29 Januari 2026
Gerbong Kereta
Oleh Winda Efanur FS*

Aku tidak tahu bagaimana cara menuliskan kisah ini. Langit biru di atas sana hanya menggantungkan takdir yang tak semestinya. Sedangkan harapanku tak lebih dari mendung yang tersapu hujan sore itu.
Leo termangu menatap langit sore. Secangkir kopi hangat di atas mejanya mulai dingin.
“Sambil menunggu hujan reda, aku ingin menulis puisi tentang masa depan.”
“Kematian?”
“Hah, kau terlalu naif. Ada yang lebih nyata di mata kita dibandingkan ajal, yakni revolusi.
“Setelah revolusi usai ke mana kita akan tinggal?”
“Aku tidak tahu, saat ini kita bertahan. Bersembunyi layaknya pemberontak. Padahal kita hanya menulis puisi…”
Leo menyeruput kopinya perlahan. Keningnya berkerut menulis larik-larik puisinya.
Xxx
Aku menyiapkan panggung untuk pementasan pekan depan. Panggung sederhana tak lebih dari sekadar papan kecil yang ditata membujur. Tiang besi di empat sudut. Tidak ada layar yang dibentangkan, yang menjadi daya tarik panggung ini mungkin harapan setelah revolusi usai.
Pementasan pekan depan akan menampilkan kesenian daerah. Di dalamnya berisi nyanyian luka kelas pekerja, buruh tani dan suara-suara yang dibungkam. Sebagai respon terhadap aksi pemogokan buruh di pabrik gula Kota Utara. Ketiadak adilan upah buruh yang tidak dibayar pabrik, menyulut api di dalam organisasi. Sebanyak sepuluh perwakilan dari mereka akan bercerita di atas panggung. Selain perwakilan petani dan buruh, para seniman dan sastrawan juga turut hadir.
Walikota dan kepala distrik sudah mengetahui rencana pementasan panggung Panggung Rakyat. Sepanjang latihan dan persiapan sekelompok tentara mengawasi gerak-gerik kami. Seorang tentara berbadan gemuk terlihat berbicara dengan Leo di bangku penonton. Wajah keduanya tampak serius. Lalu keduanya berjalan ke ruang rapat. Leo melihat ke arahku, tatapannya datar tak ada senyuman di wajahnya.
Xxx
Orang-orang sayap kanan semakin mendesak ke wilayah Barat. Dengan bantuan militer menyusup ke desa-desa, mereka berbaur dengan rakyat desa. Menyamar menjadi kuli-kuli rendahan terkadang juga mereka melacurkan diri. Di tempat-tempat lokaslisasi dan kasino mereka menghimpun informasi gerakan sayap kiri. Informasi mengenai pentas Panggung Rakyat tentu sudah mereka ketahui. Di antara kegamangan situasi ini, sayap kiri bersikeras menggelar Panggung Rakyat. Meski mendapat jaminan dari walikota distrik, kami merasa selalu diawasi oleh kematian.
“Puisi apa yang akan kau bacakan nanti?”
“Nyanyian Capung di musim hujan.”
“Itu puisi yang kau tulis saat kita di kedai tempo hari?”
“Iya.”
“Sudah kuduga.”
“Andrea..”
“Iya?”
Aku menatap wajah Leo yang samar terkena silau lampu sorot panggung. Leo menghela nafas sesaat. Dia menundukkan kepala, matanya terpejam. Aku meraih tangannya dan menggegamnya erat.
“Aamin.” Doanya lirih.
“Kau berdoa seolah masih percaya tuhan? Sementara kau menghidupi gerakan yang membunuh tuhan?” Andrea tertawa kecil.
“Aku tidak tahu, yang kuyakini pasti di atas segala hal ada eksistensi besar yang mengendalikan segalanya.”
“Kau yakin tuhan dipihak kita?”
“Tuhan selalu dipihak kaum yang tertindas. Doa-doa adalah nyayian kehidupan. Serupa nyanyian luka-luka kaum lemah yang selalu kalah.”
“Republik bersama kaum borjuis terus memeras rakyat seperti sapi perah. Sudah saatnya kelas buruh mengambil alih permainan. Kita terus mengikuti alur permainan mereka, kita segala kalah. Mereka yang memegang kendali alat-alat produksi. Kita roda perekonomian yang terus dilindas oleh mesin-mesin kapitalisme. Mereka memegang kartu As perjudian ini, cara memenangkan game ini, satu-satunya dengan mengahancurkan permainannya.”
“Berati bukan soal tuhan? Tapi lebih pada perjuangan ketidakadilan?”
“Pertanyaanmu berbahaya. Aku percaya pada nilai yang lebih agung, entitas agung yang menjaga keselarasan semesta tanpa ketimpangan. Kenapa? Kau seolah ragu, Andrea. Kita sudah sejauh ini.”
‘Leo!” Marko melambaikan tangan, mengkode Leo tampil di panggung.
Leo mengangguk ke arah Marko. Di hadapanku wajah Leo menghangat.
“Aku ingin kau memberi tepuk tangan yang riuh usai aku selesai membaca puisi.”
Leo mendekap tubuhku sangat erat. Aku rasakan jantungnya berdetak begitu cepat. Dan kurasakan udara dingin dari embusan nafasnya. Terasa begitu dingin.
Xxx
Aku merasakan sakit kepala luar biasa. Mulut dan mataku tertutup. Kurasakan diriku tergeletak di lantai sebuah ruangan yang tertutup. Suara langkah kaki perlahan mendekat. Suara pintu terbuka. Aku pura-pura tidak sadarkan diri. Mereka membawa tubuhku ke dalam sebuah mobil. Dari kejauhan kudengar riuh orang berteriak ketakutan. Suara senapan berkali-kali ditembakan. Disusul suara ledakan bom-Kerusuhan sedang terjadi. Sepertinya Panggung Rakyat telah diserang oleh sekelompok orang. Tapi di mana Leo? Bagaimana keadaannya? Meski aku malu untuk mengatakannya, wahai kekuatan yang memiliki semesta, tolong lindungi Leo. Kali ini aku berdoa dengan namaMu, yang pengasih.
“Bawa semua tawanan ke penjara kota!”
“Bagaimana dengan pemuda resolusioner itu? Siapa yang akan menghabisinya?”
“Dia dan teman-temannya itu bukan urusan kita, mereka tahanan walikota.”
Xxx
Tujuh bulan kemudian
Kereta api jurusan ke Kota Timur segera berangkat. Aku duduk di gerbong nomor Dua sendirian. Aku selamat dari kematian- berhasil kabur dari kamp itu-. Dengan identitas baru, aku meninggalkan kota ini, kota luka. Sesaat membayangkan jika Leo duduk di sampingku saat ini. Entah apa yang akan kau katakan? Mungkin kau akan mengatakan revolusi telah usai atau baru masuk babak puncak? Tapi yang jelas, semua yang sudah kita korbankan telah menemui tujuannya yakni kemenangan yang begitu getir. Jiwa kita telah merdeka dari penindasan ini. Namun raga kita masih terbelunggu dalam penjajahan.
Dan Kau pergi, hilang entah ke mana? Membiarkan perang ini usai tanpa tanda.
Setelah tragedi pementasan Panggung Rakyat. Opini masyarakat tentang Partai Kiri semakin buruk. Di mata mereka komunis penghianat- tempat penghianat ada di neraka. Persetan dengan itu, bagi mereka, kami sekelompok domba tersesat yang tidak mempunyai tempat pulang. Mungkin begitu, aku biarkan mereka mengarang dogma sesuka mereka. Menghukum dan membunuh domba-domba tersesat dengan dalih agama. Dengan begitu tuhan tersenyum dengan jihad mereka. Sepertinya begitu? Aku memandang langit dari jendela kereta. Kulihat senyumanmu di atas sana.
“Damailah bersama tuhan, Leo!”
Cilacap, 23 Desember 2025
===
*Winda Efanur FS, penulis lepas menulis puisi, cerpen dan artikel.