5 Februari 2026
Ciuman dalam Botol Terakhir
Oleh Djoko Subinarto*

SUASANA kamar kecil itu penuh kehangatan. Aroma minyak kayu putih menyebar lembut. Lampu tidur berbentuk kelinci menyala remang. Randi menunggu Gita, anaknya, yang berusia tujuh tahun, dengan hati yang sudah setengah luluh oleh rasa sayang.
“Papa,” suara kecil memanggil lirih. Gita menyodorkan sebuah botol kaca bekas selai. Matanya berkilat penuh rahasia kecil yang hanya ia tahu.
“Untuk apa ini?” tanya Randi, sembari mengusap rambut lurus anaknya. Ia menatap botol itu lama, tak menemukan logika apa pun. Tapi, dari wajah Gita, ia tahu ada sesuatu yang penting bakal terjadi.
Gita mendekat, mengecup lembut bibir botol itu. Lalu, ia menutupnya rapat-rapat. Senyumnya merekah lebar, penuh kemenangan. Seakan ia baru saja menemukan jurus sihir baru. “Supaya Papa nanti punya ciuman kalau aku tidur duluan,” ujar Gita.
Randi terdiam. Matanya terasa basah. Ia tak menyangka anak sekecil itu bisa memberi hadiah seaneh dan sekaligus semanis itu. Malam itu, ia merasa dunia yang selama ini berat mendadak menjadi lebih ringan.
Dan sejak malam itu, muncul tradisi baru di rumah kecil itu. Saban malam sebelum pergi tidur, Gita memberi ciuman pada bibir botol, menutupnya rapat, lalu menyerahkannya kepada ayahnya. Ritual itu seperti doa yang dibungkus kaca. Dan setiap kali botol berpindah tangan, Randi merasa menerima energi baru.
Ia menyimpan semua botol yang diserahkan gita di sebuah kotak kayu tua di lemari besar yang ada di kamarnya. Awalnya hanya satu, dua, lama-lama botol memenuhi setengah kotak. Dan kotak itu tentu saja makin berat. Tapi, di mata Randi, berat kotak itu adalah bukti cinta yang bertambah. Ia kerap tersenyum sendiri setiap menutup lemari.
Kadang Gita menghias botol dengan pita bekas kado ulang tahun. Kadang pula, ia menempelkan stiker bintang atau menggambar hati dengan spidol warna-warni. Botol-botol itu jadi seperti harta karun. Penuh warna. Penuh cerita. Dan tak ada botol yang sama. Setiap botol punya tampilan dan hiasannya sendiri.
“Kalau Papa sedih, buka aja botolnya,” kata Gita suatu malam. Matanya berbinar-binar, seolah ia benar-benar percaya ciumannya bisa menghapus segala kesedihan ayahnya.
Ucapan polos Gita itu membuat dada Randi bergetar. Ia pun melempar senyum, meski dalam hatinya sadar bahwa kesedihannya tak mudah larut begitu saja. Hidup sebagai single parent adalah perjuangan panjang, penuh lelah yang tak terlihat. Tapi, tatapan Gita malam itu membuat semua beban di pundaknya terasa masuk akal. Dan botol-botol itu menjadi pengingat bahwa ia tak sendiri.
Jujur, Randi masih sering merasa letih menjemput Gita, memasak makan malam, lalu mengerjakan laporan kantor sampai larut. Namun, tiap kali melihat botol-botol itu, bebannya seakan lebih ringan. Rasanya seperti ada cadangan oksigen yang disimpan khusus untuknya. Malam-malam panjang melelahkan pun terasa lebih mudah ia lewati.
Hari-hari berjalan, tradisi botol ciuman menjadi rutinitas yang tak pernah absen. Bahkan, ketika Randi pulang larut malam, Gita tetap menyiapkan botol untuknya, yang menunggu setia di meja makan.
“Ini buat Papa, aku simpan duluan ya,” sebut Gita, dengan nada penuh tanggung jawab. Ia sudah seperti penjaga rahasia keluarga. Dan Randi senantiasa menemukan botol itu dengan perasaan hangat. Seakan rumahnya memiliki cahaya yang tak bisa dipadamkan.
Randi sering membuka lemari besar di kamarnya hanya untuk menatap kotak kayu yang menyimpan botol-botol itu. Ia membayangkan tiap botol berisi ciuman Gita yang hangat penuh kasih, yang tak terlihat tapi nyata. Kadang ia mendekatkan telinga, berharap mendengar gema tawa anaknya di dalamnya. Dan entah bagaimana, ia merasa betul-betul mendengarnya.
***
RODA waktu terus berputar. Musim kemarau digantikan musim hujan. Tumpukan debu di jalanan berubah wujud menjadi gundukan-gundukan lumpur becek.
Suatu pagi gerimis, tubuh Randi terasa berat. Nafasnya sesak. Ia mengira hanya flu biasa. Tapi, kondisinya malah memburuk cepat.
Salah seorang tetangganya yang merasa iba segera melarikannya ke rumah sakit. Gita ikut. Ia menggenggam tangan ayahnya erat-erat.
“Papa, jangan kenapa-napa, ya,” ucapnya dengan suara gemetar. Genggaman itu kecil, tapi seperti jangkar bagi Randi yang badannya mulai goyah.
Di ruang perawatan, tubuh Randi dipasangi selang dan alat bantu pernafasan. Gita duduk di kursi plastik. Matanya tak lepas menatap wajah ayahnya yang tampak pucat. Bunyi mesin medis menjadi musik yang asing baginya. Semua terasa dingin dan juga menakutkan.
Gita tidak ikut menginap di rumah sakit. Ia pulang bersama bibinya. Di rumah, matanya terpaku pada lemari besar di kamar ayahnya. Kotak kayu di dalamnya seolah memanggilnya. Ia membuka kotak itu, seraya mengambil sejumlah botol. Ia bawa botol-botol itu, seperti membawa jantung ayahnya sendiri. Langkahnya pelan. Hati-hati, seolah takut menjatuhkan dunia. Malam itu, ia pun tidur dengan sejumlah botol di sebelahnya.
Esok paginya, Gita kembali ke rumah sakit bersama bibinya, dengan membawa beberapa botol. Perawat menatapnya heran. Namun, Gita tak peduli. Botol-botol itu ia letakkan di meja di samping ranjang ayahnya.
“Papa, aku bawa ciumanku,” bisiknya. Suaranya serak karena semalaman tidurnya kurang nyenyak. Ia mengusap pelan punggung tangan ayahnya. Ada keyakinan kecil bahwa semua botol yang dibawanya bisa menyembuhkan ayahnya.
Gita mulai membuka satu per satu botol. Tiap kali tutupnya dilepas, ia dekatkan ke wajah ayahnya. “Ini, Papa… aku kasih lagi,” katanya, penuh kesungguhan.
Keheningan di kamar itu pecah oleh suara kecil tutup botol yang dibuka dan ditutup. Suaranya memenuhi kamar, seperti musik sederhana yang hanya mereka berdua mengerti.
Randi membuka matanya sebentar, lalu terpejam lagi. Senyum samar muncul di bibirnya.
Gita mendekat, menempelkan botol di pipi ayahnya. Ia berharap ciumannya yang menempel di botol itu bisa meresap ke kulit ayahnya, masuk ke darah, dan lantas menguatkan jantungnya yang rapuh.
Air mata Gita perlahan jatuh ke atas botol yang dibukanya, bercampur dengan ciuman yang tersimpan di dalamnya. Gita merasa seakan botol itu kini berisi dua hal, yakni cintanya dan kesedihannya. Ia terus membuka botol demi botol. Tangannya lelah. Tapi, tekadnya tak henti. Semakin banyak botol yang dibuka, semakin kuat harapannya bahwa ayahnya akan benar-benar sembuh.
Randi mengangkat tangannya, mencoba mengusap rambut anaknya. Gerakannya lemah sekali.
Gita terisak keras. Ia menunduk, menciumi telapak tangan ayahnya dengan sungguh-sungguh.
“Papa jangan pergi, ya…” Gita berbisik. Suaranya, nyaris tak terdengar. Bantal di samping kepala ayahnya basah oleh air matanya. Dan ia tak berhenti memohon.
Randi menatap botol-botol itu, sekali lagi. Ia mencoba tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, suaranya sudah tak sanggup keluar.
Tak lama kemudian, monitor di samping ranjang mengeluarkan bunyi panjang yang menusuk telinga. Garis hijau berubah lurus.
Gita terlonjak. Ia mengguncang-guncang tangan ayahnya. “Papa!” teriaknya. Tapi, tubuh ayahnya sudah diam. Dingin. Tak lagi bergerak.
Di tengah kekalutan, satu botol kecil terguling dari meja. Tutupnya terbuka. Udara di dalamnya lepas entah ke mana. Sejenak, Gita merasakan hembusan hangat menyentuh pipinya. Ia menatap botol kosong itu lama. Rasanya seperti ada sebuah embusan di mana ayahnya menitipkan pesan terakhir lewat udara yang keluar. Gita mengambil botol itu, mengecupnya dan menutupnya rapat-rapat. Lalu, ia mendekapnya.
“Aku akan terus isi botol ini untuk Papa, meski Papa sudah tiada,” janjinya. Gita merasa botol terakhir itu benar-benar menyimpan kehadiran ayahnya. Tak lagi hanya ciumannya, tapi juga jiwa ayahnya yang akan selalu menemani dirinya.***
===
*Djoko Subinarto, penulis lepas dan blogger. Bisa disapa lewat IG @enambelaspas.