{"id":1906,"date":"2025-09-28T16:14:01","date_gmt":"2025-09-28T09:14:01","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=1906"},"modified":"2025-09-28T16:14:01","modified_gmt":"2025-09-28T09:14:01","slug":"amplop-yang-berjalan-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/","title":{"rendered":"Amplop yang Berjalan Sendiri"},"content":{"rendered":"<p>28 September 2025<\/p>\n<h1><strong>Amplop yang Berjalan Sendiri<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Djoko ST*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1907\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-cerpen-amplop-yang-berjalan-sendiri.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-cerpen-amplop-yang-berjalan-sendiri.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-cerpen-amplop-yang-berjalan-sendiri-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-cerpen-amplop-yang-berjalan-sendiri-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-cerpen-amplop-yang-berjalan-sendiri-768x768.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>KANTOR kecamatan masih lengang, pagi itu. Suara mesin pendingin ruangan berdengung pelan, menyala sejak semalam karena pegawai lembur lupa mematikannya. Mentari masih malu-malu menunjukkan parasnya. Seorang pegawai muda menyapu halaman dengan gerakan malas, membiarkan sebagian debu berputar di udara.<\/p>\n<p>Dari ruang kerjanya, Mego &#8212; camat yang dikenal rapi dan teratur &#8211;terlihat gelisah. Tangannya meremas map cokelat berkali-kali, seperti mencari jawaban di sela kertas. Matanya sesekali melirik laci meja yang terbuka setengah. Ada sesuatu yang tak beres di sana.<\/p>\n<p>Dari balik kaca jendela, suara burung pipit dan teriakan anak-anak sekolah terdengar sayup, tapi tak cukup membikin hatinya tenang. Ia mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali melihat amplop itu utuh. Ingatan sekilas membuat dadanya malah kian sesak, seolah ada sesuatu yang luput dari genggamannya.<\/p>\n<p>\u201cIni aneh sekali\u2026\u201d gumamnya. Amplop putih yang seharusnya berisi uang tunjangan bulanan kini kosong melompong. Hanya menyisakan kertas catatan kecil, seolah menertawakan dirinya.<\/p>\n<p>Mego segera menekan bel kecil di meja.<\/p>\n<p>\u201cBu Ratna, bisa ke sini sebentar?\u201d suaranya terdengar tegang.<\/p>\n<p>Tak lama, sekretarisnya itu masuk dengan langkah tergesa. Ekspresinya penuh kecemasan kala melihat wajah atasannya yang pucat.<\/p>\n<p>\u201cApakah ada orang masuk ke ruangan saya, kemarin petang?\u201d tanya Mego tanpa basa-basi.<\/p>\n<p>Ratna menggeleng pelan. \u201cSaya kunci pintu seperti biasa, Pak. Cuma Bapak sendiri yang pegang duplikatnya,\u201d tegasnya. Suaranya penuh keyakinan.<\/p>\n<p>Mego terdiam. Nafasnya berat. Alisnya mengernyit rapat. \u201cKalau begitu\u2026 uang itu hilang begitu saja?\u201d katanya sambil melihat ke arah jendela. Di luar, bunyi sepeda motor lewat terdengar samar-samar.<\/p>\n<p>Kabar lenyapnya tunjangan itu pun kemudian menyebar cepat, lebih cepat dari angin siang. Para pegawai mulai berbisik di lorong dan warung di sebelah kantor kecamatan.<\/p>\n<p>\u201cKatanya hilang jutaan rupiah,\u201d ucap Tondo, petugas arsip, sambil menyeruput kopi murahan. Bibirnya bergetar sedikit, entah karena panas atau karena gugup. Matanya melirik kiri kanan, mungkin takut ada yang mendengar.<\/p>\n<p>\u201cLalu, kira-kira siapa yang berani nyolong di kantor camat?\u201d timpal Sri, pegawai honorer, sambil melahap sepotong ubi goreng. Suaranya pelan, tapi penuh rasa ingin tahu. Beberapa orang menahan senyum sinis, seolah punya dugaan masing-masing.<\/p>\n<p>Bisik-bisik pegawai soal lenyapnya uang tunjangan itu sampai pula ke telinga Mego. Pikirnya, semakin lama dibiarkan, semakin besar pula bara yang bisa menyulut wibawanya.<\/p>\n<p>Mego akhirnya mengambil ponselnya. Tangannya sempat ragu sebelum menekan nomor seorang kenalan lama. Ia seorang detektif swasta bernama Darma, yang dulu sering membantunya di kala muda.<\/p>\n<p>\u201cKehilangan uang di kantor pemerintah, bukan hal baru, Pak,\u201d katanya sambil duduk tanpa basa-basi. Ia merogoh saku, mengambil sebungkus pastiles, lalu memasukkan satu ke mulutnya. Harum <em>mint<\/em> menyebar memenuhi ruangan. \u201cTapi, mari kita pastikan siapa yang benar-benar membutuhkan uang itu.\u201d<\/p>\n<p>Mego terkejut. \u201cMaksud kamu, ini soal kebutuhan, bukan sekadar pencurian biasa?\u201d Suaranya naik sedikit, menahan emosi.<\/p>\n<p>\u201cBiasanya begitu,\u201d jawab Darma enteng. Tangannya membuka buku catatan kecil dengan cepat. \u201cKalau boleh, saya ingin bicara dengan para pegawai satu per satu.\u201d<\/p>\n<p>Mego mengangguk, meski hatinya masih tak tenang. Bayangan buruk berkelebat. Jika sampai ada pegawai yang terlibat, toh ia pula yang harus ikut menanggung malu.<\/p>\n<p>Di ruang arsip, Darma menatap Tondo dalam-dalam. \u201cSemalam pulang jam berapa?\u201d tanyanya.<\/p>\n<p>\u201cJam lima lewat sedikit, Pak. Saya langsung ke rumah, anak saya lagi sakit.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSakit apa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cGejala demam berdarah, Pak. Harusnya dirawat di rumah sakit. Tapi, biayanya\u2026lumayan besar.\u201d<\/p>\n<p>Darma mencatat tanpa banyak komentar. Ia hanya sempat melirik ke arah tangan Tondo yang gemetar.<\/p>\n<p>Di ruang administrasi, Darma bersua Sri. Perempuan itu sedikit ragu. Tangannya menggenggam erat buku catatan kecil yang sudah lusuh.<\/p>\n<p>\u201cPulang jam berapa?\u201d selidik Darma.<\/p>\n<p>\u201cSaya pulang sore, Pak. Terus, mampir dulu ke warung\u2026 saya harus utang lagi barang belanjaan. Maklum, gaji honorer <em>nggak<\/em> cukup buat makan sebulan.\u201d<\/p>\n<p>Darma mengangguk. Ia tidak menuduh, hanya membiarkan kata-kata Sri keluar bebas.<\/p>\n<p>Lalu giliran Ratna ditemuinya. Wajahnya lebih tenang dibanding yang lain.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak ambil uang itu, Pak,\u201d jelasnya, dengan suara serak. \u201cTapi, petang itu ada banyak warga datang. Mereka mengajukan bantuan. Ada yang bicara soal sekolah anak, soal harga beras yang makin mahal, biaya rumah sakit. Saya sampai bingung mau jawab apa.\u201d<\/p>\n<p>Darma mengusap-ngusap dagunya. \u201cSiapa saja yang datang?\u201d tanyanya lembut.<\/p>\n<p>\u201cNama-namanya tidak saya catat <em>sih<\/em>. Tapi, wajah-wajah mereka terlihat menyimpan kecemasan.\u201d<\/p>\n<p>Buku kecil Darma makin penuh coretan. Tangannya bergerak cepat membuat catatan. Wajahnya tetap datar, sementara Ratna menunduk, seolah merasa bersalah tanpa sebab.<\/p>\n<p>Sore menjelang, Darma keluar dari kantor kecamatan. Ia memilih berjalan kaki menyusuri gang sempit di belakang gedung kecamatan itu. Bau air got menyengat. Dinding-dinding rumah reyot berdempetan. Dunia tampak kontras dengan ruangan dan meja rapi di kantor kecamatan.<\/p>\n<p>Anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Mereka tertawa riang meski perut mereka mungkin keroncongan. Seorang bocah berkaos robek di bagian lengannya, dengan koreng di dengkulnya, memegang kaleng bekas biskuit. Ia menabuhnya, seolah sedang memainkan dram. Darma tersenyum tipis. Hatinya trenyuh.<\/p>\n<p>Di sebuah teras rumah kayu lapuk, seorang ibu duduk berselonjor sedang menimang bayi kurus. Mata ibu itu menatap Darma penuh pengharapan.<\/p>\n<p>\u201cPak\u2026 katanya ada bantuan beras, ya?\u201d tanyanya polos, tiba-tiba, seolah siapa pun yang berpakaian rapi bisa menjadi penyelamat untuknya.<\/p>\n<p>Malam tiba. Darma kembali ke ruang kerja Mego di kantor kecamatan.<\/p>\n<p>Mego masih duduk gelisah. Jarinya terus saja mengetuk-ngetuk meja tanpa henti.<\/p>\n<p>\u201cSaya sudah menemukan jawabannya,\u201d ujar Darma.<\/p>\n<p>Mego menegakkan badannya.<\/p>\n<p>\u201cLalu, siapa yang malingnya?\u201d tanya Mego, dengan nada setengah penasaran. Matanya berbinar, seakan segera mendengar nama seseorang disebut.<\/p>\n<p>Darma menyilangkan tangan. Senyum tipis muncul di wajahnya. \u201cTidak ada pencurinya, Pak. Uang itu yang berjalan sendiri.\u201d<\/p>\n<p>\u201c<em>Hah<\/em>, apa maksudmu? Jangan main-main <em>deh<\/em> dengan aku!\u201d Suara Mego meninggi.<\/p>\n<p>\u201cUang itu keluar dari laci,\u201d jawab Darma pelan, \u201cdibagikan oleh seseorang yang tidak tahan melihat warga kelaparan, anak-anak berhenti sekolah, dan pegawai kecil berhutang. Seseorang yang lebih mendengar jeritan rakyat ketimbang suaranya sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Mego terdiam. Bibirnya kering. \u201cLalu, siapa\u2026 yang melakukannya?\u201d<\/p>\n<p>Darma memandang tajam, lalu berkata mantap, \u201cPak Mego sendiri. Coba, ingat baik-baik &#8212; nuranilah yang menggerakkan tangan Bapak.