{"id":1746,"date":"2025-06-01T15:50:42","date_gmt":"2025-06-01T08:50:42","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1746"},"modified":"2025-06-01T15:50:42","modified_gmt":"2025-06-01T08:50:42","slug":"gendang-malam-simbok-wage","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/","title":{"rendered":"Gendang Malam Simbok Wage"},"content":{"rendered":"<p>1 Juni 2025<\/p>\n<h1><strong>Gendang Malam Simbok Wage<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Sri Romdhoni Warta Kuncoro*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1749\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-gendang-malam-simbok-wage.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"975\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-gendang-malam-simbok-wage.jpg 853w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-gendang-malam-simbok-wage-200x300.jpg 200w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-gendang-malam-simbok-wage-682x1024.jpg 682w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-gendang-malam-simbok-wage-768x1152.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Erangan Wage menjadi gunjingan seluruh penduduk desa. Lebih menyayat bila matahari mendekati kaki langit di ufuk barat, itu pertanda para pemilik membran timpani telinga akan di teror sepanjang malam, karena kesunyian membuat kontras serta menambah aura kengerian kian tebal.<\/p>\n<p>&#8220;Mboookk&#8230;, aku jangan ditinggal. Tidak usah keluar, temani aku,\u201d Wage menatap simbok. Parasnya pucat pasi, menandakan ketakutan yang amat sangat.<\/p>\n<p>&#8220;Sendiri kan juga tidak apa-apa to, le?\u201d. Simbok mencoba mengikis ketegangan Wage.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak, mbok. Aku takut&#8230;\u201d<\/p>\n<p>&#8220;Takut sama siapa? Orang tidak ada apa-apa kok takut.\u201d<\/p>\n<p>&#8220;Tidak! Pokoknya aku takut.\u201d Mata Wage jelalatan mencari sesuatu di atas langit-langit rumah. Hanya sarang laba-laba yang tampak.<\/p>\n<p>Kepayahan yang membelit Wage dimulai sejak tiga bulan yang lalu kala ia pulang sehabis mengantar Ndoro Ayu ke Jakarta. Kondisi tubuhnya berangsur-angsur drop. Dokter hanya bilang itu kelelahan akut. Nanti juga akan normal kembali. Dikasih vitamin sudah enakkan.<\/p>\n<p>Berjalan seminggu drop lagi. Yang dirasa, kaki serta tangan tak punya daya. Seperti nir tulang penyangga. Bahkan, gelas kosong pun tak mampu ia genggam. Kakinya tiada kuat untuk melangkah. Jika memaksakan diri, badannya dipastikan akan terguling roboh.<\/p>\n<p>Simbok Wage, yang sudah sepuh hanya bisa melihat geliat kesakitan anaknya. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Sejak Wage sakit, setiap malam ia mendengarkan suara-suara aneh yang datang dari ruang belakang rumah. Awalnya, ia mengira itu hanya efek dari rasa lelah Wage, tapi belakangan, suara itu tambah jelas. Seperti langkah kaki berat yang berjingkat-jingkat, suara gerendel pintu yang dibuka pelan dan bisikan halus yang samar.<\/p>\n<p>&#8220;Mboook&#8230;,&#8221; Wage berbisik lagi, menatap Simbok dengan mata yang semakin sayu. &#8220;Kok aku bisa begini? Apa penyebabnya? Kapan aku sembuh?\u201d<\/p>\n<p>&#8220;Selama kamu bersama ndoro Ayu, apa yang kamu lakukan?&#8221; selidik Simbok<\/p>\n<p>&#8220;Aku tidak melakukan apa-apa, Mbok. Aku hanya bekerja sesuai perintahnya. Sumpah demi Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Simbok percaya, karena sejak kecil, Wage terkenal sebagai anak yang santun dan berkepribadian baik.<\/p>\n<p>&#8220;Cuma, sebulan terakhir bersama ndoro Ayu, Aku sering dikasih makan sepiring nasi goreng dengan bau yang sangat wangi. Mirip bunga mawar dan kenanga,&#8221; ucap Wage, napasnya terengah-engah seperti dicekik.<\/p>\n<p>Mata Simbok melotot mendengar pengakuan anaknya. Apakah ini penyebabnya? Ia pegang tangan Wage, mencoba memberinya kenyamanan. Namun hatinya masygul, karena ia tahu-sesuatu yang aneh sedang merajam anaknya, yang tak bisa dijelaskan dengan dengan akal.<\/p>\n<p>oOo<\/p>\n<p>Malam itu, angin berhembus kencang. Lampu minyak di sudut ruang tamu mobat-mabit seakan memberi tanda akan sesuatu yang tak wajar. Suara gendang yang terdengar dari kejauhan bertalu-talu, semakin lama semakin keras. Suara itu seolah datang dari dalam rumah, bukan dari luar.<\/p>\n<p>Aneh, bertahun-tahun lahir dan hidup di desa, baru kali ini terdengar suara gendang dengan alunan tak biasa. Pukulannya mirip jerit kematian. Seperti meminta tumbal.<\/p>\n<p>Simbok mengerutkan kening. Otaknya buntu. Tak tahu harus berpikir apa. Apakah itu memang hanya suara gendang biasa yang datang dari desa tetangga atau ada yang lebih dari itu?<\/p>\n<p>&#8220;Wage&#8230;,&#8221; Simbok memanggil, tapi suaranya gagal menembus udara. Kesunyian tetap meraja. Ketika ia menoleh, Wage sudah tidak ada di tempat tidurnya. Keresahan hatinya mengapung hebat. Dengan langkah tergopoh-gopoh, Simbok mencari ke setiap sudut rumah. Pintu belakang yang biasanya tertutup rapat kini sedikit terbuka. Lampu minyak di ruang belakang padam, hanya menyisakan seberkas cahaya yang menari-nari di dinding rumah.<\/p>\n<p>Simbok mendekati pintu itu, perlahan membukanya. Deritnya terdengar. Wage berdiri di dalam dengan tubuh terbungkus kain hitam. Matanya terpejam, tubuhnya kaku, namun ada suara yang sangat halus, seperti nyanyian hantu yang datang dari mulutnya. Lebih tepatnya mirip mantra-mantra dunia hitam.<\/p>\n<p>&#8220;Wage!&#8221; Simbok berteriak, tetapi suaranya tertelan, hilang begitu saja.<\/p>\n<p>Wage berdiri, tak bergerak, hanya nyanyian hantu itu yang terus terdengar.<\/p>\n<p>&#8220;Kenapa kamu, Wage?&#8221; Simbok bertanya, suaranya bergetar.<\/p>\n<p>&#8220;Aku tidak bisa pergi, Mbok. Aku tetap ada disini, \u201d suara jawab Wage terdengar lebih berat, seakan bukan dari mulutnya.<\/p>\n<p>Simbok terdiam. Batinnya bergejolak, dari mana Wage mendapatkan kain hitam? Seingatnya, di rumah ini tidak ada kain hitam. Siapa yang membalutnya? Tubuhnya gemetar. Ia merasa ada yang ganjil dengan anaknya. Apakah ini bukan Wage yang sebenarnya?<\/p>\n<p>Tiba-tiba, suara gendang yang keras kembali terdengar. Kali ini lebih dekat. Simbok menoleh, dan dari balik jendela, ia melihat bayangan hitam bergerak lugas. Seperti ada seseorang yang berlari mengelilingi rumah.<\/p>\n<p>Berbekal kain Cinde, Simbok memburu dengan amarah. Rasa takutnya sudah terbakar musnah. Dia hanya ingin tahu, siapa sosok tersebut serta asalnya.<\/p>\n<p>Desa yang biasanya sunyi kini dipenuhi oleh suara langkah kaki yang tidak wajar. Di kejauhan, ia melihat sekelompok orang yang mengenakan pakaian serba hitam, berjalan dengan ayun kaki disamakan dengan gerak bibir mereka. Sangat cepat, seperti tidak menjejak tanah.<\/p>\n<p>Keterkejutan membekap perempuan itu. Menurutnya, gerombolan tersebut tidak tampak seperti manusia-mereka bergerak dengan cara yang aneh, penuh keganjilan. Saat salah satu dari mereka melintas, ia bisa merasakan udara sangat dingin, berbau busuk menyelimuti tubuhnya. Energi jahat apa yang menguar dari kelompok hitam itu?<\/p>\n<p>Kembali ke dalam rumah, Simbok mendapati Wage tidak berada di tempatnya. Bale tidurnya kosong. Namun, di atas meja ada selembar kertas dengan tulisan tangan cakar ayam. bunyinya:<\/p>\n<p>&#8220;Simbok, aku tidak bisa pergi. Aku tetap di sini. Simbok tidak perlu mengerti apa yang harus aku jalani\u201d<\/p>\n<p>Gendang malam itu dipukul bertalu-talu. Wage, atau entah siapa yang kini berada di dalam tubuhnya, telah pergi.<\/p>\n<p>Pendar lampu minyak yang dibawa Simbok menjangkau semampu batas, membentuk bayangan di lekuk-lekuk sekitaran. Sesekali tangannya menaik, berbagi cahaya sekehendak hati, tepat digaris wajah. Perempuan itu menjalinnya di ambang pintu, dadanya berdegup kencang menatap kegelapan.<\/p>\n<p>Suara gendang belum pupus. Malah seolah-olah memburu dekat, namun tak ada seorang pun yang terlihat. Apa yang terjadi dengan Wage? Apakah Wage benar-benar kembali atau ada sesuatu yang lebih buruk datang menanti? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada desa ini? Simbok makin tak mengerti dengan dunia yang penuh misteri ini.<\/p>\n<p>Tanpa diketahui Simbok, sesosok hitam mendekap Wage di atas wuwungan. Liurnya menetes dengan mata merah menyala. Lidah panjangnya menjilati tubuh Wage tanpa sisa.<\/p>\n<p>\u201cBetapa lezat tubuh anak ini\u201d desahnya. \u201cIni paling nikmat dari semua yang pernah aku dapatkan\u201d Tawanya mendesis kuyub kemenangan.<\/p>\n<p>Sementara itu, angin malam berhembus tak berkesudahan. Menampar-tampar daun pintu, menghasilkan derit penderitaan. Di halaman depan, dedaunan tak luput menerima hempasannya. Dan, lampu minyak yang ada di tangan Simbok berkelip satu kali, lalu padam.[]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Sri Romdhoni Warta Kuncoro<\/strong>, mantan ojek online(ojol) yang punya hobi mancing ikan dan membaca buku. Beberapa tulisannya (artikel, puisi, cerpen) pernah di muat di media cetak dan online. Cerpennya berjudul \u2018Seterika Jago\u2019 masuk dalam antologi \u2018Berita Kehilangan\u2019(2021)-KontraS. Sekarang berdomisili di kota Solo.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1 Juni 2025 Gendang Malam Simbok Wage Oleh Sri Romdhoni Warta Kuncoro* &nbsp; &nbsp; Erangan Wage menjadi gunjingan seluruh penduduk desa. Lebih menyayat bila matahari mendekati kaki langit di ufuk barat, itu pertanda para pemilik membran timpani telinga akan di teror sepanjang malam, karena kesunyian membuat kontras serta menambah aura kengerian kian tebal. &#8220;Mboookk&#8230;, aku &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Gendang Malam Simbok Wage<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1747,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1746","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Gendang Malam Simbok Wage - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Gendang Malam Simbok Wage - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"1 Juni 2025 Gendang Malam Simbok Wage Oleh Sri Romdhoni Warta Kuncoro* &nbsp; &nbsp; Erangan Wage menjadi gunjingan seluruh penduduk desa. Lebih menyayat bila matahari mendekati kaki langit di ufuk barat, itu pertanda para pemilik membran timpani telinga akan di teror sepanjang malam, karena kesunyian membuat kontras serta menambah aura kengerian kian tebal. &#8220;Mboookk&#8230;, aku &hellip; Gendang Malam Simbok Wage Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-01T08:50:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/thumbnail-cerpen-gendang-malam-simbok-wage.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"512\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/\",\"name\":\"Gendang Malam Simbok Wage - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-06-01T08:50:42+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-01T08:50:42+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Gendang Malam Simbok Wage\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Gendang Malam Simbok Wage - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Gendang Malam Simbok Wage - LiteraSIP","og_description":"1 Juni 2025 Gendang Malam Simbok Wage Oleh Sri Romdhoni Warta Kuncoro* &nbsp; &nbsp; Erangan Wage menjadi gunjingan seluruh penduduk desa. Lebih menyayat bila matahari mendekati kaki langit di ufuk barat, itu pertanda para pemilik membran timpani telinga akan di teror sepanjang malam, karena kesunyian membuat kontras serta menambah aura kengerian kian tebal. &#8220;Mboookk&#8230;, aku &hellip; Gendang Malam Simbok Wage Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-06-01T08:50:42+00:00","og_image":[{"width":853,"height":512,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/thumbnail-cerpen-gendang-malam-simbok-wage.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/","name":"Gendang Malam Simbok Wage - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-06-01T08:50:42+00:00","dateModified":"2025-06-01T08:50:42+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/gendang-malam-simbok-wage\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Gendang Malam Simbok Wage"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1746","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1746"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1746\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1751,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1746\/revisions\/1751"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1747"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1746"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1746"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1746"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}