{"id":1858,"date":"2025-08-24T12:17:33","date_gmt":"2025-08-24T05:17:33","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1858"},"modified":"2025-08-24T12:17:33","modified_gmt":"2025-08-24T05:17:33","slug":"frekuensi-pulang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/","title":{"rendered":"Frekuensi Pulang"},"content":{"rendered":"<p>24 Agustus 2025<\/p>\n<h1><strong>Frekuensi Pulang<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Ahdian Azri Bustari*<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1860\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-cerpen-frekuensi-pulang.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"433\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-cerpen-frekuensi-pulang.jpg 1280w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-cerpen-frekuensi-pulang-300x200.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-cerpen-frekuensi-pulang-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-cerpen-frekuensi-pulang-768x512.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jam menunjukkan pukul delapan malam. Itu adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan radio bagi Sahar. Seperti biasa, dengan posisi rebahan Sahar mulai menyetel radio. Radio lawas peninggalan almarhum ayahnya. Sahar memutar-mutar tombol pencari gelombang dengan perlahan dan sabar. Ia mencari siaran Radio Rakyat \u2013 radio FM yang populer di kampung asalnya.<\/p>\n<p><em>Selamat malam, saudara-saudaraku yang ada di penjuru negeri. <\/em><br \/>\n<em>Bagaimana kabar kalian? Semoga damai menyelimuti posisi rebahan kalian malam ini<\/em><br \/>\n<em>Langit gelap penuh bintang berlari,<\/em><br \/>\n<em>Serigala di hutan sibuk bikin konser sendiri<\/em><br \/>\n<em>Radio Rakyat muncul kembali<\/em><br \/>\n<em>Untuk temani kalian yang lagi sendiri<\/em><\/p>\n<p>Pantun pembuka itu membuat Sahar sedikit tertawa. Ia terbayang momen saat malam hari di kamar tidur rumahnya. Saat dimana dirinya masih berusia sepuluh tahun. Tidur di sebelah ibunya mendengarkan siaran malam sampai alam mimpi menyambut. Momen yang setiap hari mereka lakukan pasca kepergian sang ayah. Saat momen itulah, Sahar akan dekat dengan ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Tiga tahun sudah Sahar pergi merantau ke Jakarta. Ia bekerja sebagai kurir salah satu ekspedisi tersibuk di ibu kota. Gajinya pas-pasan. Waktu luangnya juga sedikit. Seringkali hal itu membuatnya enggan untuk pulang kampung, bukan karena tidak rindu dengan ibunya. Akan \u00a0tetapi uangnya tak cukup untuk membawanya pulang dan balik lagi merantau ke Jakarta.<\/p>\n<p>Saat pertama kali berangkat, ibunya menyelipkan radio lawas dalam kardus mi instan. \u201cBiar kau tidak lupa sama suara kampung,\u201d ucap ibu sambil menepuk pelan dada Sahar yang saat itu penuh sesak menahan tangis. Sahar hanya mengangguk, meski ia tak tahu apakah nanti dirinya akan menyempatkan untuk mendengarkan atau tidak.<\/p>\n<p>Sahar dikenal sebagai pribadi yang tak pandai bergaul. Ia tak mengerti bahasan teman-temannya. Maklum saja, pendidikan Sahar hanya sebatas lulus SMA. Saat akhir pekan misalnya, Sahar habiskan waktunya hanya untuk mencuci pakaian dan tidur. Kadang menonton film bajakan di ponselnya yang sudah mulai retak di layar. Perlahan radio itu menjadi satu-satunya hal yang membuatnya terus bertahan, meskipun antenanya sudah tak sekuat dahulu menangkap sinyal.<\/p>\n<p>Bagi Sahar, siaran radio terkhusus Radio Rakyat menjadi jembatan halus antara kenyataan yang keras dan kenangan yang lunak. Segmen dari Radio Rakyat yang disukai Sahar adalah segmen bertitip salam. Segmen dimana penyiar membacakan kiriman salam dari para pendengar:<\/p>\n<p><em>Untuk istriku di Ngawi. Sabar ya! Aku disini selalu berjuang menafkahimu<\/em><\/p>\n<p>Atau:<\/p>\n<p><em>Teruntuk Emiliai, kekasihku yang sedang \u201cngambek\u201d di kamar rumahnya. Mas Haryo minta maaf dan janji tidak akan mengulangi kesalahan Mas lagi<\/em><\/p>\n<p>Pernah satu malam, siaran radio terganggu oleh suara derasnya hujan di luar. Sahar membuka jendela dan menatap kosong langit Jakarta yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Dalam lamunan kosongnya itu, ponsel Sahar berdering, sebuah panggilan dari teman kantornya masuk. Ia menjawab panggilan itu dengan nada datar.<\/p>\n<p>\u201cHalo, kenapa Zam?\u201d tanya Sahar.<\/p>\n<p>\u201cKau mau tidak, lusa ikut dengan aku balik ke rumah? Kita naik bis malam. Lumayan murah. Kampungmu kan dekat dengan kampungku,\u201d bujuk kawan kantornya itu.<\/p>\n<p>Sahar menolak. Ia beralasan lembur disuruh bosnya. Padahal, alasan sebenarnya adalah dirinya takut untuk pulang sebab belum sukses. Ia juga takut melihat ibunya yang semakin tua. Takut melihat warung kecil mereka tutup.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Malam itu, selepas ucapan dan pantun pembuka dari penyiar. Segmen bertitip pesan dimulai. Hal itu membuat Sahar sedikit kebingungan sebab biasanya segmen tersebut disiarkan setelah pemutaran musik dangdut-dangdut koplo.<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><em>Baik teman-teman di penjuru negeri. Radio Rakyat kali ini masuk ke segmen bertitip salam. Segmen berisi titipan salam dan pesan dari para pendengar<\/em><\/p>\n<p><em>Pesan pertama, dari Pak Burhan di Pangkalpinang. Pak Burhan menitipkan pesan untuk saudaranya, Pak Martono di Semarang. Teruntuk adikku, Martono.. Jagalah dirimu. Kakakmu disini sangat merindukanmu. Doakan lebaran nanti kita bisa bertemu<\/em><\/p>\n<p>Pesan demi pesan dibacakan oleh penyiar. Sampai, sebuah pesan memecah lamunan Sahar yang tengah fokus melihat langit-langit kamar. Pesan itu ditujukan untuknya:<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><em>Titipan salam terakhir pada malam ini, ditujukan untuk saudara Sahar Abidin di Jakarta.<\/em><\/p>\n<p>Pandangan Sahar langsung berubah melihat radionya<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><em>Untuk Anakku yang giat bekerja di Jakarta. Rajin dan tekunlah engkau dalam bekerja. Ibu selalu mendoakanmu dari rumah. Akan tetapi, jangan lupa untuk sekedar balik menengok rumah. Ibu juga setia menunggu dirimu di rumah. Pesan ini dari Bu Sulis di Sragen.<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em>Sahar terdiam. Matanya terbuka lebar. Ia menatap radio itu seperti menatap wajah seseorang yang dirindukannya, ibu. Ia menggenggam selimut. Ruangan terasa sempit seketika, seolah seluruh sisi dinding mendekati dirinya. Itu bukan mimpi, itu nyata suara penyiar. Suara yang menyebut namanya dan membacakan pesan dari ibunya.<\/p>\n<p>Air mata Sahar menetes diam-diam. Ia tak tahu ibunya akan mengirimkan salam padanya lewat radio. Di tengah kesibukan dan riuhnya kehidupan kota, ia tak sadar bahwa di tempat lain, seseorang masih menunggunya dengan sabar, seperti radio tua itu yang tak pernah mati meski sinyal dari luar kadang tertangkap, kadang juga tidak sebab antenanya yang sudah bengkok.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Keesokan harinya, Sahar bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyiapkan sarapan sederhana. Sekotak nasi dengan telur ceplok. Ia lalu membuka dompet. Terlihat tiga lembar uang berwarna merah seratus ribuan di dalamnya. Sahar tahu, uang itu tak akan cukup untuk modal pulang ke rumah sebentar kemudian balik lagi ke Jakarta. Akan tetapi, dirinya berpikir lain. Ia berpikir untuk lebih baik berhenti menjadi kurir dan membantu ibunya menjaga warung di rumah. \u00a0Keputusan itu sudah bulat. Semalam, selepas siaran Radio Rakyat selesai, Sahar menghubungi salah satu teman kantornya memberitahu keputusan itu.<\/p>\n<p>Sebelum berangkat,. Sahar menatap radio itu sekali lagi. Kali ini bukan untuk mendengarkan, tapi untuk berterima kasih. Terima kasih telah menunjukkannya frekuensi untuk pulang. Frekuensi yang tak pernah hilang. Frekuensi yang hanya perlu dicari dengan keberanian diri untuk menangkapnya kembali.<\/p>\n<p>Sahar berangkat ke kampung halamannya menggunakan bis. Sepanjang perjalanan, perasaan Sahar terasa campur aduk \u2013 haru, cemas, gembira, dan takut. Semuanya tumpang tindih seperti siaran antar radio yang saling bertabrakan di udara. Ia membayangkan ibunya tersenyum menyambutnya di depan rumah, memeluknya erat sambil berkata, \u201cAkhirnya, Nak. Kau pulang juga.\u201d<\/p>\n<p>Suara kernet bis memecah lamunannya.<\/p>\n<p>\u201cHei sudah sampai di dekat tujuanmu\u201d ucap kernet itu.<\/p>\n<p>Sahar mengangguk dan segera turun dari bis. Ia kemudian berjalan ke arah rumahnya yang tak jauh dari tempat turunnya.<\/p>\n<p>Semua tampak masih sama. Hanya saja, bendera kuning dan kerumunan warga di depan rumahnya menjadi pembeda. Hatinya runtuh ketika beberapa orang memanggilnya untuk ikut menggotong keranda yang membawa jasat ibunya. (*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p>*<strong>Ahdian Azri Bustari<\/strong>, lahir di Mataram, 20 Februari 2003. Berdomisili di Mataram. Saat ini berstatus sebagai pengajar lepas Olimpiade Fisika. Ia merupakan lulusan Fisika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia memiliki hobi membaca dan aktif menulis di blognya Geosaintis Mageran. Ia memiliki karya berupa novelet berjudul <em>Mark-up <\/em>(2025) yang dipublikasikan secara mandiri melalui Wizpen.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>24 Agustus 2025 Frekuensi Pulang Oleh Ahdian Azri Bustari* \u00a0 &nbsp; Jam menunjukkan pukul delapan malam. Itu adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan radio bagi Sahar. Seperti biasa, dengan posisi rebahan Sahar mulai menyetel radio. Radio lawas peninggalan almarhum ayahnya. Sahar memutar-mutar tombol pencari gelombang dengan perlahan dan sabar. Ia mencari siaran Radio Rakyat \u2013 &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Frekuensi Pulang<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1862,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Frekuensi Pulang - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Frekuensi Pulang - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"24 Agustus 2025 Frekuensi Pulang Oleh Ahdian Azri Bustari* \u00a0 &nbsp; Jam menunjukkan pukul delapan malam. Itu adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan radio bagi Sahar. Seperti biasa, dengan posisi rebahan Sahar mulai menyetel radio. Radio lawas peninggalan almarhum ayahnya. Sahar memutar-mutar tombol pencari gelombang dengan perlahan dan sabar. Ia mencari siaran Radio Rakyat \u2013 &hellip; Frekuensi Pulang Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-24T05:17:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-cerpen-frekuensi-pulang-Copy.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"768\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/\",\"name\":\"Frekuensi Pulang - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-08-24T05:17:33+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-24T05:17:33+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Frekuensi Pulang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Frekuensi Pulang - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Frekuensi Pulang - LiteraSIP","og_description":"24 Agustus 2025 Frekuensi Pulang Oleh Ahdian Azri Bustari* \u00a0 &nbsp; Jam menunjukkan pukul delapan malam. Itu adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan radio bagi Sahar. Seperti biasa, dengan posisi rebahan Sahar mulai menyetel radio. Radio lawas peninggalan almarhum ayahnya. Sahar memutar-mutar tombol pencari gelombang dengan perlahan dan sabar. Ia mencari siaran Radio Rakyat \u2013 &hellip; Frekuensi Pulang Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-08-24T05:17:33+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":768,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ilustrasi-cerpen-frekuensi-pulang-Copy.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/","name":"Frekuensi Pulang - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-08-24T05:17:33+00:00","dateModified":"2025-08-24T05:17:33+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/frekuensi-pulang\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Frekuensi Pulang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1858"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1858\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1863,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1858\/revisions\/1863"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1862"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}