{"id":758,"date":"2023-11-05T06:09:51","date_gmt":"2023-11-05T06:09:51","guid":{"rendered":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?p=758"},"modified":"2023-11-05T06:09:51","modified_gmt":"2023-11-05T06:09:51","slug":"pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/","title":{"rendered":"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN"},"content":{"rendered":"<p>5 November 2023<\/p>\n<h1><strong>PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN<\/strong><\/h1>\n<p>Oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita*<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-760\" src=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/ilustrasi-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"650\" srcset=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/ilustrasi-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian-300x300.jpg 300w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/ilustrasi-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/ilustrasi-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian-150x150.jpg 150w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/ilustrasi-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian-768x768.jpg 768w, https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/ilustrasi-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian.jpg 1080w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tiba-tiba saja perempuan tak bernama itu mati dan para lelaki yang sering mengirimkan pesan kepadanya melalui berbagai jenis media sosial mendapati bahwa pesannya tak terbaca, apalagi terbalas. Mereka gelisah, kemudian mengirimkan satu pesan lagi kepadanya hanya untuk terabaikan sekali lagi.<\/p>\n<p>Pesan itu menumpuk, memenuhi kapasitas yang disediakan ponsel. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perempuan itu sudah tidak bisa membalas pesan mereka satu per satu seperti sebelumnya. Mereka hanya akan menanti untuk mendapat balasan dari perempuan itu sampai mereka mendengar atau membaca kabar tentang kematiannya yang begitu tenang di sebuah tempat terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk dunia yang melaju cepat. Setelah mereka mengetahui kabar itu, barulah mereka akan berhenti menanti. Para lelaki itu tidaklah saling mengenal satu sama lain, mereka terpisah dan berserakan di berbagai tempat di pelosok negeri. Mereka tidak bisa saling berbagi informasi. Mungkin, hanya keajaiban, jika hal semacam itu memang ada, yang bisa memberitahu mereka bahwa sudah tidak ada artinya lagi menunggu balasan.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>\u201cUsianya mungkin lima puluh tahun, dua kali lipat dari usiaku,\u201d begitu kata salah satu temanku. Dia adalah salah satu lelaki yang saling berkirim pesan dengan perempuan itu. Sebenarnya, aku tidak benar-benar tahu bahwa perempuan itu telah mati atau masih hidup. Tapi temanku itu begitu yakin bahwa, setelah selama seminggu pesannya tak terbalas, perempuan itu pasti sudah meninggal dunia. \u201cKami tidak pernah bertemu secara langsung, tapi aku bisa melihat foto-fotonya di akun media sosialnya. Dia cukup rajin mengunggah foto. Seluruhnya berkerudung. Dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki perempuan lain yang kutemui, tapi aku tidak yakin apa itu. Namun, aku berani menjamin bahwa itu adalah sesuatu yang hanya dimiliki perempuan itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJadi, kau terobsesi kepadanya?\u201d tanyaku.<\/p>\n<p>Dia melirikku sejenak, kemudian menunduk lagi. Dia aduk-aduk kopinya tanpa alasan. Apa yang dia larutkan di dalam cangkir itu? Kesedihan? Rasa kehilangan? Bagaimana rasanya jika semua komponen itu telah larut menyatu di dalam sebuah cangkir?<\/p>\n<p>\u201cAku tidak bisa menyebutnya sebagai obsesi,\u201d katanya kemudian, masih tetap mengaduk-aduk. \u201cAku tidak tahu harus menyebutnya dengan apa. Tapi dia begitu baik kepadaku. Aku sering berkeluh kesah kepadanya dan dia memberiku beberapa nasihat yang menakjubkan, sesuatu yang kubutuhkan sejak lama.\u201d<\/p>\n<p>Aku yakin bahwa nasihat-nasihat yang dimaksud adalah nasihat-nasihat klise yang bisa dikatakan oleh siapa saja. Namun, masalah temanku ini adalah bukanlah apa yang dikatakan, tapi siapa yang mengatakannya.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana jika \u2026.\u201d Aku tidak sampai hati untuk melanjutkan kata-kataku. Segera kukatupkan mulutku, kemudian mengangkat cangkir dan meminum kopiku untuk mengalihkan perhatiannya. Dia memandangiku, merasa penasaran dengan lanjutan kata-kataku yang masih berupa titik-titik itu.<\/p>\n<p>Sebenarnya, aku ingin berkata bahwa <em>bagaimana jika perempuan itu adalah ibumu yang telah pergi dari rumah sejak usiamu tujuh tahun?<\/em><\/p>\n<p>Ibu temanku ini pergi pada suatu pagi yang hening ketika dia masih berusia tujuh tahun. Ketika bangun pagi, dia dapati pintu belakang terbuka, tapi tidak ada suara ibunya sama sekali di dapur atau di mana pun di rumahnya. Ketika dia bertanya kepada ayahnya ke mana ibunya pergi, ayahnya mengibulinya dengan berkata bahwa sebuah UFO, kapal luar angkasa serupa piring yang dikendarai oleh alien dari planet lain, telah menculik ibunya dan membawanya pergi entah ke mana. Ayahnya sama sekali tidak mencarinya, juga tidak melapor kepada polisi. Seorang petugas pos datang ke rumahnya beberapa minggu kemudian untuk mengantarkan surat gugatan cerai. Pria itu hanya perlu menandatanganinya dan dia melakukannya tanpa berpikir dua kali.<\/p>\n<p>Jika kemudian perempuan itu rupanya adalah ibunya, bisa saja dia telah terobsesi pada ibunya sendiri tanpa sadar, seperti Oedipus. Omong-omong, pada sebuah pementasan di sekolah menengah dulu, dia menyarankan agar kelasnya menampilkan drama <em>Oedipus Rex <\/em>karya Sophocles dan dia sendiri yang memerankan tokoh Oedipus, seorang lelaki yang tidak bisa melarikan diri dari ramalan Orakel. Bagaimana jika memang hal seperti itu yang terjadi? Tapi apa mungkin temanku itu tidak mengenali ibunya? Terakhir kali dia bertemu dengannya adalah pada usia tujuh tahun, semestinya ingatannya terhadap ibunya, sekurang-kurangnya adalah wajahnya, masih akan tetap bertahan. Kalau begitu, sepertinya perempuan itu bukan ibunya. Jadi, temanku ini sepertinya bukan Oedipus. Dia hanya lelaki biasa yang dapat ditemukan di mana pun. Seorang lelaki biasa yang lemah lembut dan perasa. Menangislah di hadapannya dan dia akan ikut menangis bersamamu.<\/p>\n<p>Ketika aku meletakkan gelasku sekali lagi di atas meja, dia masih menungguku. Dia mengira aku akan melanjutkan kata-kataku, tapi itu tidak akan terjadi.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana rencanamu setelah ini?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku ingin mencarinya. Tapi dia tidak pernah menyebutkan alamatnya, di akun media sosialnya juga tidak tercantum hal semacam itu. Untuk satu hal itu, dia begitu menjaga privasinya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDengar. Jika mencarinya, bagaimana kau akan beralasan ketika tanpa sengaja berhadapan dengan suaminya? Bukankah itu akan menimbulkan keributan sementara aku mengenalmu sebagai seorang pecinta damai?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKau benar.\u201d<\/p>\n<p>\u201cNah, dengar, aku akan memberimu nasihat jika kau bersedia.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSilakan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cLebih baik kau berhenti mengharapkan balasan atas pesanmu itu.\u201d<\/p>\n<p>Dia tidak mengatakan apa pun lagi, menghabiskan kopinya, meletakkan uang di bawah gelas, dan pergi tanpa berkata apa pun.<\/p>\n<p>Sekarang, sambil memandang ke lautan luas di sisi kafe ini, aku berpikir tentang telepon genggam perempuan itu. Mungkin ada puluhan pesan yang belum terbaca, juga belum terbalas. Pesan-pesan itu tetap berada di sana, tak tersentuh, terbengkalai begitu saja. Dia sudah berada di dalam tanah sekarang sementara telepon genggamnya masih ada di rumah. Anak tertuanya mungkin akan mengoperasikannya, mengecek berbagai pesan masuk dari sekian lelaki yang tidak dikenalinya. Dia, didorong oleh rasa ingin tahunya, membuka tiap pesan dan membacanya satu per satu.<\/p>\n<p>Dia kemudian merasa bahwa hal semacam itu adalah aib dan sudah tugas seorang anak, apalagi yang tertua, untuk menyembunyikan semua itu dari ayahnya, adik-adiknya, juga para kerabatnya. Dia harus menjaga rahasia itu rapat-rapat, memendamnya sedalam mungkin di dasar ingatannya. Dia akan menghilangkan bukti fisik itu, menghapus setiap <em>chat <\/em>pribadi, memutuskan seluruh pertemanan daring, dan menghapus akun media sosial ibunya. Dia akan memikul hal itu seorang diri. Suatu saat, seperti ibunya, dia juga akan masuk ke liang lahat. Di sanalah dia akan membawa rahasia itu bersamanya, mendekapnya dengan begitu erat, dan, dengan demikian, rahasia itu akan benar-benar aman tanpa ada yang akan mengetahuinya.<\/p>\n<p>18 September 2022\u201418 Oktober 2023<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>===<\/p>\n<p><strong>*Mochamad Bayu Ari Sasmita.<\/strong> Lahir di Mojokerto pada HUT RI Ke-53. Bermukim di Mojokerto. Dapat dihubungi di akun instagram @sasmita.maruta.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>5 November 2023 PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN Oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita* &nbsp; &nbsp; Tiba-tiba saja perempuan tak bernama itu mati dan para lelaki yang sering mengirimkan pesan kepadanya melalui berbagai jenis media sosial mendapati bahwa pesannya tak terbaca, apalagi terbalas. Mereka gelisah, kemudian mengirimkan satu pesan lagi kepadanya hanya untuk terabaikan sekali lagi. &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":759,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"disabled","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-758","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.13 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN - LiteraSIP<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN - LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"5 November 2023 PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN Oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita* &nbsp; &nbsp; Tiba-tiba saja perempuan tak bernama itu mati dan para lelaki yang sering mengirimkan pesan kepadanya melalui berbagai jenis media sosial mendapati bahwa pesannya tak terbaca, apalagi terbalas. Mereka gelisah, kemudian mengirimkan satu pesan lagi kepadanya hanya untuk terabaikan sekali lagi. &hellip; PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN Read More &raquo;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"LiteraSIP\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-11-05T06:09:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/thumbnail-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admLit3r4\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admLit3r4\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/\",\"name\":\"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN - LiteraSIP\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-11-05T06:09:51+00:00\",\"dateModified\":\"2023-11-05T06:09:51+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website\",\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/\",\"name\":\"LiteraSIP\",\"description\":\"Memperkaya Dunia Dengan Literasi\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b\",\"name\":\"admLit3r4\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admLit3r4\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\"],\"url\":\"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN - LiteraSIP","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN - LiteraSIP","og_description":"5 November 2023 PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN Oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita* &nbsp; &nbsp; Tiba-tiba saja perempuan tak bernama itu mati dan para lelaki yang sering mengirimkan pesan kepadanya melalui berbagai jenis media sosial mendapati bahwa pesannya tak terbaca, apalagi terbalas. Mereka gelisah, kemudian mengirimkan satu pesan lagi kepadanya hanya untuk terabaikan sekali lagi. &hellip; PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN Read More &raquo;","og_url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/","og_site_name":"LiteraSIP","article_published_time":"2023-11-05T06:09:51+00:00","og_image":[{"width":500,"height":300,"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/thumbnail-cerpen-pesan-yang-masuk-setelah-kematian.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admLit3r4","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admLit3r4","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/","name":"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN - LiteraSIP","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website"},"datePublished":"2023-11-05T06:09:51+00:00","dateModified":"2023-11-05T06:09:51+00:00","author":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/pesan-pesan-yang-masuk-setelah-kematian\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"PESAN-PESAN YANG MASUK SETELAH KEMATIAN"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#website","url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/","name":"LiteraSIP","description":"Memperkaya Dunia Dengan Literasi","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/9f576acc1ac16f7e3601817379e0143b","name":"admLit3r4","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e6c2628e77fe6c825dce8b8157d6ec60ba45e4d86cfa3330ae181844e5f9c11f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admLit3r4"},"sameAs":["https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip"],"url":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/author\/admlit3r4\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=758"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/758\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":763,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/758\/revisions\/763"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media\/759"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sippublishing.co.id\/literasip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}