LiteraSIP

26 Oktober 2025

Puisi-Puisi Maria Utami

Oleh Maria Utami*

 

 

Gerimis Kenangan di Toples Kaca

Di dalam dadaku, ada sebuah toples kaca bening.
Ia tak lagi berisi kunang-kunang,
melainkan gerimis kenangan yang turun tanpa henti,
membasahi dinding-dindingnya dengan rindu yang hening.

Setiap butir gerimis jadi rekaman masa kecil:
tentang aroma tanah basah sehabis magrib,
teriakan Ibu yang menyuruhku pulang,
juga tawa bangga saat berhasil menangkap sekelip cahaya
dengan tangan mungilku yang gemetar.

Kini, toples itu tertutup rapat oleh waktu.
Aku hanya bisa menatap dari luar, melihat gerimis itu menari,
membiarkan embun dari napasku yang berat
membasahi kaca pemisah antara aku dan diriku yang dulu.

Yogyakarta, Oktober 2025

 

Catatan Seorang Pencari Kelip yang Hilang

Aku adalah seorang arkeolog yang menyusuri reruntuhan malam,
dengan alat-alat sederhana: sepasang mata dan secarik rindu.
Aku tak mencari harta karun atau fosil purbakala,
aku hanya mencari satu artefak yang hilang:
sebuah kelip cahaya yang pernah begitu riuh di sini.

Dalam catatanku, kutulis:
telah kutemukan jejaknya pada helai-helai ilalang,
seperti debu emas yang memancar samar.
Telah kudengar gemanya dalam dongeng-dongeng kakek,
sebuah peradaban cahaya yang merapal musnah.

Catatan terakhirku kututup dengan kalimat ini:
Pencarian selesai. Peradaban kelip itu telah tamat riwayatnya,
dikalahkan oleh zaman yang lebih memilih terang benderang
daripada gelap yang menyimpan keajaiban.

Dan aku, barangkali adalah juru kunci terakhir
dari museum ingatan ini.

Yogyakarta, Oktober 2025

 

Monolog Kunang-Kunang Terakhir

 Akulah aksara terakhir
dari sebuah sajak agung yang pernah menyala di kegelapan.
Akulah penjaga perpustakaan malam yang kitab-kitabnya
telah hangus dilalap api bernama peradaban.
Saudara-saudaraku telah lebih dulu padam,
menjadi abu di udara yang tak lagi ramah.

Dulu, kami adalah bintang-bintang yang turun ke sawah,
menari lincah di samudera jelaga yang maha luas.
Kini, malam telah lama sakit dan pucat pasi,
keracunan oleh cahaya-cahaya kota yang tak pernah tidur.
Gelap tak lagi jadi sahabat, ia telah menjelma musuh
yang harus ditaklukkan dengan lampu juga neon.

Tolong, dengarkanlah monologku yang lirih ini
Cahayaku tak akan lama lagi.
Sebelum padam, biarkan kelipku ini
menjadi tanda titik bagi dongeng kami yang paling perih.

Yogyakarta, Oktober 2025

 

Doa yang Menemukan Jalan Pulang

 Barangkali, mereka bukanlah serangga biasa.
Mereka jelmaan doa-doa sunyi dari para petani
yang dititipkan pada angin senja.
Atau barangkali, mereka adalah harapan para kekasih
yang tak sempat terucap, lalu diberi sayap serta cahaya.

Mereka tak pernah berisik, tak pernah meminta perhatian.
Tugasnya di bumi hanyalah menjadi kompas lirih
bagi jiwa-jiwa yang tersesat dalam gelapnya sendiri.
Menjadi pengingat bahwa di tengah pekat sekalipun,
selalu ada secercah iman yang menolak untuk mati.

Lalu ke mana perginya mereka?
Barangkali mereka tidak punah atau kalah.
Barangkali, tugas mereka telah usai.
Doa-doa itu telah sampai ke langit,
dan harapan-harapan itu kini sedang menemukan jalan pulang.

Yogyakarta, Oktober 2025

 

===

*Maria Utami, seorang ibu rumah tangga asal kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Beberapa karyanya ada yang terpilih dan dimuat dalam buku antologi puisi. Sebagian naskah puisi lainnya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *