{"id":2050,"date":"2026-01-08T16:42:24","date_gmt":"2026-01-08T09:42:24","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=2050"},"modified":"2026-01-08T16:42:24","modified_gmt":"2026-01-08T09:42:24","slug":"luka-yang-mengajarkanku-tersenyum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/","title":{"rendered":"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum"},"content":{"rendered":"<p>8 Januari 2026<\/p>\n<h1><strong><span class=\"fontstyle0\">Luka yang Mengajarkanku Tersenyum<\/span><\/strong><\/h1>\n<p><span class=\"fontstyle2\">Oleh Nailah Nur Azizah<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2051\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-cerpen-luka-yang-mengajarkanku-tersenyum.jpeg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"628\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-cerpen-luka-yang-mengajarkanku-tersenyum.jpeg 982w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-cerpen-luka-yang-mengajarkanku-tersenyum-300x290.jpeg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-cerpen-luka-yang-mengajarkanku-tersenyum-768x742.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Namaku Laila Meylani. Ayah bekerja di pabrik; ia pulang selalu dengan tangan yang berbau minyak dan mata yang lebih sering lelah daripada bercanda. Ibu mengajar mengaji di rumah dengan suara yang lembut; suaranya mengalun seperti penawar ketika dunia terasa gaduh. Hidup kami sederhana, cukup untuk makan, cukup untuk tidur, tetapi terlalu ringkas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikiranku.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Ada malam yang mengoyak semua harapanku. Aku tidak akan menulis rinciannya, karena tak semua luka perlu dipertontonkan. Cukup kutulis bahwa aku dikhianati oleh seseorang yang seharusnya tahu batas. Setelah itu, segalanya terasa asing. Selimut yang dulu memberi hangat berubah menjadi bau yang mengganggu; kamar yang biasa nyaman menjadi tempat aku menimbang takut. Aku menutup pintu dan menahan tatapan orang tua yang ingin tahu.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Aku mencoba memberi isyarat dan berpura-pura normal saat makan, namun hatiku rontok di balik sendok yang kugenggam. Tiba-tiba mata ayah yang biasa teduh berubah tajam; ibu, yang semula hangat, tiba-tiba dingin. Ketika ayah berkata, \u201cKenapa tidak cerita ke umi?\u201d, suaranya bukan ajakan. Kalimat itu terdengar seperti tuntutan yang menambah beban. Aku takut bercerita karena khawatir mereka akan menilai atau marah; aku takut mematahkan lagi sisa-sisa kepercayaan yang ada.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Keputusan keluarga datang seperti hujan deras yang tak terduga; aku harus pindah ke pondok, katanya, untuk kebaikanku. Bukan sebagai perlindungan penuh, melainkan cara menyingkirkan masalah yang tak ingin mereka hadapi terlalu lama. Hari pengemasan berlalu lambat. Pelukan orang tuaku singkat, kaku seperti dua orang dewasa yang takut menyentuh luka anaknya.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Di pondok, rutinitas disiplin memberi ruang untuk bernapas. Bangun subuh, menyapu serambi, mengikuti pengajian; semua aturan itu membentuk ritme yang menenangkan pikiranku yang semrawut. Di hari pertama aku bertemu Syilla. Ia menaruh piring di sebelahku dan berkata, \u201cSini duduk bareng.\u201d Gesturnya kecil; kata-katanya sederhana. Namun pada saat itu, ia memberiku sesuatu yang lebih dari kebersamaan, yaitu pijakan.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Syilla bukan tipe yang banyak bicara. Ia orang yang mendengar dulu dan memberi jawaban belakangan. Saat aku sering melamun, ia duduk di samping, memandang jauh, dan kadang menggumamkan hal-hal kecil yang membuatku tersenyum tanpa sadar. Ketika malam-malam buruk datang, Syilla mengetuk pintu kamarku, memegang tanganku, dan berkata, \u201c jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, kita jalani bareng aja, pelan-pelan.\u201d Kalimat itu turun seperti hujan hangat pada tanah kering.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Perlahan, langkah-langkah kecil membawaku jauh. Syilla mengajakku ikut kajian, menulis surat yang tak pernah kuikirkan untuk dikirim, dan mengajariku teknik napas saat panik. Ia menunjukkan cara mengatur napas ketika dunia terasa sesak. Di pondok aku belajar bahwa penyembuhan bukan soal cepat. Penyembuhan bisa dimulai dari satu celah kecil, seperti rutinitas, senyum teman, atau doa yang diulang pelan saat malam.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Guru-guru di sana mengajari latihan sederhana. Aku belajar menyebut lima hal yang bisa kulihat, mengenali suara-suara di sekitarku, dan menuliskan tiga hal yang kusyukuri setiap malam. Awalnya terasa klise dan kupikir hanya rangkaian kalimat manis. Namun ketika badai emosi datang lagi, kebiasaan-kebiasaan kecil itu menjadi tembok penahan yang mencegahku runtuh sepenuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Menulis menjadi ruang lain untukku. Surat-surat yang tak dikirim berubah menjadi kalimatkalimat yang menenangkan. Aku mulai menulis jurnal dan menamai lukaku agar tidak lagi menjadi bayangan tanpa bentuk. Menulis membuatku memetakan perasaan; aku bisa melihat akar amarah, titik kebingungan, dan bagian diriku yang rindu disapa lembut. Dari situ aku belajar bahwa memaafkan bukan hadiah untuk pelaku, melainkan cara untuk melepaskan belenggu yang menahan langkahku.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Suatu sore Syilla menyelipkan pita kecil ke buku catatanku. \u201cBiar kamu ingat, bukan karena semua sudah baik, tapi karena kau berani melangkah,\u201d katanya lirih. Aku menatap pita itu lama, benda kecil itu seperti mantra yang kusimpan saat malam kembali gelap.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Keluar dari pondok, koperku terasa lebih ringan. Bukan karena semua beban hilang, melainkan karena aku belajar menata beban itu agar bisa kubawa. Di kota, aku bekerja di sebuah kafe. Pekerjaannya sederhana: merapikan meja, mengaduk susu, dan menyapa pelanggan. Ritme kerja memberi alasan untuk bertemu dunia lagi. Setiap senyuman pelanggan menjadi cermin kecil yang mengingatkanku bahwa aku masih bisa berinteraksi tanpa merasa rapuh.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Perlahan aku mulai membuka diri. Syilla mengirimi brosur audisi bakat dan awalnya aku menolak. Namun ia terus menggodaku dengan kalimat sederhana, \u201cCoba aja, siapa tahu ini buat ngetes suaramu.\u201d Audisi itu ternyata menjadi terapi terselubung. Menulis teks, mengulang kalimat penguat, dan berdiri di panggung mengajarkanku bahwa suaraku boleh terdengar.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Saat talent show, lampu sorot memantulkan gugup. Jantungku berdegup kencang, tetapi aku mengingat pijakan-pijakan kecil yang kupelajari di pondok. Aku menarik napas, menyebut apa yang kulihat, dan memegang teks yang kubawa. Aku berbicara tentang retak yang bisa dijahit, tentang bekas yang bisa menjadi cerita, dan tentang hak seorang perempuan untuk bersuara tanpa disingkirkan. \u201cKita bukan korban yang harus menghilang,\u201d kataku, \u201ckita penyintas yang berhak hidup penuh makna.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Sorak-sorai setelah aku turun panggung bukan sekadar pengakuan atas penampilan. Itu adalah bukti bahwa aku memiliki tempat di dunia. Kemenangan itu bukan akhir dari penyembuhan, melainkan titik kecil di perjalanan panjang. Aku mulai menulis tentang kesehatan mental, membuka kelas menulis untuk remaja, dan berbagi pengalaman di ruangruang kecil.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Suatu sore yang tenang, duduk di bangku taman, aku menulis satu baris di buku catatanku, \u201cHari ini aku tersenyum tanpa dipaksa.\u201d Aku meneguk teh hangat dan memandangi langit jingga. Luka-luka itu tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi penjara. Luka-luka itu berubah menjadi peta hidup yang mengajariku ketabahan.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Beberapa bulan kemudian aku pulang ke rumah. Rumah itu masih menyimpan bau kenangan: suara panci di dapur, langkah ayah di teras, dan cangkir teh yang selalu hangat. Pertemuan kami canggung. Ayah menunduk, ibu menyeka air mata, lalu ada satu kata yang akhirnya keluar, yaitu maaf. Mereka mengaku bingung saat aku terluka; mereka tidak tahu bagaimana menjadi sandaran tanpa melukai. Kami berbicara panjang, menamai perasaan yang lama terpendam, bukan untuk menghapusnya, melainkan untuk memberi jalan. Hubungan kami tidak sepenuhnya pulih, tetapi ritmenya menjadi lebih jujur dan lebih lembut.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle3\">Kini aku tahu, suaraku bukan sekadar curahan luka. Suaraku adalah undangan. Undangan untuk bertahan, untuk berbicara, dan untuk terus berjalan meski pernah retak.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span class=\"fontstyle4\">===<\/span><\/p>\n<p><span class=\"fontstyle0\"><strong>*Nailah Nur Azizah<\/strong> <\/span><span class=\"fontstyle3\">adalah penulis pemula yang memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan, khususnya cerpen. Ia menjadikan menulis sebagai ruang belajar, refleksi diri, dan cara memahami pengalaman hidup. Melalui tulisannya, ia berusaha menyampaikan cerita-cerita yang dekat dengan keseharian dan nilai kemanusiaan. Saat ini, ia terus mengembangkan kemampuan menulisnya dengan aktif mengekspresikan gagasan melalui karya fiksi pendek.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>8 Januari 2026 Luka yang Mengajarkanku Tersenyum Oleh Nailah Nur Azizah &nbsp; &nbsp; Namaku Laila Meylani. Ayah bekerja di pabrik; ia pulang selalu dengan tangan yang berbau minyak dan mata yang lebih sering lelah daripada bercanda. Ibu mengajar mengaji di rumah dengan suara yang lembut; suaranya mengalun seperti penawar ketika dunia terasa gaduh. Hidup kami &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Luka yang Mengajarkanku Tersenyum<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2053,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2050","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Luka yang Mengajarkanku Tersenyum - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"8 Januari 2026 Luka yang Mengajarkanku Tersenyum Oleh Nailah Nur Azizah &nbsp; &nbsp; Namaku Laila Meylani. Ayah bekerja di pabrik; ia pulang selalu dengan tangan yang berbau minyak dan mata yang lebih sering lelah daripada bercanda. Ibu mengajar mengaji di rumah dengan suara yang lembut; suaranya mengalun seperti penawar ketika dunia terasa gaduh. Hidup kami &hellip; Luka yang Mengajarkanku Tersenyum Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-08T09:42:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-cerpen-luka-yang-mengajarkanku-tersenyum-Copy.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"982\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"589\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/\",\"name\":\"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-01-08T09:42:24+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-08T09:42:24+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum - LiteraSIP","og_description":"8 Januari 2026 Luka yang Mengajarkanku Tersenyum Oleh Nailah Nur Azizah &nbsp; &nbsp; Namaku Laila Meylani. Ayah bekerja di pabrik; ia pulang selalu dengan tangan yang berbau minyak dan mata yang lebih sering lelah daripada bercanda. Ibu mengajar mengaji di rumah dengan suara yang lembut; suaranya mengalun seperti penawar ketika dunia terasa gaduh. Hidup kami &hellip; Luka yang Mengajarkanku Tersenyum Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2026-01-08T09:42:24+00:00","og_image":[{"width":982,"height":589,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-cerpen-luka-yang-mengajarkanku-tersenyum-Copy.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/","name":"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2026-01-08T09:42:24+00:00","dateModified":"2026-01-08T09:42:24+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/luka-yang-mengajarkanku-tersenyum\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Luka yang Mengajarkanku Tersenyum"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2050","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2050"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2050\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2055,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2050\/revisions\/2055"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2053"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2050"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2050"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2050"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}