{"id":1889,"date":"2025-09-07T05:05:25","date_gmt":"2025-09-06T22:05:25","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1889"},"modified":"2025-09-06T17:12:42","modified_gmt":"2025-09-06T10:12:42","slug":"puisi-puisi-anindita-buyung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/","title":{"rendered":"Puisi-Puisi Anindita Buyung"},"content":{"rendered":"<p>7 September 2025<\/p>\n<h1><strong>Puisi-Puisi Anindita Buyung<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Anindita Buyung*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1885\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-puisi-anindita-buyung.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"433\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-puisi-anindita-buyung.jpg 1536w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-puisi-anindita-buyung-300x200.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-puisi-anindita-buyung-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-puisi-anindita-buyung-768x512.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tempuh<\/strong><\/p>\n<p>\/1\/<br \/>\nmari kita mulai perbincangan<br \/>\ndengan melupakan hujan yang berhenti<br \/>\ndoa-doa urung disiarkan pelantang<br \/>\nsementara azan mulai berkumandang<\/p>\n<p>bumi siap menangkap langkah yang kembali lekas<br \/>\natau tubuh yang akhirnya rebah didekap tanah<br \/>\ndi pelupuk mata tumbuh bayang-bayang<br \/>\ndari seluk hati yang menyerah<br \/>\natau ego yang memaksakan diri<\/p>\n<p>waktu bukan sinonim perjalanan<br \/>\ndan hidup bukanlah sajak-sajak<br \/>\nyang merebak di taman kematian<br \/>\nkesakitan adalah kesaktian memanipulasi hidup<br \/>\nsupaya tidak jadi lurus-lurus saja<\/p>\n<p>lantas, kita butuh akhir yang bagaimana?<\/p>\n<p>\/2\/<br \/>\nhari ini adalah sejarah yang tak bisa ditoleh<br \/>\nsebab esok adalah sejauh-jauh harapan<br \/>\ndan kemarin adalah sedekat-dekat penyesalan<br \/>\nkata-kata menyerah meninabobokan waktu<br \/>\nyang tetap berputar mencari ruang<\/p>\n<p>kini kita tak mengenal siapa-siapa selain doa<br \/>\nyang dilupa saat hujan sedang deras-derasnya<br \/>\nsementara hujan cenderung berakhir<br \/>\ndan aromanya tak kuasa memintas di hadap pembauan<br \/>\nmeski angin berlarian di atas tubuh yang rebah di ribaan<br \/>\ntubuh yang kini berangan-angan<br \/>\ningin hujan tak jadi berhenti<\/p>\n<p>\/3\/<br \/>\nmemulai perbincangan tentang<br \/>\nbagaimana dunia mengombang-ambingkan waktu<br \/>\ndan perjalanan adalah tempuh yang entah tibanya<\/p>\n<p>pagi hari serupa hujan gigih<br \/>\nmeretas daun-daun yang muda hijaunya<br \/>\nsementara pejalan kaki tetap menerabas<br \/>\nrajam gerimis yang berganti nama<\/p>\n<p>langkah kaki terus ramai sendiri<br \/>\nsebab merasa raga masih belia<br \/>\ndemi daun yang mengering<br \/>\nbuat bumi yang kian tua<\/p>\n<p><em>Magelang, 2024<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Parangkusumo<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>di pasir yang dibelai angin dari selatan<br \/>\nkau lesap pada sebaris nama<br \/>\nmenerima pujian yang basah juga resah<br \/>\nberandai-andai tentang perkara<br \/>\ntak bisakah ombak menunda angin<br \/>\ndatang melantakkan yang tiada?<\/p>\n<p>ku pikir masih ada waktu<br \/>\nadalah kesalahan hakiki manusia<br \/>\nsebab batas-batas tak bisa dijangkau logika<br \/>\nterlalu jauh dan fana<br \/>\ntak seperti garis batas di pantai ini<br \/>\nbatas antara nasib dan penerimaan yang samudra<\/p>\n<p>apakah kau ku lewatkan?<br \/>\nsebab nama yang pernah terukir di atas pasir<br \/>\nseketika lenyap tanpa menunggu waktu<br \/>\nmenghanyutkan asa<br \/>\nmenenggelamkan doa-doa<br \/>\nyang bahkan belum menguar ke udara.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><em>Magelang, 2024<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Yang Dirapalkan Doa-Doa<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>Kita boleh jadi belum mempersiapkan diri<br \/>\nsebab kata-kata yang kelak dirapalkan: sembunyi.<br \/>\nBerdoa dan mendoakan sungguh amat berbeda.<br \/>\nKapan terakhir kali takdir kita amini?<\/p>\n<p>Apa yang mesti dirapalkan kecuali doa-doa?<br \/>\nTentang ruang-ruang singup; jendela-jendela yang terbuka.<br \/>\nAngin dari utara bersiap embus mengelus punggung.<br \/>\nBerkemas menebas napas kita yang limbung.<\/p>\n<p>Inikah saat-saat mencari dan mencuri materi?<br \/>\nMilikmu dititipkan pada orang-orang yang tak ramah wajahnya.<br \/>\nSedang kata Tuhan, padamu Ia selipkan sekilas napas ;<br \/>\nguna menawarkan gulita hati yang keras.<\/p>\n<p>Apakah doa-doa sempat bersuara di senja nanti?<br \/>\nKetika matahari mulai tenggelam di leher kita; jerat!<br \/>\nKita menutup hari dengan hal-hal terlewatkan; dilewatkan?<br \/>\nLantas, kepada siapa kita kelak mengantarkan sesal?<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><em>Magelang 2024<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<p><strong>Malam Itu<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>Malam itu ibu memasak batu<br \/>\nyang ia pungut di halaman depan rumah kami.<br \/>\nTak ada garam maupun penyedap hidup<br \/>\nmeski hanya sekadar sehirup harap.<br \/>\nHambar dan tentu tak sedap<br \/>\nnamun kami menyantapnya lahap-lahap.<\/p>\n<p>Malam itu bapak menyisir puntung rokok<br \/>\nyang ia telisik di dedaun halaman rumah kami.<br \/>\nTak ada ia temukan barang sebatang<br \/>\nyang mungkin tersisa dari embus kemarin malam.<br \/>\nKali ini tak ada kebul asap menguar ke udara<br \/>\nbersama keluh resah dan putus asa.<\/p>\n<p>Malam itu aku dan adikku bermain boneka<br \/>\nyang bapak pungut dari tempat pembuangan.<br \/>\nAda mimpi orang-orang yang menyelinap<br \/>\ndi antara mata dan lipat ketiak.<br \/>\nKata ibu, Tuhan Maha Baik menyiapkan nasib.<br \/>\nNamun, kita tak sabar menemukannya.<\/p>\n<p>Malam itu ibu dan bapak mengemas dosa-dosa<br \/>\ndari tali dan dua pasang kursi lapuk-tua.<br \/>\nMataku hampa, ibu mengalungkan tali di batang kepala.<br \/>\nPun adikku, pun ibu, pun bapak, pun doa-doa.<br \/>\nBapak menulis di jendela kaca: <em>Tuhan, maaf<\/em>.<br \/>\nKami telah hampa dan dikalahkan dunia.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><em>Magelang, 2024<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<p><strong>Di Altar Kupersembahkan<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>Di altar kupersembahkan<br \/>\nsepiring puisi; segelas rayuan.<br \/>\nPukul setengah sembilan malam<br \/>\nrombong pelancong dan parade bocah kasmaran<br \/>\nduduk tidak peduli.<br \/>\nSebab kau adalah kesunyianku sendiri.<\/p>\n<p>Malam minggu adalah kidung panjang<br \/>\ntentang pertemuan dan perpisahan.<br \/>\nAku yang menyelami angin kemarin siang<br \/>\natau kau yang meresapi senandung dan pujian.<\/p>\n<p>Selalu ada waktu untuk bertemu.<br \/>\nSelalu saja ada asa untuk bersatu.<br \/>\nApakah ego cukup kuat dan kuasa<br \/>\nmenjauhkan kita dari cahaya?<\/p>\n<p><em>Magelang, 2024<\/em><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Anindita Buyung<\/strong>, lahir di Banyumas tinggal di Magelang. Menulis puisi dan cerpen di sela kegiatannya sebagai pengajar. Beberapa cerpen dan puisinya pernah dimuat di beberapa media cetak, daring, serta antologi bersama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7 September 2025 Puisi-Puisi Anindita Buyung Oleh Anindita Buyung* &nbsp; &nbsp; Tempuh \/1\/ mari kita mulai perbincangan dengan melupakan hujan yang berhenti doa-doa urung disiarkan pelantang sementara azan mulai berkumandang bumi siap menangkap langkah yang kembali lekas atau tubuh yang akhirnya rebah didekap tanah di pelupuk mata tumbuh bayang-bayang dari seluk hati yang menyerah atau &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Puisi-Puisi Anindita Buyung<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1887,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1889","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-puisi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Puisi-Puisi Anindita Buyung - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puisi-Puisi Anindita Buyung - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"7 September 2025 Puisi-Puisi Anindita Buyung Oleh Anindita Buyung* &nbsp; &nbsp; Tempuh \/1\/ mari kita mulai perbincangan dengan melupakan hujan yang berhenti doa-doa urung disiarkan pelantang sementara azan mulai berkumandang bumi siap menangkap langkah yang kembali lekas atau tubuh yang akhirnya rebah didekap tanah di pelupuk mata tumbuh bayang-bayang dari seluk hati yang menyerah atau &hellip; Puisi-Puisi Anindita Buyung Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-09-06T22:05:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-06T10:12:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-puisi-anindita-buyung-Copy-Copy.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"922\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/\",\"name\":\"Puisi-Puisi Anindita Buyung - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-09-06T22:05:25+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-06T10:12:42+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puisi-Puisi Anindita Buyung\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puisi-Puisi Anindita Buyung - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Puisi-Puisi Anindita Buyung - LiteraSIP","og_description":"7 September 2025 Puisi-Puisi Anindita Buyung Oleh Anindita Buyung* &nbsp; &nbsp; Tempuh \/1\/ mari kita mulai perbincangan dengan melupakan hujan yang berhenti doa-doa urung disiarkan pelantang sementara azan mulai berkumandang bumi siap menangkap langkah yang kembali lekas atau tubuh yang akhirnya rebah didekap tanah di pelupuk mata tumbuh bayang-bayang dari seluk hati yang menyerah atau &hellip; Puisi-Puisi Anindita Buyung Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-09-06T22:05:25+00:00","article_modified_time":"2025-09-06T10:12:42+00:00","og_image":[{"width":1536,"height":922,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-puisi-anindita-buyung-Copy-Copy.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/","name":"Puisi-Puisi Anindita Buyung - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-09-06T22:05:25+00:00","dateModified":"2025-09-06T10:12:42+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-anindita-buyung\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puisi-Puisi Anindita Buyung"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1889"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1890,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889\/revisions\/1890"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}