2 Januari 2026
Puisi-Puisi Dahayu Erinna Wibidianti
Oleh Dahayu Erinna Wibidianti*

Asing di Kota Sendiri
Apa yang terlintas di benakmu, ketika kusebut kalimat itu. Asing di kota sendiri. Bukan tempat lahir, tetapi tumbuh besar di sana. Rasanya, segala sudut telah kujelajah. Namun sekali lagi, rasa asing muncul.
Nyatanya, kau tak benar kenal. Kau hanya tahu jalan bundaran besar di tengah kota. Swalayan mini lima ratus meter dari rumah. Lampu merah menghalangi perjalanan yang harusnya tepat waktu.
Sudut kota ini, penuh keterasingan. Sebab kau tak tahu menyeluruh. Sebab yang kau jejak hanya dasarnya. Atas nama kota ini.
(2025)
Sudut-Sudut Tersembunyi
Dua belas tahun setelahnya,
Baru kau tahu ada warung lalapan sedap dekat jembatan layang. Tepat pukul 00.00, panorama dari ujung bukit menyaksikan kehidupan malam kota. Selebihnya, di sini menyimpan banyak rahasia kecil soal warga lokal dan pelancong yang datang.
Mengenal butuh waktu. Dan waktu adalah pengorbanan tiada henti.
(2025)
Mempertanyakan
Bagaimana jika semua ini tak ada dalam rencanamu?
Mengenal setelah belasan tahun menetap. Kau mungkin senang sesaat. Kemudian membatin ragu, “Apa ini yang sungguh kucari?”
Pertanyaan demi pertanyaan menghujam. Kau tahu persis, bukan ini jawabannya.
(2025)
Dan Kota Itu, yang Kumau
Manusia idealis. Aku mau ini. Aku mau itu. Bahkan setelah mendapat damai dan jawaban. Masih saja tak puas.
Kota ini, akhirnya kupahami riuh ramainya. Diam tenangnya. Panas dinginnya. Tak lupa cita sakit yang melingkupinya. Tetapi bukan ini yang kumau.
Di belahan lain, ada tempat bernanung yang amat kudamba. Mirip, namun menawarkan lebih. Kota itu. Yang kumau. Manusia tak pernah puas.
(2025)
===
*Dahayu Erinna Wibidianti merupakan sosok kelahiran 26 Januari 2007 yang kini tengah menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Hobinya pada sastra dan literasi telah dimulai sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, membuatnya menoreh berbagai prestasi dan menerbitkan buku.