\u201d<\/p>\n<p>Mego menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Ingatan samar pun perlahan timbul. Saat itu, ia pulang dengan langkah berat, kala melihat beberapa warga telah menunggu di gerbang kantor kecamatan. Tangan mereka gemetaran. Suara mereka lemah meminta bantuan.Tanpa pikir panjang, ia masuk kembali ke ruangannya, membuka laci, mengambil amplop, lalu membagi-bagikan uang itu.<\/p>\n<p>Kini, duduk di hadapan Darma, ia baru tersadar akan perbuatannya itu. Bukan pencuri yang harus ia cari, melainkan keberanian untuk mengakui kenyataan.<\/p>\n<p>Di luar jendela, adzan isya merambat pelan, mengingatkan bahwa kadang kehilangan bukan hukuman, melainkan pesan agar hati tetap berpihak pada sesama.***<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Djoko ST<\/strong>, penulis lepas dan bloger. Bisa disapa lewat IG @enambelaspas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>28 September 2025 Amplop yang Berjalan Sendiri Oleh Djoko ST* &nbsp; &nbsp; KANTOR kecamatan masih lengang, pagi itu. Suara mesin pendingin ruangan berdengung pelan, menyala sejak semalam karena pegawai lembur lupa mematikannya. Mentari masih malu-malu menunjukkan parasnya. Seorang pegawai muda menyapu halaman dengan gerakan malas, membiarkan sebagian debu berputar di udara. Dari ruang kerjanya, Mego &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Amplop yang Berjalan Sendiri<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1909,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1906","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Amplop yang Berjalan Sendiri - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Amplop yang Berjalan Sendiri - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"28 September 2025 Amplop yang Berjalan Sendiri Oleh Djoko ST* &nbsp; &nbsp; KANTOR kecamatan masih lengang, pagi itu. Suara mesin pendingin ruangan berdengung pelan, menyala sejak semalam karena pegawai lembur lupa mematikannya. Mentari masih malu-malu menunjukkan parasnya. Seorang pegawai muda menyapu halaman dengan gerakan malas, membiarkan sebagian debu berputar di udara. Dari ruang kerjanya, Mego &hellip; Amplop yang Berjalan Sendiri Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-09-28T09:14:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-cerpen-amplop-yang-berjalan-sendiri-Copy.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"614\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/\",\"name\":\"Amplop yang Berjalan Sendiri - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-09-28T09:14:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-28T09:14:01+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Amplop yang Berjalan Sendiri\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Amplop yang Berjalan Sendiri - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Amplop yang Berjalan Sendiri - LiteraSIP","og_description":"28 September 2025 Amplop yang Berjalan Sendiri Oleh Djoko ST* &nbsp; &nbsp; KANTOR kecamatan masih lengang, pagi itu. Suara mesin pendingin ruangan berdengung pelan, menyala sejak semalam karena pegawai lembur lupa mematikannya. Mentari masih malu-malu menunjukkan parasnya. Seorang pegawai muda menyapu halaman dengan gerakan malas, membiarkan sebagian debu berputar di udara. Dari ruang kerjanya, Mego &hellip; Amplop yang Berjalan Sendiri Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-09-28T09:14:01+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":614,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/ilustrasi-cerpen-amplop-yang-berjalan-sendiri-Copy.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/","name":"Amplop yang Berjalan Sendiri - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-09-28T09:14:01+00:00","dateModified":"2025-09-28T09:14:01+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/amplop-yang-berjalan-sendiri\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Amplop yang Berjalan Sendiri"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1906","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1906"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1906\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1911,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1906\/revisions\/1911"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1909"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1906"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1906"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1906"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}