2 November 2025
TEROR TOPENG
Oleh Fuad Zawatri*

Festival Topeng Tingkat Kabupaten dua bulan lagi akan diselenggarakan. Para pembuat topeng pun sudah mulai dibanjiri job. Banyak pembuat dan kreator topeng baru bermunculan. Mereka berani bersaing dengan menciptakan beragam karakter wajah topeng. Berbagai macam kreasi topeng muncul mengikuti trend perilaku dan watak manusia di tengah masyarakat saat ini. Banyak kreator topeng merasa tertantang untuk melahirkan ide-ide baru untuk menghadirkan wajah-wajah unik dan aneh.
Para pembuat topeng biasanya hanya sekadar membuat penutup wajah itu sesuai dengan selera seninya, sedangkan para kreator menciptakan topeng mengikuti selera dan keinginan pemesannya. Ada yang memesan topeng jenaka. Ada juga yang minta dibuatkan topeng melankolis, topeng berwibawa, topeng ksatria. Bahkan, ada yang ingin cepat-cepat dibikinkan topeng berwajah tampan atau yang cantik. Aneka ragam jenis, karakter, dan warna topeng bermunculan.
Tidak sedikit orang yang sebelumnya sebagai pematung tetiba ingin mengadu nasib menjadi pengrajin topeng. Peluang rezeki melimpah menjadi pengrajin atau kreator topeng memang lebih menjanjikan.karena masyarakat sudah banyak yang menggemari topeng. Topeng bukan hanya dianggap sebagai seni dan hiburan, tetapi juga merupakan hal penting saat mencari pekerjaan atau untuk hal lain. Makanya, cukup banyak yang memakai topeng saat bekerja, baik di kantor, pasar, sampai di lembaga-lembaga keagamaan dan pendidikan. Topeng telah menjadi trend baru mengikuti berbagai situasi dan kondisi. Rupanya, topeng juga sudah menjadi gaya hidup masyarakat pada berbagai kalangan.
Suatu hari seorang kreator topeng, Pak Win panggilannya, dikunjungi dua tamu dari kota. Satu orang berwajah tampan, berdasi dan berbadan gemuk. Seorang lagi bertubuh lebih kurus, bercelana hitam dan berhem putih lengan panjang yang digulung sampai bawah siku. Dua laki-laki itu mempunyai tujuan sama, tetapi seleranya berbeda. Yang pertama menginginkan topeng yang bermuka menawan dan selalu tersenyum menarik. Lelaki kedua minta dibuatkan topeng yang berwajah ramah dan bersahaja.
Pak Win pun menyanggupinya. Dia menjanjikan enam hari untuk bisa mengerjakan topeng permintaan itu. Tiga hari untuk topeng si pria tampan, dan tiga hari untuk pria kurus sederhana. Dan dalam waktu enam hari itu, Pak Win mengalami kesulitan saat menggoreskan pahat kecilnya pada bentuk mata dan bibir. Pahatnya seolah tak mau menggoreskan bentuk bibir yang tersenyum ramah dan wajah yang sumeh. Kreator topeng yang sudah berpengalan itu tak menyerah. Ia memaksa kayu yang dipegangnya harus tunduk oleh tangan dan jari-jari yang mengukirnya. Ia memaksa agar kayu bahan topeng itu menuruti pahat kecil dan pisaunya untuk membentuk karakter sesuai permintaan pemesan.
Seminggu kemudian kedua jenis topeng pun jadi. Lelaki kurus pun datang. Sebelum membayar sisa kekurangannya, dia melihat polesan wajah topeng pesanannya. Pria kurus itu mencermati wajah topeng, terutama pada bentuk lukisan bibirnya. Beberapa saat kemudian ia protes kepada Pak Win.
“Ini tak sesuai dengan keinginan saya semula, Pak Win.”
“Saya sudah berusaha keras, Mas. Itu hasil maksimal tangan saya untuk melukis karakter topeng yang Mas inginkan,” jawab Pak Win memberi alasan.
“Saya bayar mahal lho, Pak! Saya ngga mau ini! Pokoknya, saya minta dibuatkan lagi seperti permintaan saya! Tiga hari!” tegas Mas Kurus tak puas dan bernada ancaman. Orang itu buru-buru angkat kaki dari rumah itu.
********
Belakangan ini, Pak Win beberapa kali dihantui mimpi yang membuatnya sering tergeragap bangun. Di dalam mimpinya, ia dikejar-kejar seseorang yang bertopeng dengan wajah dirinya. Wajah topeng itu nampak persis seperti wajahnya. Akan tetapi, dari mata topeng itu terlihat samar darah merah menetes. Wajah yang sembab oleh air mata darah. Pak Win merasa terganggu tidurnya. Namun, kegelisahannya ia simpan sendiri supaya istri dan anak-anaknya tidak tahu apa yang sebenarnya ia alami.
Sepandai-pandainya Pak Win menyimpan hati dan pikiran yang gundah, akhirnya istrinya juga dapat mencium kegelisahan suaminya.
“Tidak baik menyimpan masalah terus-menerus, Pak. Ujung-ujungnya, aku dan anak-anakmu juga ikut merasakannya,” suara istri Pak Win seperti mengusik kesadarannya. ”semakin kuat Bapak berusaha menyimpannya, semakin kuat pula kegelisahan itu akan memuncak. Dan suatu saat akan meledak.”
“Memang selama ini yang Bapak kerjakan untuk apa? Sampean telah menawarkan dan memperjualkan kebohongan kepada orang lho, Pak. Topeng-topeng yang Sampean buat itu sebenarnya untuk menutupi wajah asli mereka,” Bu Win masih berbicara. Kata-katanya menelisik ke dalam hati Pak Win.
Suara istrinya seperti dengungan nyamuk yang mengganggu saat mau tidur. Namun, Pak Win menjadi terusik dan teringat dengan beberapa kali mimpinya. Apakah selama ini, sebagai kreator topeng, dirinya ikut mengantarkan seseorang untuk membohongi diri sendiri? Termasuk dirinya sewaktu mengerjakan topeng pesanan yang karakternya bertentangan dengan jiwanya? Ah, seni dan mimpi itu kan beda. Seni berada pada dua jalan, yaitu idealisme dan selera pasar. Sedangkan mimpi itu antara imajinasi dan luapan hati si pemimpi yang tak kesampaian. Dirinya mencoba beralasan.
Pak Win tidak bereaksi apa-apa atas ucapan istrinya. Ia hanya berharap semoga jika dirinya bermimpi lagi, topeng wajahnya itu tidak menangis darah lagi. Dan bukan wajah dirinya lagi.
Bukateja ‘25
===
*Fuad Zawatri adalah nama pena dari Fuad Sulistyono. Seorang guru swasta yang tinggal di Purbalingga yang tak pernah berhenti bermimpi dan berproduksi.