{"id":1695,"date":"2025-05-04T05:11:19","date_gmt":"2025-05-03T22:11:19","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1695"},"modified":"2025-05-04T05:11:57","modified_gmt":"2025-05-03T22:11:57","slug":"diambang-pintu-yang-tak-terbuka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/","title":{"rendered":"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA"},"content":{"rendered":"<p>4 Mei 2025<\/p>\n<h1><strong>DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Muhammad Eko Oktaviansyah*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1698\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-cerpen-diambang-pintu-yang-tak-terbuka.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"975\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-cerpen-diambang-pintu-yang-tak-terbuka.jpg 853w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-cerpen-diambang-pintu-yang-tak-terbuka-200x300.jpg 200w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-cerpen-diambang-pintu-yang-tak-terbuka-682x1024.jpg 682w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-cerpen-diambang-pintu-yang-tak-terbuka-768x1152.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Masih kuingat gemetar daun pisang di tepi jalan saat angin pagi membawa tanda-tanda yang tak sempat ditafsir. Kadang hidup memberi firasat, tapi kita terlalu sibuk menyapu debu yang tak pernah habis. Dan pagi itu, saat bayangan rekan seperjalanan tak juga melintas di tikungan Karang Lebar, aku tahu: sesuatu telah patah.<\/p>\n<p>Namaku tak perlu disebut. Ia melebur bersama seragam oranye yang makin pudar, seperti warna langit selepas hujan yang tak dijanjikan pelangi. Setiap langkahku\u2014dua belas ribu lebih, setiap harinya\u2014hanyalah gema yang tak pernah benar-benar terdengar, membentang dari Karang Lebar hingga Kembang Durian. Kami membersihkan apa yang tak ingin dilihat orang lain, lalu hilang dalam senyap.<\/p>\n<p>Dua shift sehari, tujuh ratus lima puluh ribu sebulan. Kadang lebih lama, kalau negara sedang sibuk bersolek. Tak ada cuti, tak ada tanya, hanya instruksi yang meluncur tanpa jeda. Selebihnya, kami menyambut pagi dengan doa diam-diam: semoga tak sakit, semoga cukup makan. Jika datang pejabat, barulah lorong-lorong ini diingat, dihias dengan spanduk dan cat murah. Tapi ketika kami hilang satu per satu, nama kami tak pernah tercetak. Tak apa. Mungkin memang begini caranya: menjadi bayangan di balik layar megah yang tak pernah kami jamah.<\/p>\n<p>Romi selalu lebih tenang. Tangannya tak hanya mengangkat sampah, tapi juga menyiramkan sabar ke jalanan yang tak pernah benar-benar bersih. Usianya tak muda, tapi tubuhnya tetap tegap, seperti pilar sunyi yang menyangga matahari. Ia lebih banyak diam, tapi diamnya bukan kosong. Ada keteguhan yang membuatku merasa lebih aman tiap kali kami menyapu berdua. Lalu, hari itu datang\u2026<\/p>\n<p>Orang bilang ia terjatuh tak jauh dari tikungan menuju Pematang Rafflesia. Motor tuanya remuk di sisi kiri, dan tubuhnya, yang biasa menopang karung sampah dan sapu lidi, tergeletak dalam posisi yang tak biasa. Sepatu sebelah kanan masih utuh. Yang kiri hilang, entah ke mana.<\/p>\n<p>Warga yang lewat sempat membawanya. Aku ikut. Kami tahu tak banyak waktu. Tapi entah mengapa, detik terasa lebih lambat dari biasanya. Wajahnya pucat, tapi mata itu masih mencoba bertahan. Masih ada sisa hidup yang menggantung di sana, seperti daun terakhir yang enggan jatuh.<\/p>\n<p>Di depan gedung megah itu, kami mengetuk pintu. Pintu yang seharusnya tak perlu diketuk. Tapi mereka bertanya: mana kartu? Mana surat rujukan? Mana jaminan? Kami mengangkat tangan, bukan menyerah, tapi memohon. Tapi jawaban mereka hanya prosedur. Sementara nyawa tak menunggu sistem.<\/p>\n<p>Kami pindah ke tempat lain. \u201cTidak ada dokter.\u201d Pindah lagi. \u201cKamar penuh.\u201d Dan ketika kami kembali, tubuh itu sudah dingin. Ia mengembuskan napas terakhir bukan di ranjang, tapi di atas roda berkarat, di antara langkah-langkah yang enggan mendekat\u2026<\/p>\n<p>Berita menyebar seperti angin yang membawa abu. Foto wajahnya diburamkan, seolah malunya ada pada dia yang mati, bukan pada sistem yang membiarkannya. Petinggi rumah sakit berkata tenang, \u201cTidak ditolak. Hanya miskomunikasi.\u201d<\/p>\n<p>Aku ingin tertawa, tapi suara tertawaku tercekat oleh luka yang belum kering. Miskomunikasi? Barangkali itulah nama baru bagi kelalaian yang berbaju rapi. Kata lain dari ketidakpedulian yang dioleskan dengan senyum dalam jumpa pers.<\/p>\n<p>Aku kembali menyapu. Jalanan tetap panjang. Debu tetap datang. Tapi kini bayangan Romi menyertai tiap langkah. Kadang, dari pojok tikungan Karang Lebar, aku seolah melihat sosoknya melintas, sapu lidi bertali rafia yang disandang di bahu, helm setengah usang di tangan kiri. Tapi ketika kudekati, hanya angin yang tersisa.<\/p>\n<p>Setiap upacara kenegaraan, kami diminta kerja ekstra. Jalur harus bersih, cat harus segar, dedaunan tak boleh jatuh satu pun. Tapi upah tetap sama. Tidak ada lembur. Tidak ada tambahan. Hanya arahan dengan nada tinggi dan janji manis yang menguap setelah pejabat pulang.<\/p>\n<p>Kami ini siapa? Buruh tanpa perlindungan. Nama kami tak tercantum dalam data resmi. Jika mati, hanya keluarga yang menangis. Negara? Barangkali sibuk mengganti karpet untuk tamu berikutnya.<\/p>\n<p>Pematang Rafflesia tak lagi ramai. Aroma tanahnya yang dulu harum oleh mekar raksasa kini tertutup debu proyek dan pagar-pagar baru. Bunga itu, simbol yang pernah dibanggakan, kini nyaris tak muncul\u2014mungkin malu, mungkin lelah. Negeri ini dulu disebut Bumi Rafflesia\u2014penuh makna, penuh akar.<\/p>\n<p>Tapi nama itu diganti. Konon, demi persatuan. Padahal, yang hilang adalah ingatan dan akar sejarah. Romi, di tengah semuanya, tetap pulang ke sana tiap sore, melintasi jalan yang makin berisik, menunggang motor renta yang seolah ikut menanggung beban hidupnya.<\/p>\n<p>Tak pernah ia mengeluh, hanya sesekali menarik napas panjang, seolah menyimpan sesuatu yang tak sempat dikatakan. Kini, ia diam di sana. Tak lagi pulang. Tubuhnya berbaring tenang, mungkin akhirnya benar-benar pulang ke tanah yang diam-diam juga menangis.<\/p>\n<p>Aku membuat nisannya sendiri, dari papan sisa proyek kantor desa. Kutulis pelan, dengan ukiran sederhana: \u201cIa menunggu. Di ambang pintu yang tak dibuka<em>.<\/em>\u201d<\/p>\n<p>Tak ada sirene. Tak ada penghargaan. Tak ada bunga duka dari institusi yang dulu menutup pintu. Hanya tanah merah yang basah oleh hujan semalam, dan langit yang murung, seolah turut menunduk. Tapi tiap pagi, ketika kulalui jalanan yang kami bersihkan bersama, aku tahu jejaknya masih ada. Dalam debu yang tak pernah selesai, dalam gumam lagu yang kadang terbawa angin, dalam sepi yang tak lagi asing.<\/p>\n<p>Kadang, aroma keringat dari seragam lusuh itu menguar di antara karung sampah dan sisa embun. Aku mencoba tak percaya pada hal-hal seperti itu, tapi barangkali kenangan memang punya cara sendiri untuk hidup. Jalan-jalan ini mengingat lebih baik daripada manusia. Mereka tahu siapa yang jatuh, dan siapa yang membiarkan.<\/p>\n<p>Kini aku berjalan sendirian. Tapi dalam kesendirian itu, ada semacam janji yang tumbuh diam-diam. Janji bahwa suara-suara kecil suatu hari akan didengar. Bahwa luka-luka tanpa berita juga butuh tempat untuk pulang. Aku terus menyapu, bukan hanya debu, tapi juga sisa-sisa diam yang menutupi kebenaran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Muhammad Eko Oktaviansyah<\/strong>. Seorang penulis yang berdomisili di Bengkulu, mencintai dunia sastra, terutama cerita pendek dan novel bertema sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. Menulis adalah caranya untuk memberi suara kepada hal-hal yang sering dilupakan dunia.<\/p>\n<p><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>4 Mei 2025 DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA Oleh Muhammad Eko Oktaviansyah* &nbsp; &nbsp; Masih kuingat gemetar daun pisang di tepi jalan saat angin pagi membawa tanda-tanda yang tak sempat ditafsir. Kadang hidup memberi firasat, tapi kita terlalu sibuk menyapu debu yang tak pernah habis. Dan pagi itu, saat bayangan rekan seperjalanan tak juga melintas &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1696,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1695","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"4 Mei 2025 DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA Oleh Muhammad Eko Oktaviansyah* &nbsp; &nbsp; Masih kuingat gemetar daun pisang di tepi jalan saat angin pagi membawa tanda-tanda yang tak sempat ditafsir. Kadang hidup memberi firasat, tapi kita terlalu sibuk menyapu debu yang tak pernah habis. Dan pagi itu, saat bayangan rekan seperjalanan tak juga melintas &hellip; DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-05-03T22:11:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-03T22:11:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/thumbnail-cerpen-diambang-pintu-yang-tak-terbuka.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"512\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/\",\"name\":\"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-05-03T22:11:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-03T22:11:57+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA - LiteraSIP","og_description":"4 Mei 2025 DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA Oleh Muhammad Eko Oktaviansyah* &nbsp; &nbsp; Masih kuingat gemetar daun pisang di tepi jalan saat angin pagi membawa tanda-tanda yang tak sempat ditafsir. Kadang hidup memberi firasat, tapi kita terlalu sibuk menyapu debu yang tak pernah habis. Dan pagi itu, saat bayangan rekan seperjalanan tak juga melintas &hellip; DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-05-03T22:11:19+00:00","article_modified_time":"2025-05-03T22:11:57+00:00","og_image":[{"width":853,"height":512,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/thumbnail-cerpen-diambang-pintu-yang-tak-terbuka.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/","name":"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-05-03T22:11:19+00:00","dateModified":"2025-05-03T22:11:57+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/diambang-pintu-yang-tak-terbuka\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"DIAMBANG PINTU YANG TAK TERBUKA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1695"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1700,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1695\/revisions\/1700"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}