LiteraSIP

26 Desember 2025

Puisi-Puisi Tampu Bolon Suvardi

Oleh Tampu Bolon Suvardi*

 

 

Umpun Buluh

 Umpun buluh menerjang,
jerambah putus berputar tarian dervish
degup jantung semut naik turun bahu akar
wajah layu daun sirih, nadi kecut ke ujung jari

Sungai Tanjung hibuk-mengamuk
sungai Minak bertengkar hujan
sungai Lubuk berbuai daun-daun
sungai Kerali menebus janji dari Rahim

Janji ke tiang janji ke tangga,
janji ke dinding janji ke atap janji ke lemari
memamah padi sawah mengusir padi geladak

Kita hanya duduk di terminal ini
meyakinkan keraguan, meyakinkan restu
mengakhiri perdebatan, luaskan dada
biarlah perahu membelah sungai entah kemana

Kini, rusuk Barisan menghitam basah
gersang berlubang dimana-mana
tenggorokan pohon kering tercekik

Kau tebang demi usus orang-orang kota, demi rupiah
kau terima kualat moyang sepanjang masa!

Tanah Beselang, 12 Oktober 2025

 

Ranting Patah

Pagi ini ranting patah
daun-daun berguguran
Kulim dan Tembesu melarungkan rumah-rumah
Rangkong dan Enggang mati di lembah gersang ini

Jangan lagi mengadu, kemana perginya napal-napal itu
kemana perginya batu-batu besar itu
kemana perginya hijau hutan lembah itu
kemana perginya Kancil, Rusa, Singa,
Harimau, Gajah, dan Beruang itu

Kemana perginya buah-buah hutan itu
kemana perginya ikan-ikan itu
hingga kupu-kupu tak sudi lagi
kembali di rimba moyang ini

Jangan lagi kau jenguk derita ini
punggungku patah mengangkut getah para
rebung bambu kukunyah menjelma miang dada
pakis kutelan melukai urat-urat dalam kepala
air kuning berkarat dalam perutku
tapi di perutmu menjelma mutiara

Tanahku menuai keringkan air mata
tapi padamu menuai istana dan mobil mewah
untuk apa kau beri obat ini
hingga akhirnya nyawa ini mati dalam gubuk derita ini

Lalu kau hanyutkan aku di sungai ini, sedang engkau
berkalung surga dipayungi purnama dalam bisikan doa-doa

Air Terjun Sosokan Ulu Rawas, 15 April 2025

 

Limbah Malam

Hujan tumpah malam yang buta
selendang basah melingkar dada
teh hangat menguap ke palang jendela
daun-daun terapung dalam telaga rimba raya

Malam larut, angin ribut dalam lengkung paru-paru
ampas kopi menempel ke dagu dalam gubuk atap daun tebu,
lantai kulit kayu tembesu, berdinding kayu labu

Tubuh-tubuh itu tiada mengeluh
getah diambil di rompok itu
disusun dalam lemari berdebu,
cerobong asap awan dahaga

Mesin-mesin itu dihidupkan, limbah-limbah dibuang
lewat pipa bawah tanah, berlayar akar menuju jeramba,
menuju jamban di tepian

 Seluang mati,
rakyat jelata membusuk, empedu pecah,
jantung terluka di ranjang pagi dhuha
raja tertawa dengan mafia durjana,
gelas berdenting, anggur diminum membuncah bahagia

Seruling merdu membela derita
seruling sumbang akhirnya
sumbang akalnya, patah janjinya!

Surulangun, 28 Juni 2025

 

Jalan Berlumpur

bising yang rimbun: debu mengurapi daun beringin
bising yang renyah: asap cerobong pabrik membasahi retina
bising yang sesak: limbah pabrik membanjiri paru-paru
bising yang pengap: truk-truk batu bara merajam dada

kemana perginya bising rimba itu: pohon-pohon terbakar,
abu margasatwa melayang di atas atap rumah raja
anak-anak tak kunjung tiba di sekolah
ibu-ibu tak kunjung tiba di pasar ibu kota

di atas meja kayu tembesu
tulisan janji itu lusuh di selimut debu
rakyat jelata mati membusuk
di pinggir sungai keruh!

Nibung-Rawas Ilir, 19 November 2025

 

Suwarnadwipa

 Suwarnadwipa terkikis
jantungnya habis
hatinya menipis
nadinya berhenti

makmum belibils punah ke bibir
Riau rantau ke Minang
diasuh lumpur duka
Sibolga derita beruyun-uyun
dibabat akar ibunya
dikeruk rahim ibunya

lalu kau raya ke Jakarta
hibur-menghibur tepi pantai
kasur empuk, villa mencumbu laut
gelas-gelas berdenting
air mata derita sesar Sumatra
bermuara di bawah meja kuasa serakahmu

 lalu kau angsup ke tengah pusaran
haram ia menjelma belati
menikam lehermu hingga jauh, menjauhlah

jangan lagi hidangkan Nasi Tue Pilu
Panggak Ikan Sasau Pilu, Belacan Pilu
Sie Reuboh Pilu di lambung-lambungku
dibuai kelambu ibu!

 Tapanuli Tengah, 29 November 2025

 

===

*Tampu Bolon Suvardi. Lahir, besar, dan berdikari di Karang Anyar Musi Rawas Utara Provinsi Sumatera Selatan. Alumnus S1 Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Batanghari Jambi Tahun 2016, S2 Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Soekarno Bengkulu tahun 2019. Puisi “Menanti dan Patah Hati” beroleh juara 1 lomba cipta puisi Se-Indonesia yang di taja Unit Kegiatan Kesenian Universitas Negeri Padang. Cerpen “Balada Aida” di terbitkan Perpusnas Press Jakarta. Penghargaan Seniman Berprestasi Disbudpar Musi Rawas Utara tahun 2024. Penghargaan Bupati Musi Rawas Utara Sebagai Pelaku Seni Yang Melestarikan Objek Pemajuan Kebudayaan Musi Rawas Utara.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *