertopi lebar duduk menangis di depan nisan<br \/>\nbertuliskan namanya sendiri<\/p>\n<p>kueja nama pada nisan-nisan lain<br \/>\napa kau tengah sembunyi di antara liang-liang<br \/>\nyang ditimbun tangisan ini?<\/p>\n<p>5.<br \/>\nkuputuskan berbalik dan berjalan<br \/>\nmundur bertahun-tahun ke belakang<\/p>\n<p>akhirnya kutemui kau di sana, di sebuah taman<br \/>\nkau yang mulai berjingkit pergi<br \/>\nsementara seseorang lain tengah menutup mata<\/p>\n<p>berhitung satu, sampai dengan sepuluh.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Memandangi Kosmis<\/strong><\/p>\n<p>jari yang kau letak di bibirmu itu<br \/>\nsore tadi datang padaku<br \/>\nmembawa bakso, sambalnya terpisah<br \/>\ndan pada kesaksian mangkuk ayam jago<br \/>\nkami melontar candaan ke langit<br \/>\nnamun hanya kau yang tertawa<br \/>\ndan jarimu tadi menuntun<br \/>\nsenyummu berjinjit di garis-garis<br \/>\nrasi bintang yang merupa kurva<br \/>\nnaik-turunnya kerinduan<br \/>\ndi kosmis yang kupandangi<br \/>\nkemudian kau cerabut<br \/>\ndari lengang dadaku<\/p>\n<p>pada pantulan kuah bakso<br \/>\nbulat pipimu menjadi kelopak bunga<br \/>\nyang gugur dan berbaring tenang<br \/>\nsebagai kosmis<br \/>\ntempat jagad baru<br \/>\ndari rinduku untuk terlahir, berkecipak,<br \/>\ndan berlari-larian tanpa mengenal<br \/>\ntelah berapa hujan tuntas di sana.<\/p>\n<p><em>Pasuruan, 2024<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Jala<\/strong><\/p>\n<p>Kau menyebutnya perjalanan, aku memanggilnya sebagai pelajaran untuk menjalakan kepergian. Menjalakan ikan-ikan yang memeluk batang padi yang merunduk, merenungi tempat tumbuh yang kian dihuni oleh semen dan bebatuan.<\/p>\n<p>Aku tak mendengar padi itu menangis, namun aku melihat air matanya di sungai yang mengalir dan mengairi batang-batang tebu. Air mata selalu asin, katamu. Kemudian aku menebak-nebak apakah rasa air mata sama jika tebu-tebu itu ikut menangis bersama padi?<\/p>\n<p>Kau tak tertarik pada cerita padi dan tebu itu. Kau tak tertarik pada jala yang kusebut. Apa yang berlalu tetap kausebut perjalanan, yang melintas cepat seperti bayang-bayang daun di jendela kereta.<\/p>\n<p>Aku tetap memaknainya sebagai jala yang siap menangkap kepergian apapun; sekalipun itu bayangan daun, kerikil yang terpental, raung klakson kereta, hingga suara dengkur dan kentut bayi di dalam gerbong.<\/p>\n<p>Bahkan rindu.<\/p>\n<p>Kemudian kulihat kau di dalam jala. Berontak dan berkecipak seperti ikan-ikan yang tak lagi memeluk batang-batang padi.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Perihal Kuku<\/strong><\/p>\n<p>Coba kau kait panjang rambutmu dengan tajam rindu yang kelak disulam menjadi seutuh-utuh gaun pengantin. Ada remah kuku yang pernah hancur saat kupakai jariku untuk membuang genang air mata di matamu.<\/p>\n<p>Remah, dan repih.<\/p>\n<p>Padahal kuku itu padang yang kusiapkan untukmu. Ada istana, kastil, hingga gubuk-gubuk bulu mata terbangun tinggi untuk kau coba satu-satu. Untuk kau tinggali beberapa musim sekali. Barangkali kau ingin menghuni ruang lain selain di dada, otak, ataupun mataku. Sebab itu, kusodorkan kuku untukmu.<\/p>\n<p>Kuku ini tak serapuh daun dari reinkarnasi tawamu yang pernah mati. Yang pecah sebelum mengecup tanah. Kuku ini pun tak sepenakut jarak yang tiada berani memotong-motong dirinya sendiri. Yang tak berani menyiapkan pertemuan yang rapi. Namun kuku ini tak pandai menyembunyikan rahasia. Maka, maukah kau maafkan segala jujur yang tak sengaja menggores empuk pipimu?<\/p>\n<p>Seperti halnya kuku, rindu tak pernah sakit jika patah. Namun kau tahu, rindu dan hati adalah pengantin yang saling setia. Pun kau tahu aku tak mau memanjangkan kuku. Aku takut ia akan mengganti detak lengan yang biasa memelukmu ini. Melingkari sisi-sisi pundakmu yang telah banyak menghapal asin airmata.<\/p>\n<p>Akhirnya, kau adalah jari yang rutin memanjangkan rindu di ujung kuku. Dan memangkasnya jika tumbuh rindu<\/p>\n<p>yang bukan aku.