LiteraSIP

19 Februari 2026

Monster di Tubuh Mama

Oleh Bia R*

 

 

Pagi itu aku terbangun karena keributan di luar kamar. Papa dan Mama saling berteriak, disusul denting sendok yang terhempas ke lantai, suara piring dan gelas pecah, lalu teriakan Mama dan derap langkah yang tergesa. Tak lama, seseorang membanting pintu.

“Setan!”

Begitu mendengar Mama menghardik demikian, aku lekas masuk ke kolong ranjang, berusaha tidak bergerak dan menahan nafas. Sial. Aku lupa mengunci pintu kamar. Mama akan segera datang dan  menjadi monster mengerikan. Saat seperti itu tak ada yang bisa kulakukan kecuali berdoa agar Mama tidak menemukanku, agar ada Ultraman menyelamatkanku.

“Hanan! Bangun kamu!”

Mama membuka pintu kasar. Kulihat sepasang kaki putihnya terhenti di hadapan ranjang. Aku gemetar dan lemas. Dadaku terasa seperti drum yang dipukul-pukul oleh seorang pemain drumben. Kupejamkan mata, sembari berdoa Mama tidak menemukanku. Kurasakan sesuatu mengalir di bagian bawahku, menggenang di lantai hingga rembes ke baju dan celanaku.

Kalau boleh meminta, aku ingin mati saat ini juga. Supaya aku tidak perlu merasa takut lagi. Jika aku mati, bolehlah Tuhan menghidupkanku lagi, lalu menjadikanku hantu agar aku tetap bisa melihat Mama tanpa harus dilihatnya. Sebab jika aku mati tanpa kembali melihat Mama, aku khawatir ia dirasuki monster selamanya. Aku takut papa kewalahan dan menghabisi monster beserta mama. Jika mama mati, ia pasti mencariku di alam baka.

Atau kalau tidak, aku ingin jadi Ultraman. Supaya bisa mengusir monster yang merasuki mama tanpa harus menyakitinya. Sebab ultraman tidak pernah bersikap buruk pada monster sekalipun ia jahat. Kecuali jika monster menyerang orang, ultraman akan menghukum monster. Tetapi tidak membunuhnya.

“Sedang apa kamu di sana, anak nakal?”

Aku terenyak mendengar Mama. Saat membuka mata, wajah sangar monster itu terlihat jelas di depan. Matanya begitu nyalang menatapku. Aku sampai terisak dan tak bisa mengatakan apa pun.

“Keluar kamu dari sana sebelum aku menyeretmu!”

Sungguh aku benci keadaan seperti ini. Aku benci jadi anak lima tahun yang lemah. Aku tidak bisa melawan monster itu. Bahkan untuk keluar dari kolong pun tidak sanggup. Seakan badanku dilem begitu rekat di atas lantai.

“Keluar kau sialan!”

Mama menyambar tanganku, menyeret tubuh ini dengan kasar. Aku menangis dan memohon belas kasihnya. Tapi ia tidak mendengar. Sepertinya Mama telah jadi monster sepenuhnya. Kata kakak teman mainku, monster itu tuli dan tidak bisa mendengar.

“Kurang ajar! Kamu mengompol lagi!”

Gagang sapu menghantam punggungku. Aku memekik. Mama menambahkan hantaman dua kali. Saat mengaduh, hantaman bertambah tiga kali, begitu cepat, begitu keras. Punggungku terasa nyeri dan remuk. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Suaraku keluar begitu saja dari kerongkonganku, seperti ompol yang kukeluarkan tadi. Mama kian meradang.

“Jangan berisik! Apa kamu mau tetangga mendengar tangismu? Biar apa? Biar Mama disebut penjahat?”

Gagang sapu terus menghantam. Berpindah-pindah dari punggung ke bokong, ke kaki, lalu kembali ke punggung.

“Ampun!”

Aku berusaha meraih kaki monster itu, memeluknya erat. Ia mengayunkan kakinya, membuatku terpelanting ke belakang. Aku ambruk tak berdaya. Mama tiba-tiba memekik. Tangannya terasa hangat menyentuh pipi. Lalu ia bawa aku ke dekapannya. Hangat dan lembut, meski tubuhnya terguncang. Air mata menetes mengenai ubun-ubunku.

“Hanan, maafkan Mama,” pekiknya. Degup jantungnya begitu keras, begitu kepalaku tersandar di dada kurusnya.

Aku hanya mengangguk pelan. Ia terisak dan berulang kali meminta maaf. Mama sudah tidak jadi monster lagi. Roh monster yang merasukinya sudah pergi. Terbang seperti sinar ultra yang merasuki hewan-hewan baik menjadi mengerikan[1].

Ia sudah kembali seperti sedia kala. Lembut dan penuh perhatian. Aku ingat, sebelum sinar ultra monster itu merasuki mama, mama baik seperti peri. Ia bisa menjadi thinker bell yang menyulap barang apa saja yang sudah rusak jadi bagus lagi, termasuk mobil-mobilan. Ia juga bisa jadi koki yang masak makanan lezat untukku.

Kuedarkan pandang ke seluruh ruangan. Tidak ada Ultraman di mana pun. Lalu siapa yang menyadarkan Mama dari sinar ultra monster itu? Jangan-jangan, benar apa kata nenek, akulah ultramen itu. Tubuhku kerasukan ultramen, tanpa aku sempat menyadarinya.  Tapi urusan itu tidak perlu dipikirkan. Yang penting saat ini Mama menghentikan pukulan dan memelukku.

“Ayo mandi, Nak,” ujar Mama, menggendongku menuju kamar mandi.

Dilucutinya piamaku begitu lembut dengan air mata yang terus berderai di pipinya. Dengan isak tangis yang tak henti, Mama menggosokkan sabun begitu lembut ke tubuhku. Ketika ia menggosok bagian punggung, aku mengaduh, lalu ia meminta maaf dengan suara tercekat.

Setelah memandikan, Mama mengeringkan tubuhku begitu halus. Menggosokkan minyak telon dengan mata yang mulai membengkak. Tak henti mulutnya mengucap maaf. Kulihat sudut bibirnya sedikit robek. Ada darah kering di sana. Mata sebelah kanannya, selain bengkak, juga membiru. Apakah sinar ultra monster yang merasuki Mama yang menyebabkan mulutnya robek? Aku tak berani bertanya langsung. Hanya terus menatapnya lekat. Dengan pertanyaan yang masih sama. Apakah ia diserang monster juga, atau karena sinar ultra yang merasuki tubuhnya.

Mama mendudukkan tubuhku di sofa, menyuapiku dengan potongan telur  dadar. Aku baru tersadar, tangannya memar. Siapa monster yang menyerang Mama? Ataukah benar Ultramen ada di sini untuk mengawasiku dan melindungiku? Aku masih sibuk bertanya-tanya dalam benak ketika Mama memelukku hangat sembari mengusap punggungku.

“Maafkan Mama. Seharusnya kamu tidak dijadikan pelampiasan.”

Bahunya berguncang seiring dengan isak yang terdengar. Lalu usapan di tangan itu berubah jadi cengkeraman. Aku mulai tak enak perasaan. Berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Tapi Mama kian erat memelukku sampai sesak. Monster itu datang lagi.

“Mama,” kataku gemetar.

Kalimat itu terucap begitu saja. Aku menahan kencing dan berusaha tak memberontak lagi. Sebab bisa saja Mama yang sedang dirasuki monster itu membantingku.

“Maafkan Mama, sayang.”

Ia melepas cengkeramannya dari rambutku. Lalu memelukku lagi dan menciumi keningku, pipiku, ubun-ubun kepalaku. Tapi matanya tak henti mengeluarkan air yang berderai-derai. Menetes membasahi rambutku.

“Mama kenapa?” tanyaku memberanikan diri.

Ia hanya menggeleng dan tak melepaskan kecupannya di kepalaku. Aku takut jika tiba-tiba sinar ultra monster itu datang lagi merasuki Mama. Lalu dalam posisi seperti ini, mulutnya terbuka dan melumat kepalaku.

 

[1] Dalam cerita Ultraman Cosmos dikisahkan sebuah monster yang menjadi jahat karena dirasuki sinar ultra berupa kekuatan jahat (Chaos Header)

 

===

*Bia R lahir tahun 1995 di Sukabumi. Hingga kini menetap di Sukabumi. Beberapa ceritanya pernah dimuat media lokal.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *