LiteraSIP

15 Januari 2026

PENAKU DICURI

Oleh Auranita Gibrani Darmawan*

 

 

Gerbang dibuka, pena dilayangkan

Bangkai tak nampak, namun bau terbawa hingga semak-semak

Sayang, penaku dicuri,

terkadang di tengah malam,

terkadang di tengah panggung yang kelam.

Di tengah hamparan sawah, aku melintasi siang di atas rel. Tatapan kosong sambil menggenggam pena hitam favorit. Coretan metafora di atas kertas telah menyayat hati yang berisik. Layaknya menenun di tengah gerbong, puisiku terus terukir hingga pelosok negeri. Wanita bermulut tipis yang tadinya berkomat-kamit dengan kitab sucinya menegurku. Dahi keriput makin mengerut. Kotak dengan tiga pena tersisa di atas meja membawa jari panjang untuk menyentuhnya. Dua genggaman mengangkat kotak lusuh. Mulutnya terus mencibir, sesekali menyesap ludah sendiri. Aku menepuk pundak yang sudah menurun di depanku.

“Berapa bulan sekali kamu beli pena sebanyak ini?”

Urat menegang, padahal tak ada aliran listrik yang mencium kulitku. Aku tak setuju pada pertanyaannya. Sebab, aku membeli selusin pena hanya dalam waktu dua minggu, bukan layaknya gaji PNS. Orang tua ini menatap dalam pena murahan di depannya. Dia mulai mengeluarkan pertanyaan basi yang paling aku benci, kenapa? Senyuman getir untuk duniaku yang tak normal kuperlihatkan langsung. Jariku tetap mencengkram bolpoin. Pandangan tetap lurus pada puisi gila.

“Maling.”

Dia terus melontarkan pertanyaan lanjutan yang ‘normal’. Kupingku mulai berdenging mendengar lengkingannya. Kitab itu sepertinya sudah tak menarik. Mata mulai jelalatan, bukan pada pena, namun bundelan kertas yang sudah penuh darah. Dia kembali mempertanyakan sejarahnya. Aku pun lagi-lagi mengulang jawaban, maling. Persetan tentang anggapan aku kerap dibegal, lalu terluka. Sampai tiba saatnya dia penasaran dengan alasan benda sepele bisa membuka perang berdarah.

“Apa sebenarnya yang kamu tulis sampai bau anyir menusuk?” tanyanya sambil mengendus-endus.

Hidung mancung itu tak jijik mendekat. Bola mata hampir keluar menelisik setiap inci tulisan yang hampir hilang. Aku menjauh dari aroma melati di tubuhnya.

“Kenapa bisa darah sebanyak ini nggak kamu buang?” sudah pertanyaan kesekian yang aku dengar dan aku masih enggan menjawabnya.

Bulu kuduk jemarinya yang hitam pekat berdiri. Sorot mata berbalik mengamatiku. Aku menatap balik memprotes bahwa rambut ijuknya hampir menusukku. Dia mundur, tetapi tatapan pada kertas merah itu tak berubah. Aku benci suasana canggung ini.

“Ini darahmu atau darah orang lain?” Gong dipukul, gendang ditabuh, dan dalang bernarasi.

***

Semua puisi kutulis dari goresan pena favorit. Dialah pedang satu-satunya dan aku sebagai penglaris dua lusin tiap bulannya. Berperang di tengah jalanan. Diam-diam menghilang dari sarang. Penuh percikan merah pekat, bau anyir segar. Jika sudah dibunyikan sirenenya, bendera pun berkibar. Aku maju mengayunkan pedang dan menari bersama tameng. Pasukan bersorak mengikuti gamelan.

Musuhku jelas tak punya senjata tajam atau pun api. Mereka hanya setumpuk bangkai yang punya benteng mewah. Namun, pedangku dicuri, batanya menusuk hingga kucuran darah membasahiku. Aku mengaduh dalam amarah. Tarianku masih bermain meski harus menjadi pelanggan tetap toko ATK. Perang yang tak terbendung telah membuat luka makin dalam. Di tengah semprotan bayangan hitam, langkahku terus bersanding dengan tabuhan gendang. Teriakan yang membakar setiap sudut negeri masih menggelegar. Tak ada api yang padam.

Pedang menghunus angin. Tangan dicekram, aku pun memberontak. Lari ke hilir untuk sekadar mengatur ritme napas. Bola mata menggelinding tak terarah. Telinga melebar kalau-kalau ada suara langkah tanpa wujud. Napas bisa diatur, tapi jantung tetap mendobrak dada. Kurangkai senjata lagi dalam kata yang berduri bersama pena favorit. Usai siap, aku gebrak dan menari dengannya. Ayunan pedang pena merobek bayangan hitam. Sejam menyerang, sejam bertahan. Mereka tak pernah hilang. Sebab, setiap kali aku menebas, ia muncul kembali dan menari di sudut mataku. Napas terengah, keringat telah merembes di mana-mana. Saat itulah, penaku dicuri kembali.

Aku mundur sesekali, menatap sekeliling. Tanah basah oleh darah dan daun kuning bernoda merah telah membawa aroma yang pekat. Di antara bayangan-bayangan musuh, aku tak punya lagi stok pena. Mereka mengikat tanganku dan detak jantung memburu. Jemariku ikut gemetar di bawah untaian tali lusuh.

“Berhenti membeli pena!” pentolannya mulai menggertakku.

Suaranya yang tajam tak menciutkan nyaliku. Tiada sisa di saku. Benar-benar nihil. Ludah menjalar untuk sakit di pergelangan tangan. Genderang perang lebih kencang.

“Berhenti membeli pena!” katanya lagi.

Tekanan mulai menyesakkan. Tamengku benar-benar basah kuyup. Untungnya, tak ada robekan sedikit pun.

“Penaku adalah pedang yang menebas orang-orang busuk! Kalau kau takut, berarti kau sadar memang busuk,” ejekku.

Sendratari tetap berjalan di tengah ikatan tanganku. Gerakannya makin gayeng, musuh berputar mengikuti irama. Aku tahu, pertempuran ini tak akan usai kalau bangkai masih mengeluarkan aroma busuk. Bayangan kian memaksa mundur para penari tanpa pedang. Begitulah caranya lembaran perisaiku terkotori. Meski sudah jadi perang dingin, penaku masih kerap dicuri oleh bayangan dan tumpukan kertasku masih ternodai.

***

Ceritaku terbawa sampai gelap di bawah Terowongan Karangkates. Tanpa sadar, wajahnya telah kembali di depanku, lempeng. Alis lurusku terangkat. Bibir tipis itu seperti hendak mencecarku lagi. Aku menyiapkan hati untuk tanggapan orang awam yang telah mendengar sinopsis sendratari perang berdarah. Kami menghela napas kompak. Matanya melirik lagi ke arah bundelan kertas di tanganku. Raut yang aku benci, prihatin.

“Puisi seindah ini seharusnya bau mawar, bukan anyir,” suara itu merendah, tak ada lagi nada penasaran di sana.

Aku berdecih. Aroma amis darah memang tak bisa hilang meskipun kejadian sudah bertahun-tahun yang lalu. Mataku turut ke arah lembaran perisaiku. Awalnya ringan, tapi kini memberatkan genggaman. Kata-kata indah yang lahir dari duka telah menciptakan duka yang lain. Percayalah, duka lain tak akan ada jika bangkai terkubur dengan benar dan tak menciptakan bayangan.

“Kamu menang?”

“Kemenangan masih milik si bangkai di balik benteng emas.”

Hening. Ekspresinyalah yang menjelaskan kekhawatiran. Aku bukan takut binasa, tetapi ayahku tak akan terbiasa. Sebab, kematianku akan jadi luka untuknya. Pria dengan perut buncit itu sudah menangis diam saat menyaksikan kepulanganku bersama kertas berdarah dan kotak kosong. Kemudian, esoknya selusin pena telah kembali di atas meja belajar dengan secarik kertas yang berhawa kasih dan doa.

***

Nasib terjebak di antah berantah

Tak ada jaminan hidup layak

Kertas dan pena kembali jadi saksi betapa kejamnya antah berantah di puisiku. Aku jamin usai dirangkai dan dikumandangkan, penaku akan dicuri lagi dan pulang dengan kertas yang bernoda. Entah karena dicabik oleh sekelompok buas langsung atau bayangan hitam dari bangkai-bangkainya. Senyap, sepasang mata di sisiku telah terlelap bersama aroma anyir yang pekat.

 

===

*Auranita Gibrani Darmawan, bisa dipanggil dengan nama Aura. Penulis kelahiran Malang ini telah mempublikasikan sejumlah karya, di antaranya, cerpen “Blok Sembilan”, cerpen “Kana”, cerpen “Salam Maria”, cerpen “Yogya dan Rindu”, cerpen “Mimpi di Balik Gerbang Sunyi”, dan cerpen “Bakauheni Merak”. Ketertarikan dengan sastra sejak kecil membuatnya memilih berkuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *