LiteraSIP

5 Februari 2026

Puisi-Puisi Wiwit Atra Putra

Oleh Wiwit Atra Putra*

 

 

Perkara Tambang

di bawah matahari,
selalu ada retakan bumi.

tapi kita tetap meninju batu
hingga suara palu
dan air mata hanyut
dibawa kabar arus sembilu-pilu.

hari diguguh
untuk menjadi penggali
meski setiap percikan api
menandai kulit dengan nyeri.

hanya menggali, menggali,
memecah batu
sampai serpihnya
terbawa angin
di bibir yang tak bernama.

lihat jantung terjerat
di antara pinggang
pemilik tambang
yang tak menimbang
celah-lubang masa depan.

2025

 

Lagu Anjing Lama

bawakan padaku
wajah demokrasi
yang pucat itu.

di sini, aku menunggu,
dengan ekor bergeser
mata menatap tulang
yang tak kunjung datang.

sedang mereka bicara tentang moral,
tentang kesetiaan,
tapi piring mereka penuh bangkai.

aku pun tahu,
janji tidak memberi makan
jika tidak berubah menjadi sesuatu
yang bisa dicium, dijilat, juga dimakan.

2025

 

Thalyria

ini kota masih menahan
napasnya sendiri
jalan-jalannya pekat:
bayang-bayang membeku
di telapak kaki
orang-orang yang lewat
pada malam
di mana langit sepi
dan mata menatapnya
separuh terbuka.

lalu kami menabur
pulau-pulau gelap
dalam harap.

entah, apakah gema kini
sudah menjadi permainan?
aku sering lupa,
bahwa kota itu adalah arena
bagi mereka yang merindu masa kanak-kanak
dan air mata siapa pun
adalah bagian dari ritual
bagi masa lalu.

2025

 

Logam

sebelum senja raib,
kurebahkan tubuhku
di antara bayang-bayang
rumah yang terlupakan
dan daun-daun yang jatuh.
seperti lonceng rapuh
sementara aku mencatat
detik-detik yang lewat,
merayap di tulang
dan urat-uratku

di ujung jalan,
di bawah pohon asam
seorang perempuan
menyisir rambutnya
seolah mencoba
menangkap waktu
yang melarikan diri
dari geraiannya.

kesepian berulang
seperti gelombang
dan malam selalu
membawa pulang.

2025

 

===

*Wiwit Atra Putra, tinggal di Yogyakarta. Aktif di Komunitas Ampas, Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, esai, dan resensi.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *