LiteraSIP

23 November 2025

Tentang Aku dan Bohlam

Oleh Turranisa*

 

 

Mataku terpejam, namun aku bisa merasakan cahaya lampu yang semakin remang. Udara dingin menyelinap lewat celah dan menusuk tulang. Aku menarik selimutku, mulai gelisah. Tiba-tiba lampu padam, membangunkanku dari tidur yang tidak pernah nyenyak. Begitu mataku terbuka, aku lihat ada cahaya dari luar, sepertinya bukan padam listrik, hanya lampu kamarku saja yang sudah kedaluwarsa.

Aku mencari ponselku. Aku lihat jam menunjukkan pukul 3 dini hari.  Aah … kenapa harus sekarang? Aku benar-benar butuh tidur.

Aku duduk, menyandar pada dinding yang terasa sedingin es batu. Aku benci saat tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas, aku benci saat sunyi menyerang jiwa yang kesepian.

Sudah empat bulan aku tinggal di kos ini. Mencari pekerjaan di kota ternyata lebih sulit daripada dugaanku. Aku sudah ditolak ratusan kali. Hari-hari seperti neraka: apa pilihanku salah? Kembali ke kampung juga tidak mungkin, di sana aku lebih menderita. Sebenarnya aku tahu persis bahwa masalahnya bukan pada tempat, melainkan otakku sendiri.

Kecemasan mulai menguasaiku, jantungku berdegup kencang, dadaku terasa sesak seolah ada batu besar di dalamnya. Aku memegang leherku, mencoba melepaskan tali tak kasat mata yang mencekik. Keringat mengucur deras di tengah udara dingin yang menusuk, tubuh gemetaran tak terkendali. Kenapa begini lagi? Aku tidak ingin kehilangan kontrol … Siapapun, tolong aku! Aku menggigit jariku sendiri sampai berdarah, kini aku bisa merasakan darah mengalir, merasa hidup lagi.

Aku tetap pada posisi duduk sampai jam 7 pagi. Apa yang harus aku lakukan? Plafonnya sangat tinggi, mungkin akan sampai kalau memanjat lemari. Apa aku lapor saja pada penjaga kos? Bukankah ini adalah bagian dari pekerjaan mereka?

 Kecemasan ini benar-benar mengganggu hidupku. Aku menggeser lemari yang sangat berat dengan sekuat tenaga, kemudian mencoba memanjatnya. Sial, aku tidak bisa memanjatnya! Kutarik meja kecil yang sudah goyah di bawah jendela, berdiri di atasnya, masih saja tak sampai.

Jangan tanya aku, aku pun tidak tahu mengapa aku tidak bisa menyelesaikan masalah sederhana seperti ini. Aku merasa terusik oleh hal-hal kecil, seolah langit akan runtuh dan menimpaku. Bohlam sialan! Mengapa kau harus mati saat mentalku sedang sakit?

Aku memutuskan utntuk merapikan kembali benda-benda yang sudah kugeser ke sana kemari demi bisa menggapai bohlam. Kini aku melamun lagi, pikiranku kosong, tidak bisa berpikir sederhana.

Pukul 8 pagi, aku beranjak dari kasurku dan mandi. Siapa tahu, air segar bisa menjernihkan pikiranku. Airnya sangat dingin, seperti diguyur air es yang baru keluar dari kulkas. Saat tubuh menggigil oleh dinginnya air, tiba-tiba saja otakku bisa memikirkan cara sederhana untuk menyelesaikan masalah bohlam. Aku tanya saja pada ibu kos apa merk dan berapa watt bohlam di kamar ini!

Setelah selesai berpakaian dan menghangatkan diri, aku bergegas mengirim pesan pada Ibu kos. Lagi, sial! Kenapa tidak masuk? Kecemasan baru muncul.

Pukul 9 pagi, akhirnya pesanku dibalas juga. Aku langsung pergi menuju warung dengan berjalan kaki. Banyak sekali motor dan mobil yang berlalu lalang membuatku sulit menyebrang. Apa lebih baik jika aku tertabrak? Mungkin … tapi percuma kalau tidak langsung mati, hanya menyusahkan keluarga. Kenapa semua orang menatapku? Tidak! Ini pasti hanya perasaanku, lagipula aku memang sudah agak gila.

 Setelah diam cukup lama, akhirnya aku mendapat kesempatang untuk menyebrang. Aku sampai di warung dengan selamat, membeli bohlam yang baru dan beberapa mi instan.

Perjalanan singkat itu cukup menakutkan tapi membuatku lega karena bisa melewatinya. Setelah berhasil aku langsung menuju rumah ibu kos yang berada tepat di depan kos. Sudah waktunya membayar kos, aku juga ingin meminjam tangga.

“Nggak perlu pakai tangga, sayang. Ada alatnya, semacam galah gitu. Nanti ibu tunjukin caranya,” ucap ibu kos membuatku mengingat betapa cemasnya aku tadi.

Ibu kos menunjukkan alat dan bagaimana menggunakannya dengan sangat jelas. Dengan semangat aku membawa alat itu menuju kamarku. Berhasil! Aku bisa ganti bohlam! Aku merasa sangat bahagia dan lega luar biasa, sia-sia aku merasa cemas.

Aku memandangi bohlam baru itu sangat lama, merasa bahagia karena berhasil mengalahkan kecemasanku. Kini suasana kamar terasa berbeda, sangat sejuk meskipun diluar panas matahari menyengat.

Waktu juga mendadak berjalam lambat, padahal biasanya melaju lebih cepat daripada kecepatan cahaya di ruang hampa. Sudah lama aku tidak merasa sewaras ini … tidak ada yang mencekik, tidak ada batu besar yang mengganjal di dada, detak jantungku juga terasa seperti petikan gitar yang lembut.

Malam hari telah datang, bohlam itu memancarkan cahaya yang lebih terang dari yang sebelumnya … Tentu saja, dia adalah bohlam baru yang kudapatkan secara dramatis. Aku tahu, aku harus mencoba melangkah untuk mengetahui bahwa aku bisa melewatinya. Sialnya … terkadang aku harus menggunakan cara gila untuk tetap waras. Aku tidak tahu sampai kapan, hanya saja … Kuharap kegilaan ini berakhir sebelum Juni tahun depan. (*)

 

===

*Turranisa, bukan nama asli, lahir di Kuantan Singingi pada tahun 1999. Pengangguran yang suka menulis.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *