{"id":1581,"date":"2025-02-16T02:33:53","date_gmt":"2025-02-16T02:33:53","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1581"},"modified":"2025-02-16T02:33:53","modified_gmt":"2025-02-16T02:33:53","slug":"keluarga-semesta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/","title":{"rendered":"Keluarga Semesta"},"content":{"rendered":"<p>16 Februari 2025<\/p>\n<h1><strong>Keluarga Semesta<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Ken Hanggara*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1582\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/ilustrasi-cerpen-keluarga-semesta.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/ilustrasi-cerpen-keluarga-semesta.jpg 1080w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/ilustrasi-cerpen-keluarga-semesta-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/ilustrasi-cerpen-keluarga-semesta-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/ilustrasi-cerpen-keluarga-semesta-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/ilustrasi-cerpen-keluarga-semesta-768x768.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kami tidak pergi sebelum semua warga kota menerima bingkisan kami. Bila suatu kota menyambut kami dengan baik, maka kami akan segera pergi dari kota tersebut. Sebab, itu artinya, setiap orang di kota sudah mendapatkan jatah bingkisannya masing-masing.<\/p>\n<p>&#8220;Lain halnya dengan kota ini,&#8221; keluh Ayah dengan raut wajah kecewanya. &#8220;Sudah berapa tahun kita tak jumpa orang-orang sekeras ini, Thea? Bagaimana mungkin orang-orang itu menolak bingkisan kita?! Mereka bahkan tak perlu membayar!&#8221;<\/p>\n<p>Ibu hanya menghela napas mendengar keluhan Ayah. Saat ini malam merayap jauh ke sudut-sudut kota Kalodora, sebuah kota kecil di tepi pantai yang kami singgahi. Tiap rumah telah menutup diri. Tiap kepala keluarga merapal mantra-mantra pelindung. Dan, yah, sebagai orang luar, kami tidak tidur di bawah atap salah satu rumah itu. Kami cuma bisa menyewa kamar hotel yang sangat sempit dan gelap.<\/p>\n<p>&#8220;Dan, sekarang mereka menganggap kita salah satu hal yang harus dimantrai sebab kitalah orang-orang jahatnya!&#8221; lanjut Ayah dengan kepalan tangan tertumpu di meja.<\/p>\n<p>&#8220;Kita tidak jahat, bukan? Kita memberi mereka hadiah!&#8221; celetuk Ang, adikku yang paling kecil.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak! Oh, tentu tidak, Ang sayang!&#8221; Ibu lekas menghambur dan memeluk si kecil Ang. &#8220;Bagaimana mungkin orang jahat dengan rela dan tulus menyediakan bingkisan di setiap kota yang mereka kunjungi? Lalu membagi-bagikan semua bingkisan itu kepada orang-orang yang tidak dikenal?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Orang jahat tidak berbuat seperti apa yang kita perbuat, Nak,&#8221; imbuh Ayah sambil membuka peti kayunya yang masih berisi enam belas bingkisan. &#8220;Sangat mengecewakan bagaimana cara anak-anak itu menolak bingkisan kita. Padahal aku tahu mereka sangat membutuhkan ini!&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Kita bisa mempergunakan bingkisan yang ditolak itu sebagai bekal perjalanan ke kota berikutnya, kan?&#8221; celetuk Ang. &#8220;Aku bisa memakai isi bingkisan yang ditolak oleh anak-anak pantai itu.&#8221;<\/p>\n<p>Ang menyinggung sejumlah anak yang bermain di tepi pantai, yang menggagalkan upaya terakhir kami sebelum senja menelan keriuhan kota. Anak-anak itu menggeleng serempak saat Ayah dan Ibu menyodorkan bingkisan ke tangan mereka..<\/p>\n<p>&#8220;Jangan begitu, Nak!&#8221; tegur Ibu seketika, mempererat pelukan untuk Ang. &#8220;Kita tak boleh dan tak berhak memakai apa-apa yang kita niatkan untuk diberikan ke orang lain!&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Kita akan tertiban sial karena itu bukan hak kita,&#8221; imbuh Ayah dengan menghela napas lelah.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi semua ini akan dibuang? Sangat disayangkan!&#8221; sahut Yon, salah satu adikku, yang tak kalah kecewa denganku lantaran ingin segera pergi dari Kalodora. Sebab kota ini bukan kota yang kami harapkan. Tak ada taman bermain. Tak ada toko mainan. Tak ada pula tempat wisata untuk setidaknya membuat kami lupa bahwa ayah dan ibu kami diutus semesta untuk membantu umat manusia menjelang akhir dunia.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak, Yoni. Kamu tidak dengar apa kata Ayah? Kita akan tetap berusaha untuk membagikannya, apa pun caranya. Karena hanya itu yang membuat kita bisa pergi tanpa terbebani. Bukan begitu, Ayah?&#8221; tukasku panjang lebar.<\/p>\n<p>&#8220;Kamu benar, Mar,&#8221; balas Ayah. &#8220;Apa pun yang diperlukan, harus kita lakukan. Ya, bingkisan ini ditakdirkan untuk mereka. Maka, kepada merekalah ini harus diupayakan.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Tapi, bagaimana caranya?&#8221; Ibu bersuara, seraya menatap mata kami satu per satu. &#8220;Kita tak bisa terlalu lama di satu kota. Anak-anak pasti sudah jenuh.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Inilah tugas kita. Beberapa tahun yang lalu kita pernah begini. Dan sekarang sekali lagi kita begini. Kita pasti bisa, Thea.&#8221; Ayah perlahan mengendurkan ketegangan yang sejak tadi bersarang di wajahnya. Ia sedikit tersenyum, mengelus kepala Ang yang tidak lagi menatap peti kayu tadi, di mana bingkisan-bingkisan yang tertolak itu mungkin saja masih menggoda hatinya.<\/p>\n<p>&#8220;Ya, aku yakin kita bisa,&#8221; tukas kakakku, satu-satunya anak yang lebih tua dariku di keluarga ini, yang tahun depan akan berusia delapan belas. &#8220;Sebelum kalian lahir, aku pernah mengalami keadaan ini. Malah ketika itu usiaku lebih muda dari Yon.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Yang benar saja?!&#8221; Yon tampak terkejut.<\/p>\n<p>&#8220;Ya, sungguh. Tanya saja Ayah dan Ibu.&#8221; Ia terkekeh pelan sebelum pergi ke toilet sembari menyalakan rokok dan begitu ia menutup diri di balik pintu toilet itu, ia mulai bernyanyi.<\/p>\n<p>Seperti biasa, Rod selalu bernyanyi meski suaranya sangat sumbang. Dan memang dengan cara itulah terkadang ia membagikan bingkisan; mengundang warga kota untuk memperdengarkan lagu-lagu aneh gubahannya sendiri, lantas membagi bingkisan begitu panggung tunggalnya berakhir.<\/p>\n<p>&#8220;Rod benar,&#8221; ujar Ayah. &#8220;Ia tidak mengeluh saat itu. Demi bisa segera pergi ke kota lain, ia bangun subuh-subuh dan menggelar panggung pertamanya. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarinya bernyanyi atau menyuruhnya membagi bingkisan. Tapi ia lakukan itu agar kami bisa segera melanjutkan perjalanan. Kamu masih ingat itu, Thea?&#8221;<\/p>\n<p>Ibu mengangguk. &#8220;Sejak itulah Rod menyukai nyanyian. Yah, walau suaranya tidak terlalu enak didengar, orang-orang toh tetap datang karena ia sangat lucu. Kakak kalian itu bertubuh gendut dan semua orang senang melihatnya.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Dan karena itu bingkisan yang tersisa akhirnya mereka terima,&#8221; sambung Ayah. &#8220;Mungkin mereka tak menyukainya saat itu, tetapi karena kasihan melihat si kecil Rod bernyanyi demi kedua orang tuanya, orang-orang itu menerima bingkisannya. Sudah bukan urusan kita lagi begitu sebuah bingkisan sampai ke tangan penerimanya; apakah ia menggunakan atau membuangnya. Tuhan tahu kita sudah menunaikan tugas.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Begitupun di kota ini,&#8221; lanjut Ibu. &#8220;Kita harus tunaikan tugas kita. Ingat apa yang Tuhan tugaskan untuk kita?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Menyebarkan kebaikan dan harapan di dunia yang akan hancur melalui setiap bingkisan,&#8221; sahutku bersamaan dengan Yon dan Ang.<\/p>\n<p>&#8220;Nah, maka kita lakukan apa pun demi mereka sudi menerima bingkisan. Mereka akan tahu itu sangat berharga begitu membukanya. Lagi pula kota-kota lain di luar sana segera membutuhkan kehadiran kita. Tak bisa kita berlama-lama di sini.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Di sini tak ada yang senang menonton orang bernyanyi,&#8221; kataku setelah kami tak berkata-kata untuk beberapa saat. &#8220;Namun semua bingkisan tetap harus dibagi. Aku jadi punya ide.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Apa itu, Mar? Katakan saja.&#8221; Ayah sontak menoleh, tampak tertarik. Bukan hanya Ayah yang menungguku bicara; Ibu, Yon, dan bahkan Ang kini menatapku lekat.<\/p>\n<p>Aku pun menjelaskan apa yang bisa kami lakukan bersama esok hari. Bahwa kami bisa mementaskan sebuah drama tentang akhir dunia. &#8220;Sebab, bukankah itu kegunaan bingkisan kita? Agar orang-orang selamat melalui kiamat yang sudah dekat?&#8221;<\/p>\n<p>Ayah dan Ibu tak bisa lebih bahagia lagi. Mereka setuju mencoba ideku. Dan, aku sangat berdebar-debar menanti bagaimana esok orang-orang Kalodora bereaksi tentang alasan kenapa keluarga kami harus ada. []<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Ngoro, 5 Desember 2024<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Ken Hanggara<\/strong>, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, dan skenario sejak 2012. Karyanya sebagian besar berupa cerpen dan tersebar di pelbagai media. Buku yang ditulisnya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB &#8216;Ken Hanggara&#8217; atau IG @kenhanggara.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>16 Februari 2025 Keluarga Semesta Oleh Ken Hanggara* &nbsp; &nbsp; Kami tidak pergi sebelum semua warga kota menerima bingkisan kami. Bila suatu kota menyambut kami dengan baik, maka kami akan segera pergi dari kota tersebut. Sebab, itu artinya, setiap orang di kota sudah mendapatkan jatah bingkisannya masing-masing. &#8220;Lain halnya dengan kota ini,&#8221; keluh Ayah dengan &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Keluarga Semesta<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1584,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1581","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Keluarga Semesta - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Keluarga Semesta - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"16 Februari 2025 Keluarga Semesta Oleh Ken Hanggara* &nbsp; &nbsp; Kami tidak pergi sebelum semua warga kota menerima bingkisan kami. Bila suatu kota menyambut kami dengan baik, maka kami akan segera pergi dari kota tersebut. Sebab, itu artinya, setiap orang di kota sudah mendapatkan jatah bingkisannya masing-masing. &#8220;Lain halnya dengan kota ini,&#8221; keluh Ayah dengan &hellip; Keluarga Semesta Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-16T02:33:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/thumbnail-cerpen-keluarga-semesta.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"648\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/\",\"name\":\"Keluarga Semesta - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-02-16T02:33:53+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-16T02:33:53+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Keluarga Semesta\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Keluarga Semesta - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Keluarga Semesta - LiteraSIP","og_description":"16 Februari 2025 Keluarga Semesta Oleh Ken Hanggara* &nbsp; &nbsp; Kami tidak pergi sebelum semua warga kota menerima bingkisan kami. Bila suatu kota menyambut kami dengan baik, maka kami akan segera pergi dari kota tersebut. Sebab, itu artinya, setiap orang di kota sudah mendapatkan jatah bingkisannya masing-masing. &#8220;Lain halnya dengan kota ini,&#8221; keluh Ayah dengan &hellip; Keluarga Semesta Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-02-16T02:33:53+00:00","og_image":[{"width":1080,"height":648,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/thumbnail-cerpen-keluarga-semesta.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/","name":"Keluarga Semesta - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-02-16T02:33:53+00:00","dateModified":"2025-02-16T02:33:53+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/keluarga-semesta\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Keluarga Semesta"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1581","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1581"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1581\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1586,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1581\/revisions\/1586"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1581"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1581"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1581"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}