2 Januari 2026
Ayahku Seorang Peti
Oleh Raditya Wahyu*

Ayahku tidak meninggal, tidak juga sakit. Tapi sejak dua tahun lalu, ia berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi dari kematian: peti.
Peti tua itu terletak di pojok ruang tamu. Warnanya coklat kehitaman, penuh bekas gores, dan selalu tertutup rapat. Sejak kecil, aku selalu takut untuk membukanya, karena Ibu bilang isinya hanya kenangan, dan kenangan kadang bisa menyakitkan. Tapi sejak ayah kehilangan pekerjaan, peti itu seakan-akan hidup dan mengambil tempat Ayah. Atau mungkin justru sebaliknya: Ayah yang menjadi peti.
Ayah kini duduk di sudut ruang yang sama, hampir tidak bergerak, tak pernah berbicara, hanya menatap dinding atau jendela dengan tatapan kosong seperti lubang kunci. Ia sudah seperti peti tua itu: kaku, berat, diam, dan menyimpan sesuatu yang tidak pernah bisa kami pahami.
Dulu ia tidak seperti ini. Ayah adalah lelaki pertama yang mengajariku melempar batu ke sungai, memboncengku dengan sepeda ke warung, dan membelikan aku buku cerita setiap bulan. Sedari dulu ia memang bukan orang yang banyak bicara, tetapi Ayah selalu mendengarku bercerita sambil duduk di teras. Kadang juga, kami berbagi diam yang hangat. Tapi semenjak Ayah dipulangkan dari tempat kerjanya, ia pelan-pelan menjauh dari suara.
Setiap kali aku pulang sekolah, aku akan duduk di sampingnya dan mulai bercerita tentang keseharianku. “Ayah tau nggak? Aku dapat rangking tiga di kelas! Pak guru bilang kalau aku rajin, aku bisa dapat rangking satu!” ceritaku dengan penuh semangat. Tetapi, Ayah tak menjawab.
Aku meliriknya, berharap setidaknya bisa mendapatkan balasan kecil seperti mengangguk, atau tersenyum tipis, atau sekedar berkedip lebih cepat. Tapi harapanku langsung sirna, tidak ada respon apapun dari Ayah. Hanya ada suara kipas angin yang berdecit pelan, seperti bunyi engsel yang berkarat.
“Ayah, aku tadi lihat teman-temanku dijemput Ayah mereka. Aku nggak apa-apa kok pulang sendiri jalan kaki, tapi kalau Ayah yang jemput terus kita jalan bareng-bareng, kayaknya seru, ya?” Aku menundukkan kepala karena merasa ada kepedihan yang hinggap, lalu aku menghela napasku ringan.
Aku kembali mengangkat kepala, menatap Ayah yang masih saja diam. Tapi itu tak membuatku berhenti bercerita. Aku kembali melanjutkan ceritaku, seperti biasa, seperti berbicara pada peti tua itu.
Ibu sering menegurku, katanya aku harus berhenti berbicara sendiri. Tapi aku tau aku tidak sedang berbicara sendiri, aku bicara pada Ayah, pada peti tua, pada sesuatu yang dulu pernah hidup dan tertawa sambil menggendongku keliling taman.
Kadang aku berpikir, mungkin peti tua itu benar-benar menyerap hidup Ayah. Mungkin suatu malam, saat hujan turun deras, Ayah duduk terlalu lama di sebelahnya, dan peti itu terbuka sedikit—cukup untuk menyedot sesuatu yang tidak terlihat. Atau mungkin, Ayah sengaja memasukinya, perlahan-lahan, menyerahkan dirinya pada keheningan yang lebih aman daripada dunia luar.
Kami tidak miskin, tapi semenjak Ayah berhenti bekerja, rumah menjadi sepi. Ibu bekerja hingga malam. Aku yang membersihkan rumah. Dan Ayah… tetap duduk di sana, seolah waktu tidak berlaku padanya.
Sampai suatu hari, Ayah menghilang.
Pagi itu, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Saat aku keluar kamar, ruang tamu kosong seolah tidak ada kehidupan di sana. Tidak ada suara kipas. Tidak ada aroma kopi yang biasa diseduh Ibu untuknya, meski tak pernah disentuh. Tidak ada suara langkah pelan dari sandal usang milik Ayah, dan tentunya, tidak ada dia. Dan peti tua itu… sedikit terbuka.
“Ayah ke mana, Bu?” tanyaku kepada Ibu yang baru saja keluar dari dapur. Ibu hanya diam dan matanya terlihat bengkak. Ia bilang mungkin Ayah pergi ke suatu tempat. Ia bilang mungkin Ayah butuh waktu. Tapi aku tau itu semua adalah kebohongan yang Ibu ciptakan. Ayah sudah lama tidak memiliki tempat untuk pergi, ia bahkan tidak punya sepatu.
Hari itu, aku memberanikan diri untuk membuka peti. Isinya: tumpukan kain lama, foto keluarga yang sudah kusam, buku agenda, dan di dasar peti, ada sebuah buku catatan kecil. Sampulnya rusuh, dan terdapat tulisan tangan Ayah yang bertuliskan: Untuk Rakha.
Aku membukanya, lembar demi lembar aku baca. Isinya adalah sebuah tulisan tangan Ayah yang menyerupai sebuah puisi. Puitis dan penuh makna. Baris-baris sederhana yang ditulis dengan pena hitam, sebagian luntur, sebagian lagi ditulis dengan tinta yang hampir habis. Di antara halaman-halaman itu, ada satu tulisan yang membuatku menutup buku itu cepat-cepat, karena dadaku terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa kutahan.
Anakku bercerita pada peti,
karena aku sudah terlalu lama menjadi benda mati.
Tapi aku mendengar, meski tak mampu menjawab.
Sebab suaraku telah tertinggal di mesin-mesin pabrik
yang tak lagi kuhidupkan.
Sejak hari itu, aku selalu membaca buku Ayah sebelum tidur. Ia menulis tentang malam-malamnya, tentang rasa malu saat tak mampu membelikan sepatu baru untukku, tentang rasa bersalah karena hanya duduk sewaktu aku menang lomba, dan tentang harapan yang ia tulis, namun ia coret kembali karena takut berharap terlalu banyak.
Maaf, Rakha. Ayah lebih tua dari tenaganya sendiri.
Ayah lebih berat dari tanggung jawab
yang ayah kira bisa ayah pikul.
Tapi kau ringan, ceria, dan berjalan di depanku.
Mungkin ayah hanya perlu diam,
supaya langkahmu lebih lapang.
Kini, aku mengerti. Ayah memang tidak meninggal, tapi ia telah berpamitan dengan cara yang paling sunyi. Ia menjadi peti agar aku bisa belajar bicara sendiri. Ia menjadi sunyi agar aku bisa belajar mendengar dunia. Ia menjadi kosong agar aku bisa mengisi diriku sendiri.
Tapi tetap saja, setiap sore, aku duduk di sudut ruang tamu. Di kursi yang biasa ia tempati. Di sebelah peti tua itu. Dan aku mulai bercerita lagi.
===
*Raditya Wahyu adalah seorang penulis yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang. Aktif di media sosial melalui Instagram @radityawhy_ dan Twitter/X @radiatium.