LiteraSIP

8 Januari 2026

Puisi-Puisi Faloma Yesika

Oleh Faloma Yesika*

 

 

Upah Harian yang Tak Pernah Pulang Utuh

Kami berangkat saat kota masih menggigil,
menitipkan tubuh pada jam yang tak ramah.
Upah dijanjikan sore – angka yang kecil,
namun pagi sudah mengajarkan pasrah.

Ongkos lebih dulu memanggil nama kami,
warung menulisnya dengan pensil patah.
Harga-harga naik tanpa permisi,
sementara doa belajar mengecilkan langkah.

Sore tiba membawa sisa yang bisu,
receh gemetar di saku celana lusuh.
Upah itu pulang, tapi tak pernah utuh
habis di jalan, seperti hidup kami yang terus tumbuh.

 Banyumas, 2025

 

Antrian yang Lebih Panjang dari Harapan

Pagi mengular di lantai pelayanan,
nomor digenggam, doa disimpan pelan;
kami berdiri seperti waktu yang ditahan,
menunggu giliran, menunggu keadilan.

Bangku besi dingin memeluk kelelahan,
nama dipanggil – lalu hilang di angin pengumuman;
petugas menulis, kami belajar bersabar panjang,
sebab sakit dan miskin jarang tepat jadwalnya datang.

Di kaca loket, wajah kami jadi pantulan,
antara cap stempel dan suara penolakan;
formulir berganti, syarat bertambah pelan,
harap diperas hingga tinggal kesabaran.

Saat sore turun, antrian belum pulang,
keadilan masih antre, lebih panjang dari siang;
kami pulang membawa nomor dan ketabahan,
besok kembali – dengan harap yang tak menyerah kalah.

 Banyumas, 2025

 

Anak yang Pulang dengan Sepatu Sobek

Sepatunya robek sebelum jam pertama,
jahitannya menyerah pada usia dan cuaca.
Ia ikat dengan sisa karet dan doa,
agar sekolah tak menolak langkahnya.

Di gerbang, spanduk bicara pendidikan,
janji dicetak rapi, besar, dan yakin.
Namun di bawahnya, ia masuk perlahan,
membawa sepatu yang tak pernah dianggarkan.

Di kelas, ia hafal sila dan cita,
mengucap masa depan dengan suara biasa.
Negeri mengajarinya bermimpi tinggi,
tapi lupa menurunkan tangga ke kaki.

Ia pulang dengan sepatu makin terbuka,
dan pelajaran tentang siapa yang dijaga.
Bahwa sekolah boleh menyebut semua setara,
asal yang robek belajar menerima.

 Banyumas, 2025

 

Tanggal Jatuh Tempo di Dapur Kami

Kami hafal tanggal jatuh tempo dari warung ke warung,
lebih pasti dari kalender janji yang gemar kabur dan bingung.
Di buku kecil, namaku tumbuh seperti utang beruntung,
sementara upah pulang pincang, disunat waktu dan pungung.

Negara datang di baliho – tersenyum, rapi, dan terang,
katanya rakyat diurus, katanya hidup kian lapang.
Tapi perutku berunding dengan nasi sisa semalam,
dan utang mengetuk duluan, paling rajin, paling paham.

Jika setia punya alamat, ia tinggal di laci dapur,
bersama catatan hutang dan doa yang mulai kabur.
Negara boleh absen saat lapar datang menyerbu,
tapi utang – ia  hadir, paling negara dalam hidupku.

 Banyumas, 2025

 

===

*Faloma Yesika, mahasiswi Administrasi Publik FISIP Unsoed, adalah sosok yang memadukan logika birokrasi dengan kepekaan seni. Ia gemar melukis, menulis, dan bernyanyi menciptakan dunia paralel di tengah hiruk-pikuk akademik. Ia kerap membaca dan menulis puisi di sela-sela waktu luangnya, menjadikan sastra sebagai rumah bagi jiwanya yang penuh rasa.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *