{"id":2079,"date":"2026-01-22T17:47:15","date_gmt":"2026-01-22T10:47:15","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=2079"},"modified":"2026-01-29T17:55:32","modified_gmt":"2026-01-29T10:55:32","slug":"puisi-puisi-kahar-dp","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/","title":{"rendered":"Puisi-Puisi Kahar Dp"},"content":{"rendered":"<p>22 Januari 2026<\/p>\n<h1><strong>Puisi-Puisi Kahar Dp<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Kahar Dp*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2080\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-edit.jpeg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-edit.jpeg 1600w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-edit-300x300.jpeg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-edit-1024x1024.jpeg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-edit-150x150.jpeg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-edit-768x768.jpeg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-edit-1536x1536.jpeg 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc218685641\"><\/a><strong>Angkrok<\/strong><\/h2>\n<p>Seorang anak memainkan tangan,<br \/>\ntubuh wayang kertas yang tertusuk bambu,<br \/>\ntipis seperti daun yang gugur, rapuh seperti janji.<\/p>\n<p>Pemilik tangan itu adalah makhluk yang diciptakan dari harapan,<br \/>\nmulut yang dilukis dengan cat minyak pudar,<br \/>\nmata yang tak berkedip namun mengerti.<\/p>\n<p>Aku melihat dari kejauhan: begitulah penciptaan,<br \/>\nbukan gemuruh sabda para dewa,<br \/>\ntetapi putusan kecil untuk membuat pola, memotong, mewarnai,<br \/>\ndan memercayai bahwa khayalan akan menghuni<br \/>\napapun yang kita kehendaki.<\/p>\n<p>Lengan wayang kertas itu mulai terayun,<br \/>\nsendi bahu bergesek seperti luka lama,<br \/>\ndan dongeng anak-anak mulai menggema.<br \/>\nIa kisahkan kesepian yang lembut dan kelam,<br \/>\nsebagaimana anak-anak menjelaskan kesedihan<br \/>\ntanpa tahu apa yang sebenarnya.<\/p>\n<p>Wayang kertas seperti menari\u2014<br \/>\ntangan dan kaki berbuai-buai, patuh dan kentara.<br \/>\nPada akhirnya, ia terjelabak di atas meja,<br \/>\ntapi anak itu terus memandangnya<br \/>\nseperti penyair yang memandangi malam.<\/p>\n<p>Bukankah hidup seperti itu?<br \/>\nSatu kekuatan tersembunyi di dalam<br \/>\nkenangan, ketakutan, dan keinginan<br \/>\nyang memberi gerak pada kita, sesosok wayang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc218685640\"><\/a><strong>Bandhulan<\/strong><\/h2>\n<p>Anak-anak berkumpul di taman kota, bayangan mereka memanjang seperti tanya yang tak terjawab. Seorang anak meraih tali, melungguhi papan kayu, tak ada yang ajaib\u2014dan ketika ia mundur, menghempaskan diri, bumi melepaskan cengkeramannya. Bahkan angin pun terhenti, terpana oleh begitu banyak keyakinan tiba-tiba. Berulang-ulang, tubuh anak itu membangun busur. Tubuh yang condong ke belakang memercayai temali sebagaimana seorang pemikir mengimani keraguan: bukan sebagai musuh, tapi sebagai getaran yang dibutuhkan sebelum sampai pada pemahaman.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Seorang anak yang lain berayun lebih tinggi, kakinya menggalah langit; seolah mencoba membelah cakrawala untuk melihat apa yang menunggu di bawah sana. Mungkin keinginan, mungkin api yang menolak kedamaian, tetapi bagi mereka itu semua hanyalah kegembiraan. Tubuh yang mengingat bahwa daya tarik bumi hanyalah separuh dari bualan. Di atas mereka, langit terbentang seperti pintu kucam. Di bawah, bumi menahan napas. Setiap ayunan adalah tanya. Setiap balik arah adalah jawaban yang terlampau singkat untuk diingat.<\/p>\n<p>Begitulah mereka belajar: kebebasan bukanlah pelarian tetapi jeda yang rapuh antara berayun dan berbalik arah. Bahwa ketakutan adalah ragam bunyian, bahwa bumi menarikmu kembali, tak peduli seberapa tinggi engkau mengangkasa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc218685639\"><\/a><strong>Dakon<\/strong><\/h2>\n<p>Di lindung lengan trembesi,<br \/>\ndua gadis kecil membungkuk di atas papan kayu\u2014<br \/>\ncekungan kecil adalah ladang,<br \/>\ndua mulut besar di ujung adalah lumbung.<br \/>\nLangit seperti tudung pucat di atas mereka,<br \/>\ndan orang-orang dewasa telah beringsut dari urusan dunia.<\/p>\n<p>Mereka meraih biji-biji di ladang,<br \/>\nbiji <em>Manilkara kauki<\/em> memulai perjalanan.<br \/>\nSatu biji bersemayam di ladang, terus bergerak searah jarum jam,<br \/>\nseolah pengharapan petani dapat diatur ulang oleh jemari.<\/p>\n<p>Biji-biji itu berdenting pelan, bisik kesabaran yang telah terlatih.<br \/>\nSaat biji jatuh ke dalam lumbung,<br \/>\nharta menggunung tetapi mereka tidak bersorak,<br \/>\nhanya saling lirik,<br \/>\nkarena mereka tahu;<br \/>\nbahwa harta tidaklah abadi,<br \/>\nbahwa segala yang dikumpulkan<br \/>\nakan dilepaskan suatu hari nanti.<\/p>\n<p>Namun, ketika biji terakhir mendarat<br \/>\ndi ladang kosong tak berpenghuni\u2014<br \/>\nkeheningan menyeruak,<br \/>\ntangan yang menarik diri,<br \/>\nseperti petaka kecil<br \/>\nyang mengharuskan semua langkah terhenti.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc218685634\"><\/a><strong>Gasing<\/strong><\/h2>\n<p>Di pelataran belakang rumah tua,<br \/>\nseorang anak menggulung tali panggal melilit leher gasing<br \/>\nseakan mempersiapkan hati kecil untuk memaknai<br \/>\nmuasal ketahanan.<\/p>\n<p>Dia menarik dan gasing itu melompat ke tanah,<br \/>\nberputar hingga menjadi kabut warna,<br \/>\nkepatuhan yang mustahil bagi manusia.<br \/>\nBetapa ringan ia memilih tujuan<br \/>\nberkisar dan berlegar,<br \/>\nhingga dunia menjadi cincin suara.<\/p>\n<p>Gasing itu bergetar di tanah, gementar seperti tanya<br \/>\nyang diajukan tetapi terlambat. Bayangannya memanjang,<br \/>\ntipis seperti janji yang tak dapat ditepati.<\/p>\n<p>Anak-anak tertawa, tetapi mainan itu sudah memasuki<br \/>\ndunia kecilnya: gerak adalah bentuk doa, dan ketahanan<br \/>\nadalah maujud keyakinan.<\/p>\n<p>Ketika putaran melambat, keraguan mulai menyusupi.<br \/>\nAdakah sesuatu yang abadi?<br \/>\nDan kemudian ia terjatuh<br \/>\nterkapar di hadapan debu dan mengakui kenyataan?<br \/>\nSegala yang kuat pada akhirnya berserah,<br \/>\nbukan karena kalah,<br \/>\ntetapi daur, apa yang berputar harus tergelepar<br \/>\napa yang jatuh mungkin akan bangkit,<br \/>\ndan apa yang bangkit mungkin belajar tentang imbang<br \/>\ndan kesetimbangan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc218685643\"><\/a><strong>Engkle<\/strong><strong>k<\/strong><\/h2>\n<p>Di pagi hari, sebelum matahari mengingat namanya sendiri,<br \/>\nanak-anak menggambar persegi panjang bermahkota gunung,<br \/>\nruang-ruang kecil untuk takdir di hamparan tanah,<br \/>\nbatas-batas rapuh yang tak terindera angin.<\/p>\n<p>Seseorang anak melempar gacu kereweng,<br \/>\npecahan genteng yang membagul niat.<br \/>\nBetapa aneh, bahwa nasib dilemparkan<br \/>\nsedang mereka berjengkek satu kaki:<br \/>\nseolah keseimbangan adalah doa wingit,<br \/>\nseolah bumi hanya akan berbicara kepada mereka yang berani mendaki<br \/>\nseolah pendaki setengah bersayap, setengah terluka.<\/p>\n<p>Aku melihat mereka berjengkek dan melompat<br \/>\ndari kotak ke kotak, dan ke puncak gunung,<br \/>\nseperti jiwa-jiwa menyeberangi ambang tak kasat mata<br \/>\nantara pernah menjadi dan harus menjadi.<\/p>\n<p>Angin tertahan, batu menunggu.<br \/>\nDan waktu\u2014untuk kali ini\u2014bergerak sejauh bayangan,<br \/>\nsembari belajar bahwa hidup adalah permainan di atas tanah:<br \/>\ntakdir maju dengan mengandalkan satu kaki,<br \/>\ntakdir terjatuh karena terlalu mendengarkan keraguan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<h1><\/h1>\n<h4><strong>Perancah<\/strong><\/h4>\n<p><strong>angkrok <\/strong><em>n Jw <\/em>permainan yang menggunakan boneka kardus, diapit bilah bambu, diberi benang utk menggerakkan kaki dan tangan<\/p>\n<p><strong>bandhulan <\/strong><em>n Jw <\/em>permainan ayunan yang menggunakan dua utas tali dan satu papan duduk; ayunan<\/p>\n<p><strong>dakon <\/strong><em>n Jw <\/em>permainan tradisional, menggunakan biji-bijian, kerikil, dll sbg biji dakon; congklak<\/p>\n<p><strong>gasing <\/strong><em>n Jw <\/em>mainan terbuat dari kayu dan sebagainya yang diberi pasak (paku atau kayu) yang dapat diputarkan dengan tali<\/p>\n<p><strong>engklek<\/strong><em> \u00a0n Jw <\/em>permainan tradisional, dilakukan oleh sekurang-kurangnya oleh dua pemain dengan cara melempar <em>gacu<\/em> ke dalam kotak-kotak yg digambar di atas tanah, lalu pemain melompati kotak demi kotak dengan satu kaki; sundamanda<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>*Kahar Dp<\/strong>, pembelajar puisi ini bekerja sebagai pekamus, penerjemah, dan redaktur pelaksana<em> Karas: Majalah Sastra <\/em>di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah<em>. <\/em>Ia telah menghasilkan buku puisi <em>Kalangkang<\/em> (2017), <em>Walungan <\/em>(2019), dan <em>Padewakang<\/em>: <em>Kumpulan Puisi Terjemahan<\/em> (2020).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>22 Januari 2026 Puisi-Puisi Kahar Dp Oleh Kahar Dp* &nbsp; &nbsp; &nbsp; Angkrok Seorang anak memainkan tangan, tubuh wayang kertas yang tertusuk bambu, tipis seperti daun yang gugur, rapuh seperti janji. Pemilik tangan itu adalah makhluk yang diciptakan dari harapan, mulut yang dilukis dengan cat minyak pudar, mata yang tak berkedip namun mengerti. Aku melihat &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Puisi-Puisi Kahar Dp<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2075,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-2079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-puisi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Puisi-Puisi Kahar Dp - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puisi-Puisi Kahar Dp - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"22 Januari 2026 Puisi-Puisi Kahar Dp Oleh Kahar Dp* &nbsp; &nbsp; &nbsp; Angkrok Seorang anak memainkan tangan, tubuh wayang kertas yang tertusuk bambu, tipis seperti daun yang gugur, rapuh seperti janji. Pemilik tangan itu adalah makhluk yang diciptakan dari harapan, mulut yang dilukis dengan cat minyak pudar, mata yang tak berkedip namun mengerti. Aku melihat &hellip; Puisi-Puisi Kahar Dp Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-22T10:47:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-29T10:55:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-Copy.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"960\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/\",\"name\":\"Puisi-Puisi Kahar Dp - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-01-22T10:47:15+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-29T10:55:32+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puisi-Puisi Kahar Dp\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puisi-Puisi Kahar Dp - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Puisi-Puisi Kahar Dp - LiteraSIP","og_description":"22 Januari 2026 Puisi-Puisi Kahar Dp Oleh Kahar Dp* &nbsp; &nbsp; &nbsp; Angkrok Seorang anak memainkan tangan, tubuh wayang kertas yang tertusuk bambu, tipis seperti daun yang gugur, rapuh seperti janji. Pemilik tangan itu adalah makhluk yang diciptakan dari harapan, mulut yang dilukis dengan cat minyak pudar, mata yang tak berkedip namun mengerti. Aku melihat &hellip; Puisi-Puisi Kahar Dp Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2026-01-22T10:47:15+00:00","article_modified_time":"2026-01-29T10:55:32+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":960,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/ilustrasi-puisi-kahar-dp-Copy.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/","name":"Puisi-Puisi Kahar Dp - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2026-01-22T10:47:15+00:00","dateModified":"2026-01-29T10:55:32+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-kahar-dp\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puisi-Puisi Kahar Dp"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2079"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2079\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2081,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2079\/revisions\/2081"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2075"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}