{"id":1701,"date":"2025-05-04T05:17:12","date_gmt":"2025-05-03T22:17:12","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1701"},"modified":"2025-05-04T05:17:12","modified_gmt":"2025-05-03T22:17:12","slug":"puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/","title":{"rendered":"Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi"},"content":{"rendered":"<p>4 Mei 2025<\/p>\n<h1><strong>Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Apriansyah Sang Puisi*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1697\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-apriansyah-sang-puisi.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-apriansyah-sang-puisi.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-apriansyah-sang-puisi-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-apriansyah-sang-puisi-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-apriansyah-sang-puisi-768x768.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Di Antara Deru Sepatu dan Senyap Kenangan<\/strong><\/p>\n<p>Kau ingat, barangkali, pagi yang tak terlalu pagi di stasiun Gare du Nord,<br \/>\ndi mana langkah-langkah manusia menjadi irama mekanis<br \/>\n\u2014seperti orkestra kereta yang tak mengenal istirahat\u2014<br \/>\ndan kita berdiri di tengah hiruk-pikuk dunia yang bergerak cepat<br \/>\nsementara waktu di hati kita enggan bergeser.<\/p>\n<p>Ada dentang jam tua dari menara St. Pancras yang masih mengusung nostalgia imperium,<br \/>\ndan di sanalah, di antara koper-koper yang menggelinding<br \/>\ndan bau croissant hangat yang baru keluar dari oven Parisian,<br \/>\nkau bicara padaku tentang keinginanmu menjadi prajurit,<br \/>\ndengan mata yang jauh menatap ke masa depan<br \/>\nseperti wisatawan memandang langit Florence dari balkon Uffizi\u2014<br \/>\npenuh harap, tapi tahu bahwa tak semua keindahan bisa dibawa pulang.<\/p>\n<p>Kita pernah melewati hari-hari di jalanan berbatu Vienna,<br \/>\ndi mana setiap bangunan memanggul sejarah,<br \/>\ndan kita duduk di kafe kecil\u2014Cafe Central\u2014tempat Trotsky dulu menulis,<br \/>\nkau bicara tentang dunia yang ingin kau jaga<br \/>\nsementara aku hanya berpikir tentang bagaimana menjaga pertemanan kita<br \/>\nyang tak mungkin dipertahankan oleh sekadar janji.<\/p>\n<p>Di sana, di sela denting sendok pada gelas kaca<br \/>\ndan suara pelayan memanggil dengan aksen yang penuh disiplin,<br \/>\nkau menyusun impianmu seperti barisan parade di Champs-\u00c9lys\u00e9es,<br \/>\nrapi, gagah, dan tak peduli pada arah angin.<br \/>\nSementara aku, diam-diam mencatat dalam kepala<br \/>\nbetapa pertemanan kita terasa seperti pasar malam di Barcelona:<br \/>\nmeriah, penuh lampu, tapi akan selalu berakhir<br \/>\ndengan satu per satu stan ditutup tanpa peringatan.<\/p>\n<p>Lalu kau pergi.<br \/>\nTak dengan tangisan,<br \/>\ntak dengan pelukan,<br \/>\nhanya dengan sorot mata yang tiba-tiba terasa seperti langit London\u2014<br \/>\nberawan, tapi tak juga hujan.<\/p>\n<p>Kini kau mengenakan seragam\u2014warna zaitun<br \/>\nyang tampak begitu kontras dengan warna musim semi di Strasbourg,<br \/>\ndan entah di mana kau bertugas:<br \/>\ndi garis perbatasan yang tak kutahu,<br \/>\ndi tanah lapang tempat suara tembakan menggantikan suara Mozart.<\/p>\n<p>Dan aku masih di sini,<br \/>\nduduk di pojok kafe Roma yang menyuguhkan espresso terlalu pahit<br \/>\ndan kenangan yang terlalu manis,<br \/>\nmenatap gelas kosong di hadapanku<br \/>\nseperti jendela kereta yang tak pernah terbuka\u2014<br \/>\nmenyimpan bayangmu,<br \/>\nseperti toko buku tua di Budapest menyimpan buku-buku yang tak lagi dibaca.<\/p>\n<p>Kawan,<br \/>\nkau tahu, persahabatan bukan tentang seberapa sering kita bicara,<br \/>\ntapi tentang bagaimana senyap yang kita miliki<br \/>\ntak pernah terasa sepi.<br \/>\nKau mungkin dikelilingi suara peluit, sepatu berat, dan perintah tegas,<br \/>\ntapi di suatu sudut benakmu,<br \/>\naku berharap masih ada suara gelak kita<br \/>\nyang dulu melayang di udara Praha,<br \/>\ndi antara jembatan Charles dan riak Vltava,<br \/>\nketika dunia belum terlalu serius,<br \/>\ndan kita belum terlalu dewasa.<\/p>\n<p>Dan jika nanti kau kembali\u2014<br \/>\nmungkin di musim gugur,<br \/>\nmungkin saat daun-daun di Munich gugur seperti luka yang dilepas pelan\u2014<br \/>\nkita akan kembali duduk,<br \/>\nmungkin tak bicara banyak,<br \/>\ntapi saling tahu:<br \/>\nmeski waktu memisahkan langkah,<br \/>\nkita masih saling berjalan<br \/>\ndalam kenangan yang tak bisa dibatalkan.<\/p>\n<p>Seperti jam di Basel yang terus berdetak,<br \/>\nmeski kereta tak selalu datang tepat waktu.<\/p>\n<p><em>Pagar Alam, April 2025<\/em><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Catatan dari Kota yang Lupa Tidur<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>Malam di Jakarta tidak hitam. Ia abu-abu:<br \/>\nwarna dari sisa napas knalpot dan janji yang digulung spanduk.<br \/>\nDan jalanan\u2014seperti seorang lelaki tua\u2014terus bercerita,<br \/>\npadahal tak ada yang mendengarkan.<br \/>\nDi lampu merah, waktu berdiri.<br \/>\nSementara kita duduk dalam mobil yang diam,<br \/>\npikiran terus melaju\u2014menuju sesuatu<br \/>\nyang bahkan tidak kita kenali.<\/p>\n<p>Siapa yang pertama kali memanggil ini \u201ckehidupan\u201d?<br \/>\nSeseorang yang mencintai peluh? Atau<br \/>\nseseorang yang takut pada sunyi?<br \/>\nKota ini dipenuhi pertanyaan<br \/>\nyang tak sempat dijawab karena orang-orangnya terburu waktu.<br \/>\nTiap pagi, kita bangun untuk sesuatu<br \/>\nyang malam tadi gagal kita temukan.<\/p>\n<p>Di perempatan Senayan,<br \/>\nseorang gelandangan menatap langit:<br \/>\nmungkin mencari Tuhan,<br \/>\natau sekadar menghitung kabel listrik<br \/>\nyang kusut seperti pikiran kita.<br \/>\nDan harapan?<br \/>\nMungkin itu yang tersembunyi di balik kaca kantor lantai 17\u2014<br \/>\ntempat seseorang menulis laporan,<br \/>\nsambil diam-diam memimpikan laut.<\/p>\n<p>Jakarta tidak punya jantung.<br \/>\nYang ada hanyalah mesin\u2014berdetak dengan gaji bulanan<br \/>\ndan alarm jam 6 pagi. Tapi masih ada yang menggambar bintang<br \/>\ndi belakang truk penuh debu.<br \/>\nDan entah mengapa,<br \/>\nitu cukup. Sebab kota ini,<br \/>\ntak pernah benar-benar hidup,<br \/>\ntapi juga tak pernah betul-betul mati.<\/p>\n<p><em>Jakarta, 6 April 2025<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Di mana Letak Ayah Menyembunyikan Waktu?<\/strong><\/p>\n<p>Ayah pergi seperti senja yang tidak lagi kembali menjadi pagi. Tidak ada isyarat, hanya udara yang tiba-tiba jadi ringan, seolah sesuatu\u2014atau seseorang\u2014telah diangkat dari dunia. Kami tak sempat bicara banyak, kecuali beberapa kalimat yang biasa-biasa saja. Seperti cuaca, atau harga beras. Tapi mungkin memang begitu cara cinta laki-laki bekerja: sunyi, padat, dan tak pernah selesai dijelaskan.<\/p>\n<p>Kini aku berjalan di rumah yang telah kehilangan satu arah mata angin. Ruang makan tetap di situ, dengan kursi kayu yang satu sisinya kosong. Dan tiap malam, aku duduk di depan meja tua itu, menyentuh cangkir teh yang tak lagi diisi siapa-siapa. Waktu, tampaknya punya kebiasaan buruk: ia terus bergerak maju, meski kita masih tertinggal di percakapan yang tidak selesai.<\/p>\n<p>Aku belajar, bahwa duka bukan tentang air mata, tapi tentang tak tahu harus bicara kepada siapa, saat tiba-tiba ingin bercerita tentang sesuatu yang kecil. Tentang pohon mangga di pekarangan yang mulai berbuah, atau tentang rasa lelah yang tak bisa dijelaskan kepada dunia. Sebab hanya ayah yang tahu bagaimana caraku diam. Dan sekarang, ia tidak ada.<\/p>\n<p>Kadang, aku berpikir: ke manakah perginya orang-orang yang kita cintai setelah mereka meninggalkan bumi? Apakah mereka menjadi angin? Menyusup ke ruang-ruang hening dan berbisik dalam bentuk kerinduan? Atau menjadi waktu itu sendiri\u2014tak terlihat, tapi menentukan segalanya?<\/p>\n<p>Di antara banyak malam yang membeku, aku mulai menulis surat yang tak kutujukan ke mana-mana. Kepada Ayah, mungkin. Atau kepada diriku yang tak bisa menerima kehilangan dengan utuh. Surat-surat itu tidak memiliki alamat, dan tidak akan pernah dijawab. Tapi mereka membuat sepi itu menjadi lebih manusiawi.