{"id":1769,"date":"2025-06-15T15:53:20","date_gmt":"2025-06-15T08:53:20","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1769"},"modified":"2025-06-15T15:53:20","modified_gmt":"2025-06-15T08:53:20","slug":"pengorbanan-sulung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/","title":{"rendered":"Pengorbanan Sulung"},"content":{"rendered":"<p>15 Juni 2025<\/p>\n<h1><strong>Pengorbanan Sulung<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Bagus Sulistio*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1773\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-pengorbanan-sulung-1.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-pengorbanan-sulung-1.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-pengorbanan-sulung-1-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-pengorbanan-sulung-1-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ilustrasi-cerpen-pengorbanan-sulung-1-768x768.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Biasanya, anak bungsulah yang mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya. Hal tersebut tidak berlaku bagi keluargaku. Orang tuaku mempunyai dua anak, aku dan kakakku. Mereka seperti lebih sayang terhadap kakakku daripada putra bungsunya.<\/p>\n<p>&#8220;Menjadi anak sulung itu berat. Banyak pengorbanan yang harus dilakukannya,&#8221; kata Ibu ketika aku terlihat marah sebab iri dengan Sulung.<\/p>\n<p>&#8220;Keluarga lain lebih sayang kepada bungsunya. Kenapa keluarga ini berbeda?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Kelak kamu pasti akan paham dengan apa yang kami lakukan.&#8221;<\/p>\n<p>Secara sifat, Sulung tidak begitu jahat bahkan cenderung baik kepadaku. Sebagai kakak, dia termasuk kakak yang baik. Seringkali kali dia perhatian dan senang berbagi kepada adiknya ini. Dia tidak pernah memerintah, memarahi, bahkan memukulku. Sulung memang pribadi yang baik. Saking baiknya, logikaku menerima kalau Ibu dan Bapak lebih perhatian kepadanya.<\/p>\n<p>Logika boleh saja menerima, namun hati belum tentu. Aku tetap saja merasa iri kepada Sulung. Apa yang dia mau selalu dituruti secepatnya. Hal tersebut berbalik kepadaku. Apa yang aku mau tidak langsung dituruti bahkan sering tidak dituruti sama sekali.<\/p>\n<p>&#8220;Bapak, aku mau motor,&#8221; pinta Sulung saat kita sedang makan malam bersama.<\/p>\n<p>&#8220;Boleh. Besok ikut Bapak ke gerai penjualan motor. Silakan kamu pilih sendiri motor yang kamu mau.&#8221;<\/p>\n<p>Darahku langsung mendidih mendengar ucapan Bapak. Tanpa bisa menahan ledakan amarah muncul seketika. &#8220;Apa yang Sulung minta selalu kalian turuti. Apakah kalian tidak sadar kalau kalian mempunyai dua anak? Apakah aku ini anak pungut sehingga kalian tidak pernah menuruti kemauanku?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Sabar, Nduk. Kami sayang juga kepadamu. Tapi kamu harus latihan memahami hidup. Tidak semua apa yang diinginkan harus tercapai.&#8221; Ibu berusaha menenangkan.<\/p>\n<p>&#8220;Kenapa harus aku saja yang latihan? Sulung tidak? Aku muak dengan kalian semua!&#8221; Suasana hening sekejap lalu aku pergi ke dalam kamar.<\/p>\n<p>Aku menjadi terpikir dengan perkataan barusan. Jangan-jangan aku merupakan anak punggut, bukan anak kandung mereka. Yang aku ketahui, perlakuan terhadap anak pungut dan anak kandung memang berbeda. Orang tua akan lebih sayang kepada anak kandungnya. Jika hal itu benar, mengapa orang tuaku tidak cerita sejak dulu. Mengapa mereka menutupi secara perkataan tapi tidak dengan tindakan?<\/p>\n<p>Air mataku mengalir cukup deras. Aku merasa tidak terima dengan perlakuan keluarga ini. Aku harus mengetahui fakta sebenarnya tentang aku, Sulung, dan keluarga ini. Namun tidak harus sekarang. Hati yang lelah membuat aku ingin memejamkan mata hingga esok pagi.<\/p>\n<p>Belum sempat mata ini terpejam, Ibu datang dan berkata, &#8220;Kamu jangan iri dengan Sulung. Kami malah lebih sayang kepadamu daripada Sulung.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Apa buktinya?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Buktinya? Kami berusaha agar Sulung bahagia dan Sulung bisa pergi dengan senang dan tenang.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Pergi? Maksud Ibu?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Suatu saat kamu pasti akan tahu.&#8221;<\/p>\n<p>Ibu pergi dari kamarku. Mata yang tadinya berat untuk membuka, kini menolak untuk terpejam. Ucapan Ibu belum bisa aku cerna. Hal itu terjadi berhari-hari, berbulan-bulan, hingga dua tahun lamanya.<\/p>\n<p>Saat ulang tahun Sulung yang kesembilan belas, orang tuaku memberikannya mobil. Entah darimana uang yang mereka gunakan untuk membeli mobil tersebut. Yang jelas, mereka bilang ke kami bahwa mobil itu dibeli secara kontan.<\/p>\n<p>Otakku semakin rumit memikirkan keanehan di keluarga kami. Ibu dan Bapak selalu ada uang untuk Sulung, sedangkan sebaliknya, mereka kebingungan dan merasa susah untuk memenuhi keinginanku. Apa mungkin ada orang tua asli Sulung diluar sana yang memberi uang lebih kepada Ibu dan Bapak?<\/p>\n<p>&#8220;Bagaimana perasaanmu, Nak? Senang?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Sangat senang dan bahagia, Bu. Namun, aku belum siap untuk dijemput.&#8221;<\/p>\n<p>Dijemput? Aku semakin yakin kalau Sulung memang bukan kakak kandungku, bukan anak kandung dari Bapak dan Ibu. Barangkali ada orang tua asli Sulung di luar sana. Namun, aku sungkan untuk bertanya langsung. Cukup ucapan mereka yang menjadi bukti kuat dan keyakinanku.<\/p>\n<p>Semakin hari semakin banyak permintaan yang keluar dari mulut Sulung. Tentu saja, orang tuaku selalu menurutinya. Akan tetapi aku tidak merasa iri seperti sebelum-sebelumnya. Karena mungkin ke depannya Sulung akan diambil oleh orang tua asli dia.<\/p>\n<p>&#8220;Apakah kamu sudah mengerti perihal Sulung, Nak?&#8221; tanya Bapak ketika aku sedang duduk sendiri di teras.<\/p>\n<p>&#8220;Mungkin sudah. Sulung bukan anak kandung Bapak, benarkan?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Sulung anak kandung Bapak. Namun, cara mendapatkan Sulung melalui jalur yang salah.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Maksud Bapak?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Dulu Bapak dan Ibu setelah sepuluh tahun menikah tidak kunjung punya anak. Maka, kami pergi ke gunung Kramat di selatan kota ini.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Untuk apa pergi ke sana?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Melakukan ritual. Bapak melakukan perjanjian dengan raja jin di gunung itu.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Apakah berhasil?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Tentu berhasil. Satu hari setelah turun gunung, Ibumu mengandung sulung. Akan tetapi sebelum kami melakukan ritual, raja jin memberi sebuah persyaratan. Bahwa anak pertama kami harus dikorbankan sebelum umur dua puluh tahun.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Bukankah umur Sulung sebentar lagi dua puluh tahun? Lalu apa yang terjadi?&#8221;<\/p>\n<p>Bapak diam. Dari tatapannya menandakan tidak tahu akan jawaban. Cerita Bapak sedikit aneh dan tidak masuk akal. Namun, ada sedikit keyakinan di hatiku perihal cerita tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Mengapa Bapak selalu menuruti kemauan Sulung? Sedangkan kemauanku tidak satu pun dipenuhi.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Entah mengapa ketika Sulung meminta sesuatu, tak lama kemudian di bawah kasur kami muncul uang yang bisa dibelanjakan untuk keinginan Sulung. Sempat uang itu kami simpan untuk membeli keinginanmu, namun tiba-tiba uang itu hilang. Jadi tolong maklumi jika permintaanmu tidak langsung kami turuti.&#8221;<\/p>\n<p>Aku terdiam dan berusaha mencerna ucapan Bapak. Kini sudah aku anggap terang perihal keluarga ini. Perihal Sulung dan permintaannya yang selalu terpenuhi sudah jelas. Aku semakin yakin untuk tidak punya rasa iri kepada Sulung. Aku berusaha memaklumi perbedaan atas apa yang dilakukan orang tuaku kepada kami berdua.<\/p>\n<p>Cukup lama aku dan Bapak duduk di teras, sebuah teriakan cukup kencang memekakan telinga. Teriakan itu merupakan suara sulung. Teriakan yang bersumber di kamar Sulung. Aku dan Bapak segera beranjak menuju kamar Sulung. Di depan kamar Sulung sudah ada Ibu yang berusaha membuka pintu.<\/p>\n<p>&#8220;Kamarnya seperti dikunci dari dalam, Pak.&#8221; ucap Ibu sambil memainkan daun pintu.<\/p>\n<p>Bapak mengambil ancang-ancang untuk mendobrak. Satu dobrakan belum cukup membuat pintu terbuka. Dobrakan ke-enam baru pintu dapat terbuka lebar. Namun, seketika teriakan Sulung menghilang berikut jasadnya. Kami mencari di bawah ranjang tidur, dalam lemari, belakang pintu dan berbagai sudut kamar tetap nihil hasilnya.<\/p>\n<p>Hitungan detik suasana hening namun terpecahkan kemudian oleh tangisan Ibu. Ia menangis tersedu-sedu seraya berucap, &#8220;Sulung sudah dijemput, Pak.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Benar. Mari kita ikhlaskan dia.&#8221;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Banjarnegara, 2023<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Bagus Sulistio<\/strong><strong>,<\/strong> lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Banjarnegara. Saat ini ia mengabdikan diri menjadi guru wiyata bhakti. Ia pernah menjadi mentor kepenulisan cerpen di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Ia juga menjadi wakil ketua Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Banjarnegara dan anggota di KPBJ. <em>Hikayat Jambrong dan Cerita Orang Aneh Lainnya<\/em> (2023) merupakan buku kumpulan cerpen miliknya. Karyanya terdokumentasikan dalam beberapa antologi cerpen serta tersiar pada beberapa media seperti Kompas Id, Minggu Pagi, Solopos, Banjarmasin Post, Harian Sultra dan masih banyak lagi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>15 Juni 2025 Pengorbanan Sulung Oleh Bagus Sulistio* &nbsp; &nbsp; Biasanya, anak bungsulah yang mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya. Hal tersebut tidak berlaku bagi keluargaku. Orang tuaku mempunyai dua anak, aku dan kakakku. Mereka seperti lebih sayang terhadap kakakku daripada putra bungsunya. &#8220;Menjadi anak sulung itu berat. Banyak pengorbanan yang harus dilakukannya,&#8221; kata Ibu &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Pengorbanan Sulung<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1774,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1769","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pengorbanan Sulung - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengorbanan Sulung - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"15 Juni 2025 Pengorbanan Sulung Oleh Bagus Sulistio* &nbsp; &nbsp; Biasanya, anak bungsulah yang mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya. Hal tersebut tidak berlaku bagi keluargaku. Orang tuaku mempunyai dua anak, aku dan kakakku. Mereka seperti lebih sayang terhadap kakakku daripada putra bungsunya. &#8220;Menjadi anak sulung itu berat. Banyak pengorbanan yang harus dilakukannya,&#8221; kata Ibu &hellip; Pengorbanan Sulung Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-15T08:53:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/thumbnail-cerpen-pengorbanan-sulung.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"614\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/\",\"name\":\"Pengorbanan Sulung - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-06-15T08:53:20+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-15T08:53:20+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pengorbanan Sulung\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pengorbanan Sulung - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pengorbanan Sulung - LiteraSIP","og_description":"15 Juni 2025 Pengorbanan Sulung Oleh Bagus Sulistio* &nbsp; &nbsp; Biasanya, anak bungsulah yang mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya. Hal tersebut tidak berlaku bagi keluargaku. Orang tuaku mempunyai dua anak, aku dan kakakku. Mereka seperti lebih sayang terhadap kakakku daripada putra bungsunya. &#8220;Menjadi anak sulung itu berat. Banyak pengorbanan yang harus dilakukannya,&#8221; kata Ibu &hellip; Pengorbanan Sulung Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-06-15T08:53:20+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":614,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/thumbnail-cerpen-pengorbanan-sulung.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/","name":"Pengorbanan Sulung - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-06-15T08:53:20+00:00","dateModified":"2025-06-15T08:53:20+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pengorbanan-sulung\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pengorbanan Sulung"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1769","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1769"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1769\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1775,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1769\/revisions\/1775"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1774"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1769"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1769"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1769"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}