LiteraSIP

21 Mei 2023

Warna Langit

Oleh Eyok El-Abrorii*

 

 

Langit malam Denpasar tak pernah berwarna hitam. Warnanya selalu oranye keabu-abuan bahkan ketika sedang mendung. Penting bagiku untuk mengabarkannya kepadamu. Sebelum aku tinggal di kota yang tak pernah sepi ini, kamu meminta agar aku selalu mengabarkan warna langit. Sewaktu pagi. Sewaktu siang. Sewaktu sore. Sewaktu malam. Kamu selalu mencintai warna langit. Kamu berkata bahwa anak kita nanti harus menjadi seorang astronom; tak pernah aku setujui, sebab aku ingin ia menjadi pemusik. Selain aku tak yakin bahwa kita akan berjodoh.

Jodoh, katamu, adalah urusan tuhan. Kita hanya dapat berencana. Namun, aku yang sering meragukan tuhan dalam banyak hal lebih percaya bahwa jodoh ditentukan oleh seragam macam apa yang manusia kenakan. Seorang dokter sepertimu tentu saja akan berjodoh dengan seorang abdi negara. Aku sudah mengatakan hal itu kepadamu, dan dengan seluruh cintamu kamu menjawab bahwa sebisanya akan berusaha agar seorang guru honorer macam aku bisa berumah tangga denganmu.

Sementara langit Mataram, katamu, dari kemarin tak pernah berwarna biru. Ada badai yang oleh badan meteorologi diprediksi akan melanda kota kita selama satu bulan, bahkan mungkin dua bulan. Langit selalu mendung dan malam dipenuhi kilat, katamu. Ini adalah keinginan tuhan, katamu juga. Seperti yang aku tahu, kamu adalah dokter paling percaya kepada tuhan. Seperti ketika kamu naik jabatan sebagai dokter utama, kamu juga berkata itu karena tuhan. Padahal, menurutku, itu karena kamu mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh, sampai-sampai kamu tak tidur dengan baik selama satu bulan dan lupa mengingatkanku untuk mendoakan agar kita berjodoh setiap melihat transisi warna langit.

“Bagaimana mungkin langit tak pernah berwarna hitam?” kamu bertanya.

“Ini semua adalah kehendak tuhan,” jawabku tertawa.

“Ada apa? Tumben sekali kamu memercayai tuhan?”

Kamu selalu berusaha agar aku percaya kepada tuhan. Cara paling sederhananya adalah dengan memintaku menulis “tuhan” menggunakan huruf /t/ kapital jika aku mengirimkan pesan. Namun, aku tak pernah melakukannya, bahkan tuhan dalam cerita ini tidak aku tulis menggunakan huruf /t/ kapital seperti yang kamu minta. Hanya jika aku telah benar-benar percaya, selalu begitu jawabku setiap kamu marah.

“Bukan begitu, aku sedang mengejekmu,” jawabku dengan tawa lebih girang.

“Jangan begitu, nanti kamu kualat.”

Sudah tiga bulan aku di Denpasar. Kata orang-orang, jalan paling baik untuk memperbaiki nasib adalah dengan meninggalkan rumah. Aku memilih merantau ke kota ini. Alasannya agar aku layak menjadi jodoh bagi seorang dokter sepertimu. Aku mendaftar kuliah magister hukum, agar nanti menjadi seorang hakim; seorang aparat negara. Sebab aku tak mungkin menjadi polisi atau tentara. Tinggi badanku tak cukup, dan bapakku yang tak kaya tidak akan bisa menutupinya.

Langit masih berwarna oranye keabu-abuan ketika aku kirimkan pesan kepadamu bahwa aku sedang merindukanmu. Namun, saat itu sudah sangat larut, kamu mungkin sudah tidur. Besoknya kamu membalas dengan mengatakan bahwa langit Mataram masih murung. Warna abu pekatnya belum berhenti, dan kamu menutup pesanmu dengan ucapan: ini adalah kehendak tuhan.

