{"id":308,"date":"2023-03-19T02:21:45","date_gmt":"2023-03-19T02:21:45","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=308"},"modified":"2023-03-19T02:21:45","modified_gmt":"2023-03-19T02:21:45","slug":"pulau-pulau-pengantar-patah-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/","title":{"rendered":"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati"},"content":{"rendered":"<p>19 Maret 2023<\/p>\n<h1><strong>Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh : Farizal Sikumbang*<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-311 size-large\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati-1024x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Seorang perempuan patah hati suatu hari datang ke pulauku dengan hasrat mencari bahagia. Namun dua minggu sebelum kedatangannya, seorang kenalan lama menelponku. Jika laki-laki itu tidak mengenalkan\u00a0 dirinya terlebih dahulu, tentulah aku tidak tahu siapa yang menghubungiku itu. Sebab sudah lebih lima belas tahun lamanya, aku sengaja menghapus namanya \u00a0di ponselku karena suatu kebencian yang akan aku kisahkan.<\/p>\n<p>\u201cApa kau sehat-sehat saja, Darman?\u201d tanyanya<\/p>\n<p>\u201cAku sehat-sehat aja sejak kepergianmu,\u201d \u00a0balasku.<\/p>\n<p>\u201cOh ya, kudengar kau sekarang menetap di Pulau Derawan. Sudah jadi <em>guide<\/em> sekarang, ya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa, aku punya perahu mesin. Siap mengantar para pelancong bila ingin ke pulau-pulau di kampungku,\u201d\u00a0 kataku lagi.<\/p>\n<p>\u201cYa, ya. Begini maksudku, Darman,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cApa maksudmu?\u201d tanyaku.<\/p>\n<p>\u201cAku mohon bantuanmu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBantuan apa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku punya anak perempuan. Ia sedang mengalami kesedihan yang tak bisa aku lukiskan. Intinya, ia baru bercerai. Ia sering mengurung diri di kamar. Istriku, dan aku sudah lelah menghiburnya. Terakhir ia mengatakan padaku ingin pergi ke suatu tempat yang dapat membuatnya bahagia. Ia katanya ingin ke Bali. Tapi kami sarankan agar ia ke Berau. Apalagi itu kan kampung halaman ibunya juga. Dan ia setuju. Nanti, kau antarkanlah ia berkeliling ke pulau-pulau lainnya.di Berau. Kau bisa bawa ia ke pulau Derawan atau Maratua ya. Aku yakin, setelah ia berkunjung ke pulau-pulau yang ada di kampungmu, ia akan dapat melupakan mantan suaminya yang brengsek itu. Kau tak usah takut soal biaya. Aku paham ini tidak gratis. Oh ya, jangan lupa kau kenalkan ia pada istrimu, ya.\u201d<\/p>\n<p>Aku tidak menjawab. Rupanya Jauhari tidak tahu jika aku tak pernah menikah sejak ia mematahkan hatiku.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Arai, perempuan patah hati itu telah berada di Pulau Derawan. Dan sore ini aku menjumpainya.<\/p>\n<p>\u201cMaaf, agak terlambat datang,\u201d ujarku. Karena menyadari bahwa senja akan berganti malam dan aku merasa sudah terlambat menemuinya.<\/p>\n<p>Arai memandangku sejenak. Lalu matanya kembali di arahkan ke laut lepas.<\/p>\n<p>\u201cTidak apa-apa,\u201d jawabnya kemudian.<\/p>\n<p>Dan dengan pelan aku duduk di depannya. Aku dan dia hanya dipisahkan oleh meja kayu yang memanjang. Ia menghadap ke laut lepas dan aku menghadap ke arah pulau Derawan.<\/p>\n<p>\u201cTolong kisahkan tentang asal usul pulau ini,\u201d ujarnya mengagetkanku.<\/p>\n<p>\u201cApakah ibumu tidak berkisah?\u201d tanyaku.<\/p>\n<p>\u201cPernah, \u00a0tapi, akan lebih menyenangkan dan terasa dramatis diceritakan ketika aku berada di dalam latar kisah yang akan diceritakan. Iya kan, Pak?\u201d katanya tersenyum.<\/p>\n<p>Aku membalas senyumanya. Tapi, tiba-tiba saja aku membayangkan jika yang ada ada di depanku itu bukanlah Arai, tapi seseorang lain yang menyerupainya. Ia bernama Maharati.<\/p>\n<p>Maharati? Ah.<\/p>\n<p>Perkenalanku dengan Maharati terjadi di sebuah acara adat. Saat itu aku melihat Maharati sedang memperagakan tari <em>kancet ledo<\/em> di lamin desa diiringi musik sape. Dua tangannya memegang bulu burung enggang. Kaki dan tanganya bergerak mengikuti alunan musik. Aku bukan hanya terpesona pada tariannya, tapi jauh daripada itu, kecantikan Maharati.<\/p>\n<p>Usai pertunjukan, aku berkenalan dengan Maharati. Ia perempuan yang ramah dan dengan antusias menerima perkenalanku. Kami berbicara beberapa hal yang menjurus pada hal-hal yang bersifat pribadi. Dan hari itu sungguh sangat menyenangkan.<\/p>\n<p>Pertemuan kami terus berlanjut pada hari-hari lainnya. Maksudku, jika hari libur tiba, tidak jarang aku berkunjung ke rumahnya. Sesekali aku tidak pergi sendiri, tapi di temani Jauhari. Teman satu kos-ku.<\/p>\n<p>Suatu hari aku pernah mengajak Maharati ke pulau Derawan. Aku pernah mengisahkan tentang asal-usul penamaaan pulau itu padanya.<\/p>\n<p>\u201cTentang asal-usul pulau Derawan, begini kisahnya Maharati,\u201d kataku. \u201cKonon, dulu kabarnya, ada seorang laki-laki bernama si Dalak, ia mengarungi lautan mencari keluarganya yang hilang karena perahu yang mereka tumpangi pecah di lautan. Si Dalak yang selamat terus mencari keluarganya sambil \u00a0berlayar. Berhari-hari ia berlayar mencari saudaranya yang hilang di lautan. Suatu waktu ia sampai di lautan yang ada di Berau. Ketika ia melihat sebuah pulau, si Dalak pun singgah di pulau itu. Ia berharap di sana \u00a0akan menemukan keluarganya. Tapi ternyata pulau itu tak berpenghuni. Karena pulau itu tak bernama, maka si Dalak memberinya\u00a0 nama pulau Derawan atau Pulau Perawan. Ia memberikan nama itu sebagai kenangan untuk anak gadisnya yang hilang,\u201d begitu kisahku pada Maharati tentang penamaan asal muasal penamaan pulau Derawan.<\/p>\n<p>\u201cSelanjutnya si Dalak terus berlayar mencari keluarganya yang hilang. Dalam keputusasaan, si Dalak kembali melihat sebuah pulau yang cukup besar. Dengan sekuat tenaga, si Dalak merapatkan perahunya ke pulau itu. Ia berharap\u00a0 akan bertemu dengan keluarganya, apakah itu istri, atau mertuanya. Tapi setelah\u00a0 menyusuri pulau itu ia tetap saja tidak menemukan siapapun. Sebelum meninggalkan pulau tak berpenghuni itu, si Dalak memberinya nama pulau Maratua, sebagai penghormatan untuk mertuanya yang hilang.\u201d<\/p>\n<p>Aku juga hendak menceritakan perihal \u00a0asal-usul penamaan pulau Kakaban dan pulau Laki pada Maharati, tapi ia \u00a0telah memotong penjelasanku.<\/p>\n<p>\u201cBerarti si Dalak sangat penyayang\u00a0 kepada keluarganya ya,\u201d kata Maharati padaku.<\/p>\n<p>\u201cYa, ya,\u201d jawabku. \u201cBuktinya si Dalak telah menamakan beberapa pulau lainnya sebagai nama keluarganya. Pulau Kakaban itu merupakan wujud cintanya pada kakaknya. Serta\u00a0 pulau Laki juga wujud cintanya pada anak laki-lakinya yang hilang,\u201d kataku.<\/p>\n<p>\u201cAku ingin punya suami seperti itu,\u201d ujar Maharati \u00a0sambil tertawa dengan menutup mulut.<\/p>\n<p>Aku pun tersenyum dikulum. Sejak itu aku semakin menyukai Maharati. Tapi bodohnya, aku tidak pernah menyatakan kesukaanku padanya.<\/p>\n<p>Dan celakanya, suatu hari\u00a0 telah kudapat kabar, jika Jauhari telah mengawini Maharati dan memboyongnya ke Jakarta. Kabar itu membuatku sempoyongan. Aku tidak tahu bagaimana caranya Jauhari memikat Maharati. Aku sangat benci pada Jauhari. Sampai-sampai namanya kuhapus di ponselku. Kuingin ia hilang dalam kisah hidupku. Hilang bersama\u00a0 Maharati.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Tapi kini sosok Maharati tampil di depanku. Ia adalah Arai. Anak Maharati. Aku tidak tahu, apakah Jauhari sengaja kembali menikam hatiku untuk kedua kalinya dengan mengirimkan anaknya padaku. Atau malah Maharati sengaja mengirimkan Arai untuk terus mengabadikan lukaku.<\/p>\n<p>\u201cAyo, kisahkanlah tentang asal usul pulau-pulau itu padaku,\u201d ujar Arai mengagetkanku.<\/p>\n<p>\u201cYa, ya, \u201c jawabku gugup.<\/p>\n<p>Aku berkisah pada Arai seperti juga aku pernah berkisah pada Maharati puluhan tahun silam.<\/p>\n<p>Setelah aku usai bercerita, ponselku berbunyi. Rupanya dari \u00a0Jauhari.<\/p>\n<p>\u201c Hai Darman, apakah Arai bersamamu?\u201d Tanyanya.<\/p>\n<p>Aku terdiam. Aku tidak menjawab. Aku mematikan ponselku. Sungguh, malam ini aku ingin berdua \u00a0saja bercerita bersama Arai.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>*) <strong>Berau-Banda Aceh, 2020<\/strong><\/p>\n<p><strong>*Farizal Sikumbang<\/strong> lahir di Padang. Perajin Prosa. Bekerja di Provinsi Aceh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>19 Maret 2023 Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati Oleh : Farizal Sikumbang* &nbsp; Seorang perempuan patah hati suatu hari datang ke pulauku dengan hasrat mencari bahagia. Namun dua minggu sebelum kedatangannya, seorang kenalan lama menelponku. Jika laki-laki itu tidak mengenalkan\u00a0 dirinya terlebih dahulu, tentulah aku tidak tahu siapa yang menghubungiku itu. Sebab sudah lebih lima belas &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":310,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-308","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"19 Maret 2023 Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati Oleh : Farizal Sikumbang* &nbsp; Seorang perempuan patah hati suatu hari datang ke pulauku dengan hasrat mencari bahagia. Namun dua minggu sebelum kedatangannya, seorang kenalan lama menelponku. Jika laki-laki itu tidak mengenalkan\u00a0 dirinya terlebih dahulu, tentulah aku tidak tahu siapa yang menghubungiku itu. Sebab sudah lebih lima belas &hellip; Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-03-19T02:21:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/thumbnail-ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/\",\"name\":\"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-03-19T02:21:45+00:00\",\"dateModified\":\"2023-03-19T02:21:45+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati - LiteraSIP","og_description":"19 Maret 2023 Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati Oleh : Farizal Sikumbang* &nbsp; Seorang perempuan patah hati suatu hari datang ke pulauku dengan hasrat mencari bahagia. Namun dua minggu sebelum kedatangannya, seorang kenalan lama menelponku. Jika laki-laki itu tidak mengenalkan\u00a0 dirinya terlebih dahulu, tentulah aku tidak tahu siapa yang menghubungiku itu. Sebab sudah lebih lima belas &hellip; Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2023-03-19T02:21:45+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/thumbnail-ilustrasi-cerpen-pulau-pulau-pengantar-patah-hati.webp","type":"image\/webp"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/","name":"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2023-03-19T02:21:45+00:00","dateModified":"2023-03-19T02:21:45+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pulau-pulau-pengantar-patah-hati\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=308"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":313,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/308\/revisions\/313"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/310"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=308"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=308"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=308"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}