{"id":362,"date":"2023-04-16T08:23:28","date_gmt":"2023-04-16T08:23:28","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=362"},"modified":"2023-04-16T08:23:28","modified_gmt":"2023-04-16T08:23:28","slug":"sekeping-hati-dalam-kardus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/","title":{"rendered":"Sekeping Hati Dalam Kardus"},"content":{"rendered":"<p>16 April 2023<\/p>\n<h1><strong>Sekeping Hati Dalam Kardus<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh : Wahyu Arshaka*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-364\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"700\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus-1536x1536.jpg 1536w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketika Gunardo sedang menikmati secangkir kopi, Sarjinah, pembantunya\u00a0 datang dari arah depan sambil membawa kiriman paket, sebuah kotak kardus terbungkus koran dan sepucuk surat dengan amplop warna biru. Lalu kiriman paket itu diletakkan dihadapan Gunardo, sejenak dia tertegun dan kemudian dengan ragu dia pun membuka amplopnya. Ada secarik kertas dengan tulisan tangan tinta warna hitam.<\/p>\n<p><em>\u201cAku kirimkan hati nuraniku buatmu, karena kutahu hati nuranimumu sudah kau gadaikan demi jabatan. Aku yakin otakmu masih bisa bernalar dengan baik, tapi karena tidak punya nurani makanya tidak bisa melihat kebenaran tapi sibuk mencari pembenaran. Hatiku masih dalam kondisi baik, masih memiliki nurani di<\/em> <em>dalamnya. Semoga kau bisa memakainya, menggantikan nuranimu yang kau gadaikan!\u201d<\/em><\/p>\n<p>Gunardo terdiam dengan wajah merah padam, kertas yang dipegangnya dilumat dalam kepalan tangan. Dia menatap nyalang\u00a0 kotak kardus, terlihat ada darah segar yang membasahi koran. Bau amis pun perlahan menusuk hidung. Lalu tanpa pikir panjang Gunardo meminta Sarjinah untuk membuangnya ke tempat sampah.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Setiba di kantor, pikiran Gunardo masih terasa kusut. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum pun kini nampak cemberut. Dia bergegas menuju ruang kerja, orang-orang yang berusaha menyapa, dibiarkan saja tanpa dibalas.<\/p>\n<p>Ketika tiba di ruangan, Gunardo kembali dibuat terhenyak.\u00a0 ternyata kotak kardus itu ada di atas meja kerja. Kertas korannya makin terlihat basah dengan darah, bahkan meja pun nampak ikutan basah. Di atas kardus, kembali tergeletak sepucuk surat dengan amplop warna biru.<\/p>\n<p>Dengan kalut Gunardo memanggil sopirnya lewat ponsel. Kemudian dia buka amplop warna biru itu sambil mengatupkan gerahamnya sehingga giginya beradu. Dibukanya selembar kertas dengan beberapa baris kalimat tertera.<\/p>\n<p><em>\u201cHargailah pengorbananku! Yang sudah menyayat dadanya sendiri demi mengambil hati untukmu. Ini gratis, tak perlu kau bayar. Kau tinggal memakainya saja! Gitu aja kok repot!\u201d<\/em><\/p>\n<p>Kembali Gunardo melumatkan kertas dalam kepalan tangan, lalu dilemparkan ke tempat sampah. Dan saat kertas itu mendarat, ketika itu pula pintu diketuk.<\/p>\n<p>\u201cMasuk!\u201d teriak Gunardo.<\/p>\n<p>Pintu didorong perlahan, Pak Sopir masuk dengan menunduk dan ragu melangkah.<\/p>\n<p>\u201cKau kuburkan kotak itu!\u201d ucap Gunardo sambil merogoh selembar uang seratus ribu, \u201cIni buatmu, ambilah!\u201d<\/p>\n<p>Dengan tangan gemetar Pak Sopir memegang lembaran uang, lalu ia menatap Gunardo.<\/p>\n<p>\u201cJangan bengong! Kuburkan sekarang!\u201d<\/p>\n<p>Pak Sopir langsung mengambil kotak itu dan buru-buru menghilang di balik pintu.<\/p>\n<p>Dada Gunardo terlihat kembang kempis memompa napas yang menderu. Amarah yang terpendam semakin membuat kalut pikiran. Dia hempaskan tubuhnya ke kursi kulit di belakang meja. Terdiam sesaat, meredakan amarah yang membuatnya kepayahan.<\/p>\n<p>Gunardo buka ponsel dan melihat <em>twitter<\/em>, dia telusuri beragam postingan. Siapa tahu ada yang membuat pengakuan sudah memberikan hati nurani untuknya. Tapi ternyata tidak ada. Bahkan yang mengkritiknya sedikit sekali, kebanyakan mereka\u00a0 mendukung. Karena memang Gunardo begitu rajin mem<em>block<\/em> akun-akun yang mengkritiknya.<\/p>\n<p>\u201cMungkin dia orang yang sudah aku <em>block<\/em>!\u201d ungkap Gunardo dalam batin.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Maghrib sudah terlewat. Gunardo baru pulang dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan. Tapi dia merasa sedikit tenang karena sopirnya mengatakan sudah menguburkan kardus di tempat pemakaman umum. Gunardo berharap hati itu sudah tenang dan tak kembali gentayangan.<\/p>\n<p>Dia langsung masuk ruang kerja tanpa mandi dan ganti baju. Kepada istrinya dia berpesan tidak ingin diganggu karena masih ada pekerjaan yang harus dituntaskan. Istrinya sudah bisa menerka, Gunardo akan melepas lelah di ruang kerja.<\/p>\n<p>Baru saja pintu ruang kerja dibuka. Gunardo langsung melihat sesuatu yang membuatnya tersentak setengah mati. Kotak kardus itu kembali ada di atas meja kerja dengan darah yang sudah kering. Bergegas dia memanggil supirnya, yang sedang minum kopi bersama satpam di pos rumahnya.<\/p>\n<p>Tak lama berselang Pak Sopir datang dengan gestur kebingugan. Gunardo menunjuk kotak kardus itu. Pak Sopir tersentak dan garuk-garuk kepala.<\/p>\n<p>\u201cSaya sudah menguburkannya, kenapa bisa ada di sini!\u201d ujarnya dengan suara gemetar!<\/p>\n<p>\u201cYakin sudah kamu kubur?\u201d tanya Gunardo dengan nada penuh tekanan.<\/p>\n<p>\u201cSudah Tuan, saya kerjakan dengan rapi!\u201d Pak Sopir tak berani menatap.<\/p>\n<p>Gunardo melipat tangan di dada.\u201dYa sudah, pulanglah!\u201d<\/p>\n<p>Kini Gunardo sendirian di dalam ruang kerja. Duduk terdiam menatap kotak itu.\u00a0 Otaknya berputar mencari langkah untuk melenyapkan hati di kotak kardus itu. Ketika rokok habis dihisap, Gunardo mengambil pisau yang tersimpan dalam laci; dia robek-robek kotak kardus itu sampai terlihat seonggok hati yang masih basah dan berdenyut.<\/p>\n<p>Dengan dingin dia tusuk hati itu, darah perlahan mengalir. Kemudian dipotong-potong menjadi beberapa irisan kecil. Lantas dipidahkan ke piring yang tergeletak di meja. Setelah itu Gunardo kembali terdiam, tenggelam dalam kebingungan. Tapi beberapa saat kemudian dia bangkit dan membawa hati di piring itu ke halaman belakang.<\/p>\n<p>\u201cBeno, Benooo, Benooo!\u201d ucapnya pelan sambil senyum-senyum setelah menemukan anjing yang sedang tidur-tiduran di dekat kolam.<\/p>\n<p>Gunardo\u00a0 meletakkan kepingan hati itu tepat depan hidung Beno. Anjing itu pun langsung mengendus-endus dan lindahnya menjulur. Lantas irisan-irisan hati itu langsung disantapnya dalam sekejap. Gunardo langsung tertawa-tawa dan kembali berjalan menuju ruang kerjanya untuk meredakan segala kepenatan.<\/p>\n<p>Pagi kembali tiba, Gunardo yang sudah berpakaian rapi, duduk menghadap meja makan. Setelah meletakan ponsel, dia membuka tutup saji. Dia tersentak, wajahnya mendadak pucat. Gunardo melihat kepingan hati yang masih berdarah dan berdenyut tersaji di piring.<\/p>\n<p>\u201cItu kiriman Bapak dan Ibu, juga saudara-saudara di kampung. Mereka malu melihat Mas tampil di televisi, terlihat cerdas tapi gelap hati karena tidak memiliki hati nurani!\u201d terdengar suara istri Gunardo dari arah belakang.<\/p>\n<p>Gunardo makin terlihat pucat, bingung dan kalut!<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><strong>*W<\/strong><strong>ahyu Arshaka<\/strong>, Seorang guru di SDIT Al Jihad, Pedes, Karawang<em>. <\/em>Cerpen-cerpennya tersiar di media cetak dan online.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>16 April 2023 Sekeping Hati Dalam Kardus Oleh : Wahyu Arshaka* &nbsp; &nbsp; Ketika Gunardo sedang menikmati secangkir kopi, Sarjinah, pembantunya\u00a0 datang dari arah depan sambil membawa kiriman paket, sebuah kotak kardus terbungkus koran dan sepucuk surat dengan amplop warna biru. Lalu kiriman paket itu diletakkan dihadapan Gunardo, sejenak dia tertegun dan kemudian dengan ragu &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Sekeping Hati Dalam Kardus<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":365,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sekeping Hati Dalam Kardus - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sekeping Hati Dalam Kardus - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"16 April 2023 Sekeping Hati Dalam Kardus Oleh : Wahyu Arshaka* &nbsp; &nbsp; Ketika Gunardo sedang menikmati secangkir kopi, Sarjinah, pembantunya\u00a0 datang dari arah depan sambil membawa kiriman paket, sebuah kotak kardus terbungkus koran dan sepucuk surat dengan amplop warna biru. Lalu kiriman paket itu diletakkan dihadapan Gunardo, sejenak dia tertegun dan kemudian dengan ragu &hellip; Sekeping Hati Dalam Kardus Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-04-16T08:23:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/thumbnail-ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/\",\"name\":\"Sekeping Hati Dalam Kardus - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-04-16T08:23:28+00:00\",\"dateModified\":\"2023-04-16T08:23:28+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sekeping Hati Dalam Kardus\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sekeping Hati Dalam Kardus - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sekeping Hati Dalam Kardus - LiteraSIP","og_description":"16 April 2023 Sekeping Hati Dalam Kardus Oleh : Wahyu Arshaka* &nbsp; &nbsp; Ketika Gunardo sedang menikmati secangkir kopi, Sarjinah, pembantunya\u00a0 datang dari arah depan sambil membawa kiriman paket, sebuah kotak kardus terbungkus koran dan sepucuk surat dengan amplop warna biru. Lalu kiriman paket itu diletakkan dihadapan Gunardo, sejenak dia tertegun dan kemudian dengan ragu &hellip; Sekeping Hati Dalam Kardus Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2023-04-16T08:23:28+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/thumbnail-ilustrasi-cerpen-sekeping-hati-dalam-kardus.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/","name":"Sekeping Hati Dalam Kardus - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2023-04-16T08:23:28+00:00","dateModified":"2023-04-16T08:23:28+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/sekeping-hati-dalam-kardus\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sekeping Hati Dalam Kardus"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=362"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":367,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362\/revisions\/367"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/365"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}