22 Januari 2026
Puisi-Puisi Kahar Dp
Oleh Kahar Dp*

Angkrok
Seorang anak memainkan tangan,
tubuh wayang kertas yang tertusuk bambu,
tipis seperti daun yang gugur, rapuh seperti janji.
Pemilik tangan itu adalah makhluk yang diciptakan dari harapan,
mulut yang dilukis dengan cat minyak pudar,
mata yang tak berkedip namun mengerti.
Aku melihat dari kejauhan: begitulah penciptaan,
bukan gemuruh sabda para dewa,
tetapi putusan kecil untuk membuat pola, memotong, mewarnai,
dan memercayai bahwa khayalan akan menghuni
apapun yang kita kehendaki.
Lengan wayang kertas itu mulai terayun,
sendi bahu bergesek seperti luka lama,
dan dongeng anak-anak mulai menggema.
Ia kisahkan kesepian yang lembut dan kelam,
sebagaimana anak-anak menjelaskan kesedihan
tanpa tahu apa yang sebenarnya.
Wayang kertas seperti menari—
tangan dan kaki berbuai-buai, patuh dan kentara.
Pada akhirnya, ia terjelabak di atas meja,
tapi anak itu terus memandangnya
seperti penyair yang memandangi malam.
Bukankah hidup seperti itu?
Satu kekuatan tersembunyi di dalam
kenangan, ketakutan, dan keinginan
yang memberi gerak pada kita, sesosok wayang.
Bandhulan
Anak-anak berkumpul di taman kota, bayangan mereka memanjang seperti tanya yang tak terjawab. Seorang anak meraih tali, melungguhi papan kayu, tak ada yang ajaib—dan ketika ia mundur, menghempaskan diri, bumi melepaskan cengkeramannya. Bahkan angin pun terhenti, terpana oleh begitu banyak keyakinan tiba-tiba. Berulang-ulang, tubuh anak itu membangun busur. Tubuh yang condong ke belakang memercayai temali sebagaimana seorang pemikir mengimani keraguan: bukan sebagai musuh, tapi sebagai getaran yang dibutuhkan sebelum sampai pada pemahaman.
Seorang anak yang lain berayun lebih tinggi, kakinya menggalah langit; seolah mencoba membelah cakrawala untuk melihat apa yang menunggu di bawah sana. Mungkin keinginan, mungkin api yang menolak kedamaian, tetapi bagi mereka itu semua hanyalah kegembiraan. Tubuh yang mengingat bahwa daya tarik bumi hanyalah separuh dari bualan. Di atas mereka, langit terbentang seperti pintu kucam. Di bawah, bumi menahan napas. Setiap ayunan adalah tanya. Setiap balik arah adalah jawaban yang terlampau singkat untuk diingat.
Begitulah mereka belajar: kebebasan bukanlah pelarian tetapi jeda yang rapuh antara berayun dan berbalik arah. Bahwa ketakutan adalah ragam bunyian, bahwa bumi menarikmu kembali, tak peduli seberapa tinggi engkau mengangkasa.
Dakon
Di lindung lengan trembesi,
dua gadis kecil membungkuk di atas papan kayu—
cekungan kecil adalah ladang,
dua mulut besar di ujung adalah lumbung.
Langit seperti tudung pucat di atas mereka,
dan orang-orang dewasa telah beringsut dari urusan dunia.
Mereka meraih biji-biji di ladang,
biji Manilkara kauki memulai perjalanan.
Satu biji bersemayam di ladang, terus bergerak searah jarum jam,
seolah pengharapan petani dapat diatur ulang oleh jemari.
Biji-biji itu berdenting pelan, bisik kesabaran yang telah terlatih.
Saat biji jatuh ke dalam lumbung,
harta menggunung tetapi mereka tidak bersorak,
hanya saling lirik,
karena mereka tahu;
bahwa harta tidaklah abadi,
bahwa segala yang dikumpulkan
akan dilepaskan suatu hari nanti.
Namun, ketika biji terakhir mendarat
di ladang kosong tak berpenghuni—
keheningan menyeruak,
tangan yang menarik diri,
seperti petaka kecil
yang mengharuskan semua langkah terhenti.
Gasing
Di pelataran belakang rumah tua,
seorang anak menggulung tali panggal melilit leher gasing
seakan mempersiapkan hati kecil untuk memaknai
muasal ketahanan.
Dia menarik dan gasing itu melompat ke tanah,
berputar hingga menjadi kabut warna,
kepatuhan yang mustahil bagi manusia.
Betapa ringan ia memilih tujuan
berkisar dan berlegar,
hingga dunia menjadi cincin suara.
Gasing itu bergetar di tanah, gementar seperti tanya
yang diajukan tetapi terlambat. Bayangannya memanjang,
tipis seperti janji yang tak dapat ditepati.
Anak-anak tertawa, tetapi mainan itu sudah memasuki
dunia kecilnya: gerak adalah bentuk doa, dan ketahanan
adalah maujud keyakinan.
Ketika putaran melambat, keraguan mulai menyusupi.
Adakah sesuatu yang abadi?
Dan kemudian ia terjatuh
terkapar di hadapan debu dan mengakui kenyataan?
Segala yang kuat pada akhirnya berserah,
bukan karena kalah,
tetapi daur, apa yang berputar harus tergelepar
apa yang jatuh mungkin akan bangkit,
dan apa yang bangkit mungkin belajar tentang imbang
dan kesetimbangan
Engklek
Di pagi hari, sebelum matahari mengingat namanya sendiri,
anak-anak menggambar persegi panjang bermahkota gunung,
ruang-ruang kecil untuk takdir di hamparan tanah,
batas-batas rapuh yang tak terindera angin.
Seseorang anak melempar gacu kereweng,
pecahan genteng yang membagul niat.
Betapa aneh, bahwa nasib dilemparkan
sedang mereka berjengkek satu kaki:
seolah keseimbangan adalah doa wingit,
seolah bumi hanya akan berbicara kepada mereka yang berani mendaki
seolah pendaki setengah bersayap, setengah terluka.
Aku melihat mereka berjengkek dan melompat
dari kotak ke kotak, dan ke puncak gunung,
seperti jiwa-jiwa menyeberangi ambang tak kasat mata
antara pernah menjadi dan harus menjadi.
Angin tertahan, batu menunggu.
Dan waktu—untuk kali ini—bergerak sejauh bayangan,
sembari belajar bahwa hidup adalah permainan di atas tanah:
takdir maju dengan mengandalkan satu kaki,
takdir terjatuh karena terlalu mendengarkan keraguan.
===
Perancah
angkrok n Jw permainan yang menggunakan boneka kardus, diapit bilah bambu, diberi benang utk menggerakkan kaki dan tangan
bandhulan n Jw permainan ayunan yang menggunakan dua utas tali dan satu papan duduk; ayunan
dakon n Jw permainan tradisional, menggunakan biji-bijian, kerikil, dll sbg biji dakon; congklak
gasing n Jw mainan terbuat dari kayu dan sebagainya yang diberi pasak (paku atau kayu) yang dapat diputarkan dengan tali
engklek n Jw permainan tradisional, dilakukan oleh sekurang-kurangnya oleh dua pemain dengan cara melempar gacu ke dalam kotak-kotak yg digambar di atas tanah, lalu pemain melompati kotak demi kotak dengan satu kaki; sundamanda
*Kahar Dp, pembelajar puisi ini bekerja sebagai pekamus, penerjemah, dan redaktur pelaksana Karas: Majalah Sastra di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Ia telah menghasilkan buku puisi Kalangkang (2017), Walungan (2019), dan Padewakang: Kumpulan Puisi Terjemahan (2020).