{"id":1729,"date":"2025-05-18T05:18:14","date_gmt":"2025-05-17T22:18:14","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1729"},"modified":"2025-05-18T05:18:31","modified_gmt":"2025-05-17T22:18:31","slug":"puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/","title":{"rendered":"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah"},"content":{"rendered":"<p>18 Mei 2025<\/p>\n<h1><strong>Puisi-Puisi <\/strong><strong>M Firdaus Rahmatullah<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh M Firdaus Rahmatullah*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1725\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-m-firdaus-portrait.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"975\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-m-firdaus-portrait.jpg 853w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-m-firdaus-portrait-200x300.jpg 200w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-m-firdaus-portrait-682x1024.jpg 682w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ilustrasi-puisi-m-firdaus-portrait-768x1152.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>proyek menggenggam hujan<\/strong><\/p>\n<p>hujan turun siang itu lalu merembes ke kandung kemihmu. seorang tuna mengamen dengan biola besar dan engkau berikan beberapa recehan. dan secangkir kopi yang kupesan tadi pagi membeku di meja warung kopi wifi tapi tak melilit ususku. sebuah <em>charger <\/em>kucolokkan di salah satu terminal listrik. lantas sebentar kita percaya bahwa jarak adalah belaka.<\/p>\n<p>sementara kusaksikan deras air langit menggenang di jalan, engkau saksikan mesin besi mengebor tanah muda di belakang bukit-bukit tua. bukit lama yang menyimpan kenangan dan cadangan minyak baru. gugusan jati dan pohon kopi merimbun dan berjejalan di sepanjang alur lereng bukit. berapa banyak yang hendak diisap oleh mesin-mesin rakus itu. kendati tak sampai di situ. televisi menayangkan drama korupsi, internet menjejali otak penuh kewarasan, nasi padang membatu di perutmu. kupikir kita generasi milenial kemaruk dan tak tahu diri. mengaku tuhan yang lain di sebuah negeri.<\/p>\n<p>ampas kopi pun mengendap. cukup lama. ada tangis rindu bayi hasil aborsi tetanggamu, sebelum tuntas wajib belajar. ada pendakwah mengaku guru hasil menyimak kitab suci separuh-separuh. ada pejabat negara berkerudung abdi rakyat dan silap membaca undang-undang. ada sawah dan kuburan megah usai dibangun tol di atasnya. ada latu rokok dalam puisimu dan engkau belum sempat menghitung uang di dompetmu.<\/p>\n<p>siang berawan dan udara mendingin. puisi-puisimu bagai telinga yang menguping sejarah namun aku tak lengkap mencernanya. kursi-kursi plastik dan asbak-asbak seng di atas meja berhamburan di dalam celanaku. celana yang kehilangan resleting. dan belum bisa kubawa ke tukang jahit. adapun matahari bersembunyi di balik mendung dan cahayanya engkau curi sore kemarin. bukan aku yang mencuri kutangmu, kutang yang semalam engkau jemur di atas jendela kamar. sebuah kutang beraroma politisi bau kencur di sebuah apartemen tepi pantai yang direklamasi. aku tak punya modus apapun untuk itu, kecuali jika aku mendadak sakit esok hari. jangan engkau bacakan dakwaanmu sebelum sakitku sembuh. jangan, kekasih. aku malu seperti matahari yang malu-malu kucing itu. cukup koran dan televisi yang tahu. jangan istriku yang sedang berlibur di eropa. jangan anakku yang sedang studi di amerika. jangan, kekasih. cukup pengacaraku yang tahu plot ini. dan rencana-rencana mengulang alibi yang mudah ditebak polisi.<\/p>\n<p>biarkan kubawa kenangan di antara derai hujan yang turun,<br \/>\nsupaya lekas engkau temukan bianglala di ufuk cakrawala.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>sesudah hujan di bulan sebelas<\/strong><\/p>\n<p>sesudah hujan di bulan sebelas, orang-orang dari utara<br \/>\nbrantas menjelma <em>mimik<\/em>: serangga yang mirip nyamuk,<br \/>\nnamun lebih gemuk, yang senantiasa terbit menjelang<br \/>\nmagrib. mereka melintas kali besar itu dan menuju selatan.<br \/>\nada sepi yang hendak mereka haturkan kepada orang-orang<br \/>\ndi seberang. sebab, api dan cahaya tak pernah mampir di<br \/>\natas rumah mereka, apalagi sekadar singgah di dalam kamar,<br \/>\nmenerangi tiap lekuk dan sudut ruang.<\/p>\n<p>mereka terus menyeberang, <em>nunut getek <\/em>lelaki sepuh yang<br \/>\nberpuluh tahun takzim mengantar-jemput sesiapa yang<br \/>\nhendak menyeberang ke selatan atau sebaliknya. setiap<br \/>\n<em>tlatah <\/em>yang mereka lewati, turut <em>semebyar <\/em>dedaun sengon<br \/>\ndi kiri-kanan jalan, menghujani tubuh mereka dengan sisa-<br \/>\nsisa air hujan yang masih menempel di seratnya. tetapi,<br \/>\nmereka tetap melesat membawa-serta sepi nun sunyi<br \/>\ndan abai pada licin air yang bergelimpangan di sana-sini.<br \/>\nsebab sepi itu harus segera disampaikan, supaya kelak tak<br \/>\nmemberatkan mizan siapa pun di hari perhitungan kelak.<\/p>\n<p>\u201cbukankah dosa seseorang tidak akan ditanggung oleh<br \/>\nseseorang yang lain, begitu pula sebaliknya,\u201d seseorang<br \/>\nmenyela di tengah rombongan itu. dan sepi makin berat<br \/>\nsetiap seseorang melangkah (maksudku) terbang sejauh<br \/>\nhasta, karena yakin, seseorang akan merasa jenuh dalam<br \/>\nperjalanan jika tak saling bicara dan melulu diam.<br \/>\nsebagaimana musa yang melulu bertanya kepada<br \/>\nkhidir dalam perjalanan spiritual, maka tiada satu jua<br \/>\ndari rombongan itu yang menjawab pertanyaan si penanya.<br \/>\nmereka diam. larut dalam kesepian. juga beban yang maha<br \/>\nyang tak rela mereka sampaikan kepada anak cucu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>dalam hutan<\/strong><\/p>\n<p>ada lagu dalam hutanku<br \/>\nsuaranya melipir ke tiap retak tanahmu<\/p>\n<p>dan seseorang mengiris lirih batangnya<br \/>\nmencungkil akar yang tertanam berabad-abad<br \/>\nmemunguti daun-daun hijaunya, atau yang rontok<br \/>\ndan berkelebatan sepanjang musim<\/p>\n<p>tapi nyanyi gagu terekam di antara derai tangis anak-anak<br \/>\npohon. dan tunas-tunas baru di rimbun belukar humus.<br \/>\nsementara kau penyaksi keinginan-keinginan sederhana<br \/>\norang-orang dari bumi tepian, pergi sebelum penuh muatan.<\/p>\n<p>tiada yang tersisa dari hutanku:<\/p>\n<p>ranting-ranting kering,<br \/>\npatahan dahan kering,<br \/>\nsisa-sisa daun kering,<br \/>\ndan ranahmu yang kering.<\/p>\n<p>kendati rinduku padamu<br \/>\ntak pernah kering.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>jarak absurd<\/strong><br \/>\n<em>: usai membaca afrizal malna<\/em><\/p>\n<p>jarak absurd antara kau dan aku<br \/>\nserupa sehelai rambut dibelah tujuh<br \/>\ndan tiap belahannya dibelah lagi menjadi tujuhpuluh<br \/>\nkau yang bukan kau sedang aku<br \/>\nadalah aku yang bersemayam dalam kau yang lain<br \/>\nsedang duduk di teras rumah menuntaskan kopi<br \/>\n\u2014puisi\u2014sembari sesekali mengintip senja yang serupa pagi<br \/>\nbukan senja kemarin apalagi hari ini, tetapi<br \/>\nsenja yang lain yang mengintip kau dan aku di<br \/>\nsebalik pintu, maksudku, lubang kunci pintu<br \/>\nyang hanya sebesar sehelai rambut dibelah tujuh<br \/>\ndan tiap belahannya dibelah lagi menjadi tujuhpuluh.<\/p>\n<p>kau yang absurd<br \/>\naku yang absurd<\/p>\n<p>kau dan aku dalam kopi-puisi sedang duduk satu kursi<br \/>\n(bukan duduk satu meja)<br \/>\nmelepas jarak dalam lintasan waktu yang singkat<br \/>\nyang memadat seperti kilat yang tak pernah penat<br \/>\napalagi terlambat arkian terhambat yang dibuat-buat<br \/>\nlantas datang ke warung kopi membawa puisi-sepi<br \/>\nsambil antri mengambil pisang goreng antipuisi<br \/>\nmencoba mengabadikan waktu mengekalkan perjalanan nurani<br \/>\ndi antara jarak absurd menuju sepi-pagi-antipuisi.<\/p>\n<p>kau yang absurd<br \/>\naku yang absurd<\/p>\n<p>sedang bermain-main dengan puisi-absurd.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*M Firdaus Rahmatullah. <\/strong>Lahir di Jombang, 24 Mei 1988. Menggemari sastra dan kopi. Cerpen dan puisinya pernah tersiar di beberapa media cetak dan daring. Buku tunggalnya <em>Cerita-cerita yang Patut Kau Percaya (Diva Press, 2019),<\/em> <em>Langit Ibu (Jagat Litera, 2022)<\/em>, dan <em>Sisa Sajak (Hyang Pustaka, 2024). <\/em>Pada 2015, mengikuti Workshop Cerpen Kompas di Bali. Tahun 2021 beroleh apresiasi GTK Creative Camp Provinsi Jawa Timur kategori penulis buku fiksi terbaik. Berkhidmat di SMKN Mojoagung Jombang sebagai guru Bahasa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>18 Mei 2025 Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah Oleh M Firdaus Rahmatullah* &nbsp; &nbsp; proyek menggenggam hujan hujan turun siang itu lalu merembes ke kandung kemihmu. seorang tuna mengamen dengan biola besar dan engkau berikan beberapa recehan. dan secangkir kopi yang kupesan tadi pagi membeku di meja warung kopi wifi tapi tak melilit ususku. sebuah charger &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1724,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1729","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-puisi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"18 Mei 2025 Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah Oleh M Firdaus Rahmatullah* &nbsp; &nbsp; proyek menggenggam hujan hujan turun siang itu lalu merembes ke kandung kemihmu. seorang tuna mengamen dengan biola besar dan engkau berikan beberapa recehan. dan secangkir kopi yang kupesan tadi pagi membeku di meja warung kopi wifi tapi tak melilit ususku. sebuah charger &hellip; Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-05-17T22:18:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-17T22:18:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/thumbnail-puisi-m-firdaus.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"844\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"507\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/\",\"name\":\"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-05-17T22:18:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-17T22:18:31+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah - LiteraSIP","og_description":"18 Mei 2025 Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah Oleh M Firdaus Rahmatullah* &nbsp; &nbsp; proyek menggenggam hujan hujan turun siang itu lalu merembes ke kandung kemihmu. seorang tuna mengamen dengan biola besar dan engkau berikan beberapa recehan. dan secangkir kopi yang kupesan tadi pagi membeku di meja warung kopi wifi tapi tak melilit ususku. sebuah charger &hellip; Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-05-17T22:18:14+00:00","article_modified_time":"2025-05-17T22:18:31+00:00","og_image":[{"width":844,"height":507,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/thumbnail-puisi-m-firdaus.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/","name":"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-05-17T22:18:14+00:00","dateModified":"2025-05-17T22:18:31+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-m-firdaus-rahmatullah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1729"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1729\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1730,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1729\/revisions\/1730"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}