Seusai membaca pesanmu aku mempersiapkan diri untuk berangkat mengajar. Di sini, aku juga mengajar, tetapi bukan di sekolah seperti waktu masih di Mataram dulu; aku mengajar pada sebuah lembaga bimbel. Anak didikku hanya lima belas orang, empat di antaranya dari luar negeri. Hari ini lima anak didikku tidak hadir di kelas. Aku ingat, kamu pernah berkata bahwa tuhan mencintai angka ganjil dan kelasku selalu lancar karena anak didikku berjumlah ganjil. Aku tertawa kecil, diam-diam hari ini aku berniat menguji tuhan. Dengan angka genap ini, apakah yang akan terjadi. Selama dua jam mengajar, seorang anak didikku yang dari luar negeri terus-terusan protes. Katanya kelasku membosankan. Katanya juga, sebaiknya aku mengubah metode pelajaran.

Aku tak mau menyerah mengakui tuhan. Aku malah membenarkan anak didikku itu. Hari ini kelasku memang tak menyenangkan. Selain karena metode mengajarku begitu-begitu saja, juga barangkali karena aku memikirkan pesanmu pagi tadi. Mengapa kamu tak mengatakan rindu juga?

Aku pulang, membersihkan badan, beranjak tidur, mengabarimu warna langit. Namun, malam ini tak biasa, kamu tak membalas apa-apa. Padahal belum larut. Biasanya, di waktu-waktu seperti ini, kamu sedang memerhatikan data-data pasienmu sambil berbalas pesan denganku. Barangkali hari ini pasienmu bertambah banyak sehingga kamu tak sempat membaca kabar dariku.

***

 

Sudah dua tahun sejak kamu tak pernah membalas kabar tentang warna langit yang aku kirimkan kepadamu. Aku membuat sebuah lembaga bantuan hukum sendiri, juga bekerja di pengadilan negeri sebagai hakim utama termuda sepanjang sejarah kota Mataram. Kasus-kasus yang aku hadapi setiap hari membuatku tak sempat lagi menghubungimu. Kecuali malam ini, aku mengirimkan kabarku, warna langit, juga menanyakan kabarmu: Aku sudah di Mataram, warna langitnya tidak berubah, ya. Bagaimana kabarmu?

Jawabanmu agak lama tiba, tetapi akhirnya sebuah pesan darimu sampai di gawaiku: Aku sudah tahu kamu pulang, bahkan di hari pertama kamu di sini. Kamu berhasil, ya. Maaf, aku tak pernah mengabarkan apapun kepadamu. Kamu masih saja sama, seperti langit Mataram. Hanya saja, aku yang berbeda.

Tak lama, kamu mengirimkan fotomu sedang mengenakan gaun terbaik berdampingan dengan seorang laki-laki berseragam polisi. Kamu menulis setelahnya: Ini foto pernikahanku, semuanya kehendak tuhan. Setelah membacanya, aku menyadari bahwa sekarang aku sangat layak menikahimu dan mengajakmu tinggal di Ampenan, kota yang dekat dengan laut itu. Sehingga kita bisa mengawasi warna langit hingga pulau-pulau seberang.

Aku menyaksikan langit Mataram yang ternyata tidak hanya berwarna hitam. Ia berkelip-kelip oleh bintang, sorot lampu pengatur mendung atau mungkin lighting panggung konser musik yang masih aku bayangkan sebagai tempat anak kita akan memainkan nada-nada mayor di sana. Sepertinya ada tuhan di langit Mararam dan aku mengirimkan pesan paling akhir kepadamu bahwa, benar, ini semua adalah kehendak Tuhan, kali ini tanpa tertawa dan dengan huruf /t/ kapital.

 

Denpasar, 2023

 

===

*Eyok El-Abrorii, penulis fiksi asal Lombok, kini pelajar di Magister of Linguistic Universitas Warmadewa. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring. Penggagas Komunitas tulissenja.

 

1 thought on “Warna Langit”

  1. Pingback: Ruang LiteraSIP Edisi #19 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *