LiteraSIP

11 Desember 2025

Mayat dalam Gedung

Oleh Farisya Dinafi*

 

 

Vera mengintip dari balik tirai pembatas. Di ruangan sebelah, sudah menunggu banyak wartawan dari berbagai media. Suara mereka ramai mengobrol sembari menyiapkan peralatan wawancara.

Gadis itu menghela napas. Dia memang baru setahun bekerja sebagai humas di supermarket ternama milik Hadi Group. Meskipun minim pengalaman, tapi Vera tahu para kuli tinta ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Ujung pena mereka lebih tajam dari lidah tetangga. Sedikit saja kalimat miring tertera pada media, mampu mencoreng reputasi perusahaan.

“Mereka sudah berkumpul, Vera?”

Spontan dia melonjak kaget dan berbalik. Di belakangnya sudah berdiri Pak Hadi, pemilik sekaligus perintis supermarket. Seperti biasa, ekspresi pria itu tetap datar, tanpa senyum, atau pun tersirat kemarahan. Sepasang matanya memandang lurus dengan tenang.

“I-iya, Pak, sebentar lagi saya akan memulai konferensi pers,” ujarnya dengan suara gemetar.

“Sukses, ya, Vera, Bapak percaya padamu.”

Vera kembali menghela napas sembari membuka pintu menuju ruang pertemuan. Seketika keriuhan di antara para wartawan mereda. Ruangan senyap. Pandangan mata mereka tertuju pada sosok rupawan yang memasuki tempat konferensi pers. Bukan terpesona, tapi karena penasaran pada kabar miring tentang Hadi Group yang ramai beredar di masyarakat.

“Selamat siang, perkenalkan saya Vera, humas yang mewakili Pak Hadi Wijayasukma yang berhalangan hadir. Beliau menyampaikan pesan bahwa berita yang beredar tentang perusahaan kami tidak benar. Kami sudah sering menghadapi fitnah dalam perjalanan bisnis. Hari ini kami tekankan, kabar yang Anda dengar merupakan tudingan tanpa alasan,” ujar Vera dengan senyuman yang menghias wajahnya.

“Selamat siang, Mbak Vera. Kami hanya ingin mendengar pernyataan dari perusahaan tentang mayat yang ditemukan di lantai dasar gedung ini. Beberapa mahasiswa menemukan, merekam, dan telah menyebarkan foto serta videonya di medsos . Apa tanggapan Pak Hadi tentang kabar menghebohkan ini?” tanya salah seorang wartawan yang duduk di barisan depan.

Suara menggumam memenuhi ruangan.

“Supermarket Hadi Grup berada dalam gedung yang sama dengan salah satu universitas ternama. Prodi favorit dari lembaga pendidikan tinggi itu adalah fakultas kedokteran. Jadi, sosok yang direkam merupakan kadaver, atau mayat yang biasa digunakan untuk praktik mahasiswa kedokteran. Bukan mayat korban kejahatan,” sanggah Vera.

“Kadaver dibiarkan tergeletak di lantai dasar gedung berdekatan dengan supermarket? Tulang belulangnya diletakkan dalam kotak tertutup rapat, Mbak. Apa wajar? Etiskah sosok manusia yang sudah tidak bernyawa diperlakukan demikian?” tanya wartawan lain dengan sengit.

“Maaf, Pak, saya yakin fakultas punya kebijakan dan mereka sudah melakukan tugasnya dengan tepat. Anda boleh konfirmasi dengan mereka. Lagi pula, zaman konten seperti sekarang, apakah pantas menelan informasi mentah dari medsos tanpa mengkonfirmasikannya terlebih dahulu dengan kami?” jawab Vera dengan nada tinggi.

Pak Hadi yang mendengar dari balik tirai, tersentuh dengan ucapan Vera. Meskipun awalnya ragu, ternyata menerima gadis baru tamat kuliah sebagai humas di perusahaannya, adalah pilihan tepat. Vera merupakan putri dari seorang sahabat yang pernah menolongnya pada masa lampau. Pak Hadi lega karena mampu membalas budi dengan cara yang tepat.

Ingatan Pak Hadi melayang pada kondisinya lebih dari sepuluh tahun lalu. Saat itu, dia masih muda dan belum berpengalaman bekerja. Setelah ayah meninggal, ibunya mulai sakit-sakitan. Sementara di rumah ada empat orang adik yang membutuhkan biaya untuk bertahan hidup.

Hadi muda bekerja serabutan demi sesuap nasi dan sehelai seragam sekolah. Namun, meski beragam jenis pekerjaan dilakoninya, semua tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Hadi pusing tujuh putaran. Akhirnya, dia mulai berjualan sate pada malam hari.

