30 Juni 2024
Elegi Senja
Oleh Refi Mariska*

Lembayung senja mengiringi langkahku berjalan menuju pemakaman syekh makdum wali. Dari mulai masuk, suasana tiba-tiba berubah menjadi sakral. Pikiranku sekelebat mengingat potongan film hati suhita yang ziarah ke makam yang ada di pandanaran untuk menenagkan diri dari seluruh masalah rumah tangganya dengan gus biru. Aku berjalan dengan hati terenyuh sembari mengingat semua dosa-dosa yang mengotori tubuhku serta kesedihan-kesedihan yang belakangan ini sering muncul tiba-tiba. Memasuki area pemakaman, aku duduk bersimpuh dan mengucap salam kepada ahli kubur. Setelah itu tahlil kubaca. Di akhir dengan wasilah waliyullah, aku meminta kepada Allah yang terbaik menurutNya, pasrah atas segala ketentuanNya. Setelah usai, aku beranjak dan betapa terkejutnya ketika aku mendapati seorang laki-laki yang begitu aku kenal. Pandangannya yang dulu begitu teduh kini meredup. Langkahnya terlihat lemas. Bagaimana aku tak mengenalnya, dia yang pernah bercerita tentang tempat ini, dia yang pernah bercerita bahwa tempat inilah yang bisa menenangkan hatinya yang gundah. Bahkan kita sempat merencanakan untuk kesini bersama. Kami saling tatap beberapa detik seakan-akan saling berbicara dalam keterdiaman di antara kami. Aku melanjutkan langkahku. Dia pun begitu. Baru beberapa langkah, aku sedikit membalikkan tubuhku, menatap punggungnya. Aku masih teringat bagaimana aku pernah ingin menjadikannya tujuan, namun sepertinya takdir memang berkata lain.
Jalanan tiba-tiba lengang, menyisakan keterbisuan di antara kami. Hanya sesekali suara motor dan dinginnya udara sore hadir di antara kami. Mataku tiba-tiba memanas, ada cairan bening keluar dari sana. memang sedari awal aku sudah khawatir mengenai hal ini. dia selalu mencari pembahasan lain ketika aku bertanya masalah ini. dan anehnya lagi aku selalu terhipnotis untuk melupakannya. Dia pandai mengubah topik pembahasan serius menjadi humor yang lucu. Betapa bahagia rasanya waktu itu ketika tahu bahwa orang yang selama ini kucintai merasakan hal yang sama. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Perempuan mana yang tidak bahagia dengan hal itu? ketika kami sudah dekat, aku menceritakan semuanya kepada Ibu hingga salah satu pertanyaan ibu membuatku berpikir dan tidak bisa tidur. Dia memang menerimamu, tetapi apakah keluarganya juga bisa menerimamu? Mereka berbeda dengan kita. Mereka akan mencari keluarga yang setara dengan adat dan budaya kehidupan mereka. Hari ini pertanyaan ibu terjawab sudah. Jawabannya adalah tidak. Ini akan menjadi pertemuan terakhir antara aku dan dia. Setelah ini, aku akan pergi darinya. Semoga kita tidak lagi dipertemukan dan kenangan bersamanya semoga segera lenyap dari kehidupanku. “ aku dijodohkan oleh abah dan aku tidak bisa menentang itu. ibuku sangat memohon kepadaku untuk menerima perjodohan kali ini” katanya. Perjodohan sudah seakan menjadi tradisi di kalangan keluarga kyai karena mereka sangat memperhatikan masalah nasab. Dia lantas berpamit, meninggalakanku yang masih tersedu. Sebelum pergi, terdengar kata maaf yang diucapakannya lirih, namun ucapan maaf tidak pernah bisa mengobati sakit hati.
Sesampainya di rumah, aku langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya. Aku menangis di bawah bantal agar suaraku tak terdengar oleh ibu. Andai perkataan ibu waktu itu kudengarkan baik-baik, tidak akan sesakit ini. bagaimana bisa perempuan bagitu lemah dengan sesuatu yang bernama cinta, padahal dia sudah jelas tahu bahwa akhirnya akan menderita. Kini aku mulai menyalahkan diri sendiri. Menyadari kekeliruanku yang menganggap semua akan baik-baik saja selama bersamanya. Aku pernah membayangkan dia bisa menentang semua orang demi mempertahankanku, namun aku salah besar. Dia sama sekali tidak mau berjuang untukku. Seharunya aku tahu dari awal. kini semuanya sudah selesai. Ibarat film, film ini berakhir dengan sad ending, namun ini adalah dunia nyata di mana kehidupanmu akan terus berjalan sesakit atau sebahagia apa dirimu. Melupakan adalah hal yang paling sulit dari bagian sakit hati. air mataku perlahan menetes sampai akhirnya sebuah suara mengagetkan dan menyadarkanku “ Sayang, udah ziarahnya? Ayo pulang sudah mau magrib, tapi tunggu di mobil sebentar, aku juga mau ziaroh dulu.” Aku segera mengusap air mataku dan tersenyum ke arah suamiku dan berjalan menuju tempat mobil terparkir, sedang pikiranku masih penasaran dengan keadaanya. Bagaimana kabarnya? Ah, seharusnya dia sudah bahagia dengan perempuan yang dipilihkan oleh keluarganya.
TAMAT
===
*Refi Mariska. Ia merupakan seorang santri di pesantren mahasiswa An Najah sekaligus mahasiswa di Universitas Islam Negeri K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto program studi Komunikasi Penyiaran Islam fakultas dakwah. Perempuan berkelahiran 27 November 2001 ini memiliki Hobi menulis, khusunya fiksi. Dia tergabuung dalam beberapa komunitas kepenulisan, di antaranya komunitas Pondok Pena dan Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Karyanya sudah diterbitkan pada beberapa buku antologi puisi ataupun cerpen. Selain itu, beberapa karyanya juga sudah diupload di beberapa media online.