LiteraSIP

26 Desember 2025

SANG JIBRIL

Oleh Narudin Pituin*

 

 

 Mantan Kepala Desa Suyono kini disebut Mbah Jibril karena dapat membaca masa depan, apa pun yang akan terjadi, baik hal itu bersifat agung maupun sepele, baik urusan percintaan kawula muda, persoalan rumah tangga, maupun perkara politik yang dilematis.

Ia tinggal menunggu kehadiran Jibril di kamar rumahnya, baik di siang bolong maupun di malam gulita dengan tanda-tanda tubuh Mbah Jibril berkeringat dingin, berguncang dahsyat, kemudian bergerak-gerak seperti tengah menunjukkan beberapa jurus silat. Tak jarang benda-benda di dekat kamarnya menjadi sasaran kaki-kaki dan tangan-tangannya yang meliuk-liuk, menebas, mencengkeram.

​Istri Mbah Jibril masih muda. Ia adalah istri muda keempatnya. Ia-lah yang menemani Mbah Jibril. Sedangkan, ketiga istri lainnya sudah tak dihubungi lagi oleh Mbah Jibril karena tak ada yang kuasa memberinya keturunan.

​Mbah Jibril mengawini perempuan muda itu karena tepergok sedang bercinta dengannya di dalam kamar sebuah kontrakan seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui juga bahwa mahasiswi itu pun adalah tempat ia bermain.

Alhasil, penduduk desa sekitar menggugat agar Kepala Desa Suyono segera dihukum cambuk atau lengser dari jabatannya dengan syarat bersedia mengawini gadis ingusan tersebut. Ia tersenyum demi mendengar bentuk pilihan hukumannya yang terkesan menguntungkan bagi dirinya sendiri. Dalam pada itu, orang tua si perempuan muda itu rela saja, mengizinkan putri semata wayangnya dikawin oleh seorang mantan kepala desa berwibawa.

​“Kehormatan tak akan luntur walaupun jabatan telah turun. Yang penting mumpung sempat. Mumpung takdir baik berpihak kepada keluarga kita. Si Denok pun merasa nyaman bersama Bapak Kepala Desa Suyono,” bisik mereka.

​Ya, demikianlah, keputusan itu dijatuhkan. Mantan Kepala Desa Suyono, pemilik sawah luas di desanya, tak menganggap lengsernya ia dari jabatan sebagai Kepala Desa akan merusak kehormatan harta bendanya. Ia masih memiliki pembantu-pembantu setia, yang setia mengolah lahan-lahan pertaniannya yang bertebaran di sana-sini. Ada sawah-sawah dengan pengairan irigasi, pengairan tadah hujan, di bawah bukit, di dataran, atau bahkan di balik bukit yang berjarak tempuh sekitar delapan kilometer.

​Sejak menjadi Mbah Jibril, ia tak lagi menghiraukan kekayaannya dari hasil lahan-lahan pertaniannya. Malah, hasil-hasil pertaniannya itu ia berikan kepada seluruh penduduk desa yang miskin, setengah miskin, dan melarat minta ampun. Kekayaan Mbah Jibril lainnya diraih semudah membalikkan telapak tangan, yakni memberitahu masa depan.

​“Mbah, saya belum dapat jodoh. Kapan jodoh saya akan datang?” kata seorang gadis yang mulutnya berlipstik tebal, berwarna merah darah, tetapi menguarkan bau mulut tak sedap.

​“Minggu depan, ada seorang lelaki tampan dan kaya meminangmu.”

​Dan benarlah, takdir tepat sasaran!

Si mulut tak sedap itu mendapat lamaran dengan ciri-ciri yang diucapkan oleh Mbah Jibril.

​“Mbah, rumah tangga kami tak harmonis. Suami saya senang bermalam di rumah janda muda yang suaminya baru meninggal dua hari yang lalu,” keluh seorang ibu, yang terus-menerus mengelap kopok di telinga-telinga anak kecilnya di atas pangkuannya.

​“Janda itu akan mati, tertabrak truk, sekitar lima hari lagi.”

​Dan betullah, takdir tepat bidikan!

Si ibu beranak kopokan telinga-telinganya itu mendengar, lima hari kemudian, bahwa si janda muda yang suaminya meninggal dua hari lampau itu tertabrak sebuah truk beras ketika si janda muda itu hendak menyeberang ke sawah di dekat sebuah warung di pinggir jalan.

​Setelah perkawinannya dengan istri muda keempatnya, tepatnya sebelum Mantan Kepala Desa Suyono didatangi Jibril, ia senantiasa melakukan hubungan suami-istri. Kendatipun demikian, begitu ia dipanggil-panggil Mbah Jibril, ia menolak bersanggama dengan istri muda keempatnya itu dengan alasan ia telah cukup bercinta dengan Jibril.

​Benar, ternyata, begitu mendengar bahwa Mbah Jibril tak lagi tertarik pada istri muda keempatnya, semua perempuan muda penduduk desa itu berduyun-duyun, memasrahkan diri untuk menjadi istri muda kelimanya. Tak jarang beberapa dari mereka melulusi pakaiannya di depan muka Mbah Jibril yang berwajah muram, acuh tak acuh, menampik tawaran para perempuan muda itu.

​Para perempuan muda itu mendapat izin khusus dari istri muda keempat Mbah Jibril yang kini sepertinya kesepian. Menurutnya, membantu suami dalam hal apa pun demi kebahagiaan sepihak atau kedua belah pihak sangat mulia karena di situ ada unsur ketulusan yang murni.

Segera setelah penolakannya terhadap para perempuan muda penduduk desa itu, Mbah Jibril didatangi oleh seluruh penduduk desa, kecuali anak-anak di bawah umur dan Kepala Desa Baru, Asep, beserta keluarganya.

Asep dan keluarganya tak pernah datang ke rumah Mbah Jibril atau sekadar memohon diberitahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hidup Asep dan keluarganya aman sejahtera, tak kurang sesuatu pun. Mereka sekeluarga menilai dengan teguh keyakinan bahwa ini adalah alamat takdir baik dalam bentuk yang lain, tetapi berdampak menyenangkan jasmani dan rohani.

​Angin mengaum di udara. Langit semakin mendekat, seakan-akan berjarak hanya satu jengkal tangan di atas kepala manusia. Anjing-anjing melolong ke dalam kelengangan. Daun-daun melayang-layang, enggan menyentuh tanah. Malam itu.

​“Ah, kau berselingkuh dengan si Asep, Kepala Desa Baru, kan?”

tanya Mbah Jibril kepada istri muda keempatnya.

​“Benar, Suamiku. Pasti Jibril mengabarimu, kan?”

​“Ya, tapi aku tak terusik dengan perselingkuhanmu dengannya. Terserah. Hahaha…. Aku tak cemburu, tak cemburu!”

Mendadak, Jibril tak datang lagi.

​Sebulan kemudian Mbah Jibril sakit keras, menurut kabar orang-orang dari desa itu. Tubuhnya menggigil hebat. Gigi-giginya mendadak lekas ompong. Rambutnya beruban lebat, sampai-sampai janggutnya pun turut memutih semua. Wajahnya semakin tampak tua. Rongga-rongga matanya hitam. Ketika itu, dalam keremangan sempurna, ia memeluk istri muda keempatnya.

​“Dekap aku… ya, dekap aku erat-erat, dekap… ya… begitu, begitu… aku, aku sangat membenci almarhum ayahku. Waktu aku kecil, aku kecil… dia-lah yang membuat… pantatku… berlumuran darah. Bajingan!” teriak Mbah Jibril.

​Istri muda keempatnya cuma terdiam, mencoba-coba membandingkan kehangatan tubuh Mbah Jibril dengan kehangatan badan Asep.

​Seluruh penduduk desa tak pernah lagi mengunjungi Mbah Jibril untuk bertanya perihal waktu yang belum dilampaui. Bahkan, para pembantu atau para pekerja Mbah Jibril pun sudah tak sudi lagi membantunya karena wajah dan badan Mbah Jibril telah sangat menjijikkan. Tubuh Mbah Jibril tinggal tulang dibalut kulit. Hampir-hampir tulang belakangnya menyentuh kulit perutnya! Mata-matanya seolah-olah berlubang. Padahal, masih bermata, hanya terlalu menjorok ke dalam rongga-rongga mata. Kulit-kulit tubuhnya bau bangkai tikus sedemikian rupa sehingga istri muda keempatnya mulai enggan tinggal di rumah.

​Pada suatu malam, Mbah Jibril, dengan susah payah melompatkan tubuh cekingnya ke luar jendela kamar. Ia hendak pergi entah ke mana. Tak kunjung keluar. Tenaganya terasa hilang. Ia melirik sudut kamar. Tempat di mana Jibril biasa datang dalam kabut hitamnya, dengan tubuh hitamnya yang tak bersayap. Lalu, Sang Jibril membuka rahasia-rahasia peristiwa yang akan terjadi di masa depan!

Mbah Jibril pun menangis tersedu-sedu, lama sekali, dan menendang sebuah bangku kayu tertutup kain hitam di sudut kamar itu. Mungkin, tempat duduk si Jibril itu. Dan, akhirnya, ia pun berhasil menggulingkan tubuhnya ke luar jendela. Di bawah jendela, di bawah rindang pohon jambu yang bunga-bunganya berjatuhan, tertiup desir angin malam, menerpa wajahnya, ia mengusapnya perlahan-lahan, memandang rembulan yang seakan-akan tengah memelototinya. Awan-awan kelam melambaikan tangan-tangan kasarnya kepadanya. Hatinya seakan-akan diisap satu bintang nun di atas sana.

​Keesokan harinya, mungkin hari Jumat, mungkin hari Minggu, beberapa penduduk desa itu melihat Mbah Jibril berjalan di udara. Berjalan di antara awan-awan yang menampung air hujan. Sedangkan, penduduk desa lain, kecamatan lain, kota lain, melihat sosok Mbah Jibril itu sebagai si tua bangka kerempeng, bertubuh bau busuk, jalannya terseok-seok di pinggir jalan, sesekali tertawa, kadang kala menangis tersedu-sedu, terkadang berteriak-teriak, “Aku Mbah Jibril… Mbah Jibril… Mbah Jibril… Bukan! Aku… Kepala Desa Suyono! Bukan! Aku… Kepala Desa Terbaik! Bukan! Aku….”

Menurut kabar terkini, istri muda keempat Mbah Jibril kini telah menjadi istri muda kedua Kepala Desa Baru.

Denok dan Asep tahu siapa Sang Jibril itu sesungguhnya.

***

​2025

 

===

*Narudin Pituin ialah sastrawan, penerjemah, dan kritikus sastra. Karya sastra, terjemahan, esai dan kritik sastranya dimuat di Kompas, Tempo, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Basis, Pikiran Rakyat, dan banyak lagi di dalam dan luar negeri. Buku puisinya berjudul Di Atas Tirai-tirai Berlompatan (2017) menjadi pemenang Anugerah Puisi CSH 2018 dan dua buku puisi terjemahan bahasa Inggrisnya mendapat penghargaan tingkat internasional. Buku-buku terbarunya berjudul Sintesemiotik: Teori dan Praktik (2023), Sastra Indonesia dalam Sastra Dunia: Kumpulan Esai dan Kritik Sastra (2023), Sang Nabi Al-Muqaffi (novel, 2022), dan Kuntilanak Monru (kumpulan cerpen, 2024). Alamat FB/IG/TikTok/Youtube: Narudin Pituin.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *