{"id":2112,"date":"2026-02-12T17:58:14","date_gmt":"2026-02-12T10:58:14","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=2112"},"modified":"2026-02-19T18:05:22","modified_gmt":"2026-02-19T11:05:22","slug":"puisi-puisi-faqod-faaz","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/","title":{"rendered":"Puisi-Puisi Faqod Faaz"},"content":{"rendered":"<p>12 Februari 2026<\/p>\n<h1><strong>Puisi-Puisi Faqod Faaz<\/strong><\/h1>\n<p><strong>Oleh Faqod Faaz*<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2110\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ilustrasi-puisi-faqod-faz.jpeg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"969\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ilustrasi-puisi-faqod-faz.jpeg 848w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ilustrasi-puisi-faqod-faz-201x300.jpeg 201w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ilustrasi-puisi-faqod-faz-687x1024.jpeg 687w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ilustrasi-puisi-faqod-faz-768x1145.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Luka Purba <\/strong><\/p>\n<p>Di balik tulang rusukku, ada sebuah retakan yang tak pernah tidur:<br \/>\nLuka purba yang diwariskan musim, menyusup dari leluhur<br \/>\nYang namanya bahkan tak sempat kutahu.<\/p>\n<p>Setiap malam, retakan itu berdenyut<br \/>\nSeperti langkah binatang yang kembali ke sarangnya;<br \/>\nIa mencakar ingatan, mengendus sunyi,<br \/>\nLalu berbaring di pangkal napas.<\/p>\n<p>Aku mencoba menambalnya dengan waktu<br \/>\nYang kupotong tipis-tipis,<br \/>\nDengan doa yang lirih dan tidak berdaya\u2014<br \/>\nTapi luka purba tak menunggu sembuh.<\/p>\n<p>Ia tumbuh: menjadi hutan kecil<br \/>\nTempat tubuhku belajar hilang,<br \/>\nTempat dedaunannya mengingat<br \/>\nSegala yang sengaja kupadamkan.<\/p>\n<p>Ketika fajar menyisir daun-daunnya,<br \/>\nAku akhirnya mengerti:<br \/>\nAda rasa sakit yang justru menuntun pulang\u2014<br \/>\nKe rumah yang hanya bisa ditemukan<br \/>\nOleh mereka yang pernah tersesat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Ritus Diam<\/strong><\/p>\n<p>Sunyi tumbuh di sela-sela dadaku,<br \/>\nSeperti doa yang lupa menemukan mulutnya.<br \/>\nAku mengikrarkan rindu dalam bahasa yang retak,<br \/>\nNamun kau tetap menjauh\u2014<br \/>\nMenjadi garis tipis pada cakrawala<br \/>\nYang tak pernah selesai kupahami.<\/p>\n<p>Di malam-malam tertentu,<br \/>\nAku merawat sepi seperti ritual purba:<br \/>\nMenyusun ulang kenangan,<br \/>\nMenggenggam bayangmu yang terus menyusut,<br \/>\nLalu melepaskannya perlahan,<br \/>\nAgar tidak menyakitiku lebih jauh.<\/p>\n<p>Diam adalah altar yang tak pernah kudirikan,<br \/>\nNamun kau paksa agar kupuja.<br \/>\nDi atasnya kutaruh seluruh bening mataku,<br \/>\nSeluruh ingatan yang menolak pulih,<br \/>\nDan waktu yang tak pernah kembali utuh.<\/p>\n<p>Jika suatu hari sunyi ini berubah menjadi musim,<br \/>\nAku akan belajar menelannya tanpa luka\u2014<br \/>\nSebab tidak semua kehilangan pantas dirayakan,<br \/>\nDan tidak semua kenangan harus diselamatkan.<\/p>\n<p>Maka biarlah malam mengubur namamu,<br \/>\nBiarkan aku bertumbuh dari puingnya.<br \/>\nDi balik diam yang paling lirih,<br \/>\nAku akhirnya mengerti:<br \/>\nAda perpisahan yang perlu diterima,<br \/>\nBukan disesali.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Denyar<\/strong><\/p>\n<p>Ada sesuatu yang bergetar di balik tulang dadaku\u2014<br \/>\nBukan jantung, melainkan jejak yang kembali<br \/>\nTanpa mengetuk: langkah yang pernah kutinggalkan<br \/>\nDi jalan pulang yang tak sempat kupahami.<\/p>\n<p>Ia muncul tiba-tiba, seperti kilat mini<br \/>\nYang gagal menjelma cahaya; sekejap,<br \/>\nNamun cukup tajam untuk membelah ingatan<br \/>\nYang selama ini berbaring di dasar tubuh.<\/p>\n<p>Aku berhenti bergerak, membiarkan diriku<br \/>\nMenjadi bejana bagi gemuruh samar itu.<br \/>\nKadang ia merayap pelan, seperti ragu<br \/>\nYang mencari tempat untuk bersandar;<br \/>\nKadang ia menubruk\u2014mencari ruang<br \/>\nYang luput kutumbuhkan sepanjang tahun.<\/p>\n<p>Di sela-sela getarnya, masa lalu menampakkan diri:<br \/>\nHujan yang batal turun, kata yang kupendam<br \/>\nSampai kehilangan suara, serta bayangan<br \/>\nYang terlalu lama menunggu di pinggir napas.<\/p>\n<p>Getar itu terus berputar dalam lorong-lorong<br \/>\nYang hanya ia kenal, mengajarkanku bahwa<br \/>\nTidak semua luka berharap sembuh\u2014<br \/>\nSebagian hanya ingin dikenali tanpa syarat.<\/p>\n<p>Dan ketika akhirnya reda, yang tersisa adalah<br \/>\nKeheningan bening: permukaan air<br \/>\nYang baru saja menelan deras.<br \/>\nDi sana, aku melihat diriku sendiri\u2014<\/p>\n<p>Lebih utuh, lebih jujur,<br \/>\nDan tak lagi takut pada denyut<br \/>\nYang datang tanpa nama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Serpih Cahaya<\/strong><\/p>\n<p>Di sela genting subuh,<br \/>\nAku mengumpulkan serpih cahaya<br \/>\nYang pecah sebelum sempat menyentuh dadaku.<\/p>\n<p>Setiap kilau membawa kisahnya sendiri:<br \/>\nJejak yang tersesat di pori waktu,<br \/>\nRindu yang mengeras menjadi bisu,<br \/>\nSerta doa yang melayang<br \/>\nTanpa menemukan langit mana harus singgah.<\/p>\n<p>Kadang aku bertanya\u2014<br \/>\nAdakah cahaya yang tidak gentar<br \/>\nKetika menyentuh manusia?<br \/>\nAtau memang sejak awal<br \/>\nIa diciptakan rapuh<br \/>\nAgar kita belajar menampung yang retak?<\/p>\n<p>Aku meraba salah satu serpih:<br \/>\nDingin, angkuh, namun setia;<br \/>\nMenyimpan keteduhan<br \/>\nYang tidak ditemukan oleh mata,<br \/>\nHanya oleh jiwa<br \/>\nYang pernah disergap gelap terlalu lama.<\/p>\n<p>Maka kupintal kembali sinarnya,<br \/>\nTipis seperti garis halus<br \/>\nPada kaca yang menahan pecah.<br \/>\nDan tiba-tiba aku mengerti\u2014<br \/>\nBahwa cahaya tidak selalu terang;<br \/>\nKadang ia memilih hening,<br \/>\nMencari tubuh yang bersedia<br \/>\nMenjadi rumah bagi sembuhnya.<\/p>\n<p>Di ujung subuh, serpih-serpih itu<br \/>\nMeluruh ke dalam nadiku.<br \/>\nAku berdiri\u2014getir sekaligus utuh\u2014<br \/>\nSeperti seseorang yang akhirnya tahu<br \/>\nBahwa keutuhan bukan hadiah,<br \/>\nMelainkan keberanian<br \/>\nMemeluk setiap patahan.<br \/>\nDan dari situlah terang baru lahir.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Luruh<\/strong><\/p>\n<p>ada malam yang turun perlahan<br \/>\nke dalam tubuhku,<br \/>\nseperti kabar yang tidak pernah diucapkan<br \/>\nnamun terasa hingga ke dasar tulang.<\/p>\n<p>aku duduk menghadap jendela,<br \/>\nmembiarkan angin membuka halaman<br \/>\nyang diam-diam kuselipkan<br \/>\ndi antara detak dan diam.<\/p>\n<p>segala yang pernah kupikir selesai<br \/>\nmuncul kembali:<br \/>\nbayang yang menua,<br \/>\nkata yang kehilangan arah,<br \/>\nsenyum yang tiba-tiba asing.<br \/>\nsemuanya berkumpul<br \/>\nseperti hujan yang mencari tanah paling sunyi<br \/>\nuntuk kembali menjadi dirinya.<\/p>\n<p>namun luruh, ternyata,<br \/>\nbukan tentang kehilangan.<br \/>\nia adalah cara tubuh memberi ruang<br \/>\npada yang tak sanggup ditanggung,<br \/>\ncara hati menerima<br \/>\nbahwa tidak semua harus disimpan<br \/>\nagar tetap dikenang.<\/p>\n<p>malam itu, satu per satu<br \/>\ningatanku melepaskan nama\u2014<br \/>\nbukan untuk menghapus,<br \/>\nmelainkan untuk mengizinkanku berjalan<br \/>\ntanpa memanggul seluruhnya.<\/p>\n<p>aku menarik napas,<br \/>\nmenyusuri reranting yang patah<br \/>\ndi dalam pikiranku,<br \/>\ndan menemukan sebuah jalur kecil<br \/>\nyang selama ini menunggu dalam senyap.<\/p>\n<p>di sana, keheningan<br \/>\ntidak lagi mengiris,<br \/>\nmelainkan mengembalikan cahaya<br \/>\nyang lama terperangkap oleh perih.<\/p>\n<p>dan aku mengerti:<br \/>\nluruh adalah cara lain dari tumbuh\u2014<br \/>\nyang jatuh bukan selalu yang rapuh,<br \/>\ntetapi yang siap menjadi tanah<br \/>\nbagi dirinya yang baru.<\/p>\n<p><em>Tanjung Priok, 28 Oktober 2025<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Faqod Faaz <\/strong>merupakan nama pena dari Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan<strong>. <\/strong>Seorang perempuan yang lahir di Jakarta pada penghujung tahun 2001. Kini ia tengah menempuh pendidikan jurusan Sosiologi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Pencinta sastra dan seni ini mulai aktif menulis sejak masa pandemi 2020. Puisinya telah termuat dalam sejumlah <strong>antologi nasional<\/strong>, dan sejak itu ia terus menulis serta mengikuti berbagai <strong>lomba sastra, seni, hingga akademik (olimpiade Bahasa Indonesia dan Biologi)<\/strong>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>12 Februari 2026 Puisi-Puisi Faqod Faaz Oleh Faqod Faaz* &nbsp; &nbsp; Luka Purba Di balik tulang rusukku, ada sebuah retakan yang tak pernah tidur: Luka purba yang diwariskan musim, menyusup dari leluhur Yang namanya bahkan tak sempat kutahu. Setiap malam, retakan itu berdenyut Seperti langkah binatang yang kembali ke sarangnya; Ia mencakar ingatan, mengendus sunyi, &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Puisi-Puisi Faqod Faaz<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2108,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-2112","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-puisi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Puisi-Puisi Faqod Faaz - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puisi-Puisi Faqod Faaz - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"12 Februari 2026 Puisi-Puisi Faqod Faaz Oleh Faqod Faaz* &nbsp; &nbsp; Luka Purba Di balik tulang rusukku, ada sebuah retakan yang tak pernah tidur: Luka purba yang diwariskan musim, menyusup dari leluhur Yang namanya bahkan tak sempat kutahu. Setiap malam, retakan itu berdenyut Seperti langkah binatang yang kembali ke sarangnya; Ia mencakar ingatan, mengendus sunyi, &hellip; Puisi-Puisi Faqod Faaz Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-02-12T10:58:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-02-19T11:05:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ilustrasi-puisi-faqod-faz-Copy.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"848\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"509\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/\",\"name\":\"Puisi-Puisi Faqod Faaz - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-02-12T10:58:14+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-19T11:05:22+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puisi-Puisi Faqod Faaz\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puisi-Puisi Faqod Faaz - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Puisi-Puisi Faqod Faaz - LiteraSIP","og_description":"12 Februari 2026 Puisi-Puisi Faqod Faaz Oleh Faqod Faaz* &nbsp; &nbsp; Luka Purba Di balik tulang rusukku, ada sebuah retakan yang tak pernah tidur: Luka purba yang diwariskan musim, menyusup dari leluhur Yang namanya bahkan tak sempat kutahu. Setiap malam, retakan itu berdenyut Seperti langkah binatang yang kembali ke sarangnya; Ia mencakar ingatan, mengendus sunyi, &hellip; Puisi-Puisi Faqod Faaz Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2026-02-12T10:58:14+00:00","article_modified_time":"2026-02-19T11:05:22+00:00","og_image":[{"width":848,"height":509,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/ilustrasi-puisi-faqod-faz-Copy.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/","name":"Puisi-Puisi Faqod Faaz - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2026-02-12T10:58:14+00:00","dateModified":"2026-02-19T11:05:22+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/puisi-puisi-faqod-faaz\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puisi-Puisi Faqod Faaz"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2112","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2112"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2112\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2113,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2112\/revisions\/2113"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2108"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2112"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2112"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2112"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}