{"id":1839,"date":"2025-08-03T19:39:03","date_gmt":"2025-08-03T12:39:03","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1839"},"modified":"2025-08-03T19:39:03","modified_gmt":"2025-08-03T12:39:03","slug":"puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/","title":{"rendered":"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati"},"content":{"rendered":"<p>3 Agustus 2025<\/p>\n<h1><strong>Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Rafidah Nur Hidayati*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1835\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-puisi-rafidah-nur-hidayati.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"975\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-puisi-rafidah-nur-hidayati.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-puisi-rafidah-nur-hidayati-200x300.jpg 200w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-puisi-rafidah-nur-hidayati-683x1024.jpg 683w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-puisi-rafidah-nur-hidayati-768x1152.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Libellulla<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><em>(Siapkah?)<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em>Sore menjelang<br \/>\nAngin membawa aroma aspal dan debu kota<br \/>\nAku duduk di balkon lantai empat<br \/>\nMenyesap teh yang lebih pahit dari ingatanku sendiri<br \/>\nKetika makhluk bersayap itu datang<br \/>\nMengoyak kesunyian dengan dengungan lembutnya<\/p>\n<p>Seekor capung, hijau metalik<br \/>\nBersinar seperti rahasia yang ingin dibuka<br \/>\nTapi tak pernah benar-benar diceritakan<br \/>\nDia mendarat di tepi gelas tehku, melihatku<br \/>\nSeolah aku adalah hal yang aneh di dunia ini<\/p>\n<p>\u201cApa kau tersesat?\u201d tanyaku<br \/>\nTapi dia tidak menjawab<br \/>\nDia tidak berbicara bahasa manusia<br \/>\nTidak pula bahasa serangga<\/p>\n<p>Diamnya penuh arti<br \/>\nSeperti penulis yang enggan menyelesaikan bab terakhir<br \/>\nApakah kau terbang dari taman yang jauh?<br \/>\nAtau hanya melompat dari balkon tetangga<br \/>\nYang menanam bunga liar di pot bekas cat?<br \/>\nBagaimana kau bisa sampai di sini<br \/>\nDi ketinggian tempat burung pun jarang singgah?<br \/>\nAku tidak tahu apakah dia peduli dengan pertanyaanku<br \/>\nTapi aku tahu satu hal:<br \/>\nCapung itu datang bukan untuk menjawab teka-teki<br \/>\nMelainkan untuk mengingatkanku<br \/>\nBahwa tidak semua yang datang perlu penjelasan<\/p>\n<p>Dia terbang pergi setelah beberapa saat<br \/>\nSayapnya seperti serpihan kaca yang menari dalam cahaya<br \/>\nDan aku duduk di sana, mencoba memahami bahwa beberapa pertemuan<br \/>\nMemang hanya untuk dikenang<br \/>\nTanpa pernah benar-benar dimiliki<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Horologium Dilatum<\/strong><\/p>\n<p>Mereka tidak berdetak, juga tidak berbunyi. Pada pagi yang malas, aku melihat bayangan: Tiga sosok bersandar pada angin, dengan tangan yang kosong dan langkah yang lamban, Mengenakan jubah waktu yang terlupakan; Mereka melayang seperti kabut di atas hutan yang tidur. Menyapu bayangan seperti lembaran mimpi yang berguguran.<\/p>\n<p>Yang pertama adalah keraguan,<br \/>\nMenelusuri setiap jalan hanya untuk berputar kembali. Menghapus tujuan bahkan sebelum semangat tumbuh. Yang kedua adalah Keengganan. Pipinya seperti daun layu, penuh penundaan; Ia menari tanpa melangkah maju.<\/p>\n<p>Dan yang terakhir,<br \/>\nyang paling kucintai meski sering kutolak,<br \/>\nKemalasan yang lembut, dengan wajah seteduh senja, mengundangku duduk di tikar waktu, tanpa janji.<\/p>\n<p>Mereka berbisik, \u201cApa gunanya terburu-buru?\u201d dan aku tergoda, karena angin tidak memanggil, matahari tidak memaksa.<br \/>\nDan tugas-tugas bersembunyi di balik tabir alasan yang indah.<\/p>\n<p>Namun saat bayangan memudar dan matahari condong.<br \/>\nAku mengerti keindahan waktu yang terbuang. Bukan dalam pelarian, tapi dalam istirahat.<br \/>\nYang panjang, tempat impian tumbuh tanpa batas.<\/p>\n<p>Jadi, selamat tinggal kalian hantu yang lamban,<br \/>\nAku telah menikmati setiap detik yang kalian berikan; Tapi kini aku ingin berdansa lagi.<br \/>\nDi bawah panji waktu yang bergerak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Hymen<\/strong><\/p>\n<p>Di dalam diriku, kau hadir tanpa aku sadari<br \/>\nSebuah benteng yang kuat<br \/>\nYang menjaga kehormatanku<br \/>\nAku membayangkanmu sebagai dinding kokoh<br \/>\nYang melindungi bagian dalam tubuhku dari segala bahaya<\/p>\n<p>Kau adalah gerbang yang cantik<br \/>\nYang membuka jalan bagi kebahagiaan<br \/>\nTapi juga pagar yang kuat<br \/>\nYang melindungi aku dari segala kekhawatiran<br \/>\nKau adalah pintu yang elegan<br \/>\nYang membuka jalan bagi cinta<br \/>\nTapi juga pi\u00f1ata yang pernah ada<br \/>\nYang menyimpan kejutan bagi aku<\/p>\n<p>Berapa banyak tempat di tubuh<br \/>\nYang diciptakan untuk dihancurkan sekali?<br \/>\nTapi kau tetap kokoh<br \/>\nSeperti secangkir arteri yang cerah<br \/>\nYang membawa kehidupan dan kebahagiaan bagi aku<\/p>\n<p>Dan betapa beruntungnya kita<br \/>\nMemiliki kau sebagai pelindung dan penjaga<br \/>\nYang menjaga aku dari segala bahaya dan kekhawatiran<br \/>\nKau adalah bagian dari tubuhku<br \/>\nYang menjaga kehormatanku<br \/>\nDan aku akan selalu berterima kasih padamu<br \/>\nAtas perlindunganmu yang kuat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kepak Kecil Kupu (<em>Butterfly Effect<\/em>)<\/strong><\/p>\n<p>Bocah kecil, polos, lugu, tidak berdosa<br \/>\nTerjatuh, menendang batu tanpa sosa<br \/>\nBatu menggelinding, tak terhenti<br \/>\nMenjatuhkan pohon, yang runtuh dengan sendiri<br \/>\nPohon runtuh, menumbangkan menara<br \/>\nMenara jatuh, menghancurkan pasar<br \/>\nPasar hancur, ekonomi runtuh<br \/>\nKota ambruk, dalam sekejap, tanpa peringatan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kucing Schr\u00f6dinger<\/strong><\/p>\n<p>Ada seekor kucing di dalam kotak.<br \/>\nKita tak tahu\u2014<br \/>\napakah ia hidup,<br \/>\natau sudah mati.<br \/>\nMungkin dua-duanya.<br \/>\nMungkin tidak satupun.<br \/>\nDunia belum membukanya.<\/p>\n<p>Kita mengetuk dinding,<br \/>\nmencari jawaban dari keheningan.<br \/>\nTapi logika hanya berputar,<br \/>\ndan kenyataan terasa kabur,<br \/>\nseperti bayangan di air yang bergoyang.<\/p>\n<p>Paradoks ini bukan sekadar tentang hidup atau mati,<br \/>\ntapi tentang segala hal yang <em>mungkin<\/em>.<br \/>\nTentang dunia yang bercabang-cabang,<br \/>\nseperti jalan setapak yang tak pernah bertemu kembali.<\/p>\n<p>Di satu semesta, kau berhasil.<br \/>\nDi semesta lain, kau bahkan tak sempat mencoba.<br \/>\nKau mencintai seseorang di sini,<br \/>\ntapi di tempat lain, kalian tak saling kenal.<br \/>\nBegitu halus batas antara nyata dan nyaris.<\/p>\n<p>Kucing itu tahu apa yang tak kita sadari:<br \/>\nbahwa hidup bukan satu garis lurus,<br \/>\nmelainkan lapisan-lapisan tipis yang saling bersentuhan,<br \/>\nsaling menunggu untuk disadari.<\/p>\n<p>Schr\u00f6dinger\u2014<br \/>\nia hanya diam di sudut semesta,<br \/>\nmenyaksikan kita bingung<br \/>\ndengan pilihan-pilihan<br \/>\nyang tak pernah benar-benar pasti.<\/p>\n<p>Mungkin semesta ini hanya satu<br \/>\ndari begitu banyak versi yang berjalan bersamaan.<br \/>\nDan kita?<br \/>\nHanyalah sekelebat kemungkinan<br \/>\nyang berusaha memahami dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Relativitas menggulung waktu seperti benang,<br \/>\ndan partikel saling terikat walau terpisah jauh.<br \/>\nTapi tak semua bisa dijelaskan oleh rumus.<br \/>\nTak semua bisa dimengerti dengan kepala.<\/p>\n<p>Kucing Schr\u00f6dinger tidak menyuruh kita memilih.<br \/>\nIa hanya ingin kita berhenti sejenak\u2014<br \/>\nmerenung:<br \/>\nApakah hidup ini tentang hasil?<br \/>\nAtau tentang berjalan di antara semua yang tak pasti,<br \/>\ndengan hati yang tetap bersedia merasakan?<\/p>\n<p>Dan mungkin,<br \/>\nkita tak perlu membuka kotaknya.<br \/>\nKarena hidup bukan tentang membuktikan sesuatu.<br \/>\nMelainkan tentang menerima:<br \/>\nbahwa di tengah segala kemungkinan yang membingungkan,<br \/>\nkita sedang ada.<br \/>\nDan itu\u2014sudah cukup.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Rafidah Nur Hidayati<\/strong>. Kelahiran 20 Maret 2002 ini mulai menulis puisi sebagai cara merekam hal-hal yang sulit ia ucapkan, mulai dari halaman belakang buku pelajaran hingga catatan kecil yang diselipkan di balik bantal. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran, tapi justru di tengah kesibukan akademik dan klinik itulah ia semakin rajin menulis.<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>3 Agustus 2025 Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati Oleh Rafidah Nur Hidayati* &nbsp; &nbsp; Libellulla \u00a0(Siapkah?) \u00a0Sore menjelang Angin membawa aroma aspal dan debu kota Aku duduk di balkon lantai empat Menyesap teh yang lebih pahit dari ingatanku sendiri Ketika makhluk bersayap itu datang Mengoyak kesunyian dengan dengungan lembutnya Seekor capung, hijau metalik Bersinar seperti rahasia &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1837,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1839","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-puisi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"3 Agustus 2025 Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati Oleh Rafidah Nur Hidayati* &nbsp; &nbsp; Libellulla \u00a0(Siapkah?) \u00a0Sore menjelang Angin membawa aroma aspal dan debu kota Aku duduk di balkon lantai empat Menyesap teh yang lebih pahit dari ingatanku sendiri Ketika makhluk bersayap itu datang Mengoyak kesunyian dengan dengungan lembutnya Seekor capung, hijau metalik Bersinar seperti rahasia &hellip; Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-03T12:39:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-puisi-rafidah-nur-hidayati-Copy-2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"614\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/\",\"name\":\"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-08-03T12:39:03+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-03T12:39:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati - LiteraSIP","og_description":"3 Agustus 2025 Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati Oleh Rafidah Nur Hidayati* &nbsp; &nbsp; Libellulla \u00a0(Siapkah?) \u00a0Sore menjelang Angin membawa aroma aspal dan debu kota Aku duduk di balkon lantai empat Menyesap teh yang lebih pahit dari ingatanku sendiri Ketika makhluk bersayap itu datang Mengoyak kesunyian dengan dengungan lembutnya Seekor capung, hijau metalik Bersinar seperti rahasia &hellip; Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-08-03T12:39:03+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":614,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-puisi-rafidah-nur-hidayati-Copy-2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/","name":"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-08-03T12:39:03+00:00","dateModified":"2025-08-03T12:39:03+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-rafidah-nur-hidayati\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1839","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1839"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1839\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1840,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1839\/revisions\/1840"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1837"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1839"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1839"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1839"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}