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Andi Wirambara<\/strong>, lahir 24 September di Ambon.\u00a0Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi <em>Harmonika Lelaki Sepi<\/em> (2010), kumpulan cerpen <em>Sekeping Tand<\/em>a (2011), kumpulan puisi <em>Lengkung<\/em> (2012), dan kumpulan cerpen <em>Tentang Pertemuan<\/em> (2014). Berdomisili di Malang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>13 Oktober 2024 Puisi-Puisi Andi Wirambara Oleh Andi Wirambara* &nbsp; &nbsp; Petak Umpet yang Panjang setelah hitungan kesepuluh, aku berbalik dan membuka mata yang sedari tadi tertutup lalu menyesali, mengapa kita harus memulai permainan ini? 1. di taman ini, kuperiksa setiap kaleng-kaleng minuman yang berserakan, yang telah kosong seperti tatapan seorang tanpa rangkulan harapan-harapan di &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Puisi-Puisi Andi Wirambara<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1357,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1361","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-puisi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Puisi-Puisi Andi Wirambara - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puisi-Puisi Andi Wirambara - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"13 Oktober 2024 Puisi-Puisi Andi Wirambara Oleh Andi Wirambara* &nbsp; &nbsp; Petak Umpet yang Panjang setelah hitungan kesepuluh, aku berbalik dan membuka mata yang sedari tadi tertutup lalu menyesali, mengapa kita harus memulai permainan ini? 1. di taman ini, kuperiksa setiap kaleng-kaleng minuman yang berserakan, yang telah kosong seperti tatapan seorang tanpa rangkulan harapan-harapan di &hellip; Puisi-Puisi Andi Wirambara Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-10-13T09:20:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/thumbnail-puisi-andi-wirambara.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"864\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/\",\"name\":\"Puisi-Puisi Andi Wirambara - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-10-13T09:20:18+00:00\",\"dateModified\":\"2024-10-13T09:20:18+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puisi-Puisi Andi Wirambara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puisi-Puisi Andi Wirambara - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Puisi-Puisi Andi Wirambara - LiteraSIP","og_description":"13 Oktober 2024 Puisi-Puisi Andi Wirambara Oleh Andi Wirambara* &nbsp; &nbsp; Petak Umpet yang Panjang setelah hitungan kesepuluh, aku berbalik dan membuka mata yang sedari tadi tertutup lalu menyesali, mengapa kita harus memulai permainan ini? 1. di taman ini, kuperiksa setiap kaleng-kaleng minuman yang berserakan, yang telah kosong seperti tatapan seorang tanpa rangkulan harapan-harapan di &hellip; Puisi-Puisi Andi Wirambara Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2024-10-13T09:20:18+00:00","og_image":[{"width":1440,"height":864,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/thumbnail-puisi-andi-wirambara.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/","name":"Puisi-Puisi Andi Wirambara - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2024-10-13T09:20:18+00:00","dateModified":"2024-10-13T09:20:18+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-andi-wirambara\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puisi-Puisi Andi Wirambara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1361","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1361"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1361\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1362,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1361\/revisions\/1362"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1357"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}