<\/p>\n<p>Karena sesungguhnya, kehilangan bukanlah akhir. Ia hanyalah bentuk lain dari menyimpan. Dan ayah, mungkin kini tersimpan di tempat yang tidak bernama\u2014di dalam kepalaku, di antara sunyi, di bawah bantal, atau di cara aku memperlakukan anak-anakku nanti. Dengan sabar. Dengan tidak banyak kata. Dengan cinta yang tidak memaksa dikenali.<\/p>\n<p>Dan malam-malam ini,<br \/>\naku masih mencarinya.<br \/>\nBukan untuk membawa pulang,<br \/>\ntapi untuk belajar pergi<br \/>\ndengan cara yang utuh.<\/p>\n<p><em>Pagar Alam, April 2025<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Apriansyah Sang Puisi<\/strong>, adalah nama pena dari Apriansyah, S.Pd penulis kelahiran Kota Pagaralam 24 November ini merupakan guru matematika di MTs GUPPI Pagaralam dan anggota Rumah Sastra Pagar Alam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>4 Mei 2025 Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi Oleh Apriansyah Sang Puisi* &nbsp; \u00a0 Di Antara Deru Sepatu dan Senyap Kenangan Kau ingat, barangkali, pagi yang tak terlalu pagi di stasiun Gare du Nord, di mana langkah-langkah manusia menjadi irama mekanis \u2014seperti orkestra kereta yang tak mengenal istirahat\u2014 dan kita berdiri di tengah hiruk-pikuk &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1699,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-puisi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Puisi - Puisi Apriansyah Sang Puisi - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puisi - Puisi Apriansyah Sang Puisi - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"4 Mei 2025 Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi Oleh Apriansyah Sang Puisi* &nbsp; \u00a0 Di Antara Deru Sepatu dan Senyap Kenangan Kau ingat, barangkali, pagi yang tak terlalu pagi di stasiun Gare du Nord, di mana langkah-langkah manusia menjadi irama mekanis \u2014seperti orkestra kereta yang tak mengenal istirahat\u2014 dan kita berdiri di tengah hiruk-pikuk &hellip; Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-05-03T22:17:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/thumbnail-puisi-apriansyah-sang-puisi.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"614\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/\",\"name\":\"Puisi - Puisi Apriansyah Sang Puisi - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-05-03T22:17:12+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-03T22:17:12+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puisi - Puisi Apriansyah Sang Puisi - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Puisi - Puisi Apriansyah Sang Puisi - LiteraSIP","og_description":"4 Mei 2025 Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi Oleh Apriansyah Sang Puisi* &nbsp; \u00a0 Di Antara Deru Sepatu dan Senyap Kenangan Kau ingat, barangkali, pagi yang tak terlalu pagi di stasiun Gare du Nord, di mana langkah-langkah manusia menjadi irama mekanis \u2014seperti orkestra kereta yang tak mengenal istirahat\u2014 dan kita berdiri di tengah hiruk-pikuk &hellip; Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-05-03T22:17:12+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":614,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/thumbnail-puisi-apriansyah-sang-puisi.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/","name":"Puisi - Puisi Apriansyah Sang Puisi - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-05-03T22:17:12+00:00","dateModified":"2025-05-03T22:17:12+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-apriansyah-sang-puisi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puisi &#8211; Puisi Apriansyah Sang Puisi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1701"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1702,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1701\/revisions\/1702"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1699"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}