{"id":253,"date":"2023-02-26T02:26:05","date_gmt":"2023-02-26T02:26:05","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=253"},"modified":"2023-02-26T02:27:17","modified_gmt":"2023-02-26T02:27:17","slug":"pulung-gantung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/","title":{"rendered":"Pulung Gantung"},"content":{"rendered":"<p>26 Februari 2023<\/p>\n<h1><strong>Pulung Gantung *(1)<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh : Risda Nur Widia**<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-254 size-large\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ilustrasi-cerpen-pulung-gantung-1024x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ilustrasi-cerpen-pulung-gantung-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ilustrasi-cerpen-pulung-gantung-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ilustrasi-cerpen-pulung-gantung-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ilustrasi-cerpen-pulung-gantung-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ilustrasi-cerpen-pulung-gantung-1536x1536.jpg 1536w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ilustrasi-cerpen-pulung-gantung.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tujuh koak gagak pagi itu menyeret kabar kematian seorang janda di desa Kelor. Kentongan ribut bertalu mengabarkan duka pada setiap telinga yang mendengarnya. Berduyun-duyun orang berkumpul mengamati tubuh si janda yang ternyata telah kaku terbaring di atas ranjang dengan leher terjerat tampar berwarna coklat pudar yang diikat pada kaki tempat tidurnya. Wanita itu mati menggantung, tapi tidak benar-benar menggantung. Cara mati gantung diri si janda hanya seremonial semata. Karena kematian ganjil itu, para penduduk mengira <em>pulung gantung <\/em>datang menemuinya semalam.<\/p>\n<p>Dua orang pemuda dengan wajah berkerut serta tangan bergetar segera membereskan mayat si janda. Tali yang menjerat lehernya dilepaskan. Orang-orang yang melihat leher janda tersebut bingung, karena tidak ada bekas memar. Namun ketika memperhatikan ekspresinya, wanita itu tampak sangat menderita.<\/p>\n<p>\u201cHari ini juga kita harus menguburnya!\u201d Kata ketua adat. \u201cKalau tidak kutuk akan kembali menimpa desa!\u201d<\/p>\n<p>\u201cApakah tidak sebaiknya memberi kabar kepada keluarganya dahulu?\u201d Jawab kepala desa kampung Kelor.<\/p>\n<p>\u201cOrang yang mati karena rayuan <em>pulung gantung<\/em> tidak boleh dikabarkan kematiannya. Hal itu malah membawa petaka,\u201d tambah ketua adat. \u201cTapi wanita ini sepertinya sudah lama tinggal sendiri tanpa keluarga.\u201d<\/p>\n<p>Wanita malang itu sudah lama hidup sebatang kara. Suaminya dulu mati karena dibunuh orang ketika musim politik. Polisi yang melacak kasus itu hingga kini belum selesai memeriksanya. Ada yang mengatakan kalau kematian suaminya sebagai tumbal politik warga kampung yang menginginkan bantuan dana desa. Sementara dua anaknya merantau ke Sumatera, dan tidak pernah pulang sampai kematian si janda itu.<\/p>\n<p>Ia sering tampak tidak bahagia, karena penyakit paru-paru menggerogoti tubuhnya. Setiap malam, bila ada orang yang melintas di depan rumahnya, selalu terdengar suara batuknya yang menyedihkan.<\/p>\n<p>\u201cPasti <em>Pulung Gantung<\/em> semalam mengabulkan doanya!\u201d Itu bisik-bisik dari warga.<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan mengenai kematian si janda tidak putus memadati mulut warga. Sebagian dari mereka bahkan teringatan mengenai peristiwa yang terjadi pada Tarno. Pria tua umur 55 tahun itu sempat menceritakan kalau dirinya melihat seberkas cahaya merah melintasi genteng-genteng rumah warga desa Kelor. Cahaya merah dan berkedip-kedip itu menyibak <em>alas<\/em> Jati di ujung desa.<\/p>\n<p>Tarno pun menceritakan cahaya <em>pulung gantung <\/em>tersebut di Balai Desa.<\/p>\n<p>\u201cAku melihat <em>pulung gantung<\/em>!\u201d tandas Tarno. \u201cDia melintas di atas rumah-rumah warga.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKau jangan bergurau!\u201d timpal kawan seumurannya.<\/p>\n<p>\u201cAku tidak bohong!\u201d suara Tarno terengah. \u201cAku melihat <em>pulung gantung<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHalah! Tidak ada <em>pulung gantung<\/em>!\u201d timpal warga lainnya yang lebih muda. \u201cItu hanya cerita bohong.\u201d<\/p>\n<p>Malam itu, dua pengertian terpecah setelah mendengar cerita Tarno. Para orang tua yang hidup dengan cerita masa lalu merasa risau mengetahui kisah Tarno. Sementara warga desa yang telah berpikir modren\u2014yang jumlahnya lebih banyak dari warga lama\u2014menganggap cerita Tarno hanya halusinasi. <em>Pulung Gantung<\/em> bagi mereka hanya sebuah tahayul yang dibuat-buat untuk menakuti anak-anak agar tidak keluyuran malam hari.<\/p>\n<p>Karena sudah tidak begitu mempercayai mitos itu, warga segera melupakannya. Mereka seperti tidak peduli dengan segala peristiwa yang pernah terjadi mengenai kasus gantung diri di desa-desa lain. Cuma pagi itu, saat melihat kematian aneh si janda secara langsung, orang-orang yang sempat meragukan mitos tersebut seketika masygul.<\/p>\n<p>\u201cKita harus segera menguburkan dan membuat ruwat desa!\u201d Ketua adat menatap warganya. \u201cPokoknya jangan sampai membawa masalah bagi penduduk lain.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi apakah benar kematian wanita ini karena <em>pulung gantung<\/em>?\u201d Kepala desa masih meragukan. &#8220;Itu hanya mitos yang tidak kita ketahui kebenarnaya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApakah cara kematian wanita ini kurang menjelaskan?\u201d Ketua adat kukuh memberikan pengertian. \u201cKematian karena <em>pulung gantung<\/em> sering berdampak buruk bagi desa lainnya.\u201d<\/p>\n<p>Ada kepercayaan yang sampai sekarang masih diamini oleh orang-orang dahulu, yaitu bila seseorang ditemukan mati gantung diri, arah wajah si mati itu akan membawa kutukan bagi desa atau rumah yang dipandangnya. Wajah dan mata wanita itu mati menghadap ke arah barat. Jadi mungkin sebentar lagi kampung atau rumah yang tak jauh dari tempat wanita ini ditemukan akan terkena kesialan. Jika hal itu terjadi, maka secara sosial desa Kelor harus membayar denda kutukan <em>pulung gantung<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cBaiklah,\u201d putus kepala desa merasa terdesak. \u201cSaya ikuti seluruh keingian anda.\u201d<\/p>\n<p>Pagi itu pemakaman pun dilakukan. Sebelum pukul 08.00, si mayat sudah dikuburkan tanpa berita lelayu atau doa-doa. Kemudian, seluruh warga desa pun melakukan bersih desa secara rahasia pula.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Tiga hari setelah kematian wanita itu kehidupan berjalan normal. Tak ada kabar muram yang menyusul seperti yang didengungkan ketua adat mengenai kutuk yang menimpa setiap orang. Tapi warga desa Kelor tetap bungkam membicarakan kejadian itu. Obrolan di <em>alas<\/em> dan Balai Desa juah dari peristiwa muram tersebut. Warga menganggap hal itu tidak pernah terjadi. Namun seminggu menjelang, seorang warga, bernama Tukiman, menjelaskan kalau dirinya beberapa kali melihat gerombolan anjing liar di desa.<\/p>\n<p>Munculnya para anjing liar itu diikuti dengan berembus kabar kalau banyak kambing dan anak sapi yang mati mengenaskan di desa Wiladeg<em>.<\/em> Desa Wiladeg sendiri adalah desa yang berbatas langsung dengan desa Kelor di sisi Barat persis dengan arah wajah si janda yang mati menghadap ke barat. Di desa Wiladeg, banyak hewan ternak mati dengan tercabik-cabik tubuhnya di kandang.<\/p>\n<p>\u201cApakah kematian kambing-kambing dan anak sapi itu karena <em>pulung gantung<\/em>?\u201d Warga Kelor mulai risau. \u201cSemoga bukan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cItu pasti ulah hewan liar biasa!\u201d Warga lainnya saling menenangkan.<\/p>\n<p>Tidak ingin membebani diri dengan ketakutan, sebagian warga percaya pembunuh hewan-hewan itu adalah hewan liar biasa. Namun, kematian hewan-hewan ternak mulai tidak masuk akal. Ada beberapa kasus hewan ternak mati hanya menyisakan tubuh tanpa jantung; pernah juga mati dengan kehilangan alat kelamin; atau mati dengan tubuh kering tanpa darah. Kematian tidak wajar hewan itu melahirkan ketakutan bagi warga.<\/p>\n<p>Malam di desa Kelor akhirnya seperti kuburan tua Jawa. <em>Lincak-lincak *(2) <\/em>yang biasanya ramai untuk bermain kartu atau menggosip seputar tanaman menjadi sepi. Tarno sendiri sebagai warga dan ketua RW merasa tidak diuntungkan dengan keadaan warganya. Ia berusaha menuntut kepada kepala desa kejadian itu.<\/p>\n<p>\u201cAku sudah mendengarnya,\u201d kata kepala desa. \u201cAku juga sudah mendengar semua kematian ganjil hewan-hewan ternak itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIni bukan ulah hewan buas biasa.\u201d Tarno bercerita. \u201cPasti ada hubungannya dengan kematian si janda.\u201d<\/p>\n<p>Kepala desa tertegun. Sepasang matanya melompat ke arah Tarno. <em>Desa akan riuh dengan mitos ganjil itu<\/em>, gumam kepala desa. Kepala desa juga ingat sebentar lagi musim politik datang. Hal itu hanya akan menambah kekisruhan warga karena dapat terpecah belah.<\/p>\n<p>\u201cKita jangan melakukan apapun!\u201d cetus kepala desa.<\/p>\n<p>Tarno akhirnya pulang tidak mendapatkan solusi dari kepala desa. Tapi ia tidak menyerah menuntut keamanan desanya. Ia mendatangi kepala adat.<\/p>\n<p>\u201cAku tahu kalau kau ingin menceritakan soal matinya hewan-hewan itu. Ini ulah <em>Pulung Gantung<\/em>. Wujud aslinya memang cahaya merah. Tetapi, <em>Pulung Gantung<\/em> juga bisa berubah menjadi hewan liar seperti anjing atau harimau. Kalian tahu <em>Pulung Gantung<\/em> juga bisa dimanfaatkan untuk mencari ilmu hitam dan jimat!\u201d<\/p>\n<p>Tarno sebagai pria yang sudah cukup lama tinggal di desa Kelor, acap mendengar cerita <em>Pulung Gantung<\/em> dapat menjelma hewan buas. Ia pernah mendengar pula kalau <em>Pulung Gantung <\/em>dapat digunakan untuk jimat dengan memberi tumbal. Bila musim politik datang dahulu, sering ia melihat cahaya yang berterbangan di atas genting, lalu hinggap dan mengabarkan kabar duka.<\/p>\n<p>\u201cKita harus mengadakan bersih desa lagi,\u201d tambah ketua adat. \u201cSebentar lagi kita juga akan memasuki musim politik. Jangan sampai warga kampung di sini mati menjadi tumbal.\u201d<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Seminggu kemudian bersih desa dilakukan. Kepala desa sempat melarang prosesi tersebut. Kalah suara, kepala desa akhirnya mengikuti keinginan warga. Masyarakat Kelor dikumpulkan di Balai Desa. Mereka kemudian berkeliling sembari mengarak kuda lumping. Di setiap pohon, sungai, atau simpang jalan diletakkan <em>sajen.<\/em> Selain itu, sebelum pulang, warga desa diberikan tangkai padi muda untuk diletakan di depan rumah sebagai cara menolak roh jahat.<\/p>\n<p>\u201cSemoga seluruh kutukan ini pergi,\u201d harap ketua adat. \u201cSemoga leluhur melindungi kita.\u201d<\/p>\n<p>Mitos kematian itu\u2014setelah bersih desa\u2014mulai menghilang. Namun ketika musim politik tiba, mendadak Tarno melihat lagi cahaya merah melintas di atas pohon jati rumahnya. Cahaya mereh itu diikuti anjing-anjing berjumlah sembilan ekor yang berjalan cepat. Dengan bergetar, Tarno memastikan arah larinya anjing-anjing dan <em>pulung gantung <\/em>itu.<\/p>\n<p>\u201cKutukan apa lagi ini?\u201d Tarno ketakutan.<\/p>\n<p>Cahaya itu terus terbang dan diikuti anjing-anjing liar ke arah rumah Tukiman yang baru saja terkena PHK pabrik tepung di kota. Tarno pun tidak bisa tidak menahan kencing di celananya saat melihat seekor anjing liar berubah menjadi kepala desa. Kepala desa lantas masuk ke rumah Tukiman. Tarno segera berlari menyelamatkan diri.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Pagi harinya, kentongan bertalu. Seluruh warga desa melihat tubuh Tukiman tergantung dengan posisi bersimpuh dengan selendang menceret lehernya. Wajah Tukiman pucat menghadap ke timur. Lalu, selang tak lama, kepala desa datang dengan tingkah tidak percaya atas kejadian itu. Melihat wajah kepala desa, Tarno mendadak ingat kalau kepala desa tahun ini akan mencalonkan diri sebagai lurah. (*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>==<\/p>\n<p><strong>**Risda Nur Widia.<\/strong> Kini sedang menempuh program doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra\u00a0Indonesia,\u00a0UNY.<\/p>\n<p><strong>*(1)<\/strong> Tumbal Pulung adalah nama lain dari <em>Pulung Gantung<\/em>, mitos lokal kematian di Wonosari, Gunung Kidul Jogja. Mitos ini selalu disertai dengan peristiwa gantung diri yang sering terjadi di sana.<\/p>\n<p><strong>*(2)<\/strong><em> Lincak-lincak<\/em>, pos ronda<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>26 Februari 2023 Pulung Gantung *(1) Oleh : Risda Nur Widia** &nbsp; Tujuh koak gagak pagi itu menyeret kabar kematian seorang janda di desa Kelor. Kentongan ribut bertalu mengabarkan duka pada setiap telinga yang mendengarnya. Berduyun-duyun orang berkumpul mengamati tubuh si janda yang ternyata telah kaku terbaring di atas ranjang dengan leher terjerat tampar berwarna &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Pulung Gantung<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":257,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-253","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pulung Gantung - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pulung Gantung - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"26 Februari 2023 Pulung Gantung *(1) Oleh : Risda Nur Widia** &nbsp; Tujuh koak gagak pagi itu menyeret kabar kematian seorang janda di desa Kelor. Kentongan ribut bertalu mengabarkan duka pada setiap telinga yang mendengarnya. Berduyun-duyun orang berkumpul mengamati tubuh si janda yang ternyata telah kaku terbaring di atas ranjang dengan leher terjerat tampar berwarna &hellip; Pulung Gantung Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-02-26T02:26:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-02-26T02:27:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/thumbnail-ilustrasi-cerpen-pulung-gantung.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/\",\"name\":\"Pulung Gantung - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-02-26T02:26:05+00:00\",\"dateModified\":\"2023-02-26T02:27:17+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pulung Gantung\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pulung Gantung - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pulung Gantung - LiteraSIP","og_description":"26 Februari 2023 Pulung Gantung *(1) Oleh : Risda Nur Widia** &nbsp; Tujuh koak gagak pagi itu menyeret kabar kematian seorang janda di desa Kelor. Kentongan ribut bertalu mengabarkan duka pada setiap telinga yang mendengarnya. Berduyun-duyun orang berkumpul mengamati tubuh si janda yang ternyata telah kaku terbaring di atas ranjang dengan leher terjerat tampar berwarna &hellip; Pulung Gantung Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2023-02-26T02:26:05+00:00","article_modified_time":"2023-02-26T02:27:17+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/thumbnail-ilustrasi-cerpen-pulung-gantung.webp","type":"image\/webp"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/","name":"Pulung Gantung - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2023-02-26T02:26:05+00:00","dateModified":"2023-02-26T02:27:17+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulung-gantung\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pulung Gantung"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=253"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":260,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253\/revisions\/260"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/257"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=253"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=253"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=253"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}