LiteraSIP

19 Februari 2026

Puisi-Puisi Ni Putu Puspa Trisnawati

Oleh Ni Putu Puspa Trisnawati*

 

 

Anatomi Kota

Di persimpangan yang lupa nama,
berdiri mereka para perut buncit penelan koin emas.
Begah oleh logam, sendawa keras tanpa memijak tanah,
hingga lupa ujung kaki sendiri sudah terkubur
reruntuhan semen dan pohon.

Hidung panjang mematuk udara, menebar janji yang baunya amis seperti karat
Di bawah lampu merkuri, hidung belang menawar harga
pada kupu-kupu malam yang sayapnya patah terhimpit gedung
Lalu mereka, orang-orang yang tidur dalam etalase,
terlelap saat toa kemanusiaan tersumbat dan dipenuhi bising nyamuk

Inilah parade para penunggu kota;
yang kenyang oleh emas, tapi lapar akan nyawa.

 (Bali, 2026)

 

Ruh yang tanggal

Ada mayat berjalan di siang hari
Warga pos ronda bertanya-tanya
Mencoba melengkapi teka-teki silang yang kurang satu kata
Ku bilang: “Ada!”
Ia berjalan tanpa sandal, menapak bara aspal
Matanya membiru, bukan turis, tapi oleh kantuk dan lebam nasib
Melambai pada sosok mungil yang menunggunya pulang

Ada mayat menggerakkan mesin
Roda pabrik berputar, tapi rohnya tercekik
oli dan keringat, upah mati suri yang pelik

Ada mayat mengangkut karung berat
Orang pos lanjut mendengar, telinga mereka tersumbat gosip
“Karung berisi kaleng?” tebak mereka acuh
“Bukan,”
“Isinya jatah kaum bumi, uangnya basah dalam derita.”

(Bali, 2026)

 

Aneka Ragam Bebatuan

Batu granit mengantarmu pada Ilahi
Batu nisan terpaku
Batu karang menerkam ombak
Nelayan utuh, perahu tak rubuh
Batu apung mendinginkan magma
Menyaring benci, tak membebani bumi
Batu akik, bukan untuk konglomerat
Hanya untuk mereka yang menapak tanah
Batu kerikil kau pijak dengan acuh
Mereka saksi koin dalam kaleng,
gulung tikar di emperan,
lubang buaya yang menganga.

Batu tak hanya untuk merajam gedung berdasi
Kenapa melampiaskan pada batu?
Murka pada batu?
Tidakkah kalian menyakiti batu hanya untuk membenamkan
Para berdasi ke liang kubur?

Batu-batu itu menjerit, meski tak bersuara
Menuntut darah yang melekat di tubuhnya
Karena tangan kalian yang penuh dosa, bukan penuh karya.

 (Bali, 2026)

 

Parfum

 Koleksi puluhan rasa hanya
untuk menarik Cupid?
Tidakkah kau gila
Wangi Citrus tak mengarahkan panahnya padamu
Katak betina pun terkapar menatapmu.

Bagaimana jika kau susun menjadi aroma lara, duka, cita, kasih?
Jika kau memakai aroma lara, maka fakir miskin akan singgah;
miskin kemanusiaan.
Jika kau memakai aroma duka, maka kawanan gagak hinggap;
topeng gagak, bertangan dua.
Jika kau memakai aroma kasih, maka turis berdatangan;
hanya untuk berplesir.
Jika kau memakai aroma cita, maka monyet pun bergelantungan;
mencuri hartamu.

Apakah aku salah memintamu menyusun aroma itu?
Kau sibuk menerka aroma bagai pujangga
namun, tak menembus batinmu.
Mungin sukmamu perlu mandi 7 kembang rupa;
rupa laksana, rupa kebajikan,
serta lima rupa doa yang kau lupa eja.

Sebab jika hatimu kau biarkan terbengkalai,
maka hanya lalat buah yang singgah
di tubuhmu.

 (Bali, 2026)

 

===

*Ni Putu Puspa Trisnawati, lahir di Mataram 21 Mei 2000, saat ini aktif bekerja di dunia kesehatan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *