18 Desember 2025
Masjid yang Lapar
Oleh Kartika Catur Pelita*

Astagfirullaah, ada apa ini?” Abah Usman bergegas menuju tiang di sebelah menara masjid. Menghampiri keramaian: orang-orang yang sedang berbuat zalim. Abah Usman tiba-tiba tidak merasa ingin kencing lagi. Yang tumbuh malah rasa jengkel dan marah. Mengapa orang berbuat kejam pada sesama? Apalagi sesama muslim? Oh, teganya. Sungguh tega.
***
Abah Usman, seorang ustaz, pemilik perkebunan kopi, dan pengusaha yang sukses, bersama istrinya, Siti Maemunah, mengantar Fadil, si anak bungsu, untuk mondok. Selulus SMP di kotanya, Fadil berkeinginan belajar agama Islam lebih mendalam. Mondok di pesantren. Abah Usman dan Maemunah dengan senang hati menuruti keinginan si bungsu. Setelah si sulung dan si penengah tidak memiliki keinginan mondok, tapi sejak kecil mereka dibekali pendidikan agama yang kuat.
Sebenarnya di kota mereka terdapat pondok pesantren besar dan modern, tapi si bungsu ingin mondok di luar kota. Beberapa pondok pesantren mereka survei. Akhirnya Abah memutuskan memondokkan Fadil di sebuah pesantren di Banten. Pesantren tempat Abah Usman dulu pernah mondok.
Mereka berangkat dari kotanya bakda Salat Subuh. Setelah menempuh perjalanan belasan jam, mereka sampai di sebuah kota kawasan pantura. Jelang waktunya Salat Asar. Abah Usman menyuruh sopir berhenti si sebuah masjid Agung yang bangunannya megah. Mereka salat Asar berjemaah.
Mereka selesai salat. Supir menunggu di dalam mobil. Fadil menanti ibunya yang masih di bilik perempuan masjid. Abah pamit hendak ke toilet, ketika melewati halaman belakang masjid dan di sana ramai, orang-orang melihat atraksi yang menyedihkan, seorang pemuda kurus berkaus buluk didudukkan di bawah tiang di sebelah menara masjid. Si pemuda kurus diikat kaki dan tangannya, tak berkutik, dan dibiarkan menjadi tontonan orang.
“Dia pencuri, Pak. Tertangkap basah sedang nyuri serenteng ciki–ciki di toko samping masjid. Tadi siang kami menangkapnya dan pengurus masjid menghukumnya dijemur di sini, biar kapok tak mencuri lagi, ” jelas seorang laki-laki bertubuh tinggi besar.
“Bikin rusuh masjid dia, seperti anak punk,” ujar seorang pemuda bersarung dan berpeci.
”Astagfirullah, mengapa kalian tega seperti ini?” jerit Abah Usman. ”Di mana rumah pengurus masjid ini? Tolong antarkan saya menemuinya!”
“Belakang masjid ini, Pak.” si pemuda bersarung berpeci mengantarkan Abah Usman ke rumah pengurus masjid. Pada bangunan rumah bertingkat, nomor tiga dari sebelah pagar belakang masjid. Mereka mengucap salam. Si penghuni keluar, seorang perempuan gemuk. Istri si penjaga masjid. Dia masuk kembali ke rumah, kemudian muncul bersama suaminya. Lelaki bertubuh sedang, berkulit kecokeletan, bermata tajam. Abah mengenalkan diri sebagai seorang musafir yang numpang salat karena sedang bepergian jauh. Si penjaga hanya sambil lalu mendengarkan, berbincang seraya melangkah menuju halaman belakang. Mereka akhirnya tiba di sana. Orang-orang masih menunggu si pemuda pesakitan.
“Tolong, kalian lepaskan dia, lepaskan, jangan berperilaku kejam pada orang,” ujar Abah pada si pengurus masjid, yang juga tukang azan.
“Dia bikin susah, Pak. Sering mencuri. Ketika ada Jumat berkah dia sering mengambil nasi kotak lebih dari satu, dan memasukkannya ke dalam tasnya, ” ujar si pengurus masjid, laki-laki berumur 40-an tahun, berambut ikal, bertahi lalat di dekat mata. Suaranya keras dan lantang.
“Mungkin dia lapar. Tentu ada alasan kalau dia mencuri. Jika pun dia mengambil nasi jumat berkah lebih dari satu, hitung-hitung ladang kita beramal,” nasihat Abah Usman.
”Dia juga kalau ke masjid tidak pernah salat. Hanya numpang tidur. Bikin masjid kotor, ” umpat si penjaga masjid, terlihat marah.
“Salat itu kewajiban dia pada Allah. Mungkin saja dia salat di masjid lain, atau di tempat lain. Jangan suudzon. Jangan zalim pada sesama muslim, ” nasihat Abah Usman, teduh menatap si penjaga masjid. Si penjaga masjid balas menatapnya dan berkata tak senang.
“Apakah saya harus melepaskan dia? Apakah bapak bisa menjamin dia tidak maling lagi?”
“InsyaAllah.”
”Apakah saya harus benar-benar melepaskan dia, Pak?” si penjaga masjid meragu.
”Ya. Tolong lepaskan dia,” pinta Abah Usman.
”Bagaimana kalau dia bikin ulah lagi? Bagaimana kalau dia mencuri lagi?”
”Mengapa dia harus dilepas sih?” gumam laki-laki tua berkaus abu-abu.
”Apa gunanya maling dilepas? Jangan-jangan setelah ini dia bawa temannya untuk balas dendam, bikin kekacauan, ” desis perempuan berjilbab warna putih, ”Apa bapak mau menanggung risikonya kalau dia berbuat kriminal lagi?”
”Jangan kalian suudzon. Anak ini bisa jadi kelaparan sehingga nekat mencuri jajanan. Sudahlah lepaskan. Jangan sampai terjadi hal lebih buruk. Kalian lihat kondisinya yang lemah. Apakah kalian tak iba?”
”Syukurnya sendiri jadi maling. Untung tak dimassa, bisa-bisa mampus seperti maling motor tempo hari di masjid ini. Kemiri kakinya kita pukuli sampai lumpuh sebelum kami serahkan ke polisi, ” si penjaga masjid berkoar.
”Astagfirullah. Jangan main hakim sendiri. Lepaskan dia,” Abah Usman mengiba, memohon pada penjaga masjid. ”Segera lepaskan dia. Saya menanggung risikonya. Kalaupun harus menebusnya, saya iklas. Mana pedagang atau toko yang jajanannya dicuri? Saya akan memberikan uang tebusan. Ini kartu nama saya!”
Penjaga masjid menerima dan membaca kartu nama. Tiba-tiba dia berubah sikap, menjadi takzim dan menyalami dan menciumi tangan Abah Usman. “Maaf saya tidak tahu kalau bapak seorang kiai juga ustaz.”
Abah Usman menghela napas panjang. Si pengurus masjid membebaskan si pemuda kurus. Abah Usman menyalami dia, mendekapnya, dan memberikan segenggam uang. ”Kau belilah makanan kalau lapar, Nak. Janganlah mencuri kalau lapar. Kalau lapar kau lebih baik meminta di rumah makan atau di pasar-pasar. Ini ada sejumlah uang, pergunakan untuk usaha yang kau bisa. Mungkin berdagang. Jikapun tidak, simpan saja uangnya untuk memenuhi kebutuhanmu.”
“Terima kasih, Pak, “ si pemuda kurus berlalu. Orang-orang pun berlalu. Diam-diam supir, Bu Nyai dan Fadil ikut menyaksikan ketika si Abah bertikai dengan si pengurus masjid. Setelah mobil keluar dari masjid dan kembali melaju di jalan raya, Abah Usman menggumam. “Mengapa orang membangun masjid, bermegah-megahan, tapi membiarkan orang di sekitar mereka masih ada yang kelaparan? Masjid bukan tempat salat saja, masjid juga bisa dijadikan tempat untuk berkegiatan sosial, seperti memberikan bantuan untuk warga miskin sekitar. Untuk apa mengumpulkan dana yang ditabung bermilyar tapi pelit beramal. Amal bukan hanya dilantunkan di bibir, tapi lakukan dengan tangan. Kalau kalian bertemu kawan, atau orang yang kalian kenal, bertanyalah: apakah mereka sudah makan? Jika belum, ajaklah. Memberi makan orang sepiring, dua piring tak akan membuat kalian miskin.”
Si supir mengangguk. Teringat kebaikan keluarga Abah. Si istri mengiyakan, teringat tanggung jawab Abah sebagai suami. Si anak bilang, ”Iya, Abah”, teringat seorang ayah yang telah merawat, mendidik, dan membesarkannya. Mobil tujuh menit melaju ketika Abah Usman mengomando. ”Kita mencari rumah makan. Kita makan dan sebentar istirahat, sekalian Abah numpang pipis. Tadi gara-gara melihat anak diikat ditali, Abah tidak jadi ke toilet. Sekarang malah kebelet.”
Supir mengangguk takzim. Bu Nyai Maesaroh tersenyum tipis. Fadil memberi arahan supir untuk menuju rumah makan yang diingini. Mobil melaju, melewati pedagang nasi bungkus di pinggir jalan. Seorang pemuda kurus, seumuran Fadil sedang makan nasi bungkus, dua bungkus, sepertinya beberapa hari tidak makan.
***
Kota Ukir, Oktober 2025
===
*Kartika Catur Pelita, menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Tulisan dimuat di puluhan media cetak dan daring. Buku novelanya berjudul ”Kembang Randu” memenangi Sayembara Novela Psikoteks Basabasi 2023. Buku terbarunya kumcer,”Kunang-Kunang di Pelupuk Mata”.