27 April 2023
Pada Sebuah Daun yang Melayang, Jangan Dulu Jatuh
Oleh : Lina Nurdiana*

Bapak tidak pernah menciumku lagi setelah aku menikah. Padahal aku tahu bapak sangat suka mencium anak-anaknya. Entah itu dibumbui dengan ejekan atau dengan embusan bau mulutnya. Satu yang aku tahu pasti, itu cara dia mengungkapkan rasa sayangnya.
Pada adikku, usai bapak mencium kedua pipi dan keningnya, bapak selalu mengejek. “Alah, Nduk[1].. Baumu seperti buah sawo.”
Kalimat itu seolah menjadi kalimat paten setelah bapak mencium adikku. Padahal, bagaimana aroma buah sawo? Mungkin hanya bapak yang bisa mendeskripsikannya. Satu hal yang jelas, tawa kami selalu pecah setelah bapak melontarkan kalimat itu.
Padaku, biasanya setelah bapak menciumku, aku diberi bonus dengan bau mulutnya. Bapak dengan sengaja meniupkan bau mulutnya dengan bentuk mulut “O” besar. Angin hangat dan bau mulut yang seringnya bau rokok sontak menguar ke wajahku. Aku selalu memprotes bau mulutnya itu. Tapi lagi-lagi, kami menyepakati itu hanya sebuah candaan.
Jujur, aku rindu dicium bapak. Rasanya seperti kasih sayangnya hilang padaku. Padahal boleh saja bapak menciumku walaupun aku sudah bersuami. Bapak dan ibu mertuaku saja tidak sungkan mencium suamiku di depanku. Tapi aku? Kenapa bapak tak menciumku lagi? Apa karena bapak merasa bahwa aku sudah bukan miliknya lagi?
Aku ingat dulu saat calon suamiku meminta restu pada bapak untuk meminangku. Bapak tidak berkata “Jangan sakiti anakku, ya.” Seperti yang ada di fikiranku. Bapak juga tidak menangis melepasku. Padahal dari cerita beberapa teman perempuanku saat kekasihnya meminta restu untuk menikah, tidak sedikit bapak mereka yang menangis. Banyak pula yang melontarkan kalimat yang menegaskan untuk tidak menyakiti putrinya.
Saat aku tanya kenapa bapak tidak bilang untuk tidak menyakitiku pada calon suamiku dulu, bapak berkata “Kalau aku jawab begitu, berarti aku belum rela melepasmu. Saat kamu menjalani pernikahanmu nanti, bapak sudah lepas tangan. Bapak dan ibumu tidak akan ikut campur dengan urusan rumah tanggamu.”
Memang, watak bapak agak keras. Mungkin jalan hidupnya yang menjadikannya begitu. Sebelum diangkat menjadi karyawan di sebuah perusahaan BUMN, bapak pernah menjadi kuli bangunan.
Atas ilmunya dari menjadi kuli bangunan, bapak sangat ahli dalam memperbaiki rumah. Bapak sangat lihai memperbaiki perkakas, mengerti jika engsel pintu atau lemari kurang pas, membuat daun pintu dari seng bekas. Bapak pernah sambang ke kontrakanku dan aku temui dia kecewa dengan pemasangan daun pintu di rumah itu. Engselnya terlalu ke bawah, katanya.
“Harusnya engselnya agak ke atas. Bukan masalah fungsinya, masalah keindahannya.”
Bapak juga komentar tentang kayu yang dipakai sebagai kusen di pintu kamar mandi. Kayunya jelek, tidak seperti kayu jati. Kayunya kalau dipaku keras, susah nembus, tapi lapuk terkena air. Memang, kusen pintu bagian bawah sudah keropos. Selalu ada serbuk kayu yang jatuh tiap harinya.
“Kalau bukan kayu jati, ya, begini. Entah kayu apa ini.”
Di daerah tempat tinggalku saat itu tidak mengenal kayu jati. Padahal kayu jati adalah kayu kelas satu. Kerangka atap rumah yang aku tempati saja terbuat dari kayu pohon kelapa. Aku kira kayu pohon kelapa tidak kuat, tapi kata bapak tidak. Kayu dari pohon kelapa itu kuat asalkan dari bagian dalam dan bawah dari pohon kelapa.
Tidak hanya masalah pertukangan, bapak juga ahli dalam perlistrikan. Jika ada barang elektronik yang rusak, bapak dapat dengan cepat menanganinya. Bapak bisa menyambung kabel yang telah putus. Tinggal menguliti kulit karetnya, lantas menyatukan kembali tembaga di dalamnya. Bapak juga bisa menilai mana kabel rol yang baik atau bukan. Aku kira semua kabel rol sama saja, ternyata tidak. Jika colokannya kuat, kepala colokannya tidak ada bautnya. Itu menandakan kepala colokannya dicor, kata bapak. Kabel yang bagus juga dilihat dari bentuk kabelnya. Aku tidak bisa menilai bagaimana kabel kuat atau tidak. Katanya, yang tidak kuat itu tidak mampu menahan arus yang kuat pula. Akibatnya, nanti kabelnya meledak dan putus.
Akuu kira kemampuan pertukangan dan perlistrikan semacam itu dimiliki oleh setiap laki-laki. Nyatanya tidak. Suamiku, buta masalah pertukangan dan listrik. Lemari pakaian yang engselnya sudah rusak akibat bautnya lepas, aku yang membetulkan. Suamiku bahkan tak menyadari perbedaan saat daun pintu lemari itu sudah miring. Saat kipas angin kami rusak, langsung masuk gudang. Tidak ada keahlian untuk memperbaikinya seperti bapak. Bahkan saat fan indoor AC kami tidak berputar, aku yang naik ke kursi dan memanjat jendela untuk memancingnya berputar manual dengan obeng. Ide-ide unik seperti itu tentu aku dapatkan dari bapak.
Betul memang cinta pertama seorang perempuan adalah bapaknya. Entah sekeras apapun perlakuan bapak dulu padaku, di alam bawah sadarku aku selalu membandingkan suamiku dengan bapakku. Bapakku bisa begini dan begitu, tapi suamiku tak bisa begini dan begitu.
Ah, membicarakan bapak membuatku semakin rindu bapak. Apalagi saat aku bertemu muka melalui panggilan video, aku kerap menjumpai koyo menempel di sisi kanan-kiri kening bapak, terutama saat sore hari. Entah mengapa ingatanku akan guru mengajiku dulu muncul.
“Nyawa seseorang adalah daun dari sebuah pohon di langit Allah. Seseorang yang akan meninggal, kepalanya akan terasa sakit di waktu ashar. Itulah saat daun itu terlepas dan melayang-layang. Dan saat daun itu jatuh, maka saat itu pula seseorang itu meninggal.”
Bapak, apakah saat ini daunmu sedang melayang-layang menuju kejatuhannya? Kalau iya, anakmu ini minta kau cium sebelum daun itu jatuh. []
[1] Nduk: Panggilan untuk anak perempuan (Bahasa Jawa)
==
*Penulis adalah perempuan Jawa yang sedang merantau di Gorontalo. Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media. Pada tahun 2022 menjadi juara III dalam Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Se-Provinsi Gorontalo.
Pingback: Ruang LiteraSIP Edisi #15 - SIP Publishing