LiteraSIP

21 Juli 2024

Pohon Killa

Oleh Elok Cahyaningtyas*

 

 

Para peneliti itu menyebutnya Pohon Killa—si pohon pembunuh.
Marlin tak pernah percaya. Baginya pohon raksasa berdaun mungil itu hanyalah pohon biasa yang menyimpan banyak manfaat untuk segala makhluk. Daun lebatnya akan memayungi anak-anak yang bermain di bawahnya. Akar yang timbul jadi tempat warga desa duduk untuk melepas lelah setelah pulang dari ladang. Jelas saja Marlin tak percaya perkataan peneliti itu.
Namun, satu kejadian membuat kepercayaannya selama belasan tahun pada pohon Killa runtuh seketika.
“Marlin, keponakan Paman Darius meninggal dunia.”
Siang itu begitu terik, namun hawanya sejuk. Langit biru cerah tanpa awan kelabu sedikit pun. Tak ada yang menduga kabar kematian itu datang begitu tiba-tiba di siang bolong.
“Apa yang terjadi?” Marlin yang sedang sibuk di meja jahitnya seketika mendongak. Wajahnya murung ketika mengingat Reiss —anak Paman Darius— baru berusia 7 tahun bulan lalu. Reiss suka sekali manisan apel buatan Marlin.
“Pohon itu.” Ibunya menarik napas dalam sebelum melanjutkan dengan raut sedih. Kelopak mata keriput berkedip cepat, berusaha menghalau air matanya jatuh. “Pohon Killa yang membuat Reiss mati.”
“Bu,” kata Marlin dengan nada tak senang. Ia juga sedih saat mendengarkan kematian Reiss, tetapi mengapa harus menyalahkan pohon Killa? “Apa Ibu juga ikut percaya pada omong kosong itu?”
“Tapi memang itulah yang terjadi Marlin! Pohon itu mengeluarkan racun yang membuat Reiss mati.”
“Bu, aku tidak mau dengar lagi Ibu bicara tentang pohon Killa. Pohon itu hanyalah pohon biasa dan tak ada yang spesial dari benda mati itu. Lagipula karena pohon raksasa itulah Desa Hades bebas udara kotor dari cerobong kereta api dan asap pabrik.” Marlin berdiri setelah menyimpan kainnya. Ia akan melanjutkan jahitannya setelah menengok keadaan Paman Darius. “Aku pergi.”
“Marlin! Jangan pernah datang ke pohon itu lagi!”
Hari itu Marlin memilih tutup telinga dan menganggap angin lalu omongan Ibu.

.

Ketika Marlin datang ke rumah Paman Darius, ia menyempatkan diri melihat Reiss untuk terakhir kalinya. Betapa terkejutnya Marlin ketika melihat seluruh tubuh Reiss sudah biru keunguan. Beberapa bagian tubuhnya juga bengkak tak wajar. Terutama wajah.
“Pohon itu menyimpan banyak karbondioksida.” Seseorang datang ke rumah Paman Darius ketika mendengar kabar kematian Reiss. Dia seorang peneliti yang sering datang ke desanya. Sungguh, Marlin tak bermaksud menguping ketika para peneliti itu berbincang. Hanya saja mereka bicara terlalu keras ketika Marlin hendak pulang “Apalagi pohon itu sudah tua. Hampir mati karena tak kuat menyimpan karbondioksida. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan desa ini ketika pohon itu mati. Sejak beberapa bulan lalu pohon Killa menyebarkan racunnya lewat udara dan menyebabkan beberapa orang linglung, sesak napas hingga hilang kesadaran.”
Apa maksud mereka?
Marlin tak paham. Kakinya kembali melangkah, kali ini lebih cepat menuju ujung desa, dimana Pohon Killa tumbuh di tengah lapangan. Begitu besar, kokoh dan kuat.
Marlin duduk di atas akar berukuran besar yang mencuat di bawah pohon. Kepalanya mendongak. Mengamati pohon Killa yang rantingnya kering, hampir jatuh. Daun menguning, gugur lebih banyak dari biasanya. Akarnya juga hampir membusuk.
Peneliti itu tidak salah ketika mengatakan pohon Killa akan mati.
“Apa yang ditakutkan dari pohon ini?” Marlin mendengkus. Tubuh berbalut gaun pendek mendekat ke batang pohon yang diameternya ratusan, bersandar di sana untuk melepas lelah. “Ini adalah pohon biasa. Tidak berbahaya bagi siapapun.”
Udara berubah dingin, hawa panas tubuhnya menghilang. Marlin mengantuk ketika semilir angin bertiup makin kencang, menerbangkan daun kekuningan ke segala arah.
Baru saja memejamkan matanya, Marlin merasa dadanya sesak. Penuh hingga ia kesulitan bernapas. Rasanya seperti dicekik oleh puluhan tangan. Kepalanya mendongak, pandangan buram pada rimbunan daun pohon Killa. Diambang kesadarannya Marlin melihat pohon itu tersenyum mengerikan. Sosoknya berubah jadi raksasa dengan asap mengepul karena menyimpan karbondioksida terlalu banyak.
“Tolong!”
Tak ada siapapun. Marlina tak kuat. Napas sudah diujung, dadanya mungkin akan meledak sebentar lagi.
Sekelebat bayangan ibunya muncul. Ah, harusnya Marlin tak pernah datang ke pohon Killa.

“Selasa, 25 Juli 2098. Telah ditemukan mayat seorang wanita di bawah pohon Killa. Para peneliti menduga kalau kematiannya diakibatkan oleh racun pohon Killa yang semakin menyebar. Perlu diketahui racun pohon Killa menyebar karena usia pohon sudah tua dan pohon itu juga menyerap terlalu banyak karbondioksi yang mengakibatkan tidak adanya oksigen yang diproduksi. ”
Pembawa berita dalam layar televisi itu tampak terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca.
“Tercatat mulai hari ini, Peneliti dari Kota Hades memblokir area sekitar pohon Killa sejauh 5 kilometer. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kematian akibat racun pohon Killa yang sampai saat ini terus mengeluarkan gas karbondioksida setelah puluhan tahun. Warga Desa Hades diharapkan segera mengungsi ke tempat lebih jauh lagi atau angka kematian akan terus bertambah. Peneliti juga memprediksi kalau kematian massal karena pohon Killa akan terjadi dua hari lagi.”

 

===

*Elok Cahyaningtyas, seorang freelance writer yang hobinya mendengarkan lagu. Beberapa tulisannya telah terbit dalam buku antologi cetak maupun digital.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *