LiteraSIP

11 Desember 2025

Puisi-Puisi Yoga Dzulkarnain

Oleh Yoga Dzulkarnain*

 

 

Memoar Pertemuan

Barangkali memoar yang kutata di meja subuh
adalah hadiah paling mewah dari tangan-tangan waktu
sebab, detak dan detik yang kupelihara tanpa jumawa
memberi kehangatan dekap tuhan
atau inikah bala baik orang-orang
yang kutolong dari keheningan jantug malam

kala itu, kita saling termangu dalam lingkar pertemuan
di sebuah taman yang ditanami pohon angan-angan
dingin, tentu saja, itu bagian dari ritus
percakan kita yang tak mau pupus
sampai hangat secangkir espresso pudar tanpa kabar
tinggal pekat pahit menjerit samar

pada cakap yang tak mau cukup
kita mengulurnya dengan sedikit tawa
membiarkan malam menjahit luka
yang mengangah di dada kota
sesekali merubaiatkan pertemuan ini
dengan tembang filantropi

bising yang kalem dan hening yang kelam
mereka sama-sama lahir dari rahim malam
nubuat bagi penyair jalanan
yang hari-harinya dikecup kenangan

Bandung, 2025

 

Montase Doa

 Pada tubuh bumi yang tabah ini
burung-burung berdoa di atas jerami
memohon semoga masih banyak dahan
di sana, di tiap-tiap lengan kota maupun desa

pada bibir laut yang mencibir banyak kemelut
ikan dan lokan-lokan berdoa di balik bebatuan
memohon semoga tak ada pagar-pagar liar
yang melingkar pada nasib nelayan

pada rahim ibu pertiwi yang kelam
anak-anak berdoa di tepi malam
memohon semoga masih banyak tanah lapang
yang selamat dari proyekan

pada puisi ini
aku dan kekasih berdoa juga
memohon semoga tuhan tetap menerima kami
sebagai puisinya

Bandung, 2025

 

Aroma Malming

 Lewat baju yang kau pakai malming kala itu
aku mengenal tuhan lebih dekat
tercium anemos firdaus di sana
di antara dagu dan dada
memaksaku tuk bermunajat
pada tiap ruang kota
yang terbengkalai dari riak doa

aroma malming membawaku tenggelam dalam pelukan
hangat nan kental kenangan membius tubuh waktu perlahan

di bawah remang lampu
kau tampak pukau
memasak senyum di atas meja
yang pernah lumpu dari kata-kata

aroma malming semakin bising
merabah-rabah ke tiap sudut dinding
yang menjadi sandaran para penikmat hening

aroma ini bukan parfum artis ibu kota
juga bukan dari semerbak taman bunga
aroma ini datang dari rahim kata
dan anemos perjumpaan kita

Bandung, 2025

 

Kota Penyair

Di kota ini
penyair betuhan pada ruang
yang tak pernah riang
tidur di atas ranjang tak berkaki
berselimut sarung yang terbuat dari doa

Di kota ini
ada banyak kenangan terlantarkan
ia butuh sosok ibu
yang telaten merawat tubuh rindu
mengurus kelam malam
dan riuh derai hujan

Di kota ini
aku bukan sebagai penyair
melainkan kata-kata yang
tak pernah di anggap oleh  penulisnya
sekalinya di perhatikan
aku hanyalah pelengkap
pada setiap postingan

Di kota ini
Tuhan diam-diam mengeram
di pojok kamar atau kadang di meja belajar
ia tak pernah libur merayu sepi
sebab sepi salah satu rukun ibadah
bagi penyair yang kehilang kata-kata

Bandung, 2025

 

===

*Yoga Dzulkarnain. Pemuda kelahiran Sumenep Madura, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Puisi-puisinya dibukukan dalam Antologi Puisi DNP (Dari Negeri Poci)  Ke-14 JAUHARI (Jakarta, 2024), Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara ‘Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu’ (2024), Antologi Puisi PPN XIII Jakarta ‘Layang-layang Tak Memilih Tangan’ (2025), dll. Beberapa karya lainnya dimuat di berbagai Media Online, Majalah dan Koran/Surat Kabar.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *