{"id":446,"date":"2023-05-28T02:10:19","date_gmt":"2023-05-28T02:10:19","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=446"},"modified":"2023-05-28T02:10:55","modified_gmt":"2023-05-28T02:10:55","slug":"aku-saja-yang-gila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/","title":{"rendered":"AKU SAJA YANG GILA"},"content":{"rendered":"<p>28 Mei 2023<\/p>\n<h1><strong>AKU SAJA YANG GILA<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Sahari Nor Wakhid*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-448\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilustrasi-cerpen-aku-saja-yang-gila.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilustrasi-cerpen-aku-saja-yang-gila.jpg 1080w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilustrasi-cerpen-aku-saja-yang-gila-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilustrasi-cerpen-aku-saja-yang-gila-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilustrasi-cerpen-aku-saja-yang-gila-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilustrasi-cerpen-aku-saja-yang-gila-768x768.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Aku telah dianggap gila. Setidaknya, begitu menurut temanku. Aku sendiri juga heran mengapa bisa demikian. Aku sadar bahwa ada bagian yang tak bisa lagi kukendalikan. Kewarasan nalarku terasa digerogoti perlahan oleh keadaan. Serupa terperangkap dalam gelap tanpa seberkas cahaya.<\/p>\n<p>Butiran air hujan di luar memukuli atap seng. Menciptakan paduan suara riuh. Memang, bangunan sekolah ini semuanya beratap seng. Itu sudah standar dari perusahaan dan yayasan yang membuat sekolah ini. Tapi suara riuh hujan seakan tak terdengar di kupingku. Lebih riuh suara dalam pikiranku.<\/p>\n<p>Seperti orang gila. Entah sudah berapa lama aku terpaku di depan laptop yang menampilkan logo windows 10. Ketika layarnya padam, kuaktifkan lagi melalui <em>touchpad<\/em>. Begitu kulakukan berulang-ulang.<\/p>\n<p>\u201cMau sampai kapan kamu begitu, Sifa?\u201d tanya Rama, teman curhatku.<\/p>\n<p>\u201cAku juga tidak tahu, Ram.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKamu harus berani, dong! Jangan mau ditindas terus!\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku belum bisa menentukan sikap.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHaruslah. Penting itu. Kasihani dirimu. Semangat terus pokoknya. Aku masuk kelas dulu, ya!\u201d<\/p>\n<p>Begitulah nasihat Rama di depan meja kerjaku yang justru membuatku semakin limbung. Rama adalah lelaki yang cukup lama kukenal. Selain sebagai rekan kerja, ia juga selalu nyaman diajak bicara. Pandai menyimpan rahasia. Tak berubah sedikit pun sifat baiknya, dari sebelum menikah hingga sekarang sudah memiliki dua orang anak.<\/p>\n<p>Rama juga mengenal baik sifat suamiku. Tak jarang aku meminta pendapatnya. Terkadang, aku memintanya untuk sekadar memberitahu atau meluruskan pemahaman suamiku. Rama telah dianggap kompeten oleh suamiku. Sering juga ia dimintai pertimbangan mengenai kebijakan sekolah. Suara Rama lebih didengar daripada aku. Tapi, nasihat Rama kali ini belum bisa kuikuti.<\/p>\n<p>Siang ini, suasana ruang guru setelah jam istrihat terasa sungguh menyesakkan. Kebetulan aku sedang tidak ada jam mengajar. Duduk terpaku di meja kerja. Pikiranku dipenuhi bayangan seorang wanita yang kerap diidamkan oleh suamiku. Aku selalu dibandingkan dengannya. Aku dituntut menjadi sepertinya. Gila.<\/p>\n<p>\u201cCoba kalau berdandan itu seperti Dila agar menunjukkan kesan wibawanya sebagai istri kepala sekolah,\u201d ucap suamiku suatu waktu.<\/p>\n<p>Aku hanya bisa merengut. Menahan kecamuk perasaan. Sebagai istri yang harus membesarkan tiga orang anak, tak pernah alpa tugasku melayani suami. Membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan segala pekerjaan rumah lainnya kukerjakan. Belum lagi tanggung jawabku sebagai seorang guru.<\/p>\n<p>Suamiku begitu tersihir dengan paras cantik Dila. Postur tubuh tinggi semampai dengan liuk lekuk tubuh yang merampok setiap pasang mata lelaki. Banyak lebihnya dibandingkan postur tubuhku yang tidak ideal. Tinggi badanku di bawah rata-rata. Dalam bahasa sarkastis, biasa disebut pendek. Aku insaf bahwa tak mungkin bisa menyamai Dila. Tampilan fisik sudah menjadi ketetapan Tuhan.<\/p>\n<p>Aku dan Dila memang satu kantor. Berstatus sama sebagai guru di sekolah swasta. Dila sudah bersuami dan memiliki anak. Ironisnya, status itu tak menjadikannya berhenti tebar pesona. Memang, itu urusan pribadi. Dila boleh saja begitu. Dila layak begitu karena memang sesuai dengan parasnya. Aku bukan iri. Tapi, perangai suamiku saja yang kusesalkan.<\/p>\n<p>Mengapa harus memuji wanita lain di hadapan istri sendiri? Apa aku kurang bisa memuaskan? Apa memang rumput tetangga selalu lebih hijau sehingga lupa dengan rumput sendiri?<\/p>\n<p>Begitu penuh sesak pikiranku dengan keadaan ini. Aku tak berani menentang suamiku. Aku takut dia marah. Aku takut dia meninggalkanku. Aku juga tak berani menegur Dila , karena Dila juga tidak salah. Sesuka hatinya orang mau berdandan dan bergaya. Tapi, sikap suamiku terhadap Dila itu yang membuatku prihatin.<\/p>\n<p>Seperti pagi tadi, ketika baru sampai sekolah, suamiku tak lupa memberikan sanjungannya pada Dila. Ia berujar, \u201cWah, Ibu cantik sekali hari ini!\u201d<\/p>\n<p>\u201cAh, Bapak bisa aja!\u201d balas Dila sembari menyunggingkan senyum manis.<\/p>\n<p>Jika hal itu terjadi sekali, masih lumrah. Kalau berkali-kali, mendengarnya saja serasa mau muntah. Tapi, tidak bagi Dila. Hal itu justru membuatnya besar kepala. Ia bertambah menor tampilannya dari hari ke hari. Seakan disengaja hanya untuk mendapatkan pujian dari suamiku yang sekaligus atasannya. Saat berjalan, ia melenggokkan badannya bak peragawati yang berada di <em>catwalk<\/em>. Karena itu, aku menyebutnya sebagai ulat bulu. Gila.<\/p>\n<p>Dalam pandangan umum, tentu saja aku tidak gila. Bagaimana seorang gila bisa berstatus sebagai guru, bahkan istri kepala sekolah. Tidak mungkin juga seorang gila masih dipercaya mengajar muridnya.<\/p>\n<p>Rama yang sudah kembali dari mengajar menghampiriku. Aku tetap terpaku di meja kerja.<\/p>\n<p>\u201cAku tidak siap melepasnya, Ram. Bagaimana nasib anak-anakku nanti? Aku tidak bisa membesarkan mereka sendiri.\u201d<\/p>\n<p>\u201cItu hanya sebagai ketegasan saja. Maksud sebenarnya tentu agar suamimu sadar.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKalau benar terjadi, aku takut. Memang, ini fase kesedihanku sepeninggal ayahku. Aku sudah tidak memiliki orang tua lagi. Suamiku adalah harapanku sekarang, Ram.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi, tidak bisa kamu teraniaya terus, Sifa!\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku juga bingung, Ram. Kalau nadaku agak tinggi saja, dia malah marah-marah. Main lempar barang-barang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKamu balas lempar saja.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBerhamburan, dong!\u201d<\/p>\n<p>\u201cBiar saja. Nanti suamimu yang bereskan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cEnggak bakalan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKamu tinggal pergi dulu biar dia merasa.\u201d<\/p>\n<p>\u201cEnggak bisa.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTerus maumu, gimana?\u201d<\/p>\n<p>\u201cLha, aku juga belum tahu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTidak ada jaminan juga hanya ada Dila. Kamu tahu sendiri, kan, suamimu kalau bicara dengan wanita, bagaimana? Penuh sanjungan. Manis. Membuat lawan bicara mudah jatuh hati.\u201d<\/p>\n<p>\u201cItu juga yang kutakutkan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMakanya ketegasanmu diperlukan supaya membuatnya jera.\u201d<\/p>\n<p>\u201cEnggak tahu, Ram. Aku hanya bisa mendoakan saja.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBerdoa tanpa berbuat tidak mengubah apa-apa, Sifa.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa. Tapi, aku juga tidak tahu harus gimana. Mungkin, kujalani saja dulu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cGila kamu. Ya, sudah, kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa memaksa. Aku ikut mendoakan juga, deh! Pokoknya, kamu sabar dan semangat!\u201d<\/p>\n<p>Tak terasa butiran air meleleh membasahi pipiku. Aku berucap pada Rama, \u201cTerima kasih, ya, sudah mau mendengarkan!\u201d<\/p>\n<p>\u201cSantai saja. Aku siap kapan pun dibutuhkan jadi pendengar setiamu. Kamu luar biasa bisa menjalani ini. Belum tentu wanita lain sanggup.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMakanya, aku saja yang gila. Istrimu enggak akan kuat,\u201d candaku mengusir kesedihan meski susah kututupi.<\/p>\n<p>\u201cAh, kamu. Bisa saja. Ya, sudah. Aku pulang dulu!\u201d<\/p>\n<p>Rama pun berlalu. Aku tetap menjalani keadaanku. Seolah tidak terjadi apa-apa.<\/p>\n<p>Hari kian sore. Suamiku tetiba menghampiri. Mengajak untuk pulang dan menjemput anak yang sedari pagi sudah dititipkan. Di atas motor, aku diboncengnya. Membonceng wanita gila.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>\u00a0==<\/strong><\/p>\n<p><strong>*Sahari Nor Wakhid<\/strong>, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Telah menerbitkan 3 buku tunggal dan 17 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Lidah Api (Kumpulan Puisi, 2023). Bisa dikontak melalui IG @saharienwe.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>28 Mei 2023 AKU SAJA YANG GILA Oleh Sahari Nor Wakhid* &nbsp; &nbsp; Aku telah dianggap gila. Setidaknya, begitu menurut temanku. Aku sendiri juga heran mengapa bisa demikian. Aku sadar bahwa ada bagian yang tak bisa lagi kukendalikan. Kewarasan nalarku terasa digerogoti perlahan oleh keadaan. Serupa terperangkap dalam gelap tanpa seberkas cahaya. Butiran air hujan &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">AKU SAJA YANG GILA<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":450,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-446","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>AKU SAJA YANG GILA - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"AKU SAJA YANG GILA - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"28 Mei 2023 AKU SAJA YANG GILA Oleh Sahari Nor Wakhid* &nbsp; &nbsp; Aku telah dianggap gila. Setidaknya, begitu menurut temanku. Aku sendiri juga heran mengapa bisa demikian. Aku sadar bahwa ada bagian yang tak bisa lagi kukendalikan. Kewarasan nalarku terasa digerogoti perlahan oleh keadaan. Serupa terperangkap dalam gelap tanpa seberkas cahaya. Butiran air hujan &hellip; AKU SAJA YANG GILA Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-05-28T02:10:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-05-28T02:10:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/thumbnail-cerpen-aku-saja-yang-gila.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/\",\"name\":\"AKU SAJA YANG GILA - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-05-28T02:10:19+00:00\",\"dateModified\":\"2023-05-28T02:10:55+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"AKU SAJA YANG GILA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"AKU SAJA YANG GILA - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"AKU SAJA YANG GILA - LiteraSIP","og_description":"28 Mei 2023 AKU SAJA YANG GILA Oleh Sahari Nor Wakhid* &nbsp; &nbsp; Aku telah dianggap gila. Setidaknya, begitu menurut temanku. Aku sendiri juga heran mengapa bisa demikian. Aku sadar bahwa ada bagian yang tak bisa lagi kukendalikan. Kewarasan nalarku terasa digerogoti perlahan oleh keadaan. Serupa terperangkap dalam gelap tanpa seberkas cahaya. Butiran air hujan &hellip; AKU SAJA YANG GILA Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2023-05-28T02:10:19+00:00","article_modified_time":"2023-05-28T02:10:55+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/thumbnail-cerpen-aku-saja-yang-gila.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/","name":"AKU SAJA YANG GILA - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2023-05-28T02:10:19+00:00","dateModified":"2023-05-28T02:10:55+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/aku-saja-yang-gila\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"AKU SAJA YANG GILA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=446"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/446\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1061,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/446\/revisions\/1061"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/450"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}