LiteraSIP

30 November 2025

Puisi-Puisi Cahaya Daffa Fuadzen

Oleh Cahaya Daffa Fuadzen*

 

 

Dongeng Belom Bahadat

Pada sebuah lantunan sempuri purba
aku simak sangat suara Kai Piduka.
“Belom Bahadat, anakku,
ialah tubuh adat bagai rajah iban
melekat di atas kulit dadamu.”

Kai Piduka begitu masyuk membalada
serupa sekumpulan kayu bakar
datang membawa sebuah kabar.
“Belom Bahadat, anakku,
ia membentang bersama Anoi
yang telah tumbang demi bepekat besar
tanpa sempat berbicara lirih
bersama angin begasa.”

 “Lihatlah, berkat Belom Bahadat
mereka tak saling melayangkan
mandau, bukan?”
Begitulah, Kai Piduka membungkus
kisah Belom Bahadat
serupa kain kebat merangkul
punggung hangat tambi adat.

Begitulah, Belom Bahadat menetaskan
Belom Panyang, ibarat seuntai ikat janur
telanjur erat mati kian terikat.

(2025)

 

Liturgi Nasi Kuning

Dari dapur kecil tercium molekul
wangi kunyit yang mengepul
seperti aroma bumbu habang
melekat di mulut Acil Kintul.
Ia pun menguning berkat sumpah
yang dikukus oleh rempah leluhur kami
dengan bau tungku memukat jelang pagi.

Bersama taburan serundeng disajikan
di atas mini altar bagi perjamuan kecil
dari ragam keimanan.
Tak akan menanyakan silsilah,
ia hanya penasaran apakah tanganmu
ikut menyuap bersama doa-doa
yang tiada seamin denganmu.

Ia adalah pesan singkat yang ingin disampaikan
bersama kepala haruan dan dibagikan secara
nikmat yang setara.
Barangkali, itulah cara kami bersua
dengan kisah dirinya yang dibungkus
oleh daun pisang, mengingat tanah kami
segera menua juga langit luntur menguning

(2025)

 

Kuyang Ingin Membeli Labubu

Di swalayan penghancur iman dan cuan,
Labubu yang menggantung diri melongo
melihat kedatangan Kuyang terbang dengan
kepala dan jeroan.yang melayang.

Begini klarifikasi dari Kuyang:
“Maharmu sungguh mahal, Labubu.
Aku terpaksa menggadai tubuhku
hingga menyisakan kepalaku
demi bisa membeli tubuhmu
untuk anakku tersandung fomo
agar ia cepat berhenti menggerutu
sebab kawan-kawannya lebih dulu
membeli Labubu limited edition.”

 (2025)

 

===

*Cahaya Daffa Fuadzen lahir dan besar di Samarinda, Kalimantan Timur. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih di Singaraja Literary Festival 2025. Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *