{"id":2015,"date":"2025-12-18T19:55:58","date_gmt":"2025-12-18T12:55:58","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=2015"},"modified":"2025-12-18T19:55:58","modified_gmt":"2025-12-18T12:55:58","slug":"masjid-yang-lapar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/","title":{"rendered":"Masjid yang Lapar"},"content":{"rendered":"<p>18 Desember 2025<\/p>\n<h1><strong>Masjid yang Lapar<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Kartika Catur Pelita*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2018\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrasi-cerpen-masjid-yang-lapar.jpeg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"640\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrasi-cerpen-masjid-yang-lapar.jpeg 978w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrasi-cerpen-masjid-yang-lapar-300x295.jpeg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrasi-cerpen-masjid-yang-lapar-768x756.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Astagfirullaah<\/em>, ada apa ini?\u201d Abah Usman bergegas menuju tiang di sebelah menara masjid. Menghampiri keramaian: orang-orang yang sedang berbuat zalim. Abah Usman tiba-tiba tidak merasa ingin kencing lagi. Yang tumbuh malah rasa jengkel dan marah. Mengapa orang berbuat kejam pada sesama? Apalagi sesama muslim? Oh, teganya. Sungguh tega.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Abah Usman, seorang ustaz, pemilik perkebunan kopi, dan pengusaha yang sukses, bersama istrinya, Siti Maemunah, mengantar Fadil, si anak bungsu, untuk mondok. Selulus SMP di kotanya,\u00a0 Fadil berkeinginan belajar agama Islam lebih mendalam. Mondok di pesantren. Abah Usman dan Maemunah dengan senang hati menuruti keinginan si bungsu. Setelah si sulung dan si penengah tidak memiliki keinginan mondok, tapi sejak kecil mereka dibekali pendidikan agama yang kuat.<\/p>\n<p>Sebenarnya di kota mereka terdapat pondok pesantren besar dan modern, tapi si bungsu ingin mondok di luar kota. Beberapa pondok pesantren mereka survei. Akhirnya Abah memutuskan memondokkan Fadil di sebuah pesantren di Banten. Pesantren tempat Abah Usman dulu pernah mondok.<\/p>\n<p>Mereka berangkat dari kotanya bakda Salat Subuh. Setelah menempuh perjalanan belasan jam, mereka sampai di sebuah kota kawasan pantura. Jelang waktunya Salat Asar. Abah Usman menyuruh sopir berhenti si sebuah masjid Agung yang bangunannya megah. Mereka salat Asar berjemaah.<\/p>\n<p>Mereka selesai salat. Supir menunggu di dalam mobil. Fadil menanti ibunya yang masih di bilik perempuan masjid. Abah pamit hendak ke toilet, ketika melewati halaman belakang masjid dan di sana ramai, orang-orang melihat atraksi yang menyedihkan, seorang pemuda kurus berkaus buluk\u00a0 didudukkan di bawah tiang di sebelah menara masjid. Si pemuda kurus diikat kaki dan tangannya, tak berkutik, \u00a0dan dibiarkan menjadi tontonan orang.<\/p>\n<p>\u201cDia pencuri, Pak. Tertangkap basah sedang nyuri serenteng <em>ciki<\/em>&#8211;<em>ciki<\/em> di toko samping masjid. Tadi siang kami menangkapnya dan pengurus masjid menghukumnya dijemur di sini, biar kapok tak mencuri lagi, \u201d jelas seorang laki-laki bertubuh tinggi besar.<\/p>\n<p>\u201cBikin rusuh masjid dia, seperti anak <em>punk<\/em>,\u201d ujar seorang pemuda bersarung dan berpeci.<\/p>\n<p>\u201d<em>Astagfirullah<\/em>, mengapa kalian tega seperti ini?\u201d jerit Abah Usman. \u201dDi mana rumah pengurus masjid ini? Tolong antarkan saya menemuinya!\u201d<\/p>\n<p>\u201cBelakang masjid ini, Pak.\u201d si pemuda bersarung berpeci mengantarkan Abah Usman ke rumah pengurus masjid. Pada bangunan rumah bertingkat, nomor tiga dari sebelah pagar belakang masjid. Mereka mengucap salam. Si penghuni keluar, seorang perempuan gemuk. Istri si penjaga masjid. Dia masuk kembali ke rumah, kemudian muncul bersama suaminya. Lelaki bertubuh sedang, berkulit kecokeletan, bermata tajam. Abah mengenalkan diri sebagai seorang musafir yang numpang salat karena sedang bepergian jauh. Si penjaga hanya sambil lalu mendengarkan, berbincang seraya melangkah menuju halaman belakang. Mereka akhirnya tiba di sana. Orang-orang masih menunggu si pemuda pesakitan.<\/p>\n<p>\u201cTolong, kalian lepaskan dia, lepaskan, jangan berperilaku kejam pada orang,\u201d ujar Abah pada si pengurus masjid, yang juga tukang azan.<\/p>\n<p>\u201cDia bikin susah, Pak. Sering mencuri. Ketika ada Jumat berkah dia sering mengambil nasi kotak lebih dari satu, dan memasukkannya ke dalam tasnya, \u201d ujar si pengurus masjid, laki-laki berumur 40-an tahun, berambut ikal, bertahi lalat di dekat mata. Suaranya keras dan lantang.<\/p>\n<p>\u201cMungkin dia lapar. Tentu ada alasan kalau dia mencuri. Jika pun dia mengambil nasi jumat berkah lebih dari satu, hitung-hitung ladang kita beramal,\u201d nasihat Abah Usman.<\/p>\n<p>\u201dDia juga kalau ke masjid tidak pernah salat. Hanya numpang tidur. Bikin masjid kotor, \u201d umpat si penjaga masjid, terlihat marah.<\/p>\n<p>\u201cSalat itu kewajiban dia pada Allah. Mungkin saja dia salat di masjid lain, atau di tempat lain. Jangan suudzon. Jangan\u00a0 zalim pada sesama muslim, \u201d nasihat Abah Usman, teduh menatap si penjaga masjid. Si penjaga masjid balas menatapnya dan berkata tak senang.<\/p>\n<p>\u201cApakah saya harus melepaskan dia? Apakah bapak bisa menjamin dia tidak maling lagi?\u201d<\/p>\n<p>\u201cInsyaAllah.\u201d<\/p>\n<p>\u201dApakah saya harus benar-benar melepaskan dia, Pak?\u201d si penjaga masjid meragu.<\/p>\n<p>\u201dYa. Tolong lepaskan dia,\u201d pinta Abah Usman.<\/p>\n<p>\u201dBagaimana kalau dia bikin ulah lagi? Bagaimana kalau dia mencuri lagi?\u201d<\/p>\n<p>\u201dMengapa dia harus dilepas sih?\u201d gumam laki-laki tua berkaus abu-abu.<\/p>\n<p>\u201dApa gunanya maling dilepas? Jangan-jangan setelah ini dia bawa temannya untuk balas dendam, bikin kekacauan, \u201d desis perempuan berjilbab warna putih, \u201dApa bapak mau menanggung risikonya kalau dia berbuat kriminal lagi?\u201d<\/p>\n<p>\u201dJangan kalian suudzon. Anak ini bisa jadi kelaparan sehingga nekat mencuri jajanan. Sudahlah lepaskan. Jangan sampai terjadi hal lebih buruk. Kalian lihat kondisinya yang lemah. Apakah kalian tak iba?\u201d<\/p>\n<p>\u201dSyukurnya sendiri jadi maling. Untung tak dimassa, bisa-bisa mampus seperti maling motor tempo hari di masjid ini. Kemiri kakinya kita pukuli sampai lumpuh sebelum kami serahkan ke polisi, \u201d si penjaga masjid berkoar.<\/p>\n<p>\u201d<em>Astagfirullah<\/em>. Jangan main hakim sendiri. Lepaskan dia,\u201d Abah Usman mengiba, memohon pada penjaga masjid. \u201dSegera lepaskan dia. Saya menanggung risikonya. Kalaupun harus menebusnya, saya iklas. Mana pedagang atau toko yang jajanannya dicuri? Saya akan memberikan uang tebusan. Ini kartu nama saya!\u201d<\/p>\n<p>Penjaga masjid menerima dan membaca kartu nama. Tiba-tiba dia berubah sikap, menjadi takzim dan menyalami dan menciumi tangan Abah Usman. \u201cMaaf saya tidak tahu kalau bapak seorang kiai juga ustaz.\u201d<\/p>\n<p>Abah Usman menghela napas panjang. Si pengurus masjid membebaskan si pemuda kurus. Abah Usman\u00a0 menyalami dia, mendekapnya, dan memberikan segenggam uang. \u201dKau belilah makanan kalau lapar, Nak. Janganlah mencuri kalau\u00a0 lapar. Kalau lapar kau lebih baik meminta di rumah makan atau di pasar-pasar. Ini ada sejumlah uang, pergunakan untuk usaha yang kau bisa. Mungkin berdagang. Jikapun tidak, simpan saja uangnya untuk memenuhi kebutuhanmu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTerima kasih, Pak, \u201c si pemuda kurus berlalu. Orang-orang pun berlalu. Diam-diam supir, Bu Nyai dan Fadil ikut menyaksikan ketika si Abah bertikai dengan si pengurus masjid. Setelah mobil keluar dari masjid dan kembali melaju di jalan raya, Abah Usman menggumam. \u201cMengapa orang membangun masjid, bermegah-megahan, tapi membiarkan orang di sekitar mereka masih ada yang kelaparan? Masjid bukan tempat salat saja, masjid juga bisa dijadikan tempat untuk berkegiatan sosial, seperti memberikan bantuan untuk warga miskin sekitar. Untuk apa mengumpulkan dana yang ditabung bermilyar tapi pelit beramal. Amal bukan hanya dilantunkan di bibir, tapi lakukan dengan tangan. Kalau kalian bertemu kawan, atau orang yang kalian kenal, bertanyalah: apakah mereka sudah makan? Jika belum, ajaklah. Memberi makan orang sepiring, dua piring tak akan membuat kalian miskin.\u201d<\/p>\n<p>Si supir mengangguk. Teringat kebaikan keluarga Abah. Si istri mengiyakan, teringat tanggung jawab Abah sebagai suami. Si anak bilang, \u201dIya, Abah\u201d, teringat seorang ayah yang telah merawat, mendidik, dan membesarkannya. Mobil tujuh menit melaju ketika Abah Usman mengomando. \u201dKita mencari rumah makan. Kita makan dan sebentar istirahat, sekalian Abah numpang pipis. Tadi gara-gara melihat anak diikat ditali, Abah tidak jadi ke toilet. Sekarang malah kebelet.\u201d<\/p>\n<p>Supir mengangguk takzim. Bu Nyai Maesaroh tersenyum tipis. Fadil memberi arahan supir untuk menuju rumah makan yang diingini. Mobil melaju, melewati pedagang nasi bungkus di pinggir jalan. Seorang pemuda kurus, seumuran Fadil sedang makan nasi bungkus, dua bungkus, sepertinya beberapa hari tidak makan.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Kota Ukir, Oktober 2025<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Kartika Catur Pelita<\/strong>, menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Tulisan dimuat di puluhan media cetak dan daring. Buku novelanya berjudul \u201dKembang Randu\u201d memenangi Sayembara Novela Psikoteks Basabasi 2023. Buku terbarunya kumcer,\u201dKunang-Kunang di Pelupuk Mata\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>18 Desember 2025 Masjid yang Lapar Oleh Kartika Catur Pelita* &nbsp; &nbsp; Astagfirullaah, ada apa ini?\u201d Abah Usman bergegas menuju tiang di sebelah menara masjid. Menghampiri keramaian: orang-orang yang sedang berbuat zalim. Abah Usman tiba-tiba tidak merasa ingin kencing lagi. Yang tumbuh malah rasa jengkel dan marah. Mengapa orang berbuat kejam pada sesama? Apalagi sesama &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Masjid yang Lapar<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2016,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2015","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Masjid yang Lapar - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Masjid yang Lapar - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"18 Desember 2025 Masjid yang Lapar Oleh Kartika Catur Pelita* &nbsp; &nbsp; Astagfirullaah, ada apa ini?\u201d Abah Usman bergegas menuju tiang di sebelah menara masjid. Menghampiri keramaian: orang-orang yang sedang berbuat zalim. Abah Usman tiba-tiba tidak merasa ingin kencing lagi. Yang tumbuh malah rasa jengkel dan marah. Mengapa orang berbuat kejam pada sesama? Apalagi sesama &hellip; Masjid yang Lapar Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-12-18T12:55:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrasi-cerpen-masjid-yang-lapar-Copy.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"978\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"587\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/\",\"name\":\"Masjid yang Lapar - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-12-18T12:55:58+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-18T12:55:58+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Masjid yang Lapar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Masjid yang Lapar - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Masjid yang Lapar - LiteraSIP","og_description":"18 Desember 2025 Masjid yang Lapar Oleh Kartika Catur Pelita* &nbsp; &nbsp; Astagfirullaah, ada apa ini?\u201d Abah Usman bergegas menuju tiang di sebelah menara masjid. Menghampiri keramaian: orang-orang yang sedang berbuat zalim. Abah Usman tiba-tiba tidak merasa ingin kencing lagi. Yang tumbuh malah rasa jengkel dan marah. Mengapa orang berbuat kejam pada sesama? Apalagi sesama &hellip; Masjid yang Lapar Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2025-12-18T12:55:58+00:00","og_image":[{"width":978,"height":587,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrasi-cerpen-masjid-yang-lapar-Copy.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/","name":"Masjid yang Lapar - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2025-12-18T12:55:58+00:00","dateModified":"2025-12-18T12:55:58+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/masjid-yang-lapar\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Masjid yang Lapar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2015","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2015"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2015\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2020,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2015\/revisions\/2020"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2015"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2015"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2015"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}