Ternyata, dari pekerjaan ini kehidupan barunya dimulai.

Hadi ingat malam berhujan yang membuat warungnya sepi. Kalau tidak mengingat rasa malu, mungkin air matanya sudah mirip tetesan dari langit yang membasahi bumi. Bagaimana jika hari ini tidak sepeser pun uang mampir ke kantongnya? Mau makan apa adik-adiknya besok?

Di tengah lamunan, datanglah seorang pria ke warungnya. Penampilan pria separuh baya itu kasual dengan kaus putih dan celana selutut. Sorot matanya berbinar seakan ramah menyapa. Dahinya yang lebar selaras dengan rambut keriting tebal.

Dia menghembuskan asap rokok sembari memesan beberapa bungkus sate. Dengan hati penuh rasa syukur dan tangan gemetar, Hadi menyiapkan pesanan tersebut.

“Akhir-akhir ini sering hujan malam, ya, Bang?” ujarnya sambil memandang langit hitam kelam.

“Iya, Pak, mungkin karena sudah mau musim hujan,” jawab Hadi sambil terus memotong lontong.

“Sayangnya, hujan enggak peduli dengan pedagang,” ujarnya sambil menatap Hadi lekat.

“Ah, biasa itu, Pak. Untuk cari makan, hujan badai pun harus diterobos,” jawab Hadi sambil tersenyum.

“Padahal, cari makan itu sebenarnya tidak susah, lho.”

“Hari ini, apa yang mudah untuk sejengkal perut?”

“Benar, kok, Bang, mencari makan itu sebenarnya enggak ribet.” Pria misterius itu kembali mengulangi perkataannya.

Tangan Hadi yang sedang mengerjakan pesanan langsung berhenti. Matanya melirik pada pengunjung di sampingnya. Pria itu masih menatap tajam. Rokok di tangannya hampir habis. Malam semakin dingin di tengah derai hujan yang terus mengguyur.

Hadi tidak ingat lagi bagaimana percakapan selanjutnya dengan pria tersebut. Yang melintas di pikirannya adalah malam berikutnya dia segera memesan sebungkus nasi goreng. Atas saran pembeli itu, Hadi mencari seorang gelandangan kelaparan. Rencananya berjalan mulus. Dia menemukan gelandang tua yang menatap nasi goreng dengan mata berbinar, sebelum melahapnya sampai tandas.

Hadi melihat kondisi sekeliling. Dalam suasana malam yang semakin larut, tak seorang pun yang melihat aksinya, Sekarang dia tinggal menunggu reaksi selanjutnya dari gelandangan keroncongan. Benar saja. Tak lama kemudian, sosok kurus kering itu mulai tersedak, mengejang, hingga kemudian tak bergerak lagi.

Selanjutnya, Hadi melakukan ritual yang sama sesuai jadwal diberikan oleh pria misterius, yang kemudian menjadi sahabatnya. Sejak saat itu, pelan tapi pasti usahanya semboko yang dibangunnya terus berkembang. Pekerjaan sebagai tukang sate tinggal kenangan. Hadi pun dapat membiayai keluarganya lebih dari cukup.

Soal reputasi perusahaan? Aman! Dari dulu dia mampu merekrut pegawai tangguh untuk memoles citra perusahaan. Sekarang putri sahabatnya, yaitu pria pembeli sate, mampu menangani setiap isu yang beredar. Soal gelandangan, tak usah dipusingkan. Mereka hanya sampah masyarakat. Yang penting, orang-orang terdekatnya sudah hidup layak.

Bip!

Lamunan Pak Hadi berhenti. Ponsel di saku berbunyi. Ada pesan masuk.

Mas, segera pulang. Adik bungsu kita kecelakaan motor.

Pak Hadi terperanjat. Dengan napas memburu dan jari-jari gemetar, dia segera mengetik pesan balasan.

Gimana keadaannya?

Lama tiada jawaban.

 

===

*Farisya Dinafi merupakan warga Binjai, Sumatera Utara yang memiliki banyak koleksi tulisan fiksi di laptopnya. Meskipun rajin berimajinasi melalui tulisan, mahasiswi Fakultas Ekonomi USU jurusan Manajemen ini, sempat ragu mempublikasikan karyanya.

Tetapi, sekarang berbeda.Walaupun era digital dan visual tengah menjadi tren, Farisya bertekad untuk menaklukkan dunia literasi tanah air. Salah satu caranya adalah dengan mengirimkan cerpen ke berbagai media.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *