{"id":491,"date":"2023-06-18T01:58:53","date_gmt":"2023-06-18T01:58:53","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=491"},"modified":"2023-06-18T01:58:53","modified_gmt":"2023-06-18T01:58:53","slug":"azab-kudisan-sebelum-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/","title":{"rendered":"Azab Kudisan Sebelum Mati"},"content":{"rendered":"<p>18 Juni 2023<\/p>\n<h1><strong>Azab Kudisan Sebelum Mati<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh : Saeful Huda*<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-495\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/ilustrasi-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/ilustrasi-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/ilustrasi-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/ilustrasi-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/ilustrasi-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/ilustrasi-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Terik matahari siang ini begitu panas. Sudah beberapa minggu tidak hujan. Tanah di depan rumah mengering, keras hingga menebarkan debu halus yang terbawa angin. Panas itu membuat suasana seperti di padang mahsyar, kata guru ngajiku.<\/p>\n<p>Siang bolong begini, Bapak sudah terbiasa tidur di risbang usang yang pastinya sudah keropos termakan rayap putih. Bapak terbiasa tidur memakai bantal dari gombal bekas pakaian Ibu dulu. Merasa gerah juga karena panas, terbiasalah Bapak tidur tanpa memakai baju. Badannya yang berotot kelihatan kekar, karena sering membawa kayu bakar dari ladang dekat kuburan.<\/p>\n<p>Tadinya aku juga mau ikut tidur, tapi perutku sedang menyanyi dengan suara yang sumbang. Aku tengok ke belakang, masih belum juga menemui barang selauk pun. Ibu masih sibuk berdagang sayur keliling, belum menghasilkan banyak uang, sampai-sampai belum menaruh sedikit pun makanan di sini. Tak apalah.<\/p>\n<p>Tapi aku baru ingat kalau kemarin Ibu dan Ani &#8211; adikku, ke Balai Desa mengambil bantuan sosial dari pemerintah. Langsung aku cari mie instan di sudut dapur. Tanpa pikir panjang langsung aku masak. Inginnya dengan telur, tapi kata Ibu itu stok makan buat besok. Tak apalah. Mie saja sudah cukup untuk mengisi kekosongan perutku hari ini.<\/p>\n<p>Aku siapkan masak sekadarnya. Sembari menunggu mie matang, aku teringat sekali kemarin Ani cerita waktu di Balai Desa. Ani masih kelas lima SD. Secara perawakan mungkin sudah dianggap besar. Kata tetangga, dia anak yang <em>biyungen<\/em>. Selalu saja mengikuti kemana Ibunya pergi, termasuk berdagang.<\/p>\n<p>\u201cMas, orang yang gelangan emas itu kan kaya yah?\u201d tanya Ani penasaran.<\/p>\n<p>Aku pikir ini pengaruh sinetron yang dia tonton akhir-akhir ini dengan Ibu. Maklum, dia belum boleh pegang HP oleh Ibu. Lebih tepatnya, belum mampu untuk beli HP. Pelampiasannya jadi ke arah alat elektronik lain, apalagi kalau bukan televisi. Jadi dia tahunya orang kaya itu ya mereka yang punya mobil, rumah bertingkat, pakai emas di tangan, leher dan kaki.<\/p>\n<p>\u201cIya, An. Kenapa emang?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAni tadi lihat Lik Sumi ikut antri soalnya, Mas. Dia kan pakai emas, Mas!\u201d balas Ani dengan muka agak kesal.<\/p>\n<p>Aku agak cekikian ketika dia bilang \u201cantri\u201d. Soalnya kemarin Guru Bahasa Indonesiaku di SMK bilang, \u201cYang betul itu \u2018antre\u2019 yah anak-anak, bukan \u2018antri\u2019. Itu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia.\u201d. Tapi tidak jadi soal, lagian Ani masih kecil.<\/p>\n<p>\u201cYa, pakai emas wajar kan Ani sayang!\u201d jawabku gemas.<\/p>\n<p>\u201cTapi kan dia kaya, Mas. Harusnya tidak ikut antri dong! Soalnya di tulisan surat yang kemarin dibawa Ibu, Ani bacanya \u2018untuk orang miskin\u2019, Mas.\u201d<\/p>\n<p>Aku tertegun. Terlebih ketika Ani melanjutkan kalimat itu dengan, \u201cPadahal di sinetron kemarin, ada orang kaya yang mati kudisan, Mas, karena ikut mengambil bantuan orang miskin.\u201d<\/p>\n<p>Langsung aku tutup mulutnya dengan tangan kananku, \u201cHussssttt!\u201d<\/p>\n<p>\u201cIh, apa sih, Mas! Bau ketek tangannya!\u201d Ucap Ani setelah berusaha keras melepas tanganku yang hinggap di mulutnya itu.<\/p>\n<p>Aku kembali cekikikan sendiri, karena baru sadar, sebelum Ani datang tadi, aku bermain ketek sampai bunyi \u201cPrepet,prepet,prepet!\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa, kamu jangan sembarangan ngomongnya!\u201d<\/p>\n<p>\u201cDi filmnya kan emang kayak gitu, Mas! Dah ah, males ngomong sama Mas Darwin\u201d<\/p>\n<p>Langsung aku tarik tangannya biar Ani tidak pergi. Aku suruh dia melanjutkan ceritanya.<\/p>\n<p>Tiba-tiba dia mengeluarkan jari kelingkingnya yang mungil itu. \u201cJanji tapi jangan kayak tadi lagi, Mas!\u201d protesnya.<\/p>\n<p>\u201cIya, iya enggak, kok!\u201d Aku sambut dengan jari kelingkingku juga.<\/p>\n<p>Sebenarnya aku juga masih heran, kenapa Lik Sumi bisa ikut antre di Balai Desa. Suaminya Lik Sumi kan punya perusahaan penggilingan padi dan punya mobil juga. Yang lebih menggelitik lagi adalah cerita tentang azab dari sinetron yang ditonton adikku. Pikiran-pikiran ini aku simpan dahulu supaya aku tidak ketinggalan cerita menarik lainya dari adikku yang masih memakai kaos polos warna putih kecokelatan.<\/p>\n<p>\u201cAda lagi loh, Mas\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa tuh?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKepo!\u201d Jawaban kurang ajar yang sering aku dengar akhir-akhir ini dari anak-anak seumuran Ani.<\/p>\n<p>Aku balas dengan muka masam dan Ani langsung paham kode itu. Akhirnya dia melanjutkan lagi ceritanya.<\/p>\n<p>\u201cBu Rukni juga ikutan loh, Mas\u201d<\/p>\n<p>Aku pura-pura pasang wajah kaget, seolah antusias dengan ceritanya itu. Walaupun sebetulnya aku sudah tahu tingkah laku Bu Rukni di sini. Dia tetangga dekatku. Rumahnya paling besar di RT ini. Paling modis dandanannya. Sering tidak disukai tetangga karena polah kepamerannya.<\/p>\n<p>\u201cTadi Bu Rukni bawa pulang dua kardus bantuan loh, Mas. Padahal aku lihat semua yang antri itu cuma bawa pulang satu kardus saja, Mas. Termasuk Ibu.\u201d Gayanya sudah seperti Ibu-Ibu lokal yang sering menggosip. Pantaslah, Ani sering ikut Ibu keliling.<\/p>\n<p>\u201cTerus yah, Mas, Bu Rukni kan antri paling belakang tadinya, tapi dia bisik-bisik sama Pak Bau, akhirnya dia jadi antri nomer tiga, Mas. Kan curang banget yah, Mas!\u201d ucap Ani ketus. Pak Bau itu panggilan buat kepala dusun di sini.<\/p>\n<p>\u201cWah iya itu curang, An. Itu namanya <em>nyogok. <\/em>Kamu jangan tiru kayak gitu yah, An!\u201d Seruku.<\/p>\n<p>\u201cOke siap, Mas! Lagian aku pasti malu, Mas. Pas Bu Rukni sudah antri di depan, ibu-ibu di depan dan belakang aku langsung pada nyurakin Bu Rukni, Mas. Mereka pada bilang \u2018Huuuuuuu!\u2019 Begitu!\u2019\u201d Gaya ceritanya memang sudah seperti ibu-ibu lokal.<\/p>\n<p>Aku menahan tawa sedari tadi ketika Ani bercerita. Kalau aku tumpahkan langsung tawaku, mungkin adikku berhenti cerita.<\/p>\n<p>\u201cBangke!\u201d Aku lupa kalau sedang memasak mie instan. Airnya hampir habis karena sudah lama mendidih. Langsung aku tiriskan saja mie\u00a0 ke dalam mangkuk bergambar ayam jago. Untung saja tidak sampai kekeringan dan gosong pancinya.<\/p>\n<p>Dalam kekhawatiran sesaat seperti itu, aku kembali teringat cerita adikku. Akankah Lik Sumi dan Bu Rukni kena azab kudisan sebelum mati, seperti cerita sinetron adikku? Kata guru ngajiku, kalau tidak ada balasan di dunia, pasti Allah akan balas di akhirat. Tapi itu hak Tuhan. Manusia sepertiku tidak punya hak menilai terlalu jauh. Semoga saja tidak seperti itu kejadiannya, biar yang mengurus mayatnya mereka nanti, merasa nyaman-nyaman saja.<\/p>\n<p>Ah, mau makan malah bahas kudis, jadi hilang nanti selera makanku. Tapi sepanjang sejarah, selera makanku selalu menggebu-gebu dalam kondisi seperti apapun.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>==<\/p>\n<p><strong>*Saeful Huda<\/strong>.\u00a0Karyanya pernah dimuat dalam Buletin Tajdid milik Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. Judul cerpennya yaitu Dua Wajah Selok. Sampai saat ini, ia masih aktif menulis di media online. Untuk lebih mengenali tentang Saeful Huda, bisa saling follow Instagram\u00a0@saeful_hudaa<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>18 Juni 2023 Azab Kudisan Sebelum Mati Oleh : Saeful Huda* \u00a0 &nbsp; Terik matahari siang ini begitu panas. Sudah beberapa minggu tidak hujan. Tanah di depan rumah mengering, keras hingga menebarkan debu halus yang terbawa angin. Panas itu membuat suasana seperti di padang mahsyar, kata guru ngajiku. Siang bolong begini, Bapak sudah terbiasa tidur &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Azab Kudisan Sebelum Mati<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":494,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-491","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Azab Kudisan Sebelum Mati - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Azab Kudisan Sebelum Mati - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"18 Juni 2023 Azab Kudisan Sebelum Mati Oleh : Saeful Huda* \u00a0 &nbsp; Terik matahari siang ini begitu panas. Sudah beberapa minggu tidak hujan. Tanah di depan rumah mengering, keras hingga menebarkan debu halus yang terbawa angin. Panas itu membuat suasana seperti di padang mahsyar, kata guru ngajiku. Siang bolong begini, Bapak sudah terbiasa tidur &hellip; Azab Kudisan Sebelum Mati Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-06-18T01:58:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/thumbnail-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/\",\"name\":\"Azab Kudisan Sebelum Mati - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-06-18T01:58:53+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-18T01:58:53+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Azab Kudisan Sebelum Mati\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Azab Kudisan Sebelum Mati - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Azab Kudisan Sebelum Mati - LiteraSIP","og_description":"18 Juni 2023 Azab Kudisan Sebelum Mati Oleh : Saeful Huda* \u00a0 &nbsp; Terik matahari siang ini begitu panas. Sudah beberapa minggu tidak hujan. Tanah di depan rumah mengering, keras hingga menebarkan debu halus yang terbawa angin. Panas itu membuat suasana seperti di padang mahsyar, kata guru ngajiku. Siang bolong begini, Bapak sudah terbiasa tidur &hellip; Azab Kudisan Sebelum Mati Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2023-06-18T01:58:53+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/thumbnail-cerpen-azab-kudisan-sebelum-mati.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/","name":"Azab Kudisan Sebelum Mati - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2023-06-18T01:58:53+00:00","dateModified":"2023-06-18T01:58:53+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/azab-kudisan-sebelum-mati\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Azab Kudisan Sebelum Mati"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=491"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/491\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":496,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/491\/revisions\/496"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/494"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}