LiteraSIP

29 Januari 2026

Puisi-Puisi Erhan Al Farizi

Oleh Erhan Al Farizi*

 

 

Berbagi Halaman dengan Orang Asing di Peneduhan

tanpa mantel kita pun berlindung dari nama hujan.
seolah hujan mengingatkan senjalah sebaik masa
untuk istirahat dan berteduh dari jalur peperangan.
zaman hari ini sudah membentuk kotak dan kotak,
namun perbincanganmu lebih lingkar dari pelukan,
tanpa mengenal aibku dan dosaku dan kekalahanku
—aku merasa terlahir sebagai halaman yang fitrah.

Karanganyar, Januari 2025

 

SAD (Seasonal Affective Disorder)

di 23 derajat celcius, ia mencuri hangat
dari dibakarnya buku-buku harian. sebetulnya
ia telah lama belajar tentang matahari bahwa
sinarnya berbanding lurus dengan arah serotonin.
setiap jengkal tanah yang disinggahi sinar surya
ialah ladang bahagia yang senantiasa
ia bisa usahakan. tapi ia lebih memilih mencuri.

sebab ini penghujan, mendung lebih akrab di mata.
juga sebermula rajam air langit dan cekik kabut,
ia lantas kabur dengan tertatih dari penjara
rasa bersalah.

karena salah hitung tutup buku di akhir tahun,
ia bersegera pulang sebagai bandit:
ia telah mencuri banyak hati,
dan curiannya tak membuatnya kaya.

Karanganyar, awal 2025

 

Telaga Kecil Mewujud Kepalamu

untuk sisa hari. ia izin hendak mengumpati air
kendatipun 60% tubuhnya tersusun dari air.
ia kutuki kepalanya sebagai penghasil air
matanya. setiap malam menuding pukul satu.

dulu, menjelma bocah ingusan yang hobi hujan-hujanan:
ia tak gentar sakit, tak gentar hujan jatuhkan nisan-nisan
itu masa lalu. namun sekarang ia membenci hujan.
ia membenci air. ia membenci tubuhnya.

Karanganyar, Januari 2025

 

Hukum Kapilaritas dalam Pelipisnya

pelipisnya yang tisu menyerap rintik sepanjang jalan
segala yang diantar hujan tertelan mentah tubuhnya
organ dalamnya bergerak klandestin melumat dingin
menjadi puisi, lalu mengetuk ginjal hingga ulu hati

semestinya,
cuaca dingin itu ialah porsi besar yang tak ia pesan
ia dipaksa,
menyantapnya habis tanpa orang lain buat berbagi

Karanganyar, Januari 2025

 

===

*Erhan Al Farizi, guru Bahasa Indonesia dari Karanganyar. Buku perdananya adalah kumpulan puisi yang berjudul Bagaimana Mengubah Rasa Sakit Menjadi Sense of Art: Sebuah T̶u̶t̶o̶r̶i̶a̶l (2023).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *